
Tepat di parkiran basement Jelita berdiri tak jauh dari mobil dimana Ardian tempatkan. Sementara pria itu merogoh celananya, Jelita malah bengong bukan karena tidak pernah melihat mobil milik pria itu. Hanya saja kayak orang bego saja sih.
"Nih!" Pria itu melemparkan sebuah benda pada Jelita. Spontan gadis cantik itu menangkapnya secara babi buta.
Ardian masuk ke mobil posisi di samping pengemudi. Jelita malah makin bengong saat melihat sebuah kunci berbentuk tengkorak. Ardian mengeluarkan kepalanya dari jendela dan menatap gadis cantik putih susu itu.
"Hei! Apa yang kau bengong kan itu? Ayo cepat!" perintah Ardian pada Jelita.
"Maksud bapak, apa? Ini?" Jelita malah balik bertanya kepada pria itu.
"Ya pasti itu kunci untuk apa? Kau bisa menyetir, kan?" jawab Ardian kembali menanyakan.
Tak pikir panjang Jelita pun menyusul masuk ke mobil dan memasukan kunci kedalam dihidupkan mesin tersebut.
Ardian pun memasangkan tali pengaman ketika mobil itu keluar dari area basement tersebut. Cuaca siang hari benar sangat besar panas, jika Jelita melihat luar sana mungkin kulitnya bakal hitam dan gosong kecokelatan.
Dalam perjalanan Jelita membawa mobil Ardian tersedat-sedat beberapa kali setiap berada tempat jalan raya. Sehingga membuat pria itu maju kedepan dan terpental mundur sangat kuat sekali sampai pundak lehernya terbentur oleh sandaran tempat duduknya sendiri.
"Kau itu bisa menyetir apa tidak sih?!" sengit Ardian memegang pundak lehernya sedikit tergeser urat-uratnya.
"Eh... Itu... Tentu bisa, cuma... Aku itu sudah lupa bagian mana saja yang harus di pakai rem, starter, gigi satu atau dua," jawab Jelita megap-megap.
"Ya sudah, biar aku saja! Aku mengira kau itu bisa menyetir tapi ternyata..."
"Aku bisa kok, Pak. Sudah katanya ini tugas sebagai seorang karyawati bukan. Sebentar lagi hampir sampai beberapa kilometer lagi kok," Potong gadis manis itu.
****
Gadis itu masih sibuk dengan kegiatannya melihat-lihat barang antik yang jaman dahulu sebelum peperangan, banyak lagi barang yang unik dinikmati oleh gadis manis putih susu itu. Bukan karena dia seperti orang kampungan tidak pernah melihat barang seperti ini.
Pria yang berdiri tidak jauh dari tempatnya masih memperhatikan gadis manis putih susu itu sibuk dengan kegiatannya. Padahal Ardian datang kesini untuk bertemu seseorang dan dia harus direpotkan oleh gadis kampungan itu.
"Kau suka barang itu?" Seseorang mengejutkan gadis manis itu yang tengah memegang sebuah cangkir keramik bergambar bunga anggrek tersebut.
"Ah! Tidak, hanya menarik saja untuk dilihat." Sahut Jelita meletakkan kembali cangkir keramik itu.
Pria itu masih memperhatikan wajah gadis manis itu. Kemudian dia meminta seorang pelayan mendekatinya.
"Bungkus cangkir ini!" Pinta Ardian kepada pelayan itu.
"Baik, Pak!" Pelayan itu mematuhi apa yang di minta oleh pria itu. Namun Jelita mendengar dan menoleh kembali kepada pria masih berdiri belakang nya.
"Tidak usah, aku hanya tertarik bukan berarti harus membeli. Kembali kan, jangan di bungkus. Bapak ini kenapa sih, aku baru pertama kerja sudah aneh-aneh saja. Pacar bukan, tunangan juga bukan, aku tidak perlu belas kasihan darimu!" Ucap gadis manis itu dan meminta pelayan untuk tidak membungkus cangkir yang dia lihat tadi.
Pria itu menatap pelayan itu antara mendengar dari siapa dulu Ardian atau Jelita. "Bungkus saja, siapa yang mau beli untukmu. Jangan kege-eran dulu, aku beli untuk seseorang bukan untukmu pengawal seperti mu!" Perintah Ardian lebih menyakitkan dari apa yang Jelita dengar.
Kedua telinga Jelita memerah karena merasa dipermalukan sama pria gila ini. Jelas-jelas dia mendengar kalau barang antik itu untuknya sekarang ...
Awas kau, sabar Lita, jangan terbawa emosi... Batin Jelita pada diri sendiri.
Pria itu berputar badan kembali ke tempat duduknya dari balik wajah tersimpan senyuman. Mengerjai gadis manis berkulit putih susu itu adalah sebuah moment paling indah untuknya. Entah rencana apalagi yang membuat dia bisa lebih dekat dengan gadis itu.