Crazy Boss

Crazy Boss
Dua



Polusi udara kemacetan di sepanjang jalan asap knalpot, rokok, deburan pasir tengah menghujat jadi satu.


"Benaran resek banget itu sekuriti, awas kalau aku ketemu sama dia. Bakalan aku tonjok mukanya sampai babak belur. Orang-aku mau kerja pakai usir segala, mentang-mentang pakaianku biasa saja. Mbak sok cakepan, aku sumpahi dia nggak ada yang suka sama dia. Kalau perlu kawin sama pengemis!" Omelnya si Jelita.


Satu tangannya mengipas-ngipasi mukanya terasa panas membakar bagai neraka. Keringat biji jagung mulai keluar bercucuran di sekitar manisnya itu.


"Mana panas lagi, cari di mana, lah, pekerjaan. Belum lagi perut lapar. Duit tinggal gojeng ( lima ribu )," Omelnya lagi.


Di lirik sebelah kiri-kanan ada warung kecil mangkal di pinggir jalan dekat pembangunan. Terpaksa deh dia ke sana beli seadanya saja. Daripada tidak sama sekali.


****


Di kantor elite luas seperti rumah kedua untuk Ardian Darmawan Wijaya, pria memiliki jiwa kepimpinan, tampan, berarogan.


"Apa bapak memanggil saya?" seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahunan berdiri tak jauh dari posisi pria itu duduk.


"Aku minta kau telepon berkas lamaran itu. Pastikan posisi yang sesuai dengan pendidikannya. Satu lagi, berikan juga fasilitas yang layak untuk di tempati," perintah pria itu melemparkan berkas amplop cokelat itu di terima boleh wanita berumur empat puluh tahunan.


"Baik, Pak. Kira-kira posisi apa yang bapak inginkan untuk peserta ini?" Wanita itu bertanya kepada Pria itu.


Kedua mata yang tajam menatap wanita itu yang sudah menganggap seperti ibunya keduanya.


"Lakukan seperti aku perintah sebelumnya." jawab pria itu memutar kursi membelakangi wanita empat puluh tahun itu.


"Baik, Pak. Saya pamit undur diri."


Jelita Ardhiza Cwenzie, nama yang bagus. Unik dan .... Senyuman tipis dari pria itu membuat dirinya sulit melepas setiap bayang-bayang wajah gadis remaja tadi.


****


"Huft! Kenyang rasanya..." gumam Jelita setelah menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur yang tidak seempuk rumah sendiri.


Tok! tok! tok!


"Haizzhh... siapa sih, selalu saja menganggu tidur siangku!" gerutunya melangkah kaki di buka pintu itu.


Tok! tok! tok!


"Iya, iya, sabar kenap--" terhenti protes si Jelita


Sosok tubuh besar, bulat, kalau angin topan datang di jamin yang roboh itu rumah lebih dulu jatuh daripada orang ada di depannya. Ibu indekos sudah berdiri dengan kedua bola mata merah seperti Vampire siang hari.


"Mana uang bulanan hari ini? Kau tak lihat sekarang sudah jatuh tempo pembayaran Indekos-mu! Sekarang janji kau hari ini akan bayar sekaligus dua bulan kemarin. Mana...!" Merepet si Ibu Kos-nya.


Jelita memang sewa kos di dekat kota supaya bisa sambil cari kerjaan yang lebih halal. Janji sama Ibu kos ini memang hari ini, tapi yang lebih apesnya belum dapat pekerjaan kayak mana bayar uang sewanya.


"Aduh... Bu, kasih waktu satu minggu bisa, kan, aku baru saja kerja, masa sudah tagih sih," Ngeles si Jelita biar Ibu kos-nya percaya.


"Alasan, saja kau ini! Kalau kau memang kerja, kenapa masih santai-santai, bilang saja tak ada uang, satu minggu aku datang lagi, kalau kau tidak bayar juga jangan harap bisa nginap secara GRATIS!" kata Ibu kos-nya sampai air liur pun keluar buat Jelita tercium jigong-nya.


"Iya, Bu. Maaf, ya!" Setelah Ibu kos pergi, Jelita kembali menutup pintu.


Ya ampun... ludahnya bau banget, dasar Ibu kos jorok! nggak gosok gigi mungkin ya. Makanya dia pelit asyik minta tagihan mulu. - celetuknya dalam hati.


Terdengar suara ponsel berdering dari kamar tidurnya. Dia berlari meraih ponsel jadul tidak seberapa itu.


"Ya, Halo!" sambutnya


"....."


Jelita mendengar dengan baik, dan kedua mata serta mulutnya terbuka lebar. Tidak akan percaya apa ini rezeki nomploknya buatnya sedikit berhura ria.


"Baik, Bu... Terima kasih, besok jam 9 pagi, ... Oke siap...." Panggilan telepon berakhir.


Dia melompat - lompat mendapat hadiah kemenangan lotere.