
Sampai di kantor, Neng Jelita masih lola ( loading lambat) itu senyuman dari Pak Bos nya kagak bisa di tarik terus di simpan masih juga di terbitkan mulu.
Tak lama seseorang keluar dari lift tepat pula Jelita dan Ardian akan memasuki lift itu. Daniel harus bertemu kembali dengan sahabatnya si Jelita.
Hikmah dari Jelita belum berakhir, Ardian yang senyum karena ada maksud apa-apa, muncul sosok lelaki yang tampang lumayan lah. Mendekati Jelita. Ardian menoreh tidak suka dengan sikap lelaki tanpa melihat keadaan.
"Hai, manis! Ketemu lagi," sapa Daniel mengangkat tangannya dan terbitkan senyuman pada Jelita.
Tentu Jelita membalas senyuman dari Daniel, cinta pertama dan telah berakhir itu.
"Hai, juga, kuda niel!" balas Jelita masih tetap dengan julukan masa sekolahnya. Ardian yang mendengar sebutan dari Jelita tertawa lepas. Keduanya pun menoreh tidak suka, Ardian pun memilih menjaga jarak dan tidak dapat menghentikan tawanya.
Seisi tempat kantor ada di gedung ini memperhatikan sikap Ardian. Siapa yang berani menegur Ardian gedung ini miliknya, dia mau tertawa kapan saja tidak ada yang melarang.
"Abaikan saja, dia kurang asupan gizi," ucap Jelita pelan dan kembali mengobrol dengan Daniel.
Ardian langsung terdiam setelah mendengar ucapan gadis berkulit putih itu. Mukanya pun berubah datar dan dingin. Sedangkan Daniel mencuri perhatian dari pria di sebelah Jelita.
Daniel tau siapa pria di samping Jelita, cuma kenapa Jelita tidak takut dengan pria di sampingnya? Kenapa Jelita dengan gampang mengucapkan kata-kata yang menurut yang lain pada menelan air liurnya.
"Sstt... Jaga ucapanmu, kau tidak tau dia itu siapa? Dia pemilik gedung ini, jangan sembarang mengucapkan kata-kata tak disukainya!" ucap Daniel membisikan di telinga Jelita.
Jelita sih tidak terlalu peduli, dia juga tau ini milik perusahaannya. Masa bodoh bagi Jelita, buat dia tidak perlu di takutkan.
"Dia? Untuk apa takut sama pria gila ini!" Jelita masih santai menunjukkan Ardian sikap wibawanya.
****
Di kantor Ardian dari tadi bolak-balik di ruangannya sendiri sementara Jelita malah sibuk dengan pekerjaan barunya. Ya itu ... Sekretaris duduk dekat banget dan juga sangat jelas dengan isian milik perusahaan itu.
Padahal Jelita lebih sukanya jadi office girl daripada sekretaris. Nasibnya saja otak genius, encer. Mana ada yang mau terima peserta sudah pintar masa pilih posisi office girl. Padahal posisi sekretaris itu bukannya cocok untuk yang berpendidikan tinggi terus gelar sarjana kelulusan sesuai dengan bidangnya. Lah, terus bagaimana Jelita? Dia saja tidak tau cara mengerjakan pekerjaan bidang ini. Kuliah saja tidak pernah cuma tamatan lulusan SMA.
"Ehem!" Suara deheman tiba-tiba mengagetkan gadis yang tengah melamun dengan pekerjaan pertamanya.
Jelita menoreh dan menatap sosok badan tinggi tegap tengah menatapnya serius apalagi ingin memakannya hidup - hidup.
"Kamu ... Ehem! Siapkan beberapa dokumen yang mau aku rapatkan hari ini," ucap Ardian malah salah tingkah, tapi dia tetap harus bisa menjaga sikap. Karena saat ini dia dan gadis ini berada di kantor bukan luar pekerjaan.
"Hah? Dokumen? Dokumen apaan, Pak? Aduh! Aku tidak mengerti dengan pekerjaan ini..." tutur Jelita malah kebingungan sendiri.
Ardian yang akan maju melangkah kaki ke tempat rapat kemudian dia menoleh dan mundur beberapa langkah. Lalu Ardian membungkukkan setengah badan dan menatap wajah Jelita lebih dekat. Sehingga membuat Jelita tercekat dan mundur.
Jelita menatap dua bola mata Ardian yang terus menatapnya dan tiba-tiba dua mata Ardian mengalihkan tempat lain. Kembali Jelita memikirkan hal-hal yang aneh di pikirannya. Jarak semakin dekat dan demi keselamatan Jelita langsung menutup kedua matanya rapat-rapat.
Ardian dapat melihat ekspresi gadis itu, benar-benar lucu. Kemudian dia mengambil sesuatu dan BRUK! Jelita terperanjat dengan suara buku atas meja.
"Itu beberapa dokumen dan buku agenda dari mantan sekretaris ku. Bisa kau baca dan pelajari. Aku berikan waktu dua jam kau sudah hadir di ruangan rapatku, mengerti." ucap Ardian beranjak pergi dari tempat meja kerja Jelita.
Jelita mengembuskan napasnya dan dielus-elus merasa lega. Dia seperti orang gila membayangkan apa di otaknya. Dia kembali meraih buku agenda itu dan membuka isian coretan di tulisan itu.