Crazy Boss

Crazy Boss
Episode 9



Di tengah-tengah keramaian walau tidak begitu ramai seperti yang lain tetap untuk seorang gadis manis berpakaian formal kemeja putih dan rok hitam selutut dibaluti oleh sepatu sederhana yang kusam.


Sedangkan sosok pria duduk jarak tidak jauh berdiri gadis manis itu sedang menyimak percakapan dua manusia bisnis ini. Jelita makin bingung entah apa yang dibicarakan oleh mereka berdua. Tentang kecelakaan, kesehatan jiwa, terus kematian nasabah.


Dua jam sudah gadis itu berdiri membuat kedua kaki menahan berat badannya kesemutan. Ardian yang menyimak diam-diam melirik gadis disebelahnya terlihat muka kusut dan cacing kepanasan.


"Sampai kapan sih selesainya, begini pertemuan sama seseorang. Aduuh ... Penyiksaan namanya belum lagi aku tuh lapar cacing di perut sudah pada demo nih!" - gerutu Jelita dalam hati mengomel.


****


Kafe Tiara Garden dua orang duduk paling ujung suara garpu dan sendok bersenandung semangat sehingga dari pengunjung ada disini memperhatikan sumber itu.


"Makan yang pelan tidak usah terburu-buru begitu?" Cibir pria yang melipat kedua tangan didepan dada lebar itu.


"Lhain khali akhu nggak bakhal mhau ikhut khau lagi!" Balas gadis itu masih berisi di penuhi makanan didalam mulut.


Pria itu jadi geli antara malu atau horor lihatnya. Tapi, menurut dirinya ini unik sikap gadis di depannya.


Dua puluh menit kemudian Jelita selesai menghabiskan semua makanan ada didepan mejanya. Tanpa ada rasa malu lagi ambil tusuk gigi membersihkan sisa-sisa sayuran pada gusi-gusinya.


"Untung kau mengerti situasi, gila saja dua jam pembahasan tentang kejiwaan nasabah, kesehatan, kecelakaan. Memang kau itu tidak merasa lapar?" omel si gadis manis kulit putih susu itu.


"Tidak, itu sudah biasa bagiku. Kenapa? Kau keberatan? Ini masih belum apa-apa akan ada banyak lagi nasabah bergabung di produk asuransi ini," ucap Ardian


"Hah?" Jelita terperangah. Penderitaannya belum berakhir.


Setelah bersantai di kafe tadi, Jelita dan Ardian kembali untuk ke kantor. Tetapi kali ini bukan Jelita menggemudi melainkan Ardian.


"Kau pikir aku ini supirmu?" Ardian menegur gadis itu ketika dia duduk di belakang.


Jelita membalas menatap pria dibalik kaca depan. Dua mata tajam itu tidak lepas dari bayangan nya.


Ardian senyum diam bahagia bisa melihat gadis itu mematuhinya. Mobil pun di jalankan oleh Ardian, pada dalam perjalanan mereka berdua bisu tidak ada satu kata keluar dari mulut hanya suara AC mobil dan juga mesin.


Getaran dari tas selempang kusam milik gadis itu bergetar. Dia pun dengan cepat mencari benda getaran itu memang dari tadi siang dia buat tanda getar.


Ardian melirik dan memperhatikan gadis itu ragu untuk mengangkat panggilan telepon.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Ardian kepo


"Aku turun disini saja, sampai jumpa besok," Jawab Jelita dengan cepat membuka tali pengaman dan keluar dari mobil Ardian.


"Eh..." Ardian belum sempat menghentikan gadis itu.


Suara klakson dari belakang mengganggu rencananya. Terpaksa dia menjalankan mobil dan Jelita telah menjauh dari tempat itu. Kembali bergetar panggilan dari HP jadul nya.


"Kau ada dimana?!" Suara dari seberang lebih dulu membuka pembicaraan.


"Aku ada diluar, bu." Jawab Jelita


"Mau coba kabur? Mana janjimu untuk bayar kost yang menunggang itu!"


"Aduh, Bu. Aku pasti akan bayar tidak sekarang, aku baru saja dapat kerjaan akhir bulan aku pasti bayar kok, bu!"


"Alasan saja kau itu! Baik, aku kasih waktu tiga hari kalau kau tidak juga bayar, angkat kaki dari kost itu!"


"Kok begitu sih, bu... Halo... Halo..."


Panggilan telepon mati bukan karena si Ibu kost mematikan melainkan HP nya lowbet.


"Ah sialan! Tega amat sih tiga hari dapat uang darimana? Masa aku harus minta DP dulu sama pria gila itu?" Omel gadis itu melanjutkan langkah kaki menuju pulang.