
ησтєѕ αυтнσя : нαι... вαgαιмαηα ¢єяιтα уηg αкυ вυαт ѕαмραι ѕєкαяαηg. ρα∂α ѕυкα gαк? нємм .... ραѕтι кαgαк уα! нαнαнαнα... gαк αρα-αρα. αкυ тєтαρ αкαη ℓαηʝυт υρ∂αтє тєяυѕ ωαℓαυ кαℓιαη тι∂αк ѕυкα ѕαмα ¢єяιтα ιηι.
gєηяє : яσмαη¢є ( ¢єσ gιℓα ѕαмα кαяуαωαтι вαяυ)
тαg : яσмαη¢є + нυмσя + ∂яαмαтιѕ + кєѕєℓ + ʝєηgкєℓ + кσηƒℓιк ηуα яιηgαη.
ѕєℓαмαт мємвα¢α ....
Ting ... Tong ... (2x)
Bel apartemen milik Ardian berbunyi dengan cepat dia bangun dan membuka pintu untuk seorang gadis manis yang berkulit putih susu itu. Pada saat membuka pintu itu telapak tangan putih bersih dan halus didepan pria yang menunduk menatap sangat lama.
"Ngapain kau lihat telapak tanganku? Aku minta ongkos gojek!" seru Jelita bersuara.
Ardian langsung menatap gadis itu yang merengut, "Apa? Ongkos gojek? Memang kau tidak punya sepersen pun?" Ardian malah bertanya kepada Jelita.
Jelita mendengus kesal, "kayak mana punya, gaji saja belum keterima apalagi ini? Bapak tidak lihat aku itu bukan cewek susah. Jadi cepat kasihan gojek nya menunggu!"
Ardian mau tak mau mengeluarkan dompet dan Jelita sudah tidak bisa menunggu dirampas dompet pria dari tangannya kemudian dikeluarkan selembar warna biru ungu-unguan itu. Setelah itu dia pun kembali ke lobi bawah berikan kepada tukang gojek yang parkir di depan.
"Ini bang, makasih ya! Maaf lama tunggunya," ucap Jelita berikan yang selembar lima puluh ribu kepada tukang gojek yang telah keluar dari gedung apartemen itu.
Jelita masuk kembali ke apartemen pria gila itu. Ardian baru saja selesai mandi dan bel pun kembali bersuara nyanyian merdu. Pria pun melangkah ke pintu depan dengan santainya berjalan memamerkan beberapa tembok kotak batu bata itu.
Jelita masih asyik menekan bel itu tak kunjung buka pintunya. Pegel sudah kedua kaki berdiri itu, sebentar lagi penghuni apartemen ini bakal keluar memaki dirinya karena berisik di malam hari.
"Mana sih! Lama banget pun buka pintu!" Omel Jelita setia menekan bel itu.
Gagang pintu itu terdengar tanda seseorang sudah membuka pintu itu. Saat pintu mundur pelan-pelan. Jelita pun langsung menerobos masuk tanpa izin lagi sama pria gila itu.
Ardian mundur beberapa langkah sehingga tertutup dibalik daun pintu itu menyipit. Gadis itu pun lega dan bisa menghirup udara panjang.
Klik!
Pintu itu pun tertutup sendiri dan pria itu masih memperhatikan gadis manis berkulit putih itu dari atas hingga bawah kakinya. Jelita pun memutar badannya dan kedua matanya terbelalak sesuatu yang tidak pernah dia bayangi.
Dia kembali memutar badannya, dia sangat malu tidak sadar masuk sembarang apartemen. Ardian mengangkat kakinya arah gadis itu.
"Kenapa? Kau baru pertama kali lihat postur tubuh seperti ini?" Ardian meraih tangan gadis itu untuk menyentuh kulitnya.
Jelita berdesir kejut dan mundur beberapa langkah menjauh dari pria gila itu. Pria itu tercekikihan melihat gadis itu terperanjat takut.
"Bapak jangan gila, ya! Jan-gan buat aneh-aneh?! Sebenarnya bapak memanggil aku ke sini untuk apa? Jan-gan bilang ... Eeerr ..." Jelita terbata-bata berbicara dengan Ardian. Apalagi ceku'an nya kembali kambuh.
"Aku cuma mau kau merasakan postur kulit badan seperti ini, tidak salah bukan?" ucap Ardian santai dan malah tidak ada masalah yang besar.
"Ta-pi ... eerr..." Jelita kesulitan untuk membalas ucapan pria gila depannya. Ceku'an sangat mengganggu pribadinya kalau ketemu dengan pria tampan apalagi penampilan dengan satu handuk menggantung di pinggang dan penuh dengan kotak batu batako itu.
Jelita paling anti dengan kebohongan jika dia sangat bahagia melihat postur badan seperti Ardian itu.. Malahan dia sangat berterima kasih dengan Maha Kuasa kalau dia dilahirkan kedua mata yang normal.
Jika dia berbohong maka keunikan aneh darinya adalah ceku'an dari tenggorokannya. Biasanya orang akan ketahuan berbohong itu mulai dari hidung atau keringat dingin.