Crazy Boss

Crazy Boss
Delapan Belas



Jelita memilih diam seribu bahasa tak ada guna berbicara dengan pria di samping duduk pengemudi. Baginya akan membuang tenaga dalamnya.


"Nanti malam aku jemput kamu," ucap Ardian bersuara memecahkan keheningan di mobilnya.


Jelita menoleh sekilas dan membalas ucapan dari Ardian, "Buat apa?"


Ardian menjawab, "tentu kencan, masih lupa dengan apa yang aku katakan sebelumnya?" Ardian melirihnya kemudian kembali dengan tatapan di depan pengemudi.


Jelita mendengus kesal, ia pikir setelah apa yang dilakukan oleh Ardian di lift tadi belum cukup membuatnya frustrasi. Ia ingin menenangkan suasana hatinya sedang kacau balau atas kelakuan Ardian.


Dan sekarang Ardian seenak mengajaknya keluar, apa kata sekitar penduduk kos saat melihat dirinya keluar malam dengan seorang lelaki kaya raya. Pasti si penghuni kos itu dengan cepat meminta penagihan yang tunggang berapa bulan itu.


"Aku tidak bisa!" tolak Jelita cepat, ia tidak peduli kalau pun Ardian tidak suka dari penolakan darinya.


Permasalahan Jelita belum siap berhadapan dengan penghuni kos kalau Ardian datang ke kos menggunakan mobil mewahnya. Merasa bagaimana nasib kalau itu terjadi, hancur dan pastinya penuh cemoohan dari penduduk setempat.


"Kenapa? Apa kamu sudah janji dengan orang lain?" tanya Ardian masih fokus didepan.


Jelita tidak menjawab langsung, tapi yang pasti ia tidak mau. Ia butuh menenangkan hati.


"Tidak! Aku tidak suka keluar malam, apalagi malam-malam keluar dengan seorang lelaki seperti bapak, sepertinya aku tidak pantas. Lebih baik bapak cari yang lain saja," jawab Jelita jujur.


Ya harus begitu, kan? Daripada tak sama sekali. Mobil berhenti di pekalongan rumah tak jauh tempat tinggal Jelita berasal. Ardian menatap Jelita lekat-lekat, masih penasaran dengan gadis disebelahnya. Bahkan Ardian merasa suka dengan sikap Jelita ceplas-ceplos.


"Pantas atau tidaknya, aku yang memutuskan. Aku bisa bantu melunasi utang kos-mu yang tertunggang beberapa bulan itu?" ucap Ardian serius.


Jelita langsung menoleh bukan karena kesal tapi ia kaget ucapan oleh Ardian tadi.


"Bapak tau darimana kalau aku belum bayar bulanan kos-ku?" balas Jelita sekarang ia curiga dengan Ardian.


"Rahasia," ucap Ardian mengedip satu mata pada Jelita.


Jelita menciut kesal lagi-lagi ia dibuat oleh ke gombalan Ardian. Jelita pun bersiap untuk turun namun satu cekalan tangan membuat ia urung keluar dari mobil.


Jelita malah menoleh heran dan tidak mengerti maksud dari Ardian. "Maksud bapak?" tanya Jelita.


"Pakai saja, jika kamu perlu sesuatu, gunakan saja kartu ini. Dan lunasi pembayaran yang tertunggang di kos-mu," jawab Ardian menyerahkan pada Jelita.


Jelita semakin bingung dan benar-benar tidak bisa mengucapkan kata-kata. Tentu ia merasa bahagia kalau Ardian sebaik ini. Namun, yang membuat ia menarik kembali kebahagiaan bahwa bisa melunasi utang pembayaran kos-nya bukan cara ini.


"Maaf, pak. Aku tidak bisa menerima. Aku bisa membayar dengan cicil. Aku tidak ingin mengemis kepada siapa pun. Dengan gaji yang aku dapat bisa melunasi nya, sekali lagi terima kasih, kalau begitu terima kasih sekali atas untuk tumpangannya," ucap Jelita menolak halus lagi pemberian dari Ardian.


Saat Jelita keluar dari mobil masuk ke pekalongan gang sempit menuju kos-nya. Ardian malah diam ditempat setelah apa yang ia dapatkan sebuah penolakan dari Jelita.


****


"Dia pikir aku ini cewek apaan? Matre? Enak saja!" gerutu Jelita melemparkan tas ke sofa. Lalu ia menuangkan minuman ke gelas diminum hingga kandas.


Masih kesal bos-nya, di teguh lagi minumannya. Terdengar ponsel Nokia-nya berdering. Dengan rasa malas ia pun merogoh tas dicari ponselnya. Nama yang sangat besar terpampang dilayar ponselnya berwarna hitam putih itu.


Dilempar kembali ke sofa, Jelita malas untuk mengangkat, ia lebih memilih untuk mandi dan langsung tidur. Kepalanya butuh istirahat. Apalagi, ia tak ingin memikirkan kata-kata dari pria gila itu.


Ardian menjauhkan ponsel android dari telinganya, di tatap layar yang masih tersambung. Tetapi nada sambungan itu tidak beri jawaban, hanya suara operator. Ardian mendecik sebal, sekali lagi ia menelepon nomor yang ia tuju. Tetap sama, nihil. Tak ada jawaban dari si nomor tersebut.


"Ke mana sih, tuh, cewek?! Aku serius, dia malah meng-sia-siakan, haisssh!" Ardian melempar ponsel androidnya ke ranjang.


Merasa frustrasi sama Jelita, ia pun memilih masuk ke kamar mandi. Masing-masing memikirkan masalah sendiri. Ardian yang berbaik hati  untuk membantu melunasi sewaan kos Jelita, tetapi tuh si cewek malah menolak tawarannya.


Sedangkan Jelita, mencoba untuk mencari akal untuk alasan kepada ibu kos, dapat memberikan waktu panjang melunasi utang-utang yang menunggang beberapa bulan.


"Harus cari di mana lagi? Haruskah aku menerima tawaran dari bos gila itu? Aah ...  tidak, tidak, sudah menolak. Dikemanain harga dirimu, Jelita?!" omelnya sendiri di kamar mandi.


Tidak peduli jika ada penghuni sebelah kos mendengar suara mengomel. Sudah tidak heran untuk kos-kos yang Jelita tinggal. Sampai penghuni kos itu datang membuat keributan tidak peduli.


"Ya Tuhan, berikan jalan petunjuk mu. Aku harus cari di mana lagi uang itu?!" ucapnya menatap langit-langit kamar mandi kusam itu.