BLack Roses

BLack Roses
46.Menunggu keajaiban



Bau menyengat dan kerumunan lalat memaksaku untuk membuka mata, aku sangat terkejut saat kudapati tubuhku menyatu dengan tumpukan sampah yang tersangkut di pintu gorong - gorong.


Aku mencoba melepaskan sampah yang membelit nyaris seluruh tubuhku, dan berusaha melawan derasnya air,


untuk sampai kepingir kanal adalah sebuah perjuangan.


Ternyata aku masih hidup! Allah memberiku seribu nyawa, untuk kesekian kali aku lolos dari maut.


Napasku mulai tersengal - sengal, sekuat tenaga aku naik kepinggiran dan kuhempaskan tubuhku di atas lantai beton.


Pandanganku lurus kelangit yang masih tidak terlalu panas, entah sekarang pukul berapa? dan entah berapa lama aku terombang - ambing di sungai hingga sampai kesini.


Aku memandang sekitarku di sini sepi, aku memaksakan diri untuk bangun, seluruh tubuhku terasa perih! luka lecet nyaris menyeluruh di badanku, bahkan aku sulit berdiri karena ada luka mengangga di lututku, aku juga sedikit terkejut karena aku masih memakai baju seksi pemberian wanita di rumah besar itu, ah! tidak mungkin aku seperti ini di depan banyak orang yang mungkin akan ku temui nanti.


Mataku nanar mencoba mencari - cari, mungkin ada baju di tumpukan sampah yang terendap tersangkut di pintu kanal, aku mencari sesuatu yang bisa ku gunakan untuk mengaduk - aduk tumpukan sampah.


Sampai aku menemukan sebuah potongan bambu, dan aku mulai mencari barang yang kuharapkan ada untuk menutupi baju seksiku.


Cukup lama aku mencari akhirnya aku menemukan sebuah kemeja yang sudah tidak utuh dan celana kain, memang sudah tidak layak di pakai tapi ini lebih baik dari pada aku berkeliaran dengan baju malam seksi yang nyaris menunjukkan lekuk tubuhku. Aku meletakkan baju ini diatas lantai beton dan berharap bisa segera mengering, aku duduk sambil menunggu.


Setelah semua kurasa cukup kering, aku mulai memakainya! ini sepertinya bekas kemeja laki - laki, ukurannya terlalu besar sehingga aku harus berpikir untuk membuatnya pas kupakai di badanku, kurasakan badanku remuk redam di tambah nyeri yang kurasakan di sekujur tubuhku, membuatku harus berjuang keras hanya untuk sekedar bangun dari dudukku.


Dengan kaki pincang aku berjalan menyusuri sepajang sungai, aku berharap aku bertemu dengan seseorang dan meminta bantuan.


Tiba - tiba aku ingat kalau aku adalah seorang narapidana, berada di luar penjara berarti aku adalah seorang buronan sekarang!


Bagaimana kalau ada yang mengenaliku?? dan membawaku kembali ke penjara?? dan berurusan dengan dua sipir yang sudah menyerahkan diriku pada lelaki tak bermoral itu ?? hiii aku sungguh merasa ngeri.


Aku mengambil tanah becek dan mulai membalurkan keseluruh tubuh dan wajahku, tak terkecuali rambutku! rasa perih semakin menjadi, tapi aku harus menahan rasa sakit ini demi penyamaranku.


Bukan penjara yang kutakuti tapi orang - orang di rumah besar itu, mereka manusia tapi kelakuan mereka seperti hewan, sungguh tak beradab! merasa punya uang mereka merasa bisa membeli segalanya termasuk mulut penegak hukum, bagaimana kalau mereka kembali ke penjara dan mencariku?!


tidakkk!! tidakkk!! aku tidak akan menyerahkan diriku ke polisi! aku bisa mati konyol! surga yang ingin ku tuju bukan neraka !.


Cukup lama aku berjalan sampailah aku di perkampungan yang kumuh di atas sungai, aku tidak tahu aku sedang ada di mana? aku tidak pernah tahu ada perkampungan seperti ini di kotaku?! apakah aku masih di kota yang sama dengan tempat aku di penjarakan?! aku harus mencari tahu!.


Aku berhenti di depan seorang yang sedang ada di dekat sungai, dia sedang mencuci kacang.


" Maaf pak, kalau boleh tahu ini sungai di daerah mana ya?" aku sedikit membungkukkan badanku, karena suara arus sungai yang deras sedikit membuat pendengaranku terganggu.


" ini sungai brantas nak, berada dipinggiran kota malang."


Lega rasanya mendengar jawaban dari bapak ini, berarti aku masih di malang tidak terseret terlalu jauh, aku mengucapkan terima kasih dan berlalu meneruskan perjalananku.


Orang pertama yang ingin ku temui adalah devin, tapi tiba - tiba aku teringat penjara lagi! kalau aku bertemu devin pasti keberadaanku akan terendus polisi, sepertinya aku tidak bisa pergi kesana, sekarang aku harus kemana??? pikiranku menerawang jauh, tapi aku tidak menghentikan langkahku.


Sampailah aku di jalan raya, aku mulai merasa haus dan lapar, namun aku tidak memilki sepeser uang pun.


Rasa lelah dan perut kosong memaksaku untuk mencari tempat duduk, aku duduk di bawah jembatan layang karena hanya di situ tempat yang teduh terlindung dari sengatan matahari yang mulai tinggi.


Tak ada yang gratis di dunia ini, kalau mau uang ya harus mengusahakannya, aku mulai berpikir keras bagaimana caraku mendapatkan uang untuk sekedar membeli makan dan minum.


Cukup lama aku berpikir aku belum menemukan solusi dari permasalahanku, orang berlalu lalang tapi tak ada yang memperhatikanku, aku tetap di posisi dudukku.


Segerombolan anak muda laki - laki dan perempuan datang dan berkumpul di sebelahku, dari penampilan mereka aku tahu kalau mereka anak punk, slanker atau semacamnya, mereka mengobrol sambil tertawa lepas.


Kehidupan mereka seperti tanpa beban duka ataupun kesedihan, tidak seperti hidupku yang bergelimang airmata.


Aku hanya memperhatikan mereka tanpa mengeluarkan suara, salah satu dari mereka mulai ada yang menyadari kehadiranku.


Dia melempar sebungkus kacang padaku, aku menerimanya dengan tersenyum, ini juga kategori makanan dan bisa berenang di dalam perutku yang kosong.


Aku memakan kacang dengan pelan karena aku tidak ingin ada yang tercecer, belum habis kacangku anak tadi memberiku air minum kemasan, aku menerimanya dengan sukacita.


" Mbaknya orang sini? kok tidak pernah kelihatan di daerah sini?!" tanya anak yang tadi memberiku minum.


" Saya bukan orang sini! saya terdampar di sini!!"


dia mengangguk - anggukkan kepalanya sebagai isyarat dia memahami kondisiku.


Mereka berdiri dan sepertinya akan segera pergi, aku berdiri dan mulai mengikuti mereka! aku hanya ingin tahu bagaimana cara mereka mencari uang?! mereka terus berjalan menyusuri jalanan hingga mereka berhenti di sebuah rumah yang cukup luas, mereka membuka gembok pagar dan masuk kedalam.


Aku memperhatikan rumah di depanku ini sepertinya rumah kosong, karena melihat kondisinya yang tidak terawat, di halaman rumah tumbuh pohon beringin yang cukup besar membuat suasana rumah cukup menyeramkan.


Aku diam di depan pagar cukup lama, aku ingin masuk tapi aku mengurungkan niatku, dan aku hanya berdiri saja! memandang ke dalam dalam diam.


Kebanyakan orang mengatakan kalau kehidupan di penjara adalah kehidupan terburuk bahkan banyak orang sangat menghindari yang namanya penjara, tetapi melihat kondisiku sekarang kurasa inilah kehidupan terburuk, aku tidak punya tempat tinggal, pakaian dan tidak ada satu sen pun uang di dalam kantongku, dan yang terburuk aku sekarang kelaparan.


Di dalam penjara aku masih bisa berteduh di bawah atap, aku masih bisa makan meskipun seadanya, dan aku masih punya devin yang rajin mengunjungiku setiap hari, hemmmmzzz hidup oh hidup, entah apakah yang di inginkan sang pencipta dariku sehingga aku di berikan hidup serumit ini?!.


Aku lelah berdiri kemudian aku memilih duduk bersandar pada pintu gerbang yang mulai reot, sekarang aku tidak tahu harus kemana??


suasana terang berubah mendung, angin pun bertiup dengan kencang sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, aku menghela napas panjang, lengkaplah sudah penderitaanku saat ini, sekarang aku menunggu tangan takdir yang bekerja.


Dan benar awalnya setetes kemudian air terjun bebas mengguyur sekujur tubuhku, aku basah kuyup! aku gigit bibirku kuat - kuat menahan dingin yang kian menusuk tulangku.


Entah aku harus kemana mencari tempat berteduh, rumah ini bersebelahan dengan bekas pabrik penghilingan padi yang terbentang dari ujung gang sampai rumah ini, tempat ini tidak terawat, pasti sudah lama tidak beroperasi, temboknya tinggi di lindungi kawat berduri nyaris tidak ada celah untuk menerobos masuk.


Diseberang jalan adalah persawahan yang terbentang sepanjang mata memandang.


Mungkin tadi aku mengambil keputusan yang salah saat mengikuti sekawanan anak punk itu kesini, dan aku mulai menggigil kedinginan, tiba - tiba aku sangat merindukan alvin, anakku dan ayah.


Alvin, dulu aku selalu bermimpi kita akan memiliki keluarga kecil yang bahagia, kita akan hidup dalam kehangatan cinta bersama anak - anak kita, tapi sayang nya semua itu tidak mungkin terjadi.


Hikkkkksss, hikkkkkks sayangnya aku tertinggal sendirian di dunia ini!! seandainya kalian semua masih ada di dunia ini, tidak mungkin kalian membiarkan aku mengigil kedinginan seperti sekarang ini, ayah!!! aku tidak bisa lagi merasakan pelukan dan belaianmu yang hangat, hikkkkkss hikkkkkk.


Airmataku mengalir menyatu dengan air hujan, sekarang hanya tanah ini yang bisa merasakan pedih dari airmataku yang mengalir menerobos kedalam perut bumi.