BLack Roses

BLack Roses
50.Keputusan yang kuinginkan



Setiap hari aku datang menjenguk devin, tapi aku tidak ingin membuatnya terkejut kalau aku ada di sini bersama dan dekat dengannya, sehingga membuatku sama sekali tak bersuara saat bersamanya.


Hal ini cukup membuatku sangat tersiksa, betapa aku ingin memeluknya karena aku sangat ingin bertemu dengannya, sayangnya sekarang hal itu tidak bisa kulakukan, devin adalah teman terbaikku selain yulia.


Aku harus membagi konsentrasiku untuk tetap menjalankan tugasku sesuai intruksi dari ketua regu, dan merawat devin dengan sembunyi - sembunyi, karena semua temanku tidak ada yang tahu kalau aku mengenal devin, yang ternyata salah satu anggota LSM taruna bangsa sama sepertiku dan mereka, hal ini cukup menyita waktuku.


Saat bersama devin aku tak mengeluarkan suara sama sekali, mungkin devin mengira yang merawatnya adalah perawat di tempat ini.


Siang ini dia muntah - muntah, seakan dia ingin menguras seluruh isi perutnya.


" Devin tenanglah!!" pekikku keras


mendengar suaraku devin seketika terkejut, tangannya mulai meraba - raba seakan mencari seseorang.


Aku mundur selangkah," alicyaaa!!? apa itu engkau???"


aku tak mampu bersuara, kututup mulutku dan aku berlari keluar.


Dari luar tenda aku masih mendengar devin berteriak - teriak memanggil namaku.


Aku semakin kencang berlari, dan aku membenamkan diri di pojokan tenda.


Hikkkkkks hikkkkkk !! aku sangat tidak tega melihat devin begitu.


Ada sebuah tangan mengagetkanku, dan membuatku terpaksa melihat wajahnya" kak, ada apa???" tanya aira yang sudah berdiri di depanku.


Aku menggelengkan kepala, dan segera memeluknya.


Sikapku membuat aira penasaran, demi melihat matanya yang polos yang di penuhi rasa ingin tahu, akhirnya aku membuka mulutku untuk menceritakan apa yang barusan kualami.


Mendengar kisahku wajah aira seketika berubah, " kak, kita harus memberitahukan hal ini keteman yang lain! dia adalah sukarelawan sama seperti kita!! kenapa bu vivi tidak memberitahu kita perihal dia!?"


Aku belum menjawab pertanyaan aira, dia sudah berlalu pergi keluar tenda.


Pak bagas ketua regu datang menemuiku bersama aira, "mbak licy tolong antar kita menemui temanmu itu!"


aku bangun dari dudukku dan berjalan bersama menuju tenda medis.


Di dalam pak bagas mulai melakukan kroscek kepada tenaga medis, dari data yang di dapatnya akhirnya pak bagas mengetahui kenapa pihak LSM tidak memberitahukan kalau ada sukarelawan yang terluka dan di tinggal disini, karena dia adalah devin deniatmaja pemilik LSM taruna bangsa.


Devin sendiri yang tidak ingin keberadaannya di ketahui pihak LSM, karenanya datanya tidak masuk di bagian pemulangan dan penerimaan sukarelawan dari indonesia.


Terlihat pak bagas merasa lega, karena kalau ada data yang tidak valid pasti dia yang akan bertanggung jawab, itu bisa mencederai kredibilitasnya.


Pak bagas mengajak aku dan aira mendekati devin, di sana devin sedang duduk dan ada seorang perawat yang sedang menyuapinya makan.


"Pagi, pak devin saya bagas dari jakarta!" devin pun menghentikan makannya dan mencoba menyerahkan tangannya untuk bersalaman dengan pak bagas, pak bagas meraih tangannya kemudian dia duduk di sebelah devin.


"Kami akan mengurus keperluan pak devin untuk bisa di pindahkan ke rumah sakit, kata dokter pak devin harus segera di operasi," devin menganggukkan kepala.


Tak terlihat ekspresi di wajahnya karena masih tertutup rapat dengan perban, hanya lubang mulut dan hidung yang masih bisa terlihat.


Aku diam seribu bahasa menatapnya, aku tidak tahu bagaimana reaksi devin saat melihatku di sini! tadi mendengar suaraku saja dia bisa sehisteris itu, entah apa yang ada di dalam pikirannya.


Ah, devin banyak yang ingin kutanyakan padamu tapi kurasa sekarang bukanlah waktu yang tepat.


Pak bagas mengajak kami kembali, karena tugas yang lain telah menunggu, tapi aku tidak bisa mengalihkan pikiranku dari devin, semoga dia akan baik - baik saja sampai besok aku kembali menemuinya.


Kemarin - kemarin aku bingung mencarinya! sekarang dia ada di dekatku aku bingung harus apa?!! ah devin.


Aku setengah berlari pagi ini menuju tenda medis, sampai aku lupa kalau perutku belum terisi apapun, aku ingin devin sarapan dari tanganku.


Tapi aku melihat ranjangnya kosong, dia sudah tidak ada di sini!. Seorang perawat mendekatiku yang terpaku menatap ranjang yang telah kosong, " pasien yang di sini sudah di bawa kerumah sakit" perawat itu memberiku informasi tanpa kuminta.


Mereka membawanya tanpa memberitahuku!! tapi memangnya siapa aku?! disini tidak ada seorangpun yang tahu kalau devin adalah teman baikku, ya Allah !!.


Tiba - tiba aku teringat pak bagas, ya hanya dia yang bisa memberitahukan kemana devin di bawa! gumamku.


Tak seorang pun yang tahu di mana posisi pak bagas, sedangkan aku harus membagikan makanan- makanan ini kepada semua pengungsi bersama sukarelawan yang lain, matahari semakin tinggi para pengunsi pun mulai gelisah kalau kami terlambat melakukan tugas.


Sampai adzan dhuhur berkumandang aku belum menemukan pak bagas, di sini hampir semua orang pergi ke masjid, hatiku sedang galau kurasa inilah tempat yang sesuai untuk kudatangi.


Aku mengadu kepada Allah SWT, aku sedang dalam posisi tidak tahu harus melakukan apa?? apakah kemanusiaan yang kudahulukan atau urusan pribadiku??!.


Di parkiran tanpa sengaja aku melihat pak bagas yang sedang bersiap pergi, ada dua orang lokal yang bersamanya.


Aku menghentikan mobilnya, dan pak bagas terkejut melihatku, " ada apa mbak??" tanya pak bagas penasaran.


Setengah ragu aku mulai bertanya keberadaan devin, " maaf pak bolehkah saya tahu di bawa ke mana devin, ehmmmm maksud saya pak devin???" pak bagas mulai menatapku curiga.


" Masuklah mbak, ini saya akan menuju kesana!" seperti mendapatkan sebuah door prize aku sangat girang.


Sepanjang perjalanan aku lebih memilih diam, aku tidak terlalu mengenal pak bagas tidak mungkin aku menceritakan kehidupan pribadiku kepadanya.


Sampailah di sebuah rumah sakit, ternyata letaknya cukup jauh dari kamp pengungsian, kami turun dan bergegas masuk.


Pak bagas mengabarkan kepadaku kalau saat ini devin baru saja selesai di operasi, wajahnya rusak dan tim dokter berupaya memperbaikinya.


Masuk kedalam ruang ICU, aku melihat devin terbaring lemah, kondisinya masih belum di katakan membaik.


Aku hampir meneteskan airmata melihatnya seperti itu, tapi aku berupaya untuk tidak menunjukkan reaksi apapun di sini.


Pak bagas hanya sebentar melihat kondisi devin kemudian dia keluar dan berjalan menuju ruangan dokter, aku mengikutinya dari belakang.


Ingin rasanya ikut masuk keruangan dokter untuk memastikan kondisi devin sekarang, tapi pak bagas melarangku.


Aku duduk dengan gelisah di ruang tunggu, sampai pak bagas keluar dan berjalan menghampiriku, " kasihan pak devin, mukanya mungkin akan sembuh tapi kedua matanya rusak terkena pecahan kaca, mungkin dia tidak akan bisa melihat lagi!" pak bagas menghela napas panjang, terlihat dia pun ikut menyesali kondisi devin.


Sedangkan aku gemetar tak karuan, sungguh kabar itu sangat mengejutkanku.


Aku menangis sesenggukkan, pak bagas mulai tidak bisa mengendalikan rasa penasarannya dia pun mulai mengintrogasiku, " kenapa kamu terlihat shock mbak, ada hubungan apa kamu dengan pak devin??"


aku tidak ingin membuat sebuah kebohongan kepada pak bagas, dan aku tidak peduli nanti seperti apa nanti pemikirannya terhadapku, " dia mantan suamiku dan sekaligus teman terbaikku pak, saya tidak menduga bertemu dengannya di sini! cukup lama kami hilang komunikasi."


Mendengar ceritaku pak bagas wajahnya pun berubah, seakan dia bisa memahami rasa sakitku.


Aku berdiri dan mulai menarik pak bagas untuk kembali ke ruangan dokter, " pak tolong tanyakan kepada dokter apakah memungkinkan devin menerima donor mata!"


mata pak bagas terbelalak mendengar ucapanku, tapi sebelum dia sempat bertanya padaku kami telah ada di hadapan dokter.


Pak bagas berkomunikasi menggunakan bahasa inggris, dan dokter itu membuka sebuah map putih untuk memastikan sesuatu, kemudian mereka kembali berkomunikasi yang aku kurang memahami isi dari pembicaraan mereka.


Pak bagas menghampiriku yang menunggu dengan gelisah, " bisa mbak bahkan kata dokter bisa secepatnya karena kondisi pak devin cukup stabil."


Aku memeluk pak bagas saking girangnya, " tolong katakan pada dokter aku siap jadi donor!" pak bagas melepaskan pelukanku dan dia menatapku tajam, " mbaknya yakin ingin mendonorkan mata mbak alicyaa untuk pak devin??" aku mengangguk cepat.


"Suruh dokter cepat memeriksa kecocokannya saya mohon pak!" mata pak bagas berkaca - kaca seakan dia tidak percaya dengan keputusanku.


Tanpa banyak membuang waktu dokter membawaku keruangan lain, dia mulai memeriksa seluruh kondisi kesehatanku.


Malam ini aku harus bermalam di rumah sakit ini, karena operasi akan dilakukan esok hari, " kata dokter mbak alicyaa cukup mendonorkan satu retina saja, jadi kalian berdua masih bisa memakai satu mata untuk melihat."


aku menatap pak bagas yang sudah mulai tidak bisa menyembunyikan keharuannya, dan aku mengangguk saja.


Ah, devin aku sudah tidak sabar menunggu hari esok datang.


Waktu yang di tunggu telah tiba, aku sudah berada di ruang operasi, aku yakin sebentar lagi aku akan terlelap dalam buaian bius yang bisa membawa ruh ku berkelana tidak terbatas arah dan tujuan, ini demi temanku jangankan hanya mata nyawa pun akan kuberikan kalau dia memintanya.


Dia temanku yang telah berbuat begitu banyak kebaikan untukku, sekarang aku ingin sedikit membalas kebaikannya itu, baiklah aku siap.