Crazy Boss

Crazy Boss
Tiga Belas



"Apa?? Jangan mengada-ada bapak sudah mengambil ciuman kedua ku?!" cicit Jelita tak terima dengan perlakuan pria gila itu.


Ardian mengedik bahu tidak peduli gadis itu tidak terima. "Terserah, bukannya pertama kali kau datang mencium bibirku secara spontan? Atau kau ... tidak mungkin ..."


Ardian mengetuk dagunya sendiriĀ  sambil berpikir kembali kejadian beberapa hari yang lalu saat Jelita secara spontan mencium bibir nya.


Jelita melotot nya dengan otak kotor dari pria gila itu, "Apanya tidak mungkin? Please deh, Pak. Tujuan bapak menyuruh aku kesini itu untuk apa? Kalau tidak ada keperluan penting aku mau kembali saja!" ucap Jelita bangun dari duduknya dan mengambil tas selempang tidak berharga itu.


Ardian dengan sigap meraih lengan gadis itu. Aliran listrik mana lagi oleh gadis berkulit putih itu.


"Sebentar! Ada yang ingin aku berikan sesuatu untuk kamu." Ardian mengambil sesuatu dan kemudian kembali menyerahkan bingkisan tas itu kepada Jelita.


Jelita melirik bingkisan dari tangan pria itu, dia mengerut. "Ini untuk kamu," lanjut Ardian, kali ini bukan memakai kata "Kau" tapi "Kamu"


"Maksudnya?" Jelita semakin tidak mengerti pemberian dari pria gila itu.


"Sudah terima saja, bukannya kamu suka dengan benda ini?" ucap Ardian menarik tangan Jelita untuk menerima pemberian itu.


Jelita mengintip dan tau isi dalam bingkisan itu. Bukannya itu cangkir pernah dia lihat salah satu kafe ketika menemani pria ini bertemu kliennya.


"Ini bukannya ... Bapak ingin berikan untuk seseorang? Tidak, aku tidak ingin ..." Jelita serahkan kembali barang itu kepada Ardian.


Ardian jelas-jelas beli untuk gadis didepannya, "ini untuk kamu?! Aku beli secara iklas, memang siapa yang aku berikan? Tidak ada ini benar untuk kamu!" Ardian kembali menyerahkan kepada Jelita.


Saling tidak menerima barang tersebut tak lama kemudian pegangan oper sana sini membuat bingkisan berisi cangkir keramik itu pun terlepas dari tangan mereka berdua dan ...


Prak!


Suara pecahan merdu itu pun sangat jelas. Jelita terperangah dan berjongkok untuk memeriksa isinya dia berharap bahwa cangkir itu tidak sepenuhnya pecah. Ardian mendengus bertolak pinggang menatap gadis terdiam tanpa bersuara.


"Sudah aku bilang cangkir itu untuk kamu. Tapi kamu ngeyel dan sekarang apa? Pecah?" Omel Ardian ikut berjongkok.


"Sudah jangan ditangisi cangkir itu, nanti bisa dibeli yang baru," kata Ardian


"Siapa juga yang menangis jangan terlalu kegeeran deh!" usil Jelita senyum dan bangun dari jongkok nya.


Lalu diputar badan menuju arah pintu utama untuk kembali pulang. Dia teringat lagi, kembali memutar menatap sosok pria yang masih berjongkok menatapnya.


"Ada apa?" Ardian bertanya, gadis itu kembali menghadap padanya. Diulurkan tangannya kedepan membuat Ardian semakin bingung atas sikap gadis itu.


"Kau ingin bawa cangkir ini pulang? Bukannya sudah kau pecahkan?" Ardian memungut cangkir itu dari lantai.


"Ongkos pulang! Aku mau pulang dan aku lupa membawa uang untuk kembali ke kos ku," ucap Jelita tanpa rasa malu.


Ardian mengernyit alisnya, "Ongkos? Bukannya kau sudah mengambil uang selembar lima puluh ribu itu tak ada kembaliankah?" Ardian bertanya kembali.


Jelita menatap tajam pada pria gila itu, Pura-pura bodoh dan anggap dia lupa meminta kepada gojeknya. Jelita menggeleng kepala dan dia juga ragu meminta uang muka untuk bisa membayar kos yang sudah menunggang itu.


Ardian mendengus dia pun mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar warna merah kepada Jelita.


"Apa ini sudah cukup?" lanjut Ardian bertanya pada Jelita.


Jelita menerima dan menghitung beberapa lembar mungkin sekitar lima ratus, cukup untuk bisa membayar cicilan kos nya itu.


"Cukup! Makasih!" ucap Jelita melanjutkan untuk keluar dari apartemen pria gila itu.


"Tunggu!"


Ardian memanggil Jelita lagi, padahal gadis itu sangat terburu-buru untuk bisa membayar cicilan kosnya.


"Apalagi, sih, Pak ..."