Crazy Boss

Crazy Boss
Lamaran Dadakan



Ingin rasanya Amira tertawa dan menangis secara bersamaan, karena sebenarnya apa yang dikatakan oleh Rendra adalah candaan yang membuat Amira ingin memukul lelaki itu. Namun, tidak ada yang bisa Amira lakukan sekarang karena Rendra saat ini dalam keadaan lemah tak berdaya, jadi yang bisa dilakukan oleh Amira hanya diam dan menyimpan tangisannya di dalam hati saja.


"Buk Bos, apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Rendra sekali lagi.


Entah apa yang dilakukan oleh lelaki itu saat ini, bagaimana bisa ia melamar Amira dalam keadaan sakit seperti ini, apalagi ia baru saja jadian dengan wanita lain.


"Pak Bos, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak, sekarang fokus saja untuk sehat!" ucap Amira dengan nada suara lembut namun ada ketegasan di sana.


Amira tidak tahu apakah yang difikirkan oleh Rendra saat ini, entah itu sebuah becandaan atau mungkin hanya cara Rendra menutupi hubungannya dengan wanita lain.


"Buk Bos, apakah kamu tidak menyukaiku?" tanya Rendra sekali lagi.


Amira merasa tersudutkan oleh pertanyaan Rendra karena gadis cantik itu memang tidak menapik kalau ia juga menyukai Rendra, namun menikah bukanlah perkara sehari dua hari tapi menikah untuk selamanya. Menikah bukan cuma menyatukan dua insan manusia tapi juga menyatukan dua keluarga, bahkan menikah adalah janji suci bukan hanya dihadapan manusia tetapi juga dihadapan sang pencipta.


"Pak Bos, sekarang istirahatlah terlebih dahulu, cepatlah pulih," ungkap Amira sembari melepaskan tangan Rendra yang menggenggam tangannya.


Amira memiliki sejuta pertanyaan untuk Rendra, tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas pernikahan ataupun menanyakan tentang wanita kasar itu.


"Buk Bos, kenapa sikap Buk Bos tiba-tiba berbeda?"


Rendra tidak suka dengan sikap Amira yang tiba-tiba berubah, karena Amira bukanlah gadis yang akan bersikap cuek kepada Rendra apalagi lelaki tampan itu saat ini tengah sakit.


"Pak Bos, ini aku Amira dan aku masih tetap sama seperti Amira yang dulu, tapi aku tidak ingin membahas masalah apapun sekarang karena yang kumu adalah kesembuhan dan kesehatan Pak Bos," ucap Amira tegas yang membuat Rendra tidak lagi bisa berkutik sama sekali.


Rendra pasti akan diam jika Amira telah bersikap tegas, karena apa yang Amira katakan memang benar adanya, ia salah karena melamar seorang wanita mendadak tanpa melihat situasi dan kondisi.


Sebenarnya Rendra sangat tahu kalau saat ini Amira sedang bersedih dan menangis di dalam hatinya karena melihat kondisi dan keadaan Rendra yang sangat memprihatinkan. Namun, Amira memilih untuk bersikap kuat dan tegar agar Rendra juga ikut kuat dan bersemangat untuk sembuh.


"Jangan menatapku seperti itu, sekarang istirahatlah kembali, aku akan memanggil Dokter."


Amira memperbaiki selimut yang Rendra gunakan, kemudian ia tersenyum kepada Rendra dengan harapan lelaki tampan itu mau mengerti keadaan saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas pernikahan.


"Buk Bos, terima kasih," ucap Rendra dengan senyuman yang juga tidak kalah menawan.


"Amira, Ibu mendengar suara Rendra apa ia sudah bangun?"


Suara lemas bangun tidur menyadarkan ibu Rina, karena beliau sangat merindukan putra semata wayangnya sehingga suara Rendra terdengar nyaring di telinga beliau.


Amita berjalan menghampiri ibu Rina dan membantu beliau untuk bangun dari sofa tempat ia berbaring.


"Ibu, Ibu sudah bangun?"


"Nak, Ibu ingin bertemu Rendra, tadi Ibu mendengar suaranya."


Sebagai seorang ibu tentu saja ibu Rina merasa sangat senang sekali karena putranya bangun dari tidurnya, beliau seperti memiliki harapan baru lagi karena yang tersisa dalam hidupnya hanya Rendra seorang.


"Ibu, Rendra baru saja bangun dan Amira berencana memanggil Dokter."


Amira membantu ibu Rina berjalan mendekati Rendra. Namun ibu Rina meminta Amira melepaskan tangannya agar beliau bisa berjalan sendiri untuk menemui putra yang sangat dicintainya.


Kaki gemetar dengan seluruh tubuh terasa menggigil karena tidak kuasa menatap sang anak kesayangan yang saat ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Nak, kamu sudah bangun, Sayang?"


Ibu Rina membelai lembut rambut putra kesayangannya, dengan mata berkaca-kaca ibu menatap Rendra dengan tatapan ibu.


"Ibu, maaf!"


Itulah kata-kata pertama yang keluar dari lisan Rendra. Entah permintaan maaf untuk apa yang saat ini ia sampaikan, tapi air matanya saat ini juga mengalir membasahi pipi.


"Apa yang kamu katakan, Nak? Kenapa kamu harus meminta maaf?"


Ibu Rina menghapus air mata putra kesayangannya, karena sebagai seorang ibu air mata anaknya sama dengan kesedihannya sendiri.


Namun, Rendra terlihat masih menangis dengan menyampaikan beberapa kali permintaan maaf kepada ibunya, permintaan maaf yang sangat tulus sekali dari lubuk hati terdalam.


"Nak, semua orang tua pasti akan memaafkan anak-anak yang sangat disayangi dan dicintainya jauh sebelum kamu minta maaf, jadi sekarang fokuslah untuk sembuh agar Ibu tidak lagi bersedih," ucap ibu Rina memberikan semangat kepada Rendra.


"Tapi Rendra telah melakukan kesalahan besar, Bu!"


Raut wajah sedih penuh penyesalan terlihat jelas di wajah Rendra. Ia sepertinya benar-benar merasa bersalah dan berdosa atas sikapnya kepada dua orang wanita yang sangat disayangi dan dicintainya, yaitu ibunya dan Amira.


"Semua manusia pernah melakukan kesalahan, jika memang telah sadar maka bertaubatlah! Jangan mengulangi kesalahan yang sama lagi, Nak!"


Ibu memberikan nasehat yang menenangkan hati putra kesayangannya, setidaknya Rendra masih punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan setelah ini.


"Ibu, Amira mana?"


Rendra menyadari ketidakadaan Amira di ruangan ia dirawat hingga rasa takut dan cemas menghantuinya, ia takut jika Tania datang dan melakukan hal yang tidak-tidak kepada Amira.


"Amira keluar memanggil Dokter, Nak."


Wajah ibu Rina kini mulai terlihat sedih kembali, seolah memikirkan dan mengkhawatirkan sesuatu.


"Ibu kenapa? Apakah ada sesuatu yang Ibu pikirkan?" tanya Rendra yang sadar dengan perubahan mimik wajah dari ibunya.


"Ibu hanya takut gadis yang tidak ada akhlak itu mengganggu Amira lagi. Kasihan Amira, rambutnya dijambak, pasti ia merasa teramat sangat sakit sekarang," jelas ibu.


'Manusia tidak ada akhlak? Apakah maksud Ibu itu adalah Tania? Tapi mengapa Tania datang kesini? Apakah ia juga senekat itu menyakiti Amira?' ucap Rendra di dalam hati karena malu dengan sikap Tania yang lebih tepatnya dibilang preman pasar.


"Nak, Ibu tidak suka wanita seperti itu. Ibu lebih suka kepada Nak Amira, ia gadis yang sangat baik, ia sempurna untuk menjadi pasanganmu, Nak!"


"Rendra telah melamar Amira beberapa kali, Bu, tapi Amira sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan Rendra," ucap Rendra mengadu kepada ibunya.


"Lamarlah seorang gadis dalam kondisi dan mood yang sedang baik, kemudian jujurlah kepadanya tentang apa yang kamu rasakan di hatimu. Jika kamu tulus menyampaikan perasaanmu maka wanita akan mengerti dan memahaminya," ucap ibu Rina memberikan kiat kepada putranya agar bersemangat dalam mengungkapkan cintanya.


"Apakah wanita baik memang sulit didapatkan, Ibu?"