Crazy Boss

Crazy Boss
Terlambat Bangun



"Amira, Sayang, bangun!"


Terdengar suara Rendra tengah memanggil-manggil nama Amira.


"Tuan Rendra, Nona Amira belum bangun?" tanya salah satu pelayan villa.


"Belum, Bi, padahal sudah subuh, tidak biasanya Amira bangun telat seperti ini," jelas Rendra.


Ya, dulu ketika Amira belum mengenal Tuhannya, ia memang memiliki kebiasaan bangun siang, tapi seiring berjalannya waktu, saat masa-masa sulit menghampiri, Amira mulai berubah dan mendekatkan dirinya kepada sang pencipta, ia selalu bangun untuk melaksanakan salat subuh.


"Apakah Amira sakit ya, Bi?"


Rasa khawatir berlebihan membuat Rendra mengkhawatirkan gadia kesayangannya itu.


"Saya juga sudah berusaha masuk ke kamar Amira, tapi kamarnya dikunci, Bi," jelas sang Rendra dengan wajah yang juga penuh dengan sejuta kekhawatiran.


"Tunggu, Tuan, saya ambil kunci serap dulu."


Bibi berjalan keluar villa untuk mengambil kunci serap untuk kamar yang Amira tempati. Keduanya sangat takut hal buruk terjadi kepada Amira. Rendra takut Amira sakit dan ia tidak ingin gadis yang dicintainya itu kenapa-napa. Ia telah kehilangan ayahnya yang sangat ia cintai namun belum sempat beliau bahagiakan, jadi ia tidak akan lagi mengulang kesalahan yang sama dan ingin menebus semua kesalahan di masa lalu dengan menjaga sang wanita idaman dengan baik.


'Amira, kita sebentar lagi akan menikah, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada kamu, bertahanlah dan hiduplah untuk waktu yang lama menjadi pendampingku!'


Rendra membatin dan mengungkapkan isi hati dan perasaannya yang sesungguhnya, walaupun sebenarnya ia adalah orang yang sangat sulit sekali mengungkapkan perasaan.


'Saya harus cepat!'


Setelah menemukan kunci serap, bibi berlari kembali menuju kamar Amira dan dengan bergegas beliau membuka kamar Amira.


Alangkah terkejut dan kagetnya Rendra dan bi Iyem ketika melihat Amira masih lelap tertidur tapi di lantai bukan di ranjang sembari memeluk ponselnya.


"Amira, Ra, bangun! Ini sudah jam 9 pagi, hari ini kita akan bertemu inverstor!"


Rendra membangunkan Amira dengan lembut, penuh cinta dan kasih sayang yang teramat sangat tulus.


Perlahan terlihat Amira tengah membuka matanya dan melihat kaget kepada Rendra dan pelayan yang tengah mengerumuninya.


"Rendra, Bibi, ada apa?" tanya Amira kaget dan heran dengan apa yang terjadi.


"Ra, bukankah hari ini kita akan meeting?"


"Ha?"


Amira kaget dengan mata membelalak dan wajah mangap, terlihat sekali kalau ia syok karena lupa kalau hari ini adalah hari yang sangat penting untuk mereka


"Ren, Bibi, memangnya sekarang sudah jam berapa?" tanya Tania sembari menggaruk-garuk rambutnya dengan kesadaran yang masih belum sepenuhnya.


"Jam 9 pagi, Buk Bos...!" jawab Rendra dengan sedikit kekesalannya sebagai seorang atasan.


"Jam 9 pagi?"


Amira langsung berdiri dan berlari menuju kamar mandi karena ia akan bertemu klien jam 11 siang dan ia belum di make up sama sekali, apalagi perjalanan dari rumah menuju tempat meeting sekitar satu jam.


"Amira, hati-hati!"


"Siap, Pak Bos."


Amira membasuh tubuhnya dengan air mengalir dan merasakan segar dan sejuknya air itu.


Setelah selesai mandi, Amira melaksanakan saat sunat dhuha karena ia ingin menghadap sang pencipta, bersyukur atas nikmat dan kesempurnaan hidup yang Tuhan berikan kepadanya, selain itu Anira ingin acara meeting hari ini berjalan lancar tanpa ada hambatan sama sekali.


'Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, hamba bersyukur ternyata hamba berhasil sampai di titik ini, hamba juga bersyukur diberikan kekuatan sampai sejauh ini. Alhamdulillah, terima kasih banyak atas semua berkah, rahmad dan nikmat yang telah Allah berikan kepada hamba, semoga meeting hamba berjalan lancar hingga hamba dan Rendra bisa sukses dalam karir, Aamiin ...,' batin Amira berdoa sangat khusuk.


Setelah salat Amira bersiap untuk sarapan pagi karena perut Amira sudah kriuk-kriuk, lapar sekali.


Amira berjalan keluar dari kamarnya menuju meja makan dengan semangat dan hati yang sangat berbunga-bunga.


"Buk Bos, kamu sudah selesai mandi, yuk sini!"


Rendra langsung menghampiri gadis cantik itu dan membawanya ke meja makan untuk sarapan.


Bi Iyem menyiapkan makanan dan menghidangkannya di depan Amira dan Rendra. Ya, roti bakar dengan slai coklat yang menjadi kesukaan Anira dan tidak lupa susu putih yang menjadi menu utama Amira di pagi ini.


Amira kemudian menyeduh susu putih itu dengan mengucapkan bismillah. Kemudia Amira menyuap roti bakar slai coklat yang sangat ia sukai.


"Bi, mintak tolong Kang Asep untuk menyiapkan mobil, kami ingin langsung ke gedung saja," ungkap Amira yang bergegas menghabiskan sarapannya karena ia sudah tidak sabar untuk bertemu klien.


Amira dan Rendra kali ini meminta jasa supir dari pihak villa karena keduanya ingin bersantai sembari menikmati pemandangan indah puncak, selain itu agar tidak banyak energi yang terkuras karena pertemuan dengan klien hari ini adalah acara penting yang sangat berharga demi masa depan perusahaan mereka.


"Buk Bos, semangat banget," ungkap Rendra sembari menatap wajah cantik Amira yang terlihat sangat segar dan bersemangat pagi ini.


Wajah Amira bahagia dan sangat berseri-seri karena ini adalah hari bahagianya, bahkan Amira sudah lama tidak terlihat sebahagia dan seceria ini sejak ia dan Rendra bekerja sama.


"Iya dong, ini adalah kesempatan pertama kita, jadi aku tidak akan menyia-nyiakannya," ujar Amira dengan senyum semangat yang terlihat sangat menawan dan cantik.


"Bi, tolong siapkan ya!" ujar Rendra.


"Baik, Nona, Tuan, tapi Tuan dan Nona habiskanlah dulu makanannya, Ibu keluar dulu," ungkap bi Iyem dengan senyuman.


Rendra dan Amira menikmati sarapan paginya, mereka butuh tenaga untuk hari yang sangat penting ini, namun mereka bergegas karena keduanya tidak ingin terlambat karena disiplin adalah salah satu jalan menuju kesuksesan, jadi keduanya harus memberikan kesan yang baik kepada klien.


"Pak Bos, aku sudah siap," ujar Amira sambil berdiri.


"Kaki kamu tidak sakit lagi, Ra?" tanya Rendra dengan rasa khawatir yang masih ada di dalam hatinya.


"Aman, berkat seseorang yang merawatnya," ujar Amira yang membuat debaran tak menentu di hati Rendra.


"Tapi kenapa kamu tidak memanggilku dengan panggilan Mas lagi?" goda Rendra yang sepertinya masih belum move on dengan ciuman pertamanya dengan Amira malam tadi.


"Sekarang jam kerja dan kita disini sebagai Bos dan sekretaris, jadi bersikaplah profesional," ujar Amira sembari membalikkan badannya dari Rendra.


Amira malu, wajahnya memerah dan ia ingin segera kabur agar debaran jantungnya yang juga tidak kalah luar biasa tidak didengar oleh Rendra.


"Buk Bos, aku mencintaimu, jika kita berhasil hari ini, apakah kamu mau menikah denganku?"