
Rendra teringat akan dosanya, hingga terbayang juga bagaimana saat ini ibunya tengah sakit dan menunggunya kembali. Namun, Rendra tidak bisa melakukan apa-apa. Rendra merasa bersalah dan berdosa dengan orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya.
'Aku harus keluar dari sini! Aku harus menemui Ibu dan Amira, aku akan meminta maaf!' ucap Rendra di dalam hati.
Dengan segenap tenaga dan energi yang tersisa, Rendra mencoba untuk keluar dari mobil.
Sakit!
Perih!
Jangan lagi ditanya berapa sakitnya seluruh tubuh Rendra saat ini, bahkan ia telah bergelimangan darah diseluruh tubuhnya, tapi keinginan besar untuk melanjutkan hidup dan memperbaiki kesalahan membuat Rendra kuat.
'Aku tidak akan pernah lagi melakukan perbuatan dosa seperti itu, aku tidak ingin lagi mengecewakan Ibu dan Amira,' ucap Rendra di dalam hatinya.
Rendra terus membatin untuk menguatkan dirinya agar ia segera bisa keluar dari mobil ini.
Bruk!
Sebagian reruntuhan besi-besi mobil menghimpit kakinya, dan itu menyisakan sakit dan perih yang teramat sangat.
"Aw, sakit!" ucap Rendra dengan rasa sakit yang teramat sangat.
Namun, Rendra tidak menyerah, ia tetap berusaha keras untuk keluar dari mobil yang ia kendarai dan akhirnya Rendra berhasil keluar dari mobil itu sebelum mobil itu terbakar.
Lega!
Ada perasaan lega di hati Rendra, karena Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk hidup dan memperbaiki kesalahannya.
Rendra menatap langit biru yang kini mulai gelap, karena matanya berkunang-kunang. Rendra juga melihat sekelilingnya orang-orang tengah mengerumuninya.
Terdengar samar, mereka menanyakan keadaan Rendra, namun lelaki tampan yang sudah bergelumuran darah itu tidak bisa menjawab dan melakukan apa-apa kecuali diam, hingga energinya untuk bertahan sudah tidak ada lagi, ia tidak lagi sadarkan diri.
***
Ambulans datang dan membawa Rendra ke rumah sakit terdekat untuk melakukan perawatan dan pengobatan.
Sebagian petugas kesehatan tengah memeriksa tanda pengenal lelaki tampan itu dan menemukan kartu nama Amira disana.
Lagi dan lagi, Amira adalah wanita pertama yang selalu ada dalam setiap suka dan duka Rendra, wanita yang menjadi malaikat yang akan membantu setiap kesulitan Rendra.
[Hallo, selamat siang, dengan Nona Amira?]
[Iya, saya sendiri, ini siapa?]
[Saya dari pihak rumah sakit bakti husada, dan kami ingin menginformasikan kalau kami menemukan kartu nama Nona di saku seorang lelaki yang mengalami kecelakaa di jalan tol Jakarta-Bogor]
[Apa yang terjadi dengan lelaki itu?]
Suara Amira terdengar bergetar dan terdengar seperti menangis. Sungguh, hati Amira saat ini merasa sangat sakut dan hancur sekali mendengar kabar lelaki yang sangat ia sayangi mengalami sakit yang teramat sangat.
[Diharapkan Nona dan keluarga pasien segera ke rumah sakit!]
Kata-kata yang keluar dari lisan seseorang yang menghubungi Amira membuat Amira seolah berhenti bernafas untuk sesaat. Namun, Amira mencoba mengembalikan kesadarannya kalau ia harus kuat.
Setelah ponsel dimatikan Amira bergegas untuk kembali ke Jakarta. Namun, ada satu hal yang tidak bisa ia lakukan sekarang, ia tidak bisa menjelaskan kepada ibu alasan mereka kembali ke Jakarta, apalagi ibu juga dalam kondisi sakit karena memikirkan putra kesayangannya.
Amira mendekati ibu yang saat ini tengah melamun dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Mungkin saja saat ini Ibu tengah menangisi putra kesayangannya karena ada ikatan batin yang sangat kental antara keduanya.
"Ibu, maaf, tapi apa boleh Amira menyampaikan sesuatu?" ucap Amira lembut sembari menghapus air mata yang mengalir membasai pipi ibu.
"Eh, Nak Amira, ada apa, Nak?"
Ibu juga tidak ingin terlihat bersedih dan menangis di depan Amira, karena beliau juga tidak ingin membuat Amira bersedih hati, apalagi Amira adalah seorang gadis yang baik dan sangat lembut hatinya. Ia akan menangis dan meneteskan air mata ketika orang-orang yang ia sayang mengalami sedikit masalah, apalagi sakit dan dalam keadaan tidak berdaya.
"Ibu, Amira ada urusan mendadak di Jakarta, apakah Ibu mau ikut pulang dan dirawat di Jakarta, atau tetap dirawat disini dan Amira akan datang lagi besok untuk menemui Ibu?"
Sebenarnya Amira sangat tidak tega mengatakan hal yang seperti itu kepada ibu, namun ia sekarang dalam posisi yang dilema, dan saat ini Rendra jauh lebih membutuhkan dirinya karena lelaki tampan itu dalam keadaan sekarat di rumah sakit.
"Nak, Ibu tidak ingin dirawat disini, Ibu juga tidak ingin dirawat di Jakarta, Ibu hanya ingin pulang ke rumah dan bertemu dengan Rendra. Perasaan Ibu tidak enak dan Ibu merasakan kalau Rendra sedang mengalami sesuatu saat ini."
Ya, ternyata perasaan seorang ibu tidak pernah salah, ibu akan tahu kondisi keadaanya dalam keadaan tidak baik-baik saja karena ada ikatan batin antara keduanya.
'Apa yang akan aku sampaikan kepada Ibu?' ucap Amira di dalam hati.
Amira terus berpikir dan memikirkan kata-kata yang mungkin saja tidak membuat ibu terlalu histeris.
"Nak, kenapa melamun? Apa ada yang Amira fikirkan?" tanya ibu karena sadar kalau saat ini Amira tengah menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Eh, tidak, iya, maksudnya Amira tidak memikirkan apa-apa, Bu," ucap Amira dengan nada suara terbata-bata, sebuah bukti kalau ia saat ini memang tengah memikirkan sesuatu.
"Nak, yuk bersiap!"
Ibu terlihat seperti orang tua yang sangat sehat tanpa merasakan sakit sama sekali, padahal malam tadi beliau dalam kondisi tubuh yang tidak baik-baik saja.
Namun, sekarang ibu terlihat bersemangat untuk kembali ke Jakarta. Ya, sepertinya dorongan hati yang sangat kuat yang membuat ibu ingin segera cepat sampai di Jakarta.
"Ibu, biar Amira saja!" ucap Amira sembari meminta ibu untuk kembali duduk dan beristirahat. Tapi, bukan ibu namanya jika beliau hanya diam dalam kebisuan.
"Nak, kita harus cepat!"
Ibu berjalan menuju meja administrasi dengan membawa barang-barang kami.
Setelah menyelesaikan administrasi, Amira dan ibu kembali melajukan mobilnya ke Jakarta dengan kecepatan standar.
Ada perasaan tidak enak dan berkecamuk yang saat ini tengah dirasakan oleh Amira. Ia panik dan ia ketakutan. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa.
Amira ingin berterian sekeras-kerasnya, menangis sejadi-jadinya, namun saat ini ia hanya bisa diam dan menahan semuanya di dalam hati.
Sesak!
Rasa sesak membuat Amira kesulitan bernafas, namun ia tidak mungkin memperlihatkan semua yang ia rasakan saat ini karena ada perasaan ibunya Rendra yang harus ia jaga.
"Nak, kamu kenapa? Kok sedari tadi Ibu perhatikan terlihat gelisah. Apakah ada sesuatu yang terjadi atau kamu pikirkan?" tanya ibu sembari menatap Amira yang ada di sebelah beliau.
"Tidak, Ibu, Amira hanya tidak sabar ingin segera bertemu dengan Pak Bos. Rasanya Amira rindu sekala kepadanya," ucap Amira bohong.
"Nak Amira segitu sukanya ya sama Rendra?"