Crazy Boss

Crazy Boss
Sunshine



"Bagaimana mungkin tubuh ini akan sehat seperti sedia kala disaat aku tidak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali."


Rendra kembali putus asa dan tidak percaya diri dengan keadaannya selama ini. Ya, tentu saja menjadi seorang model membutuhkan wajah dan tubuh yang bagus, sementara keadaan Rendra saat ini sangat jauh dari kata baik.


"Jadi kamu akan menyerah seperti ini, Pak Bos?"


Amira berjalan mendekati Rendra, berniat untuk mengembalikan semangat Rendra.


"Lantas apakah aku harus berharap saat keadaanku cacat seperti ini?" bentak Rendra


Rendra terlihat tidak berdaya sama sekali. Ia bahkan tidak memiliki rasa percaya diri lagi, keadaannya lemah dan terlihat seperti manusia yang tidak memiliki semangat hidup lagi.


Seorang Rendra, lelaki yang memiliki semangat yang tinggi dengan perjuangan dan kerja keras demi kesejahteraan keluarga, kini harus menyerah dengan impian dan cita-citanya. Ia merasa separuh dari hidupnya telah hilang, ia ingin mati saja karena percuma saja hidup tapi hidupnya hanya merepotkan dan merugikan orang lain.


"Pak Bos, apakah hanya sampai segini perjuanganmu?" bentak Amira dengan nada tinggi. Mata Amira menatap ke arah Rendra dengan tatapan berkaca-kaca, penuh dengan kesedihan dan rasa kecewa yang teramat sangat yang ia rasakan di hatinya.


"Apa gunanya aku hidup jika aku tidak mampu lagi berjalan, Buk Bos?"


Mata Rendra berkaca-kaca, suaranya serak dan terdengar sekali kesedihan dan rasa putus asa dari dirinya.


"Apakah kamu tidak ingin bangkit? Apakah kamu akan menyerah seperti ini? Apakah kamu akan membiarkan harapan dan cita-citamu hancur berantakan? Tidakkah kamu ingat kalau kamu berjanji kepada Bapak dan Ibumu kalau kamu akan membahagiakan beliau dengan menjadi sukses?"


Amira berusaha menyadarkan Rendra dan mengingatkan kembali impian-impiannya yang dulu ingin ia raih.


"Apakah kamu akan membantuku?"


Rendra akhirnya menyerah, ia meminta Amira untuk membantunya dan ia ingin Amira menjadi matahari yang menerangi hidupnya yang gelap.


"Baiklah, aku akan membantumu, tapi ada satu syarat."


Amira berbicara serius, ia ingin bernegosiasi dengan Rendra dan ia ingin lelaki itu mau menuruti apapun yang menjadi syaratnya.


"Fokuslah untuk sembuh, lupakan semua yang terjadi di masa lalu, lupakan wanita sexy yang selalu datang mencarimu kemari dan bertekatlah untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik walaupun dengan keterbatasan yang kamu miliki."


Amira bukalah wanita yang jahat dan ingin melarang Rendra melakukan hubungan secara pribadi dengan siapun, tapi kondisi Rendra saat ini bukanlah kondisi yang tepat untuk memikirkan masalah percintaan, apalagi Rendra diberikan tanggng jawab oleh perusahaan untuk mengerjakan satu proyek yang tidak lain merupakan proyek pertamanya.


"Lantas, jika kamu membantuku bekerja, bagaimana dengan pekerjaanmu?"


Amira pernah mengatakan kepada Rendra kalau ia tidak akan hidup jika ia tidak bekerja, jadi jika Amira tidak mungkin melepaskan pekerjaannya hanya untuk fokus kepada Rendra.


"Aku akan berhenti bekerja dan akan fokus merawat dan membantu pekerjaanmu."


Ucapan yakin yang keluar dari lisan Amira benar-benar membuat Rendra kaget. Ia tidak menyangka wanita yang ada di depannya itu adalah wanita dengan hati sebaik dan selembt malaikat. Amira rela berkorban  banyak hal demi kebahagiaan Rendra, ia juga rela melakukan apapun untuk mendukung Rendra. Ia seperti matahari yang menerangi kehidupan Rendra, yang memberikan cahaya disaat hati Rendra tengah dihantui kegelapan.


"You are my sunshine, Amira. Kamu adalah wanita terbaik yang aku sia-siakan dan maaf untuk semua hal yang terjadi," ucap Rendra pelan namun masih di dengar oleh Tania. Rendra benar-benar merasa bersalah dan berdosa kepada Amira, bahkan ia merasa kalau ia terlalu bodoh bisa menyia-nyiakan gadis sebaik Amira.


"Ren, mulai hari ini aku akan merawatmu dengan sepenuh hatiku, aku juga akan melakukan pekerjaan kantor yang diamanatkan kepadamu, jadi yang perlu kamu lakukan adalah menurut dan membantuku karena aku tidak akan bisa bekerja sendiri tanpa bantuanmu, jadi tolong kerjasamanya."


Amira yang selama ini baik, lembut dan terlihat sangat ramah dan berwibawa sebagai seorang wanita yang berkelas sekarang berubah menjadi wanita berbeda yang terlihat sangat tegas sekali.


Amira bertingkah layaknya seorang CEO yang sangat elegan dan memiliki semangat juang untuk sukses yang sangat tinggi.


"Apa tidak apa-apa jika kamu keluar dari pekerjaan? Bagaimana dengan makan dan kebutuhan sehari-hari nantinya?"


Rendra sekali lagi mencoba meyakinkan Tania kalau Amira tidak aka menyesal dengan keputusan yang diberikan oleh Tania.


"Aku masih punya tabungan, lagian orang tuaku di kampung memberikan harta warisan kepadaku, jadi untuk beberapa tahun ke depan aku tidak perlu mengkhawatirkan masalah uang karena aku juga tiak bergaya hidup mewah, sudah biasa sederhana."


Dengan keyakinan penuh, Amira meyakinkan Rendra kalau ia ingin membantu Rendra dengan tulus dan ia juga tidak menyesal dengan keputusan yang telah diambilnya.


"Buk Bos, aku kan berusaha maksimal untuk bisa segera sehat dan bisa kembali pulih. Aku tidak akan membiarkanmu bekerja terlalu keras sendirian dan ketika aku telah sehat nanti maka kamu tidak perlu lagi bekerja, cukup hanya menjaga Ibu saja."


Semangat Rendra kembali, ia mulai bangkit dengan semangat dan dukungan yang diberikan oleh Amira. Ya, janji Rendra adalah janji seorang lelaki dan Rendra tidak akan membiarkan orang-orang yang ia sayang harus menderita dan berjuang sendirian.


"Baiklah, aku senang mendengarkannya, sekarang kamu istirahalah karena aku akan mengajak Ibu makan, kasihan beliau."


Amira dan Rendra menatap ke arah sang ibu yang saat ini tengah tertidur di sofa rumah sakit. Ya, sejak Rendra sakit, ibu Rina menjadi wanita yang paling bersemangat untuk membuat Rendra sembuh, beliau memberikan dukungan dan cinta yang tidak terhingga kepada sang putra agar sang putra kembali sehat dan pulih sehingga bisa beraktifitas seperti biasanya. Namun, wanita yang sudah menginjak usia senja itu lupa, kalau beliau juga butuh makan dan istirahat.


"Buk Bos, terima kasih, terima kasih banyak karena kamu telah menjaga Ibu untukku, aku merasa sangat bersyukur karena wanita sebaik kamu ada dalam kehidupanku.


Tidak henti-hentinya Rendra memuji dan membanggakan Amira, gadis cantik yang mencuri hatinya sudah sejak lama, namun bodohnya ia malah terjebak dalam nafsu sesaat yang membuat nilai dan pointnya berkurang di mata Amira.


"Sudahlah, angan mengucap maaf dan terima kasih secara berlebihan."


Amiraa tidak suka dalam persahabatannya dengan Rendra terlalu banyak ucapan maaf dan terima kasih karena itu membuat mereka berdua terlihat seperti orang asing, sehingga Amira berharap Rendra tidak lagi mengatakannya karena ia merasa sangat risih sekali.