
Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Amira yang membuat ia pusing sendiri untuk mencari solusi terbaiknya.
"Aw, sakit!" teriak Amira ketika air panas tumpah dan mengenai kulitnya.
"Amira, Buk Bos, kamu kenapa?"
Amira menyiram tangannya dengan air panas yang harusnya ia tuangkan ke cangkir. Ya, Amira melamun hingga lupa kalau saat ini ia sedang menuangkan air panas bukan air dingin.
Untung saja hanya ujung tangannya yang sedikit terkena hingga tangan Amira tidak terlalu melepuh karena tersiram air panas itu.
"Buk Bos, sini!"
Rendra langsung menarik tangan Amira dengan lembut kemudian menyiramkan air dingin ke tangan gadis cantik yang sangat dicintainya itu.
Rendra takut jika tangan Amira terluka parah hingga meninggalkan bekas luka, tentu saja lelaki itu tidak akan bisa menerimanya apalagi Amira terluka karena ingin menghidangkan minuman untuknya.
"Buk Bos, sakit ya?" tanya Rendra lembut.
Amira mengangguk dengan tatapan mata yang terus menatap ke arah Rendra, lelaki yang mengkhawatirkannya.
Amira merasa sangat beruntung memiliki lelaki tampan dan baik seperti Rendra di dalam hidupnya, namun ada hal yang mengganjal di dalam hatinya tentang akhir dari kisahnya bersama Rendra, apakah akan berakhir bahagia atau malah penuh dengan air mata.
"Ra, duduk disini, aku akan mengambil kotak P3K dulu, jangan banyak bergerak dan jangan ke mana-mana!"
Rendra berlari, ia segera mencari dan meminta kotak P3K kepada petugas Villa, kemudian kembali bergegas menemui Amira dengan rasa khawatir yang ia bawa bersamanya.
Rendra bertingkah seperti seorang kekasih yang sangat mencintai dan menyanyangi kekasihnya dengan segenap jiwanya, terlihat sekali kalau Ia bisa melakukan apa saja demi kebahagiaan Amira. Ia mengobati Amira dengan wajah yang masih terlihat khawatir, sementara Amira hanya diam dan terus memperhatikan wajah tampan Rendra. Ya, bagi Amira, wajah tampan Rendra sudah cukup membuatnya merasa bahagia dan cepat sembuh karena cinta dan kelembutan hatinya.
"Ren, terima kasih banyak," ungkap Amira sembari tersenyum manis kepada Rendra.
Rendra kemudian mengacak-acak rambut Amira, hingga gadis cantik itu kesal.
"Kenapa sih suka sekali mengacak-acak rambut?"
Dengan wajah cemberut Amira memanyunkan wajahnya kepada Rendra, hingga lelaki tampan itu merasa semakin ingin memeluk Amira.
"Buk Bos, maaf!"
Rendra langsung membawa Amira ke dalam pelukannya, ia mengungkapkan cinta dan kasih sayang Rendra untuk Amira
"Pak Bos, jangan seperti ini!"
Amira berusaha melepaskan diri dari pelukan Rendra, tapi Rendra meminta Amira membiarkannya walaupun hanya untuk sesaat saja.
"Buk Bos, lima menit saja," ungkap Rendra lembut.
Amira akhirnya menurut dan menerima saja pelukan dari Rendra, bahwa sebanarnya Amira juga sangat senang dipeluk oleh Rendra, dimana ada rasa nyaman yang teramat sangat seolah semua masalah dan beban yang dirasakan oleh Amira hilang dengan pelukan hangat penuh cinta dan kasih sayang dari Rendra itu.
Amira tahu kalau Rendra sangat mencintainya, namun ia juga meragukan cinta Rendra karena Rendra pernah menghianati Amira dengan gadis lain yang cantik dan terlihat sangat sexy sekali.
"Buk Bos, apakah kamu tidak merasakan debaran jantungku? Bahkan tanpa aku katakan kamu sangat tahu kalau aku sangat mencintai dan menyanyangimu," ungkap Rendra dengan sangat meyakinkan.
"Cinta mudah sekali dikatakan di mulut, namun sulit dibuktikan dengan hati dan perbuatan," ujar Amira dengan wajah kecewanya.
Amira seperti seorang gadis yang pernah mengalami trauma berat dalam urusan percintaan di masa lalu, hingga ia terlihat lebih berhati-hati dalam menjaga perasaannya, karena pertahanan seorang wanita agar tidak tersakiti adalah dengan membentengi diri agar tidak mudah rapuh dan termakan rayuan dan gombalan laki-laki.
"Ra, aku tahu kalau aku pernah melakukan kesalahan, aku juga sangat tahu kalau perbuatanku telah menyakiti hati dan perasaanmu, tapi aku tetap manusia biasa yang tidak luput dari rasa salah."
Rendra sadar dengan sikap dan kesalahannya yang membuat Amira mulai berubah menjadi dingin kepadanya, namun ia tidak menyerah dan ia tidak akan dengan mudahnya melepaskan Amira, karena bagi Rendra, selama Amira belum menikah maka saat itulah kesempatannya untuk bisa mendapatkan hati dan perasaan Amira.
Bagi Rendra, tidak ada gadis lain yang akan menjadi istrinya selain Amira, dan Rendra berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tidak akan menikah dengan wanita manapun selain Amira.
"Ren, sekarang yang perlu kita lakukan adalah meyakinkan investor dan mendapatkan inveastasi dari mereka. Saat ini kita juga sedang bekerja, jadi kita kesampingkan dulu masalah pribadi demi kesuksesan perusahaan kita," jelas Amira.
Amira melepaskan pelukannya dari Rendra secara perlahan, terlihat sekali kalau ia menjaga batasan, terlebih lagi Rendra memintanya hanya sesaat.
"Ra, tidak bisakah saat ini kita membicarakan masalah pribadi sebelum investor datang?"
Wajah Rendra terlihat masih tidak terima karena Amira menolaknya, karena bagi seorang lelaki penolakan itu akan menjatuhkan harga dirinya sehingga ia akan berusaha sangat keras untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, karena seorang pria akan merasa tertantang untuk menaklukkan hati wanita yang sangat dicintainya. Sementara Amira bertindak seperti jinak-jinak merpati, dimana sikapnya tidak bisa ditebak sama sekali. Terkadang ia bersikap manis kepada Rendra, namun terkadang ia bersikap tidak menginginkan Rendra, sehingga Rendra juga terlalu sulit untuk menebak perasaan Amira yang sesungguhnya.
"Pak Bos, apa boleh aku beristirahat? Rasanya aku sangat lelah sekali."
Amira tidak ingin membahas masalah pribadi lagi. Gadis cantik itu ingin beristirahat dan menikmati suasana indah di puncak sebelum bertemu dengan investor di malam hari.
"Baiklah!"
Tanpa meminta persetujuan Amira, Rendra langsung menggendong tubuh mungil Amira ke pangkuannya, berniat mengantarkan gadis cantik itu ke kamarnya.
"Pak Bos, apa-apaan i-,"
Belum selesai Amira mengajukan pertanyaan kepada Amira, sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Amira, walaupun cuma sedetik saja.
Rendra seolah mengisyaratkan kepada Amira kalau gadis cantik itu lebih baik diam dari pada protes karena Rendra mungkin saja akan semakin bertindak luar kepadanya.
"Tur-," ucap Amira yang langsung dipotong oleh Rendra.
"Kalau Buk Bos masih protes aku akan melakukannya lagi," ujar Rendra terang-terangan.
Amira diam, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Rendra, bersikap pasrah saja dengan perlakuan Rendra kepadanya, karena ia sangat paham kalau Rendra akan bersikap nekat kepadanya jika ia bersikap memberontak.
Ya, untuk sesaat kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu terdiam dengan bahasa tubuh mereka yang berbicara. Hari ini adalah ciuman pertama mereka, walaupun lebih tepatnya disebut dengan menempelkan bibir saja.
"Buk Bos, aku mencintaimu," ucap Rendra mesra sembari membuka pintu kamar villa.