
Pertanyaan ketus yang keluar dari lisan Rendra sudah membuktikan betapa panasnya hati Rendra melihat dokter Rasya. Namun, dokter Rasya terlihat sangat santai dengan senyum semeringah yang ia tunjukkan di wajah tampannya.
"Hallo, Tuan Rendra, bagaimana keadaan anda? Apa anda sehat?"
Senyum semeringah yang terpampang indah dari wajah meneduhkan itu sudah membuktikan betapa dokter Rasya bersikap santai dan tetap ramah kepada seseorang yang pernah menjadi pasiennya.
"Alhamdulillah saya sehat, tapi yang saya tanyakan kenapa Dokter ada disini?"
Rasa penasaran dan kecemburuan membuat Rendra bertanya lagi dan ia akan terus bertanya sampai dokter Rasya menjawab pertanyaannya.
"Saya tinggal disini, memangnya kenapa?"
"Disini, maksudnya?"
"Itu apartemen saya, mau mampir?"
Dokter Rasya menunjuk kepada sebuah apartemen yang ada di depan apartemen Amira.
Rendra kaget dan tidak menyangka kalau dokter Rasya bertetangga dengan Amira padahal selama ini setahu Rendra tetangga yang ada di depan apartemen Amira adalah seorang wanita. Bahkan Rendra juga hampir setiap hari datang ke apartemen Amira demi untuk melihat Amira saja. Namun, Rendra tidak pernah sekalipun melihat dokter Rasya disana.
"Kapan Dokter mulai tinggal di apartemen ini?" tanya Rendra penasaran dan ingin tahu banyak tentang dokter Rasya.
"Sejak hari ini karena saya sudah membeli apartemen ini agar saya bisa dekat dengan Amira."
Ungkapan santai yang keluar dari lisan dokter Rasya membuat hati Rendra semakin panas karena ia tidak suka ada lelaki manapun yang mendekati calon istrinya.
"Dokter, kenapa Dokter mengejar-ngejar Amira? Apakah Dokter tidak tahu kalau Amira adalah calon istri saya?"
Rendra semakin panas hingga ia membanggakan dirinya kalau Amira adalah calon istrinya.
"Calon istri? Siapa calon istrimu, Ren?
Amira keluar dari apartemennya dan melihat dua orang lelaki yang ada didepannya tengah bertengkar lagi dan bertengkar lagi. Entah apa yang terjadi dengan keduanya tapi setiap mereka bertemu mereka berdua selalu bertengkar dan berdebar hingga Amira merasa tidak suka melihat pertengkaran itu.
"Buk Bos, apakah sudah siap, kita jalan yuk!"
Rendra berjalan menghampiri Amira kemudian menarik tangan gadis cantik itu untuk segera pergi keluar kota. Ya, salah satu alasan lain Rendra cepat-cepat pergi adalah untuk menghindari dokter Rasya.
"Amira, apakah benar kalau Rendra calon suami kamu?"
Sebuah pertanyaan yang menghalangi langkah kaki Amira untuk pergi meninggalkan apartemen.
"Sya, Rendra bukan calon suamiku, ia hanya rekan kerja dan sahabat baikku," ungkap Amira tegas yang tentu saja membuat darah Rendra mendidih panas.
Ya, tentu saja apa yang disampaikan oleh Amira tidak bisa diterima begitu saja oleh Rendra karena ia merasa kalah dari Rasya.
"Buk Bos, bukankah kamu mengatakan kalau kita akan menikah setelah usaha kita sukses?"
Mata Rendra menatap Amira dengan tatapan yang penuh dengan sejuta harap. Ia tidak terima jika Amira menolaknya apalagi didepan dokter Rasya.
"Tuan Rendra, sebaiknya Tuan terima saja kalau Amira tidak mau menjadi calon istri Tuan, jadi saya masih punya kesempatan untuk menikahi Amira."
Dengan senyum tipis sembari menggeleng-gelengkan kepala, dokter Rasya membalikkan badannya, melangkahkan kakinya meninggalkan Amira dan Rendra menuju apartemennya.
Amira tersenyum-senyum tipis melihat tingkah Rendra, ia suka melihat kecemburuan Rendra kepada lelaki lain, rasanya Amira merasa sangat dicintai dan disayangi oleh Rendra. Ya, cinta dan kasih sayang Amira untuk Rendra masih tetap sama, namun ia masih tidak ingin menampakkannya karena ia ingin melihat sejauh mana Rendra mencintai dan menyayanginya dengan sepenuh hatinya.
"Yuk berangkat!"
Amira menarik tangan Rendra untuk menuju parkiran.
"Buk Bos, apakah kamu masih mencintai Dokter sialan itu? Kenapa kamu tersenyum-senyum seperti itu ketika menatapnya?"
Dalam perjalanan menuju parkiran, Rendra terus mengoceh seolah ingin mendapatkan jawaban dari apa yang dipertanyakannya agar hatinya merasa tenang dan damai. Kecemburuan itu benar-benar menyesakkan dada Rendra.
"Pak Bos, jangan bertingkah seperti anak-anak, sekarang yang terpenting adalah mengembangkan usaha kita!"
Amira ingin sekali memiliki sebuah bisnis yang sukses bersama Rendra, memulainya berdua dari awal dan bersama agar ia bisa membuktikan kepada orang tuanya kalau Rendra adalah lelaki yang tepat untuknya. Ya, Amira belum menerima Rendra sebagai calon suaminya karena sampai saat ini ia masih belum menerima restu dari papanya, dan sampai saat ini papanya masih bersikeras menjodohkannya dengan dokter Rasya, bahkan sampai mengutus dokter Rasya untuk tinggal tepat didepan apartemen Amira. Namun, Amira tidak peduli, semua yang dilakukan oleh papanya tidak menggoyahkan hati dan perasaannya, cintanya tetap tulus dan abadi untuk Rendra dan ia akan melakukan apapun untuk membuat papanya merestui hubungannya dengan Rendra.
"Buk Bos, aku tidak suka lelaki itu menjadi tetanggamu!"
Ocehan yang penuh dengan rasa cemburu itu tidak membuat Amira menjadi jujur kepada Rendra, karena sampai saat ini Amira masih menyembunyikan jati dirinya yang sesungguhnya dari Rendra kalau ia adalah pewaris tunggal perusahaan yang memecat Rendra, ia adalah anak pak Santoso, orang yang dulu membeli tanah Rendra dan mengajak Rendra bekerja dibagian cabang miliknya. Ya, perusahaan itu memecat Rendra bukan karena kinerja Rendra tidak bagus tapi karena papa Amira yang tidak lain pemilik perusahaan mengetahui kalau Rendra dan Amira sangat dekat layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai, jadi beliau memisahkannya dengan alasan Rendra tidak bisa bekerja lagi karena kecelakaan itu.
"Pak Bos, ini kunci mobilnya."
Amira memberikan kunci mobil ke tangan Rendra dan meminta Rendra menyetir mobilnya.
Pertemuan investor kali ini dilaksanakan di Bogor karena sang investor berasal dari luar negeri dan ia ingin sekali merasakan suasana puncak dengan udara yang sangat segar.
"Pak Bos, jangan menatapku seperti itu, setir saja mobilnya dan hati-hati, kamu malah membuat cantikku memudar."
Ocehan Amira membuat Rendra tertawa, karena Amira memang terkadang selalu percaya diri dengan penampilannya.
Memang diakui kalau Amira adalah gadis yang sangat cantik sekali, kecantikan alami diatas rata-rata bahkan Amira lebih cocok menjadi seorang model atau artis dari pada sekretaris pribadinya Rendra.
"Buk Bos, kamu cantik dan semakin aku memandang mu maka kamu terlihat semakin cantik," ungkap Rendra mengakuinya.
"Jangan gombal, jalan saja!"
Didalam hati Amira merasa sangat senang dan bahagia karena lelaki yang sangat dicintai dan disayanginya memujinya. Andai saat ini Amira tidak jaga image maka ia sudah memeluk dan bermanja dengan Rendra, tapi Amira adalah gadis dengan harga diri yang sangat tinggi, ia selalu cuek dan sulit sekali mengungkapkan isi hati dan apa yang dirasakannya didalam hatinya.
"Buk Bos, apakah kali ini investor mau berinvestasi pada perusahaan kita?"
Kini keraguan menyelimuti hati dan pikiran Rendra, karena beberapa kali mereka selalu gagal meyakinkan investor untuk berinvestasi di perusahaan mereka.
"Bismillah, aku yakin kali ini kita akan berhasil."
Amira menggenggam tangan Rendra yang sedang memegang stir mobil kemudian tersenyum kepada lelaki tampan itu, sehingga semangat kembali terpampang jelas di wajah Rendra. Ya, Amira seperti malaikat yang memberikan kekuatan dan semangat untuk Rendra, jadi apapun yang dilakukan atau dikatakan oleh Amira pasti akan dipercayai dan dituruti oleh Rendra.
"Pak Bos, kalau proyek kita sukses kali ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
Alisa menatap ke arah Rendra yang saat ini sedang asik menyetir, dan Rendra juga melakukan hal yang sama, ia menoleh ke arah Amira, penasaran kemana Amira akan mengajaknya karena ini pertama kali sejak ia sembuh Amira mengajaknya ke suatu tempat.
"Kemana?"
"Bertemu dengan Mamaku, bukankah kamu selalu penasaran dengan keluargaku? Apakah kamu mau menemaniku menemui beliau?"