BLack Roses

BLack Roses
26.Anakku selamat datang di dunia



Aku duduk di depan jendela, memandang kekosongan yang membentang tak berarah, aku biarkan malam menelanku.


Inikah takdir yang di pilihkan Allah untukku, kehidupan yang penuh noda dan tanpa cinta?


"alvin!" desahku.


Ehhhmmmm! suara deheman seseorang membuyarkan lamunanku, bidan astuti telah berdiri di depan pintu.


Sejak pemeriksaan kapan hari bidan astuti menyarankan aku untuk tinggal di rumahnya, juga karena jarak yang cukup jauh dari rumah ayah, dia takut terjadi hal- hal yang bisa mengancam keselamatanku kalau seandainya ada keterlambatan, dalam penanganan proses kelahiran bayiku.


Ayah pun tak bisa melarangnya, tapi ayah tidak bisa menemaniku disini, tapi bidan astuti berjanji akan memberikan kabar kepada ayah kalau sudah saatnya tiba aku akan melahirkan.


" Saya akan memeriksamu, saya penasaran kenapa sama sekali tidak ada kontraksi? sedangkan saya yakin sudah tiba waktunya kamu melahirkan!"


Aku merebahkan badanku di kasur, dan bidan astuti mulai memeriksaku, " ini sepertinya sudah saatnya, tapi kamu yakin tidak merasakan sakit?"


Aku menatap bidan astuti sejenak, aku mulai meneteskan air mata, melihatku begitu bidan astuti segera memelukku, seakan dia tahu apa yang ada di dalam hatiku tanpa aku mengungkapkannya,


" aku merasa ada yang merobek- robek perutku, tapi aku sudah tak bisa merasakan sakit lagi!


hikkkkss hikkkkk."


Bidan astuti berusaha menenangkan aku, dan dia meminjamkan bahunya untuk tempatku menangis.


" Sambutlah kedatangan anakmu nanti dengan hati yang bahagia, jangan bersedih karena hal apapun juga! usaplah air matamu, aku akan menghubungi ayahmu."


Bidan astuti pun berlalu meninggalkanku sendirian,


ku pejamkan mata aku memanggil nama alvin berkali- kali berharap dia akan datang menemaniku di sini.


Alvin, sekarang ada 2 kemungkinan tempat yang akan ku tuju! menemanimu di surga atau menemani anak kita di dunia! tolong berilah aku pilihan terbaik .


Ya Allah sekarang aku akan menjalani takdir yang sudah engkau tentukan, kemanapun engkau mengirimku aku akan menerimanya.


Ayah memegang tanganku dengan kuat, aku berusaha sekuat tenaga mengeluarkan anakku dari kedalaman rahimku.


Tak ada rasa sakit, hanya saja aku merasa seperti akan menjebol sebuah pohon dari akarnya.


Aku kerahkan segenap tenagaku, sampai akhirnya terdengar tangisan bayi yang melengking kuat, tangisan yang membuat semua orang di ruangan ini tersenyum bahagia dan merasa lega.


Ayah tertawa sambil menangis, dia gendong bayi mungil yang masih berwarna merah, " lihat licy anakmu laki- laki."


Ayah memberikan bayiku dalam pelukanku.


Melihatnya aku kehilangan kata- kata, dia hadir dari belahan jiwaku, perasaanku campur aduk. Syukur terucap dari bibirku yang gemetar, kuciumi pipinya yang hangat, ku rengkuh dia dalam pelukanku, dia malaikat kecilku.


Ayah pun tak kuasa menahan airmata harunya, dia memelukku " dia sekarang yang akan menggandeng tanganmu setiap waktu licy, hidup kita akan berwarna dengan kehadirannya,"


aku mengangguk bahagia, sekarang aku ingin hidup demi dia.


"Tolong adzani dia ayah, jadikan dia seorang muslim! aku sudah punya nama istimewa untuknya.


Muhammad al fatih, itu nama seorang pemimpin istimewa dari turki, aku pernah membaca kisahnya dari buku sewaktu di rumah devin mantan suamiku dulu."


Ayah mengangguk setuju, dia mengambil bayiku dan kemudian mengadzaninya.


Maaf alvin, aku menjadikan dia muslim tidak nasrani seperti dirimu, aku yakin semua agama baik hanya saja jalannya yang berbeda.


Bayiku menangis saat ayah selesai mengadzaninya, seakan dia ingin menirukan apa yang barusan di dengarnya, mendengarnya menangis sontak aku dan ayah tertawa bersama, airmata haru terus menetes di pipiku, aku bahagia.


Ini adalah kado istimewa dari alvin, aku akan merawat dan menjaganya dengan sepenuh jiwa, tak akan ku biarkan dia menangis, aku hanya akan mengenalkan padanya tawa dan bahagia saja, tak ada lagi airmata duka.


"Terima kasih ya Allah, engkau memilihkan jalan ini kepadaku aku akan menjaga dia dengan sebaik - baiknya, aku janji." Mendengar janji untuk anakku ayah mencium keningku, berusaha memberiku semangat untuk bisa mewujudkan janjiku itu.


Bidan astuti merawatku seorang diri, mulai membantu persalinan sampai membersihkan sisa - sisa persalinan tadi, tidak seperti di rumah sakit yang banyak tenaga medisnya, disini jauh berbeda.


Sepertinya bidan astuti tidak menerima pasien hari ini kecuali diriku, kupikir awalnya karena memang tidak ada yang datang berobat, tetapi ternyata itu di karenakan dia tidak ingin aku merasa terganggu, sungguh aku tidak mengerti kenapa dia memberikan pelayanan istimewa padaku?!


tapi aku tidak mau terlalu memikirkannya, yang terpenting diriku sendiri saja sekarang, untuk sementara aku tidak mau memikirkan orang lain.


Aku akan segera pulang sore ini, kondisiku sudah pulih.Sebenarnya bidan astuti masih belum mengijinkan, tetapi aku ingin segera pulang, kasihan ayahku sendirian di rumah karena tidak bisa menemaniku di sini, untuk menghindari fitnah karena bu bidan tinggal seorang diri di rumahnya.


Karena aku bersikeras akhirnya bidan astuti pun tak bisa menolak keinginanku itu, dia pun mengijinkanku pulang.


Bidan astuti menatapku tajam saat aku ingin menyerahkan amplop ini, " maaf mbak alicyaa saya tidak bisa menerima amplop itu yang saya yakin isinya adalah uang!"


aku masih tidak bisa mengerti apa maksud dari sikap bu bidan ini? dia mengembalikan amplop itu dan aku mulai bingung dalam bersikap, aku memandang ke arah ayah, tapi dia hanya diam saja.


" Maaf bu bidan, sekarang saya bingung dengan cara apa saya berterima kasih kalau bu bidan tidak mau menerima pemberian saya?"


Bidan astuti tersenyum, dia mendekatiku menatap dan memegang pundakku.


" Sewaktu saya datang ke desa ini, saya tidak memiliki apapun bahkan untuk sekedar makan saya tidak mampu memenuhinya, saya ke desa ini karena saya pikir saya bisa menemukan suami saya disini, begitulah kabar terakhir yang saya dengar tentangnya.


Dia merantau dari bali ke kota ini, tapi hingga kini saya tidak bisa menemukannya."


Bidan astuti menghela napas panjang, dia berlalu dariku dan mulai berjalan menuju jendela.


Tatapan nya jauh seakan berusaha mencari sebuah titik yang bisa jadi harapan baginya, aku bisa melihat kehampaan di situ.


Aku dan ayah hanya bisa diam, kami takut kalau sepatah kata bisa menyakiti wanita ini.


" Malam itu hanya pak suherman yang mau menolong menampung saya yang mulai kebingungan karena tak tahu harus kemana, bahkan rumah dan isinya ini juga pemberian ayahmu mbak, lalu mana mungkin saya bisa menerima pemberian mbak alicyaa? dan hanya ayahmu yang selalu membela dan menolong saya di saat ada saja orang yang menyudutkan kehadiran saya, termasuk istrinya sendiri."


Bidan astuti mulai sesenggukan, dia menangis! mungkin dia mengingat kisah hidupnya yang pahit.


Aku menghampirinya, memeluknya erat berharap itu bisa menguatkannya.


Aku tidak menduga kalau bidan astuti menyimpan kepedihan hidup sama sepertiku, sekarang aku tahu kenapa dia begitu pendiam, tak banyak bicara bahkan dia sangat menyukai keheningan, mungkin dengan begitu dia menemukan kedamaian dalam hatinya yang sakit.


Ayah menatap bidan astuti dan tersenyum, " terima kasih untuk semuanya mbak astuti, semua akan baik - baik saja! hanya kebaikan yang bisa menyembukan luka," ayah pun memberikan semangat kepada bu bidan.


Bidan astuti menghapus airmatanya dan kembali memberikan senyumnya kepada kami, " kalau mengenang masa lalu saya sering tidak bisa mengendalikan diri, seperti mengorek luka lama pak suherman."


Sekarang aku mengerti kenapa bidan astuti memperlakukan ku istimewa selama di sini, ternyata dia merasa memiliki hutang budi kepada ayah.


Tetapi ayah tidak pernah menceritakan apapun padaku, bahkan dia hidup di sebuah rumah reot, sedangkan dia bisa memberikan rumah kepada bidan astuti yang luas dan layak huni.


Sekarang aku baru menyadari betapa menderitanya batin ayahku selama ini! dia kehilangan semangat hidupnya karena aku, dia mengalami kehancuran juga karena aku!.


Ah, ayah sungguh maafkan aku! seandainya ada cara aku menebus dosa terhadapmu itu, sungguh apapun akan kulakukan!.


Hikkkkssss,hikkkkk


Aku tak bisa menyembunyikan airmataku lagi, batinku teriris mengingat semua kisah ayahku ini, wajah keriputnya itu begitu banyak menyimpan kisah pilu di separuh hidupnya.


Melihatku menangis ayah mulai bertanya- tanya, tetapi aku tak menceritakan tentang isi dari pemikiranku ini, aku ingin mengubur luka ayahku, dan akan kuganti dengan lembaran baru yang hanya ada tawa bahagia saja.


"Ada apa licy?"


Aku hanya menggelengkan kepala dan menghapus air mataku," ini tangis bahagia ayah, karena kita akan segera pulang!" ayah pun tersenyum mendengar jawabanku.


Aku membereskan semua barang- barangku, banyak hal yang harus aku lakukan di rumah, aku tidak boleh banyak membuang waktu aku harus bergegas.


Bidan astuti mendekatiku dan memberikan sebuah bingkisan untukku, melihat wajahnya aku tak bisa menolak pemberiannya itu, mata sayu nya membuatku tak berdaya.


Kucium tangannya dan aku memeluknya erat, untuk menggambarkan betapa aku berterima kasih padanya atas segala yang telah dia lakukan untukku dan anakku.


Saat berpamitan, bidan astuti mengingatkan aku kalau pintu rumahnya selalu terbuka untukku, apabila ada masalah kesehatan denganku dan anakku.


Aku sekali lagi memeluknya, dan mengucapkan banyak terima kasih padanya.


Ini adalah hari baru untukku, hari pertama kehidupan anakkku, dan hari baru untukku juga.


Allah memilihkan jalan ini, aku akan menjalaninya dengan kesungguhan jiwa dan raga.


Akan kujaga anakku dengan sebaik- baiknya, ini pasti yang di inginkan alvin juga.


Alvin sayang, lihatlah bola mata yang indah anak kita! persis seperti punyamu! dulu aku tak mampu melepaskan pandangan bola mata itu, dan aku selalu terpesona karenanya! sekarang aku bisa melihat tatapanmu lagi melalui bola mata indah anak kita ini, terima kasih kamu meninggalkan kenangan manis untukku di sini.


Dialah satu- satunya alasan ku untuk bangkit dan menata kehidupanku lagi, I love you so much my hunny bunny!


alvin.