
Dokter Rasya menatap Rendra , beliau seolah khawatir jika Rendra menyakiti wanita baik kesayangannya.
"Dokter," ucap Rendra sembari menatap ke arah sang dokter dengan tatapan yang penuh dengan sejuta keseriusan yang ia bawa bersamanya.
"Dokter, saya berjanji akan menjaga dan melindungi Tania Amira. Saya juga berjanji tidak akan membuat Amira menangis dan terluka. Saya akan menjadikan Amira satu-satunya ratu di hati saya yang akan saya perlakukan layaknya seorang ratu yang sesungguhnya, jadi kmu tidak perlu risau dan khawatir," jelas Rendra dengan tatapan serius dan janji seorang lelaki.
"Ren, tolong jangan pernah menyakiti dan melukai Amira, saya mohon kepada kamu, dan jika kamu melakukannya maka kamu akan berurusan dengan saya."
Dokter Rasya melayangkan tinjunya kepada Rendra layaknya seorang kakak laki-laki yang tengah mewawancarai calon dari adik iparnya. Ya, ia memohon dan meminta dengan sangat karena ia tidak ingin suatu hari nanti melihat sahabat baiknya itu menderita dan tersakiti karena karma yang pernah ia perbuat dahulu.
"Sya, apa yang kamu lakukan?"
Amira merasa terharu dengan sikap dokter Rasya untuk melindunginya, namun ia juga tidak ingin dokter Rasya melayangkan tinju kepada Rendra, kekasih yang sangat ia cintai dan sayangi dengan segenap hati.
"Rendra, saya menitipkan Amira kepadamu, Bro"
Dengan tetesan air mata kesedihan, dokter Rasya menggenggam tangan Rendra, menatap Rendra dengan rasa harap yang teramat sangat kepadanya.
"Dokter Rasya, kamu menjadi saksi kalau saya tidak akan pernah menyakiti dan melukai Amira. Andai Amira melakukan hal itu maka Dokter Rasya adalah orang pertama yang membunuh saya," ucap Rendra serius.
Rendra memeluk dokter Rasya dengan segenap cinta dan perasaan yang ia miliki, ia berjanji akan membahagiakan Amira sehingga sang dokter tidak perlu khawatir lagi.
"Sya, aku tidak akan membiarkan Rendra menyakitiku. Bahkan jika Rendra berniat menyakitiku maka aku orang pertama yang lebih dahulu akan membunuhnya," ujar Amira menenangkan sang dokter, sahabatnya.
Amira sangat sadar sekali kalau sang dokter sangat mengkhawatirkannya, karena Amira adalah sahabat berharga yang akan dijaga dengan segenap hati dan raganya.
"Kamu jangan khaawatir ya, Dokter, saya pasti akan menjaga Amira!" ujar Rasya.
"Terima kasih banyak, Rendra. Jika memang begitu sayang merasa sangat beruntung bisa mengenal lelaki yang sangat baik seperti kamu yang akan mendampingi Amira.
"Udah ah, sekarang kamu pulang gih, aku dan Rendra akan pergi ke kampung Rendra untuk jalan-jalan," jelas Amira.
"Aku ikut walaupun cuma jadi supir," ucap dokter Rasya.
Amira menggandeng tangan sang kekasih menuju parkiran, karena ia ingin bermanja-manja dengan sang kekasih. Sementara dokter Rasya, lelaki tampan itu saat ini menjadi seorang supir dan membiarkan dua orang yang sedang dimabuk cintai itu bisa saling melepaskan kerinduan karena keduanya baru saja jadian.
"Sya, apa tidak apa-apa jika aku dan Rendra duduk di belakang?"
"Tidak apa-apa, asalkan aku ikut," ungkap dokter Rasya dengan senyum yang dipaksakan.
Rendra kemudian melajukan mobilnya menuju Kabupaten Bandung untuk jalan-jalan.
Ya, dalam waktu 4 jam perjalanan, akhirnya Amira dan rombongan akhirnya sampai juga disebuah kampung kecil dimana Rendra pernah tinggal dan menghabiskan masa mudanya.
Amira dan rombongan turun dari mobil tepat di depan rumah yang telah dijual ke pak Santoso.
Kata-kata pertama yang keluar dari lisan mereka ketika berada di depan rumah itu karena mereka berencana ingin menginap di rumah yang sudah direhab menjadi sebuah villa itu.
"Waalaikumsalam," ucap seseorang yang terdengar seperti pelayan.
Seorang wanita separuh baya yang sangat Rendra kenal, ialah Ibu Andin. Ibu Andin adalah saudara jauh dari ayah Rendra.
"Tante, Tante disini?" tanya Rendra dengan wajah kaget bercampur bahagia.
"Iya, Nak, Tante yang bertugas menjaga rumah ini," ucap ibu Andin sembari memeluk keponakan kesayangannya itu.
Rendra mencium punggung tangan bibinya, ia merasakan kehadiran ayahnya dalam senyum sang bibi, sungguh membuat Rendra sangat merindukan ayahnya, hingga kenangan masa kecil bersama sang ayah kembali terngiang-ngiang di dalam benaknya.
Sang bibi terlihat sangat mirip dengan ayahnya dalam versi wanita, hingga kerinduan Rendra kepada sang ayah yang telah tiada akhirnya bisa terobati, walaupun kerinduan yang sesungguhnya masih belum bisa terbayarkan. Namun, ada satu hal yang mengganjal di dalam hati Rendra, mengapa sang bibi bisa berada di rumah ya g telah ia jual sebelum ia dan keluarganya pindah ke Jakarta.
"Tante, kalau boleh tahu kenapa Tante ada di rumah ini?" tanya Rendra dengan rasa penasaran yang menyelimuti hati dan perasaannya.
"Tante diminta oleh pemilik baru rumah ini untuk menjaga rumah ini, Nak, jadi Tante melakukannya karena ini adalah harta berharga peninggalan Ayahmu, Nak."
Sang bibi sangat tahu kalau rumah yang ia jaga saat ini adalah rumah hasil jerih payah kakaknya, yang dibangun dari hasil kerja keras sendiri dan harus direlakan dijual demi membiayai pengobatannya.
Bibi Rendra juga tidak tahu dan tidak menyangka karena sang pemilik baru mau menyerahkan rumah yang telah dibeli kepadanya padahal rencan awalnya rumah itu akan di runtuhkan dan akan dibangun menjadi sebuah villa karena letaknya yang sangat strategis dari perkampungan dengan pemandangan pedesaan yang sangat sempurna sekali untuk dinikmati dan memanjakan mata yang memandangnya.
'Apk Santoso baik sekali, beliau membeli rumah dan membatalkan niatnya untuk menghancurkan rumah peninggalan Papa, beliau juga memberikan aku modal untuk mendirikan perusahaan baru tanpa harus bergantung kepada perusaan beliau karena beliau yakin dengan kemampuanku, lantas aku tidak bisa berbuat banyak untuk beliau, bahkan untuk kontrak kerja dengan investor saja gagal kudapatkan, sungguh aku adalah manusia yang sangat tidak berguna sekali,' ucap Rendra di dalam hati dengan rasa bersalah yang ia bawa bersamanya.
"Rendra, kenapa kamu diam dan terlihat sedih seperti itu, Nak?" tanya sang bibi yang sadar dengan perubahan sikap Rendra.
Ya, wajah Rendra yang tadinya ceria langsung berubah menjadi murung, bahkan ia terlihat seperti ingin meneteskan air mata yang sedari tadi ia bendung.
"Tante, Rendra hanya merasa tidak berguna sebagai seorang manusia," ucap Rendra sembari menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk sang bibi.
Sementara Amira, gadis cantik yang awalnya hanya diam dan memperhatikan Rendra dan bibinya saja, kini mulai merasa khawatir dan takut jika hal buruk terjadi kepada Rendra, karena Amira adalah gadis yang sangat paham dan mengerti sekali dengan hati dan perasaan Rendra karena Amira memiliki feeling dan ikatan batin yang sangat kuat kepada Rendra.
"Ren, jangan menangis!" ucap Amira sembari menepuk-nepuk pundak Rendra yang saat ini masih dalam pelukan bibinya.
"Rendra, siapa gadis cantik itu?" tanya sang bibi sembari melepaskan pelukannya dari Rendra karena baru sadar kalau ada Amira disana.
"Namanya Amira, Tante, sekretaris pribadi Rendra di kantor," ucap Rendra sembari menghapus air mata yang beberapa tetes jatuh membasahi pipinya.
"Sekretaris pribadi?"
Tunggu season 2 nya ya guys
_End_