Crazy Boss

Crazy Boss
Kegundahan Hati



Hati Rendra merasa sangat heran dan sangat aneh karena ia tidak menyangka ada wanita yang teramat sangat agresif seperti Tania, padahal ia adalah gadis yang sangat cantik sekali. Rendra saja tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada Amira padahal mereka berdua telah mengenal sangat lama. Ya, Rendra hanya menunjukkan rasa sayangnya kepada Tania dengan sikap dan perbuatannya kepada Amira bukan dengan kata-kata.


'Apakah gadis ini tulus? Bagaimana mungkin ada perasaan cinta padahal kami baru saja mengenal?' tanya Rendra pada dirinya sendiri karena merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar barusan.


"Mas, tidak ada alasan untuk jatuh cinta dan aku juga tidak menyangka jika aku jatuh cinta kepadamu pada pandangan pertama, bukan tidak bersebab, kamu adalah lelaki yang sangat polos namun baik hati, kamu rela menolongku padahal kamu tidak mengenalku. Kamu bahkan memperlakukanku seperti cinderella karena memberikan sepatu kaca yang sangat cantik ini untukku," ucap Tania blak-blakan.


Entah Tania adalah gadis yang sangat berani hingga tidak bisa menyembunyikan apa yang dirasakannya di dalam hatinya sama sekali.


Sungguh, Tania sangat jauh berbeda dengan Amira yang sangat anggun dan bermartabat, yang menjaga diri dan kehormatannya dengan teramat sangat.


"Tania, katanya lapar, yuk makan!"


Rendra berhenti di sebuah caffe yang ada di tepi pantai yang menyajikan pemandangan alam yang teramat sangat indah.


"Mas, apakah kamu merasa tidak nyaman makan dan jalan-jalan denganku seperti ini?" tanya Tania dengan nada suara merajuk dan muka masamnya.


"Tania, cepatlah makan! Aku harus segera menyusul Ibu ke kampung."


Rendra tidak menatap Tania sedikitpun karena ia merasa tidak nyaman dengan ungkapan perasaan gadis itu, bukan karena Rendra tidak menyukainya hanya saja keluarga adalah segalanya bagi Rendra. Ia tidak mungkin mengabaikan keinginan orang tuanya demi untuk kebahagiaan dirinya sendiiri, apalagi ayahnya baru saja meninggal, tentu saja saat ini ibunya sangat mengharapkan kehadirannya di kampung halaman mereka.


Tania diam karena ia tidak berhasil membujuk Rendra, hingga kini ia memikirkan berbagai macam cara di benaknya agar Rendra tidak menolaknya lagi.


'Gila, baru kali ini ada lelaki yang menolakku!' ucapan kesal dan geram di dalam hati membuat Tania meninju meja kaca yang mereka duduki hingga tangan gadis cantik itu berdarah.


"Tania, apa yang terjadi? Kenapa kamu meninju meja? Apa ada yang salah? Apa ada yang membuatmu marah dan kesal?"


Rendra langsung membalut tangan Tania dengan sapu tangan berwarna biru pemberian dari Amira yang selalu ia bawa kemana-mana.


Rendra heran dan bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya tengah difikirkan oleh Tania, namun gadis cantik itu hanya bisa merengek kesakitan akibat dari ulahnya sendiri.


"Tania, aku tidak tahu mengapa kamu bersikap kekana-kanakan seperti ini, tapi satu hal yang harus kamu tahu kalau kamu tidak boleh melukai tubuhmu seperti ini, apalagi ini adalah aset berharga yang kamu punya. Kita sebentar lagi akan melakukan acara fashion show untuk proyek pertama dan terbesar perusahaan," omel Rendra.


Ya, Rendra bukanlah lelaki yang memiliki rasa peka sama sekali terhadap wanita, bahkan ia tidak sadar kalau wanita yang ada di depannya itu tengah mencari perhatian kepadanya dengan cara melukai dirinya sendiri.


"Maaf!"


Hanya kata-kata singkat yang terdengar manja itu yang keluar dari lisan Tania, ia merasa sangat malu karena sikapnya yang kekanak-kanakan bukan malah membuat Rendra menerima cintanya, tetapi malah membuat Rendra merasa kecewa.


"Tania, kamu tunggulah disini, aku akan mengambil peralatan P3K ke mobil dan akan segera kembali untuk mengobati lukamu."


Rendra berlari sangat kencang menuju parkiran, karena ia merasa iba dan tidak tega melihat gadis itu harus menanggung sakit karena ulahnya sendiri. bagaimanapun juga, Rendra memiliki tanggung jawab untuk menjaga modelnya karena ini adalah kesempatan besar pertama yang dipercayakan oleh atasan kepadanya sehingga ia tidak boleh melakukan kesalahan kecil yang nantinya akan bersifat fatal untuk kesuksesan karirnya di masa depan.


Rendra tiba-tiba mengingat Amira, gadis yang setiap hari cerewet dan selalu meminta kabar darinya. Ya, walaupun hanya sekedar menanyakan kabar, Amira selalu memiliki kebiasaan untuk mendengarkan suara Rendra setiap hari karena bagi Amira, Rendra adalah penyemangat hidupnya begitu juga sebaliknya, Rendra akan sangat merindukan Amira jika gadis itu tidak memberikan kabar kepadanya dalam sehari.


Amira dan Rendra tidak pernah bertengkar lama, karena mereka berdua pasti tidak akan pernah tahan. Pertengkaran terlama mereka adalah satu minggu, itupun dengan menahan ego masing-masing dan akahirnya salah satu dari mereka akan mengalah dan memulai pembicaraan kembali sehingga mereka lupa kalau mereka pernah bertengkar.


'Aku harus menelpon Amira.'


Rendra menghidupkan ponselnya kembali dengan sejuta pesan bertubi-tubi yang dikirimkan oleh Amira pertanda kekhawatirannya.


Seperti biasa, Rendra tidak ingin membaca pesan itu karena Rendra sudah tahu dan sudah hapal isinya. Bahkan Amira sering sekali mengirim spam, sehingga terkadang Rendra kesal membacanya, namun juga terkadang Rendra tersenyum tipis dengan tingkah Amira itu.


"Buk Bos oh Buk Bos," ucap Rendra sembari menggeleng-gelengkan kepalanya karena ia


merasa kalau Amira adalah hiburan yang membuatnya tertawa lepas dari kesibukan dan tumpukan pekerjaan yang membuat kepalanya pusing dan stres.


[Selamat sore, Buk Bos]


Sapaan lembut dengan senyum termanis yang Rendra berikan sebagai sambutan pembuka video call mereka.


[Sore]


Jawaban kesal dan merajuk yang Amira berikan sudah membuktikan kalau Amira saat ini tengah marah dan kecewa dengan sikap Rendra. Namun, bukan Rendra namanya jika ia tidak bisa membujuk Amira, tidak Rendra namanya jika Rendra tidak bisa mengubah cemberut Amira menjadi senyuman kebahagiaan.


[Buk Bos, hari ini ada pekerjaan di kantor yang mengharuskan Pak Bos untuk bekerja maksimal. Atasan meminta Pak Bos untuk menangani proyek besar dan tahukan Buk Bos kalau mobil ini adalah hadiah yang perusahaan berikan untuk operasional Pak Bos]


Rendra menceritakan pekerjaannya kepada Amira dengan sangat antusias sehingga Amira merasa sangat penasaran sekaligus bangga dengan pencapaian yang telah didapatkan oleh Rendra.


[Buk Bos, jangan marah ya! Bilang sama Ibu kalau aku akan berangkat ke kampung semalam apapun hari karena aku telah berjanji kepada Ibu dan Buk Bos]


Lagi dan lagi Rendra berbohong dan berjanji kepada orang tuanya karena saat ini ia mengatakan kalau ia tengah bekerja padahal sebenarnya ia tengah jalan-jalan dengan Tania, gadis cantik yang tidak bisa untuk ia tolak sama sekali.


[Pak Bos, selesaikanlah semua pekerjaan karena saat ini pekerjaan adalah prioritas utama. Jadi besok saja ke kampungnya karena aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Pak Bos]


Amira, gadis yang sangat perhatian dan pengertian, gadis yang tidak banyak menuntut dan selalu saja bersikap baik kepada Rendra meskipun terkadang Rendra selalu mengacuhkan dan menomor duakannya.


"Mas, kamu lagi apa? Kenapa lama sekali?" terdengar oleh Rendra suara Tania tengah memanggil-manggil namanya.


[Mas? Siapakah yang memanggilmu Mas seperti itu, Pak Bos?]