BLack Roses

BLack Roses
23.Dia ayahku



Aku memandang jauh di kegelapan, hanya gelap yang bisa kulihat.


Kesunyian menyelimuti malam tanpa bintang, aku menangis sendirian, ditemani dingin malam yang menggigit, dingin yang bisa membekukan jiwa yang terluka.


Di depan jendela aku lihat duniaku mengecil, terbayang lagi kekasihku yang sekarang melihatku dari kejauhan, dia sedang menatapku dari jendela surga.


Perjalananku belum selesai, aku harus menguatkan kakiku untuk melangkah lagi dan berlari lagi.


Alvin, sekarang hanya duka yang menyelimutiku, tapi aku akan menjalaninya dengan membawa bayanganmu, kita pernah merasakan kebersamaan yang penuh kebahagiaan.Itulah yang akan menemaniku berjalan, kenangan indah itulah yang akan menjadi obat dari lukaku.


Dua hari aku menyepi di penginapan, hidup di udara yang sama dengan ibuku, begitu dekat jarak kami berdua tapi terasa jauh, karena tangan ibuku tak mampu kugapai lagi,


ada jurang yang memisahkan kami yaitu pernikahan ibuku, jalan kehidupan yang telah dia pilih.


Aku sudah memantapkan hati untuk pergi ke rumah ayahku di kota pasuruan, aku harus membulatkan tekad ku.


Ayahku pasti akan menghajarku ,saat nanti bertemu denganku, mengingat akulah yang membakar rumahnya dulu.


Tapi aku ingin mematahkan pemikiran ibuku, bahwa kepedihan yang ku alami karena karma dari kemarahan ayah, untuk membuktikannya aku harus pergi ke sana!


Kota ini menyimpan kisah pahit, kisah antara seorang ibu dan anak.Seorang anak yang terusir dan terbuang, yaitu aku.


Kisah manis antara ibu dan anak mungkin hanya ada di negeri dongeng, atau hanya ada di dalam sinetron saja,


**k**enyataannya sungguh jauh berbeda, tapi aku akan menjadi ibu terbaik untuk anakku kelak.


Aku tidak akan menikah lagi, aku tidak akan membagi cintaku untuk anakku dengan orang lain.


Aku tidak ingin terjebak seperti ibuku, tidak akan !.


Kutatap sekali lagi kota ini, ku hirup dalam- dalam udaranya, ini terakhir kalinya aku akan datang ke sini, aku tidak akan menginjakkan kakiku lagi di sini sampai mati.


Ibu, sebenarnya aku sangat menyayangimu, tapi takdir yang memisahkan kita, semoga kebahagiaan yang terus membayangi kehidupanmu ibu!! hikkkkkkss hikkk.


Mobil travel telah menungguku,aku masuk ke dalam mobil dengan perasaan hancur, selamat tinggal ibu!!.


Sepanjang perjalanan aku lebih banyak diam, perjalanan ini terasa sangat panjang, aku merasa lelah sekali, hatiku pun terasa penat, sesak dan hampir aku seperti tak bisa bernapas lagi, ada kekosongan di relung hati terdalam, kerinduan akan kasihh sayang seorang ibu, hikkkksss hikkkk aku berusaha menghentikan tangisku tapi sungguh itu di luar kemampuanku untuk mengontrolnya, aku begiru terluka.


Ayah aku harus datang menemuimu, entah bagaimana kabarnya sekarang. Sejak aku kabur dari rumahnya, ayah tak pernah datang lagi menengok ku.


Mungkin kemarahannya lebih besar dari cintanya padaku, entahlah.


Tapi aku harus datang, aku akan menerima apapun resikonya, kalau memang nasib buruk yang kuterima karena akibat kemarahannya, semoga dengan aku minta maaf semua hal buruk akan berakhir.


Aku bisa hidup tenang dengan anak ku kelak, aku akan berjuang menjauhkannya dari hal apapun yang akan merusak kebahagiaannya.


Sampailah aku di depan rumah ayah.


Suasana nya sungguh jauh berbeda, rumah ayahku yang besar dan megah sekarang sudah lenyap, berganti dengan rumah papan yang sederhana, rumah tampak sepi.


Aku ragu - ragu untuk melangkah maju, dadaku berdegup kencang, aku mulai membayangkan kemarahan ayah, itu cukup menciutkan nyali ku.


Tapi aku harus berani, ku ketuk pintunya beberapa kali, tak lama kemudian keluarlah ayah.


Wajahnya tampak lebih tua dari yang kubayangkan, sejenak dia menatapku, aku hanya diam dan mempersiapkan diri , untuk sebuah kemarahan yang aku sendiri merasa ngeri untuk membayangkannya.


"Licy, ( terdengar suaranya parau) kamu datang nak?!" serta merta dia memeluk ku.


Sungguh di luar dugaan , ayah memelukku sambil menangis,


kukira aku akan menerima sebuah tamparan, tapi ternyata cinta ayah padaku lebih bear daripada kemarahannya.


Dia memelukku erat seakan dia ingin meluapkan beban kerinduan yang selama ini mungkin dia pendam, sama sepertiku, meskipun aku tidak suka dengan apa yang ayah lakukan dulu, tapi aku tetap menyayanginya.


" Maafkan aku ayah! sungguh maafkan aku."


Ayah semakin mempererat pelukannya, cukup lama kami menangis, kami kehilangan kata- kata hanya air mata yang bicara, kemudian ayah melepas pelukannya dan mengajakku masuk ke dalam rumahnya


"Rumah ini sepi, kemana istri dan anak ayah?"


ayah hanya diam, dia berdiri mengambil sebuah bingkai foto, terpasang di situ foto keluarganya.


Dia menatap dan mengelus foto itu, "mereka pergi meninggalkan ayah ! sejak ayah bangkrut semua berakhir, tapi setidaknya ayah tahu kalau mereka tidak benar- benar menyayangi ayah, hanya harta yang memaksa mereka tinggal, saat harta sudah tidak ada mereka pun pergi."


Ayah dan istrinya tidak di karuniai anak selama mereka menikah, tapi istrinya memiliki dua anak dari pernikahan sebelumnya, dia seorang janda beranak dua saat menikah dengan ayahku,


" maafkan aku ayah, karena aku ayah harus mengalami semua ini!"


ayah menatapku sambil tersenyum,


Ayah mulai tertawa geli, tapi harusnya kamu memberi tahu ayah, apa kesalahan ayah sehingga kamu bisa semarah itu sampai membakar rumah?.


" Aku melihat ayah berselingkuh! aku tidak bisa menerima perbuatan ayah itu!"


kembali ayah tertawa terbahak - bahak sampai dia memegangi perutnya,


"siapa yang mengatakan itu padamu? kamu sudah salah paham licy."


Ayah berhenti tertawa dan menatapku, mukanya berubah serius, " kalau yang mengatakan itu adalah istri ayah, berarti dia sudah meracuni pikiranmu, padahal sebenarnya istri ayah yang sudah berselingkuh, dia berselingkuh dengan rekan kerja ayah, dan mereka berdua yang bersekongkol menghancurkan bisnis ayah," ayah menghela napas panjang.


"Semua berakhir bukan karena salahmu nak, dia yang sudah menjadikanmu kambing hitam, padahal sebenarnya semua ini rencana ibu tirimu itu, hanya satu kesalahanmu! kamu mudah terpancing emosi, apalagi untuk hal yang menurutmu salah, itu saja."


Aku menutup wajahku dengan tangan, aku sangat menyesal, dan karena hal itu aku harus hidup sendirian selama ini.Tak kukira istri ayah itu memiliki pemikiran sepicik itu.


" Lalu, kenapa ayah tidak memulai bisnis lagi?


kenapa ayah menyerah begitu saja, itu bukan sifat ayah kan?"


ayah memelukku dan membenamkan kepalaku di dadanya,


" kamu satu- satunya penyemangat ayah nak, saat ayah tahu kamu pergi membawa kemarahan terhadap ayah, hati ayah hancur! bersama dengan itu lenyap juga semangat ayah untuk bangkit, sekarang ayah hidup sendiri, untuk apa ayah menumpuk harta?!"


aku menatap wajah ayah,


tak kusangka sebesar itu cinta ayah terhadapku, kenapa aku tudak bisa membacanya dari hatiku?


" Ayah, aku akan membangun lagi rumah ayah persis seperti semula sebelum habis di lalap api, aku janji!"


Ayah mempererat pelukannya, dia mengusap rambutku dengan lembut, hatiku berdesir! ingin rasanya menangis karena terharu.


" Kamu datang tanpa membawa kemarahanmu saja,bbagi ayah itu sudah cukup, kenapa lama kamu baru datang? setiap hari ayah bertahan hidup hanya untuk menunggumu datang, tak perlu kamu membuatkan ayah rumah lagi, bukan itu yang ayah inginkan."


Ayah kemudian melepaskan pelukannya dan berdiri untuk mengambilkan aku minum.


Rumah ini hanya ada satu ruangan saja, aku mulai berjalan mengelilingi rumah ayah, rumah ini sangat tak layak huni, debu memenuhi ruangan yang gentengnya terbuka tanpa plafon.


Ah, ayah kamu bertahan di rumah seperti ini selama bertahun- tahun, debu-debu ini bisa merusak paru- parumu! hatiku perih sekali, aku memang anak yang tak berbakti. Maaf ayah aku yang membuatmu kehilangan kenyamanan hidup.


Ayah menyodorkan kepadaku segelas air putih, dia mulai bertanya tentang aku. "Apa yang membawamu datang ke sini? kamu hamil, kemana suamimu? kenapa kamu datang ke sini sendiri?"


aku mulai menceritakan kisahku, ayah mendengarkan dengan seksama terlihat dia meneteskan air mata, dia menutup wajahnya dengan tangannya, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.


Ayah meraihku dan memelukku lagi, " kamu masih punya ayah nak, sekarang ayah tidak akan membiarkanmu sendiri kita akan tinggal bersama di sini, abaikan perkataan orang."


Kata- kata ayah seperti oase di padang pasir gersang, sangat menyejukkan, aku tersenyum lega.


Kasih sayang ini justru kudapatkan dari ayah tidak dari ibuku! tidak seperti kebanyakan orang yang menjadikan ibu tumpuan kasih sayang, nasibku sungguh berbeda.


Sekarang kita tidak sendiri nak, kamu punya kakek yang akan selalu melindungimu.


Ku elus perutku, aku berharap anakku pun merasakan bahagia seperti yang kurasakan,


terima kasih ya Tuhan!.


Di rumah ayah tak ada perabotan apapun, bahkan ayah hanya punya satu piring, dan satu gelas saja,


tak ada kompor gas, dari tumpukan kayu bakar di situ aku yakin dia masak menggunakan kayu bakar.


Aku bisa membayangkan kesepian ayah, dan penderitaannya.


Ayah, maafkan aku !


Aku tidak menderita sendiri, di sini ayahku pun hidup menderita, sungguh aku menyesal kenapa aku tidak ke sini sejak dulu, kenapa aku menunggu begitu lama untuk menginjakkan kaki di sini, di rumah ayahku.


Ayahku hidup seorang diri, bertahan hidup demi menunggu aku datang tanpa kemarahan!


Oh ayah sungguh semakin terasa aku adalah anak yang buruk.


Ayah mengajakku duduk kembali, dia mulai menceritakan kisah hidupnya selama aku pergi.


Setiap hari dia hanya bekerja mengambil pasir di sungai belakang rumah, hanya untuk bertahan hidup sampai ajal menjemputnya.


Kisahnya itu sontak membuatku menangis tak terkendali!


aku bekerja dan bisa menikmati kenikmatan hidup, bahkan aku sering menghambur- hamburkan uang bersama teman- temanku dulu, disini ayahku harus berjuang keras demi sesuap nasi! ini adalah tamparan luar biasa dari tuhan untukku!


oh, ayah sekali lagi maafkan aku!.