
Wowww tempat yang sangat indah!
disini udaranya pun berbau wangi, bunga- bunga indah terhampar luas sepanjang mata memandang, hanya kecantikan yang terpancar.Aku menari di antara bunga- bunga yang cantik ini dan aku melihat sekuntum bunga yang berbeda satu dari seribu , kudekati dan kulihat sekuntum mawar hitam sangat berbeda unik, seketika kupetik dan auwhhhh, aku tertusuk durinya ! sakit dan aku mulai gemetar tiba- tiba udara terasa dingin.
Taman bunga seketika berubah jadi putih, hanya ruang putih tak berbatas sejauh mata memandang hanya terlihat putih.
Aku berlari kebingungan dadaku mulai terasa sesak aku terhuyunh- huyung dan akhirnya terjatuh, tiba- tiba ada sesosok putih menolongku dia tersenyum dan " itu nenek!( bathinku)"
memegang tangannya aku merasa damai.
Kedamaian yang tak pernah kurasakan di jiwaku yang lelah.
"Alicyaaa, sayangku nenek masih belum bisa membawamu, kamu masih harus berjuang membersihkan racun mawar hitam dari dirimu, kembalilah! nenek akan menunggumu hingga kamu merasa siap."
Mulutku terasa terkunci ingin aku berteriak memanggil nenek aku terus berusaha dan akhirnya" nenek!!"
haaaahhhhh!! aku terbangun.
Kulihat aku ada di tempat yang berbeda, dimana ini? ditengah kebingunganku aku mulai meneliti sekitarku, sepi dan sendiri tak ada seorang pun disini.
Braaaaakkkkk!!!
pintu terbuka dan seorang berseragam putih setengah berlari menghampiriku, "ya tuhan, ini keajaiban tadinya kami pikir kamu sudah pergi"( pekik dokter).
Aku masih tidak mengerti apa yang dikatakan pria yang berseragam putih ini.Satu persatu mulai masuk ada yang ku kenal dan diantaranya ada devin dan keluarganya dan aisyah.
Aku mulai mengingat- ingat kejadian yang kualami, ya aku mengingatnya! dia aisyah mendorongku jatuh dari atas balkon.
Devin mulai memelukku sambil menangis, "kukira kamu akan pergi lic, tadi dokter sudah mengatakan tak mampu menyelamatkanmu, aku sangat terpukul dan sekarang kamu kembali. Aku bersyukur kepada allah dia masih berbaik hati mengembalikanmu karena aku masih butuh lebih lama bersamamu"(devin mulai tak terkendali).
Melihat itu ibu menarik tubuh devin dariku karena aku mulai kesakitan karena tangan devin yang kuat mencengkeramku.
"Tenanglah devin"( bisik ibu), Semua orang bahagia menatapku yang katanya selamat dari maut kecuali gadis itu yang sedari tadi diam di ujung ruangan, aisyah!.
Ingin kujambak rambutnya bila kuingat apa yang sudah dilakukannya ingin kuteriakkan kepada semua orang kalau dialah pelakunya aku sangat marah.
Tapi saat kulihat ibu, nyaliku mulai luluh airmatanya tak berhenti membasahi pipi." nak, ibu hampir saja kehilanganmu, apa yang kamu lakukan diatas rumah? kenapa kamu sampai terjatuh?" ibu mulai menginterogasiku.
Sebelum berkata apa pun, aku menatap aisyah kulihat dia mulai gemetar.
" Aku terpeleset bu"(jawabku singkat).
Ibu mulai akan bicara lagi, tapi dokter menghentikanya.
Semua orang disuruh keluar karena dokter berharap aku bisa beristirahat setelah mengalami perjuangan hidup dan mati.
" Aku akan disini menemaninya( pinta devin pada dokter)" dokter mengiyakan dan berlalu pergi. Semua orang keluar ruangan kecuali devin, dia duduk disampingku dan memegang tanganku aku pun menatapnya sambil tersenyum.
" Aku berterima kasih pada sang pencipta lic, karena sudah mengabulkan doaku, mengembalikanmu padaku, aku mohon jangan pergi lagi tetaplah disini bersamaku selamanya."
Devin mulai menciumi tanganku, sebegitu berarti kah sekarang aku baginya?aku masih diam tak berbicara, melihat devin seperti itu membuatku senang dan sekaligus sedih.Sekarang dia melarangku pergi tapi setelah aku keluar dari rumah sakit ini tetap aku akan pergi, kami sudah resmi bercerai dan aku sudah mendapatkan suratnya.
Banyak yang ingin ku bicarakan tapi sakit di kepala memaksaku hanya memejamkan mata, aku tak ingin mengeluh karena aku tak ingin membuat devin kuatir, " aku ingin tidur devin biarkan aku sendiri( pintaku)."
Mataku masih terpejam dan aku mulai mengingat nenek, apakah yang di inginkan nenek? kenapa dia tak mau membawaku? apa maksud dari mawar hitam yang di katakan nenek padaku? aku sungguh tidak mengerti.
Ada tangan hangat yang memegang pipiku, devin! "selamat pagi sayang( bisiknya ditelingaku) pagi ini aku akan melakukan sevis luar biasa untukmu" dengan cekatan dia mulai mengusap wajahku dengan handuk hangat dan dia akan mengganti baju yang kupakai dengan yang baru, kutepis tanganya" apa yang kamu lakukan? kenapa bukan ibu yang menolongku atau suster?"
tanpa menghiraukan perkataanku dia terus melanjutkan pekerjaannya mengganti bajuku, "selama disini kamu tanggung jawabku, tak ada seorang pun yang boleh menyentuhmu termasuk ibu dan yang lainnya kecuali dokter," okeyy.
Hemmmmmzzz aku hanya tersenyum geli pada devin, "baiklah pak perawat aku akan mematuhimu," mendengar kekonyolanku devin mencubit pipiku dengan lembut dia merawatku aku merasa sangat beruntung." Terima kasih!"
setelah semua selesai aku pun memejamkan mata untuk beristirahat, lamat- lamat aku masih melihat devin di depanku dia mengelus rambutku dan berharap aku segera terlelap.
Lama aku tertidur saat aku membuka mataku aku masih melihat devin di depanku! apa yang dilakukannya?!
"devin ( panggilku lirih), kenapa kamu masih disini pulanglah! kamu pun butuh istirahat."
Seakan tak mendengar ucapanku devin tetap ada disini menemaniku.
Tuhan, terima kasih engkau mengirimkan malaikat tak bersayap menjagaku, dia sama sekali tak membiarkan aku mengeluh dia selalu memegang tanganku dia tak lagi menghiraukan diri dan sekitarnya yang terpenting baginya saat ini adalah aku.
Airmata haru tak mampu kusembunyikan lagi tapi aku tak mampu mengungkapkan apapun di depannya, dalam diam aku menikmati kelembutannya.
Hampir sepekan aku disini, aku merasa lebih baik.
Pagi ini devin mengajakku berjalan - jalan di taman meskipun masih menggunakan kursi roda, tapi aku masih bisa menikmati segarnya udara merasakan sejuknya embun pagi.
" Devin, selama aku disini kamu pun nempel terus kayak perangko, kamu enggak kangen rumah?
apa tak ada pekerjaan penting di perkebunan? (tanyaku ) aku sudah bosan padamu! nyaris aku tak melihat siapa pun lagi menjengukku kecuali kamu !aku kangen bau parfummu juga."
Devin tertawa lepas mendengar celotehku,
" maaf sayang kalau sudah membuatmu bosan tapi memang kamarmu adalah daerah kekuasaanku, aku melarang siapa pun datang kecuali dokter dan asistennya."
Aku cuma geleng- geleng kepala, kamu benar- benar tidak waras! (umpatku).
Dalam kamar kulihat devin tertidur di sofa, aku duduk di kasur sambil terus memandanginya aku berdiri dan menghampirinya.
Kuelus kepalanya pelan- pelan karena aku tak ingin dia terbangun dari tidur pulasnya, mungkin dia lelah.
Aku beranjak bangun kuhampiri meja dan ku ambil setangkai mawar warna kuning dari vas bunga, kuletakkan di dekat kepalanya.
Kemudian aku berjalan pelan keluar kamar.
"Maafkan aku devin, aku harus pergi! kehadiranku akan mengganggu bahkan bisa menghancurkan kebahagiaanmu, terima kasih untuk semuanya( bisikku lirih)."
Aku berjalan keluar kamar dan sebisa mungkin menghindari tatapan orang, aku harus keluar dari rumah sakit ini sebelum devin terbangun.
Maafkan ku harus pergi!
Maafkan atas segala sedih yang mungkin ku tinggalkan, maaf atas segala sakit yang kuberikan, maaf atas kenangan pahit dan indah yang ku tinggalkan
sekali lagi kuucapkan seribu maaf semoga kita tidak akan bertemu lagi, devin.