
Tania menatap Amira dengan mata memerah, penuh dengan amarah dan kebencian yang teramat sangat. Ia berjalan menghampiri Amira dan menarik rambut gadis polos itu dengan kasar, hingga gadis cantik itu mengaduh dan merasa kesakitan.
"Aduh, sakit!" ucap Amira dalam isak tangisnya.
Amira menitikkan air mata dan berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Tania, namun gadis itu semakin menyakiti Amira dengan kasar.
Sungguh, wajah cantik seperti Tania tidak lagi terlihat cantik karena sifat dan kepribadiannya yang teramat sangat buruk.
"Apa yang kamu lakukan kepadaku?" ucap Amira protes.
Amira memang gadis yang sangat lembut dan memiliki kepribadian yang sangat baik, tapi ia tidak akan diam saja jika ada yang melukainya, apalagi secara fisik tanpa ada alasan yang jelas.
"Apa hubunganmu dengan Mas Rendra?"
Tania bertanya dengan membawa emosi dan kecemburuan yang terpancar jelas di wajah cantiknya itu.
"Lantas, kamu sendiri siapa? Kenapa ribut dan mengganggu orang lain?" balas Amira lembut namun penuh dengan ketegasan disana.
Amira bukanlah gadis lemah dan menerima saja perlakuan buruk seseorang yang menganggap remehnya, tapi ia adalah gadis anggun yang akan membela diri dengan cara yang elegan dan berkelas.
"Yang pertama tolong lepaskan aku! Yang kedua tolong keluar dari kamar ini karena suaramu terlalu berisik dan itu bisa mengganggu Pak Bos!" ucap Amira sembari melepaskan tangan Tania yang menggenggam rambutnya dengan kasar, hingga rambut hitam panjang yang sangat indah itu menjadi rontok.
"Kamu yang harus keluar dari sini!" bentak Tania sembari menarik tangan Amira keluar dari kamar inap Rendra.
"Siapa kamu gadis kasar? Keluar dari sini!"
Ibu Rina datang dan membentak Tania. Dengan tunjuk kiri, beliau tidak suka ada orang asing menyakiti Amira, gadis yang sangat ia sayangi dan cintai seperti anak kandung sendiri.
"Saya ingin menjaga Mas Rendra, " ucap Tania dengan nada suara tinggi dan tidak sopan sama sekali.
Selain manja, Tania sepertinya kehilangan kasih sayang dari orang tuanya sehingga ia bertindak seenak hatinya saja tanpa menghargai dan mempedulikan perasaan orang lain.
"Hanya saya dan Amira yang boleh ada di ruangan ini untuk merawat Rendra. Jadi sekarang kamu keluar!"
Dengan paksa, ibu Rina menyeret tangan Tania, persis sama dengan apa yang Tania lakukan kepada Amira tadi.
"Izinkan saya menjaga Mas Rendra," teriak Tania kasar.
Ibu Rina tidak mempedulikan suara teriakan Tania dan memilih untuk mengunci rapat pintu agar Tania tidak lagi masuk.
Jika Tania ribut dan membuat kekacauan diluar, maka petugas keamanan akan mengusirnya.
"Nak, kamu tidak apa-apa?"
Ibu Rina memeriksa tubuh Amira mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Beliau merasa tidak tega melihat gadis cantik yang sangat ia sayang itu menderita kesakitan.
"Amira tidak apa-apa, Bu," ucap Amira sembari tersenyum. Senyum manis yang terlihat menawan dam menenangkan hati orang-orang yang memandangnya.
"Sayang!"
Ibu Rina langsung memeluk Amira dengan kehangatan cinta dan kasih sayang yang beliau berikan.
Amira juga merasakan kedamaian dan ketenangan dari pelukan itu, pelukan yang tidak pernah ia dapatkan dari ibunya yang telah meninggal sejak ia kecil.
"Nak, Ibu akan membatu menyisir rambutmu."
Ibu Rina memang sangat ingin sekali memiliki seorang putri tempatnya berbagi kebahagiaan, tapi ia hanya memiliki seorang anak laki-laki, jadi dekat dengan Amira adalah hal yang sangat membahagiakan untuk beliau.
"Nak, Ibu sayang sekali sama kamu, jadi Ibu tidak akan membiarkan ada orang lain yang melukai dan menyakitimu," ucap ibu Rina sembari membelai lembut rambut Amira.
Amira membalikkan badannya, menatap wajah ibu Rina dengan seksama, tatapan kasih sayang yang penuh dengan cinta dan ketulusan.
"Ibu, Rina juga sangat menyayangi Ibu dan Amira sangat bersyukur bisa dekat dengan Ibu dan keluarga."
Amira langsung menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk ibu Rina.
Amira akhirnya bisa merasakan kembali kasih sayang dari orang tua yang sangat ia rindukan selama ini, kasih sayang dari seorang ibu yang rasanya sudah tidak ia ingat lagi bagaimana rasanya.
"Ibu, siapakah wanita tadi?"
Rasa penasaran menghantui hari dan pikiran Amira, namun Amira memilih untuk tidak terlalu memperlihatkannya kepada wanita itu karena itu akan membuatnya semakin besar kepala.
"Ibu juga tidak tahu siapa dia, wanita itu terlihat sangat tidak sopan. Entah kenapa bisa Rendra bisa dekat dengan wanita, tapi Ibu benar-benar tidak suka wanita itu ada disini," ucap ibu Rina.
Ibu Windari bukan tipe orang yang membenci orang lain dengan mudah, tapi jika belian mengatakan kalau beliau tidak menyukainya, itu artinya ibu Rina tidak suka dengan kepribadian dan sopan santun dari wanita itu.
"Nak, Ibu mau menemui Rendra," ucap ibu Windari.
Ibu Rina melepaskan pelukannya dari Amira, pandangannya kini tertuju pada putra kesayangannya yang saat ini sedang terbaring lemah tidak berdaya di ranjangnya.
Ibu Rina berjalan pelan mendekati putra kesayangannya, hatinya sangat sakit dan hancur sekali melihat harta berharga dan belahan jiwanya dalam keadaan tidak berdaya.
Andai, seandainya ibu Rina bisa menggantikan rasa sakit anaknya, beliau ingin biar beliau saja yang tidur, agar anaknya bisa sembuh seperti sedia kala.
"Nak, Ibu datang!"
Tangisan air mata mulai membasahi pipi ibu Rina, karena beliau sudah tidak kuasa menanggung sesak di dadanya.
"Nak, bagaimana wajah tampan anak Ibu bisa seperti ini? Rasanya Ibu tidak tega melihatnya, Ibu tidak sanggup jika orang-orang yang Ibu sayang mengalami sakit uang teramat sangat seperti ini," ucap ibu Windari dalam isak tangisnya.
Ibu Rina kemudian membelai lembut wajah tampan putranya, wajah yang kini dipenuhi perban itu terlihat pucat sekali.
Tangan Rendra juga terasa sangat dingin dan kaku, dengan seluruh tubuh yang penuh dengan luka-luka.
"Nak, bangunlah! Ibu tidak memiliki siapa-siapa selain kamu. Apakah kamu tega meninggalkan Ibu sendirian di dunia yang sangat kejam ini?" ucap ibu Rina sembari mencium tangan putra kesayangannya.
Ibu Rina kemudian merebahkan kepalanya di samping tangan Rendra, berharap putra kesayangannya itu bangun dan cepat pulih.
Hati orang tua mana yang tidak akan merasakan sakit dan terluka, melihat orang yang disayang saat ini dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan bantuan infus dan slang pernafasan untuk membantu pernafasannya.
"Ibu, istirahatlah di sofa, biar Amira saja yang menjaga Rendra."
Amira tidak tega melihat ibu Rina seperti itu apalagi beliau masih belum pulih dari sakitnya.
Amira berusaha membujuk ibu Rina agar beliau mau beristirahat karena Rendra pasti akan bersedih jika melihat ibu yang sangat ia sayang sakit karena mengkhawatirkannya.
"Nak, Ibu hanya ingin menjaga Rendra dan menunggunya sampai ia terjaga," ucap ibu Rini sembari menggenggam tangan putranya.
"Amira akan menjaga Rendra dan Amira akan membangunkan Ibu jika Rendra bangun!" ucap Amira meyakinkan ibu Rina.