Crazy Boss

Crazy Boss
Enam



Setelah selesai sarapan bersama pria yang tidak sengaja dia cium kemarin itu. Pada akhirnya Jelita memilih untuk segera menghindar dari pria tidak dia kenal tersebut.


"Kau mau kemana?" tegur pria itu


"Hah? Mau pulang dong memang mau kemana lagi?" respon Jelita


"Duduk dulu, aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucapnya


"Sesuatu? Memang kau kenal diriku?" Jelita mulai was-was dengan ucapan pria di sebelahnya


"Justru aku tidak kenal kau, maka mulai hari ini kita berkenalan," ucapnya lagi


"A--"


Ringtone jadul milik Jelita berdering kata-kata yang mau di jawab harus di tunda seseorang meneleponnya sedikit menjaga jarak soalnya sangat bahaya jika sampai pria itu mendengar pembicaraan dengan si penelepon.


"Halo,"


"....."


"Iya, saya sendiri,"


"......"


Jelita mendengar sambil melirik pria jarak beberapa meter tengah bermain ponsel miliknya.


"Benarkah, ibu yakin aku di Terima?" Suara bahagia terdengar jelas oleh beberapa pengunjung di KFC ini.


"Baiklah, Bu. Hari ini ya! Ketemu dengan siapa jika aku boleh tahu?"


"...."


"Baik, Bu, Terima kasih banyak."


Telepon berakhir Jelita kembali menghampiri pria sedang sibuk dengan ponselnya.


"Eh... Maaf, aku harus kembali ke kostku, jam satu siang aku harus interview kembali, jadi untuk sarapan tadi Terima kasih, permisi!" ucap Jelita berpamitan dengan pria itu tidak beri kesempatan untuk perkenalan diri terlebih dahulu.


Jelita malah bergegas keluar karena waktu yang ia punya sekarang tidak akan cukup sampai di kantor kemarin itu. Pria yang berdiri depan KFC memperhatikan gerak-gerik gadis manis itu telah menjauh dari penglihatannya.


Ponsel miliknya bergetar, "Baiklah, aku akan kesana lima belas menit lagi," ucap pria itu melangkah kaki arah parkiran dimana mobil miliknya berada.


Jelita mulai bersiap diri untuk mandi mencari baju layak di pakai, setelah itu tas serempang sudah bermodel  modern. Asal bisa di pakai bersyukur.


Waktu tinggal satu jam, ia sudah terlambat apalagi menunggu bus di halte paling ramai. Semua lengkap tidak ada lagi yang tertinggal ia berdoa kepada orang tua ada di meja kecil.


"Semoga interview kali ini berhasil, Ma, Pa. Do'ain Jelita, ya! Aku berangkat dulu," ucapnya berpamitan kepada figur foto yang kusam hanya hitam putih.


****


Sementara di kantor perindustrian tepat jalanan penuh polusi asap menyiksa batin. Seorang wanita mengetuk pintu tiga kali lalu masuk tanpa perintah izin dari pria duduk tengah melihat laporan hasil kinerja karyawannya.


Jelita Ardhiza Cwenzie,


20 tahun,


NIP : 100027839


Posisi di tetapkan : Office Girls


"Baiklah, kau boleh kembali ketempat kerjamu," ucap pria itu datar masih menatap tulisan huruf rapi dan tidak ada sedikit coretan di kertas tersebut.


Tidak berapa kemudian seseorang gadis meneriaki supir angkot umum, "Kiri Bang!"


Angkot umum itu mendadak berhenti di pinggir jalan membuat para penumpang ikut memiring badan masing-masing. Jelita turun kemudian berikan selembar ribuan kepada angkot tersebut.


Setelah itu ia pun masuk dengan mata silau karena sinar matahari tepat di atasnya sulit buka kedua mata itu. Ia masuk sebuah gedung tinggi pernah di datangi beberapa hari itu. Pertama di tendang keluar karena dikatai pengemis, kedua di suruh datang lagi untuk interview mengetes kepintaran dan sekarang ia berdiri di depan gedung tinggi dengan seseorang satpam berbeda lagi.


"Selamat siang, Pak, aku mau--"


Belum selesai berbicara satpam ini sudah membukakan pintu untuk Jelita. "Silakan, mbak, masuk saja." potong satpam itu senyum begitu ramah


"Oh, Terima kasih," tanpa ragu ia pun masuk dan di sana seorang karyawati berdiri menunggu kedatangan peserta terakhir ini.


"Dengan Jelita?" sapa karyawati itu menyebut nama gadis remaja ini.


"I-iya," sahutnya gugup


"Silakan ikut denganku, perkenalkan nama saya Jenni bagian divisi marketing pemasaran, kebetulan digedung ini kami memang kekurangan karyawati jadi direkrutur kami menerima anda sebagai peserta terakhir. Semoga saja anda di Terima dan bisa bekerja sama dengan kami di sini," terang Jeni panjang lebar s


suara dentingan lift pun terbuka lebar


Jelita hanya menyimak kata-kata wanita cantik di sebelahnya. Ia melirik sekitar ruangan rata-rata sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Wanita itu masuk ke salah satu ruangan dan entah apa yang di bicarakan karena Jelita masih di luar ruangan itu.


Beberapa menit kemudian wanita cantik itu keluar dari ruangan tersebut lalu mempersilakan Jelita untuk masuk ke ruangan itu.


"Silakan Mbak Jelita, semoga berhasil." senyum Jeni memberikan semangat untuknya. Jelita hanya bisa senyum ciut.


Ketika ia masuk ke dalam ruangan itu kembali menutup pintu oleh Jeni. Di depan mata seseorang duduk membelakanginya karena kursi besar itu tidak terlihat siapa pemilik perusahaan ini.


"Selamat siang, aku Jelita untuk interview kedua ka--"


Jelita terkatup rapat bibirnya, karena kursi besar itu berputar  memunculkan sosok orang pernah ia temui dan juga pernah ia ceroboh tidak sengaja telah mencium sembarang tidak ia kenal sama sekali.


"Kau!" lanjut Jelita bersuara karena kaget dengan apa ia temukan itu.


"Hai, kita bertemu kembali, Jelita Ardhiza Cwenzie." sapa pria itu penuh senyuman lebar.


Ardian Pratama Alterio, 31 tahun, pria termuda memiliki perusahaan industri dan asuransi kesehatan salah satu terbesar di Negara Indonesia. Jelita kembali bertemu dengan Ardian untuk ke tiga kalinya tepat di mana ia di Terima perusahaan miliknya sendiri.


****