
'Rendra benar-benar kelewat batas, bagaimana mungkin ia mengatakan kalau aku adalah sekretaris pribadinya padahal kami baru saja jadian dan ia juga mengatakan kalau ia ingin menjadikan aku istrinya, dasar buaya!' ucap Amira di dalam hati dengan rasa kesal yang ia bawa bersamanya. Sungguh, Amira benar-benar tidak suka jika Rendra tidak memperkenalkannya secara resmi kepada bibinya.
Seorang wanita adalah makhluk paling aneh yang sulit dipahami oleh lelaki, terkadang sebuah kata pembuktian dihadapan orang banyak sangat diharapkan karena itu salah satu bentuk cinta dan kasih sayang yang diharapkan oleh seorang wanita. Selain itu, wanita tidak suka dirahasiakan dan diperlakukan seolah-olah ia adalah simpanan yang ditutup rapat sehingga hati seorang wanita merasa sangat kesal dan marah sekali.
"Tante, kenalin saya Rasya, saya adalah dokter Rendra dan saya adalah lelaki yang sangat mencintai dan menyayangi Amira," sela Rasya yang paham dan mengerti kalau saat ini perasaan Amira sedang tidak baik-baik saja.
"Wah, jadi Nak Dokter tampan ini adalah dokter pribadi Nak Rendra dan pacarnya gadis cantik ini toh," ucap sang bibi sembari menatap ke arah dokter Rasya dan Amira secara bergantian.
Mendengar pengakuan dokter Rasya, wajah Rendra menjadi memerah, ia merasa tidak suka dan tidak senang jika dokter Rasya dengan terang-terangan mengakui rasa sayang dan cintanya kepada Amira dihadapan Rendra dan juga bibinya.
"Kalian pasti capek setelah perjalanan panjang dari Jakarta, Tante akan menyiapkan makan malam, kalian semua beristirahatlah terlebih dahulu," ucap sang bibi bersemangat.
Wanita paruh baya itu mengantarkan Amira menuju kamarnya untuk beristirahat sementara Rendra dan dokter Rasya juga menuju ke kamar yang dahulu biasa Rendra tempati.
Ada rasa tenang dan sangat nyaman sekali ketika Rendra menginjakkan kakinya di kamar yang sangat ia rindukan, kamar yang terlihat masih tetap sama seperti saat ia meninggalkan kamar itu. Ya, seolah dijaga keasliannya, rumah itu masih terasa seperti rumah Rendra, rumah yang telah lama ia tinggalkan karena merantau dan saat ini kembali ia kunjungi.
Terbayang oleh Rendra saat-saat ia muda, saat dimana ia menghabiskan waktu di kamar itu, mulai dari beristirahat sampai belajar dengan sangat giat demi sukses di masa dewasanya. Namun, setelah umurnya udah lewat dari seperempat abad, ia masih belum sukses dan masih belum bisa membanggakan kedua orang tuanya, bahkan ia masih bergantung dengan Amira yang selalu membantu dan mendukungnya tanpa kenal lelah dan tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Kring ..., Kring ..., Kring ....
Lamunan Rendra dibubarkan oleh bunyi telepon genggamnya.
Rendra tentu saja langsung mengangkat panggilan telepon itu karena pak Santoso yang menghubunginya.
[Selamat sore, Pak]
Sapaan lembut yang terdengar sangat sopan itu dilontarkan oleh Rendra kepada pak Santoso, seorang pahlawan yang sudah banyak membantu hidupnya.
[Sore, Rendra, kamu lagi di kampung halaman ya?]
Seolah telah mendapatkan laporan, pak Santoso menebak dimana keadaan Rendra sekarang.
[Iya, Pak, saya bersama sekretaris dan teman saya sekarang ada di kampung halaman saya, karena saya rindu sekali dengan ayah saya dan kenangan masa kecil saya di kampung ini]
[Bagaimana dengan investor yang waktu itu kamu ceritakan kepada saya?]
[Saya masih berusaha, Pak]
Jawaban bersemangat yang Rendra lontarkan terlihat sangat meyakinkan dan penuh dengan percaya diri yang sangat tinggi.
[Baiklah, kalau kamu berhasil mendapatkan investor itu maka kamu boleh memiliki rumah masa kecilmu itu sebagai hadiah dari saya]
[Apa, Pak?]
[Kamu boleh memiliki rumah itu kembali sebagai hadiah daur saya]
Kata-kata lantang yang didengar oleh Rendra membuat ia kembali bersemangat, ia seperti mendapatkan kekuatan kembali agar ia bisa mendapatkan kembali kepercayaan investor demi mendapatkan kembali rumah kenangannya bersama dengan ayah dan ibunya, rumah masa kecil yang memiliki sejuta cerita dan kenangan terindah yang tidak akan pernah dilupakan oleh Rendra.
[Baiklah, Pak, saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk mendapatkan kepercayaan investor]
Rendra menutup panggilan telepon genggamnya dengan semangat yang terlihat dari senyum indah merekah yang tergambar di wajah tampannya.
"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri?" celoteh dokter Rasya yang sadari tadi memperhatikan gerka-gerik Rendra.
"Keppo lo, bukan urusan Dokter kali," uhar Rendra sembari mencibir kepada dokter Rasya. Sungguh, sikap keduanya terlihat seperti remaja SMA yang sedang bersaing dalam memperebutkan sesuatu, seperti musuh bebuyutan yang saling ingin mengetahui kegiatan masing-masing.
"Dasar lo!" balas dokter Rasya.
"Eh, ngomong-ngomong ngapain lo ngikutin gw?"
Sekarang tidak ada lagi bahasa formal antara Rendra dan dokter Rasya karena keduanya kini sudah bersikap seperti dia orang teman yang seumuran.
"Ya gw mau sekamar dengan lo lah," jawab dokter Rasya santai sembari menjatuhkan tubuhnya di ranjang king dengan seprai berwarna biru itu. Ya, dokter Rasya bertingkah seolah-olah kamar itu adalah kamar miliknya sendiri tanpa peduli dengan Rendra yang sedang kesal kepadanya dengan wajah yang memerah.
"Keluar lo sekarang, atau gw paksa keluar?"
Dengan nada suara tinggi dan wajah yang menanggung kekesalan dan amarah, Rendra menunjuk dengan tangan kiri ke arah pintu keluar karena ia tidak ingin dokter Rasya mengganggu ketenangan hatinya.
"Baik, aku akan keluar dan sekamar dengan Amira," ucap dokter Rasya sembari bangkit dari tempat tidur untuk berjalan menuju kamar Amira.
"Eh tunggu! Enak aja lo mau ke kamar Amira, dia calon istri gw dan gw tidak mengizinkan lo mengganggu Amira.
Rendra sadar, kalau di rumahnya hany aada tiga kamar, dimana satu kamar adalah kamar ibu dan ayahnya yang saat ini sedang ditempati oleh Amira, satu kamar lagi adalah kamar tamu yang saat ini tengah dipakai oleh bibinya.
"Sekarang aja lo bilang calon istri, tadi malah lo bilang sekretaris pribadi, benar-benar nggak bisa menjaga hati dan perasaan wanita lo!"
Dokter Rasya akan memastikan kebahagiaan Amira, ia tidak akan membiarkan Amira bersedih apalagi itu karena seseorang makhluk yang bernama laki-laki. Ya, sebenarnya tidak ada yang salah dari pernyataan Rendra, kalau Amira memang sekretaris pribadinya, namun sebagai seorang kekasih tidak seharusnya ia tidak mengakui Amira sebagai kekasih hati yang sangat ia cintai padahal mereka berdua juga telah memiliki rencana ke depan untuk menikah.
"Rendra, apakah kamu tidak tahu kalau pernyataan yang kamu sampaikan melukai hati dan perasaan Amira?"
Mata dokter Rasya memerah penuh kekesalan ketika menatap dan menjelaskan kepada Rendra.
"Jadi, maksud lo hanya lo yang bisa mengerti dan memahami perasaan Amira?" tanya Rendra dengan nada suara menantang.