BLack Roses

BLack Roses
39.Teka teki



Di depan pusara ibunya devin terpekur, aku pun merasa berduka, terakhir yang ku ingat dia selalu mempercayaiku dan memberiku kasih sayangnya.


Tak kusangka dia pergi secepat ini, aku menyesal karena tak bersamanya di waktu terakhirnya.


Setelah puas disini devin mengajakku pulang, dia memacu mobilnya dengan cepat.


Kami berhenti di sebuah kantor polisi atau tepatnya ini adalah penjara, karena aku lihat banyak orang yang mengantri untuk bisa masuk kedalam, banyak dari mereka membawa bungkusan - bungkusan yang aku tidak tahu apa isinya, mungkin itu untuk keluarga mereka di dalam sana.


Devin dan aku juga mengantri sama seperti mereka, dalam hati aku bertanya - tanya kenapa devin mengajakku kesini, siapa yang ingin di temuinya.


Setelah cukup lama akhirnya kami bisa masuk, dia menuju sebuah tempat untuk mendaftar dan mencari nama yang ingin di temuinya.


Kami berjalan menuju kedalam, di sana sudah berjajar tahanan dan di depanya juga sudah tersedia kursi untuk tempat duduk pengunjung, tapi di pisahkan dengan jeruji besi.


Kami duduk dan menunggu, tak lama kemudian datanglah seorang wanita, dia cantik tapi terlihat pucat.


" Apa kabar aisyah? devin mulai menyapanya, wanita itu bibirnya gemetar dan suaranya nyaris tak terdengar, " baik vin!" dia duduk berhadapan dengan devin.


Aku berdiri di samping devin duduk, saat menyadari kehadiranku wajah aisyah langsung berubah merah padam, matanya melotot dan giginya berdecit .


Dia bangkit dari duduknya dan mulai mendekatiku, meskipun terpisah jeruji besi tapi aku bisa mendengar detak jantungnya yang mulai tak beraturan.


Melihat ekspresinya aku tahu sekarang dia sedang marah, aku mulai mundur beberapa inci dari tempatku berdiri semula, tapi aku tetap diam karena aku pun tidak tahu apa yang harus ku ucapkan dan lakukan kepadanya.


" Kamu ada disini?! kenapa? apa kamu ingin melihat penderitaanku membusuk di sini?!!"


mendengar kata- katanya yang kasar, tubuhku mulai gemetar.


Aku belum mengucapkan sepatah kata pun, devin berdiri akan mengajakku untuk pergi dari sini, kami berjalan cepat meninggalkan aisyah yang seperti siap untuk meledak.


Devin menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menuju aisyah," tadinya ku pikir penjara ini bisa membuatmu sadar dan bisa memperbaiki karaktermu itu, aku mengajak alicyaa agar dia bisa melihatmu, mungkin dia akan merasa iba melihat kondisimu dan aku akan menyarankan kan padanya untuk jalan perdamaian supaya kamu bisa keluar dari sini! tapi ternyata aku salah! lebih baik kamu di sini saja!!!."


Setelah selesai dengan perkataannya, devin kembali padaku dan mengajakku untuk segera pergi.


Dari jauh aku melihat aisyah menatap sayu kepada kami, tatapan tajamnya tadi seakan mencair, entahlah tiba - tiba aku merasa iba padanya.


" Devin, kalau memang perdamaian dariku bisa membuat dia keluar dari penjara aku siap melakukanya!(kataku mantap), tapi kenapa aisyah bisa terjebak di dalam penjara?" aku mulai penasaran, karena aku tidak mengingat apapun perihal kejadian itu.


"Aku yang memenjarakanya dengan bukti rekaman cctv, tadinya aku tidak ingin melakukannya! tetapi karena sikapnya yang kasar kepada ibu, sampai dia mendapatkan serangan jantung dan meninggal dunia, aku tidak bisa bersabar lagi, dan aku pun menjatuhkan talak cerai padanya waktu juga.


Mungkin aku terdengar kejam kepadanya, tapi yang di lakukannya tidak sewajarnya di lakukan seorang wanita yang hidup di lingkungan agama yang taat, bayangkan kalau dia tidak mengerti agama? seperti apa perilakunya??!."


Devin menatapku dingin, " tadinya memang aku ingin mengeluarkan dia dari penjara, karena keluarganya yang mendesakku terus ! tapi melihat sikapnya itu kupikir lebih baik dia di dalam sana, aku berharap dia mau meminta maaf padamu licy, tapi sepertinya dia belum bisa menyadari kesalahannya itu, dari sikapnya tadi aku tahu tak ada penyesalan di matanya atas apa yang sudah dilakukannya padamu dulu, bisa saja saat itu kamu tidak selamat dan mati terbunuh, itu karena tangan dinginnya!."


Saat devin sudah memasang muka dingin seperti itu! aku tak mungkin bisa mencairkannya, aku ingat betul kalau lelaki di sampingku ini adalah sebongkah gunung es, tak mudah memahami karakternya.


Sekarang lebih baik aku diam, nanti saja aku akan mencoba bicara padanya, lagipula aku sudah memaafkan aisyah! cuma aku tidak mengerti kenapa dia ingin melenyapkanku? apa salahku padanya, dan ada hubungan apa wanita itu dengan devin? aku tak ingat apapun kecuali tayangan cctv itu yang menjelaskannya, ah kebungkaman devin justru membebani otakku untuk bekerja lebih keras untuk menarik ingatanku yang hilang untuk kembali lagi.


Sampai di rumah devin menghempaskan tubuhnya di sofa, dia memejamkan mata.


Aku ingin menanyakan banyak hal padanya, terutama tentang aisyah! tapi melihatnya terpejam begitu aku mengurungkan niatku.


" Sayang istirahatlah di kamar, mulai kemarin aku melihatmu lebih senang tidur di sini daripada di kamar? padahal aku merindukan belaianmu!" aku bersiap meluncurkan ciuman hangatku untuknya.


Sikapnya itu seketika membuatku shock, kenapa dia menghindariku? bagaimana dengan keromantisan di rumah sakit itu? setiap hari dia datang dan membawakan mawar kuning untukku? apakah semuanya itu sebuah kepalsuan? sungguh aku tidak mengerti tenrang perubahan sikapnya ini.


Devin menjauh dan seakan dia kehilangan kata - kata kepadaku, dalam diam dia berjalan keluar rumah, sekarang aku yang di landa kebingungan, apa kesalahanku sehingga dia bersikap begitu?! lama - lama aku bisa gila bila bertahan lebih lama dengannya!.


Aku setengah berlari naik kelantai dua menuju kamarku, kepalaku rasanya mau pecah dan hatiku terasa di cabik - cabik, penolakannya tadi membuatku hancur, dan aku merasa malu sekali, harga diriku terluka dengan penolakannya itu!.


Aku masuk ke kamar mandi dan kubiarkan air mengucur deras di atas kepalaku, kubiarkan shower menyala terus sampai air tak berhenti mengucur dan membuatku tenggelam dalam dingin yang menusuk tulangku, kudinginkan kepalaku yang isinya bergejolak dan siap mengeluarkan lava panas.


Aku terduduk sendiri, entahlah penolakanya itu sangat melukai perasaanku, begitu banyak hal yang tidak ku mengerti terjadi akhir - akhir ini! kenapa banyak hal yang tak bisa kuingat lagi?! hikkkkkksss hikkkkk.


Apa sebenarnya yang terjadi padaku????? ahhhhhhh!!!.


Aku berteriak sendiri, sementara air tak berhenti tercurah, membuatku mulai menggigil dan membeku, aku tak mampu bertahan di posisi dudukku, kubiarkan tubuhku lunglai menyatu dengan lantai yang dingin, dan kubiarkan pipiku menyentuh lantai ini, aku tak ingin bergerak, tatapanku kosong.


Aku merasa semangatku telah luntur, entah sejak kapan?! aku senang bersama dengan devin tapi ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku yang belum bisa kucari jawaban dari itu semua, seperti ada sesuatu yang hilang dan aku merasa yang hilang itu sangat berarti.


Ya Allah, tolonglah aku!


berikan aku pencerahan, tolong jawab pertanyaanku ini?!!! hikkkksss hikkkkk!.


Aku mulai gemetar, entah berapa lama aku di sini??!!


pandanganku mulai kabur, dan dadaku terasa sesak.


"Alicyaaa! alicyaaa!! buka matamu!."


Ada sebuah tangan yang menepuk pipiku, dan memaksaku untuk membuka mata, aroma menyengat dari minyak kayu putih menyebar dari tubuhku.


Kulihat devin memandangku dengan panik, serta merta aku memeluknya erat, devin diam tak berkutik.


Devin melepaskan pelukannya, dia mulai menatap wajahku dalam - dalam, " banyak yang sudah terjadi licy! terakhir kamu pergi dariku kita telah resmi bercerai dan kamu sendiri yang mengurusi hal itu.


Aku terkejut mendengar penjelasan devin, dia kemudian berdiri dan mengambil sebuah map putih dan menyodorkannya padaku.


Aku buka dan mulai kubaca, " kenapa aku meminta cerai darimu vin?! apa permasalahannya?" devin kembali duduk di sebelahku,


"kamu yang menyuruhku menikahi aisyah! apa kamu tidak mengingatnya?!! aku tidak ada masalah apapun licy bahkan aku sangat mencintaimu, tapi kamu yang melarangku untuk mencintaimu."


Aku diam sejenak mencoba menyelami kabut hitam yang membelenngu ingatanku, kalau memang benar yang di katakan devin, kemana aku selama 8 tahun, kepingan kehidupan itu yang masih hilang?! kemana aku harus mencari dan membawanya kembali?!.


Ya Allah, apa yang sudah terjadi padaku???( keluhku)


aku menutup mukaku dengan tangan, apa sekarang? aku harus apa??.


Devin memelukku mencoba menenangkan aku, tapi aku hempaskan dia.


" Kalau memang kamu bukan suamiku lagi, tolong jangan menyentuhku! aku tidak tahu apa yang terjadi padaku selama 8 tahun, bisa saja aku sudah bersuami dan memiliki keluarga!!.


Aku membenamkan tubuhku di dalam selimut, kugigit kuat ujung selimut ini,aku membelakangi devin yang mulai tidak tahu harus bersikap apa, kami berdua tenggelam dalam kebisuan.


Tak lama devin berdiri dan mulai berjalan keluar kamar, aku menangis sesenggukan, ini sungguh berat! banyak yang harus kulakukan! aku harus mulai berkelana menyelami kehidupanku yang sudah hilang.