Crazy Boss

Crazy Boss
Lima Belas



Pukul 08.10 pagi, Neng Jelita waktunya berangkat kerja seperti biasa loh, berangkat rebutan tempat duduk di halte bus. Kalo soal Neng Jelita itu kagak usah heran, dia ahli saling dorong mendorong biar nggak terlambat masuk kerja hari keduanya.


Tapi ... Ada tapinya, loh, Neng Jelita ini asyik dorong kiri-kanan, samping - depan - belakang. Ada seseorang menepuk pundaknya. Spontan dia (Jelita) menoleh langsung mengganggu aktivitas dorong mendorong itu.


Senyuman dari seseorang mengembang untuk dia di pagi cuaca yang sudah menyinari alam semesta. Gigi pepsodent putih bersih berderet rapi tanpa ada sisa cabe di sela-sela gusinya. Kalah bung sama matahari yang panas di atas kepala para manusia-manusia biadab.


Neng Jelita terdorong mundur dari segerombolan penumpang berebutan masuk ke dalam bus semesta.


"Mau berangkat kerja, kan? Yuk, aku antar." Ajak seseorang menawarkan jasa pada Neng Jelita.


Neng Jelita masih bengong di tempat, semalam dia mimpi apa sampai sosok pria itu baik banget jauh-jauh dari kota seberang hanya menawarkan jasa tumpangan pada dia (Jelita)


Badan tegap tinggi yang berdiri tengah membuka pintu untuk gadis yang berkulit putih, wajah blasteran itu menyambut tawaran darinya.


"Ayo! Kok bengong saja," teriak pria itu tidak peduli sama sekitar yang tengah menyaksikan adegan seperti di film-film drama Korea, Taiwan, Hollywood, thailand, mana saja deh. Pokoknya nonton gratis.


"Aku itu nggak sedang dalam dunia mimpi, kan? Kok dia tiba-tiba baik banget? Apa ada maunya, ya? Mungkin saja!" batin Jelita dalam hati terus bertanya-tanya soal pria yang masih berdiri menunggu sambutan darinya.


Pria itu kembali menutup pintu mobil yang dia buka, kemudian dia kembali melangkah kaki arah gadis yang masih bengong menatapnya terheran-heran.


"Halow!" Pria itu melambaikan tangannya di depan wajah Jelita.


Jelita malah melirik kagak kedip dua matanya itu. Masih tercetak senyuman pada pria ada di sampingnya. Tidak berapa lama pria itu menyeret Jelita beranjak dari posisi berdiri.


****


Dalam perjalanan menuju kantor, Jelita masih sibuk sama pikirannya dilirik samping sosok pria yang sedang serius menyetir. Lalu kembali menghadap depan si Jelita. Lagi, dia melirik samping sehingga buat pria yang menyetir ikut menorehnya.


Jelita pun berkedip-kedip beberapa kali pada dua matanya. Dia merasa aneh pada pria ini, senyuman, sikap, perhatian.


"Eh ... Pak ... Aku mau tanya, boleh?" Jelita akhirnya membuka pembicaraan setelah beberapa menit diam dari halte hingga menuju ke kantor.


Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ragu untuk menanyakan, takut pria yang ada di sampingnya itu kegeeran.


"Apa? Kamu lapar? Belum sarapan?" jawab pria itu masih sama dengan suara yang lembut dan sok perhatian.


"Bukan, bukan, aku sudah sarapan kok, aku cuma .... Tumben-tumbenan Bapak baik banget sampai menawarkan jasa untuk aku menumpang dimobil Bapak?  Jangan bilang Bapak baik ada maksud tertentu, ya?" ucap Jelita ragu-ragu menanyakan soal yang sudah tercetak di otaknya dari tadi.


Jelita melirik pria disampingnya takut kalau pria itu tersinggung sama ucapannya. Jelita menunggu jawaban dari pria disampingnya, sudah ditebak oleh Jelita sendiri kalau ucapan dari pertanyaannya pasti menyinggung perasaan dia.


"Eh ... Soal pertanyaan dariku, nggak perlu dijawab. Enggak apa-apa, anggap aku itu ..."


"Kamu kan, sekretarisku sekaligus pacarku? Jadi wajar aku menjemputmu dan mengantar dirimu. Apa kamu sudah lupa dengan sepakatan kontrak yang kamu tanda tangani kemarin?" potong Ardian menyambung dan menjawab pertanyaan dari gadis di sebelahnya.


Dua mata saling bertemu, Jelita bungkam saat mendapat jawaban dari pria yang sudah dia juluki pria gila. Dia juga lupa soal kontrakan itu, Ardian masih memberi senyuman manis untuk gadis di depannya. Bagai waktu berhenti berikan kesempatan untuk mereka berpikir sejenak.