
"Pak bos sialan! Sampah begini pun malas banget! Hu'uh, aku do'ain kagak ada yang suka sama dirimu!" ucap Jelita menyumpahi Ardian.
Geruduk! Geruduk!
Jelita terkejut mendengar suara petir menggema telinganya. Dia pun segera berlari keluar dari apartemen dan menaiki ojek di depan.
Ardian yang tengah duduk di kursi beroda sambil memutarkan badannya itu dan mengikuti irama musik dia nyalakan.
Sementara diluar jalan, Jelita malah kebasahan ditengah perjalanan malah hujan itu datang menyerbu menyiram dirinya hingga ojek ikut kebasahan. Untung saja jalanan di kota malam tidak macet. Sampai di kos nya dia pun berikan selembar uang receh kepada ojek itu.
Ternyata Jelita hanya mengelabui pria gila itu. Padahal dirinya masih ada sisa uang untuk pulang ke sewaan kosnya. Segera dia membukakan pintu untuk masuk air hujan sangatlah tidak bersahabat.
Beberapa detik saja, saat dia menyalakan lampu kamarnya. Terkejut bukan main dia lihat, seperti kapal pecah. Dia bingung kenapa kamar dia sangat berantakan.
"Siapa yang buat begini? Ya ampun?!"
Dia pun segera merapikan barang yang berserak di mana-mana. Foto orang tuanya pecah terbelah dua dan lemari yang rapuh tidak dapat menahan isian.
Satu jam Jelita merapikan kamarnya, dia menghempaskan badannya karena kelelahan belum lagi bajunya yang masih basah karena hujan di luar menuju pulang.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Nggak mungkin Ibu kos datang mengobrak-abrik kamar ini?" ucapnya berkata diri sendiri.
Kedua mata gadis itu pun terpejam karena kelelahan. Dia sudah malas untuk mengganti bajunya yang basah itu.
Esokan paginya telah tiba, suara kereta motor terdengar dari luar. Dan Jelita masih dalam posisi tidur yang lelah.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kembali terdengar oleh Jelita. Dia merasa malas untuk bangun karena seharian dia sangat lelah membereskan barang berantakan pada kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
Masih juga suara ketukan pintu, gadis itu pun menungging setengah badannya dan menatap jam ponsel jadul nya tertera angka 07:30 pagi.
Tok! Tok! Tok!
Lagi-lagi ketukan pintu kembali terdengar sangat jelas oleh gadis 20 tahun itu.
"Siapa sih? Selalu saja mengganggu kesenangan ku dalam alam mimpi?!" Celetuk Jelita bangun posisi terduduk. Rambut seperti sapu kusut, muka berminyak dan ada sisa air liur di sudut bibirnya.
Tok! Tok! Tok!
Lagi-lagi ketukan pintu itu kembali terdengar. Dengan malasnya dia pun terseok-seok menyeret kedua kakinya menuju arah pintu yang dari tadi mengganggu tidur nyenyaknya.
Tok! Tok! To--
Cek-lek!
Seseorang itu pun menoleh dan merasa bersalah, "Ups! Sorry!" ucapnya meminta maaf
Jelita menyentuh keningnya sangat sakit bukan karena hantaman palu, dia pun melirik tajam arah sosok lelaki yang sangat kasual pakaiannya berdiri di depan.
"Mau cari siapa?" Jelita bertanya soalnya di cuaca pagi hari matahari selalu datang menjengkelkan menutup wajah lelaki dari pantulan sinar cahaya itu.
"Jelita?" jawabnya cepat,
Jelita mengernyit karena matahari membuat dua matanya silau dia pun menutup cahaya matahari itu dengan tangannya dan menatap kembali sosok lelaki yang masih menatapnya dengan senyuman.
"Kuda niel?" Sebutnya kaget. Dan langsung memeluk lelaki itu.
Lelaki itu pun spontan termundur karena gadis itu memeluknya mendadak. Dia pun tersenyum akhirnya bisa menemukan sahabatnya.
Jelita tersadar sama orang-orang kosnya memperhatikan dirinya dia pun melepaskan peluk lelaki itu. Tanpa perintah apa pun menarik tangan lelaki itu masuk ke kamarnya.
"Sorry, kamarnya sedikit berantakan, apakabar dirimu?" ucap Jelita merapikan barang-barangnya dan kasurnya.
Lelaki itu duduk di lantai dan memperhatikan sekeliling kamar ukuran segi empat 4x4 itu.
"Kau tinggal di sini sendirian? Kenapa tidak tinggal di rumah tante Shakila?" Lelaki itu bertanya.
Jelita menghembuskan napasnya pendek, "tidak, aku lebih suka tinggal sendiri daripada menumpang rumah orang lain. Mereka saja sudah kerepotan ditambah diriku apa tidak lebih merepotkan?" jawab Jelita dengan wajah sedih.
"Setidaknya fasilitas kebutuhan mereka lebih terjamin daripada kau tinggal seperti ini? Kau tau, aku mencarimu ke mana-mana sampai bertanya kepada Freya. Sebenarnya ada masalah apa kau dengan Freya? Sepertinya dia sangat kesal denganmu." tanya lelaki itu merasa ingin tau permasalahan sahabatnya.
"Tidak ada masalah apa-apa, kok. Kau ingin minum apa? Maaf aku hanya punya air putih. Aku baru saja dapat pekerjaan jadi belum gajian." Senyum Jelita menuangkan minuman di dalam gelas yang sudah bersih itu.
"Tidak perlu sungkan, aku cuma mau tau kabarmu. Kau bekerja? Kerja dimana?"
"Aku kerja di salah satu perusahaan asuransi tidak jauh dari sini." jawab Jelita bergabung duduk dengannya.
"Wah! Kita satu gedung, kau lantai berapa? Aku ada di lantai enam." ucap lelaki itu.
"Aku sepertinya di lantai delapan, angka keberuntungan. Tapi, awal aku lamar posisi office girls tapi karena ketemu dengan Boss gila itu yang suka-suka memindahkan posisi menjadi sekretarisnya." jawab Jelita merengut.
Tapi lelaki itu malah tertawa semakin membuat Jelita merengut. Dia tidak habis kenapa kakak seniornya datang mencari dirinya. Setahu Jelita lelaki ini menghilang saat kelulusan sekolah menengah atas.
"Kenapa kau mencariku? Bukannya kau sudah..." Jelita tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan.
Lelaki itu berhenti tertawa dan serius menatap gadis di depannya. "Aku rindu padamu, kenapa kau menghilang? Bukannya aku sudah bilang akan kembali dan memintamu menunggu?" ucap lelaki itu dan menarik tangan Jelita.
Jelita tidak menjawab, lelaki itu yang dia sebut kakak senior adalah cinta pertamanya. Dia adalah Daniel Santoso, cowok yang pintar dan jago segala bidang olahraga. Ada satu alasan kenapa Jelita memilih untuk menghindar dari dunia asmaranya. Satu yang membuat dia harus menghilang adalah seseorang menyukai Daniel.
Jelita suka dengan Daniel karena dia baik, pintar, perhatian, dan tidak memandang siapa pun. Jelita suka dengan Daniel karena dia cowok yang memang pantas untuk digemari. Walau pun kedekatan Jelita dan Daniel hanya sebatas hubungan adik dan kakak kelas.