BLack Roses

BLack Roses
51.Gunung es ku



Aku terbangun, dan mataku masih tertutup perban, aku merasa baik - baik saja.


" kak, ini aira! apa kakak baik - baik saja?" aira memegang tanganku erat, aku mengangguk dan tersenyum.


"Aku tidak tahu kak, kenapa kakak harus melakukan pengorbanan ini?? sebegitu berartikah dia??"


aira mulai mencoba meracuniku dengan keegoisan.


" Dia sangat berarti aira, dia lebih berarti dari diriku sendiri, ehmmmm lagipula mata ini sudah lelah melihat kepedihan aira! sekarang aku ingin devin menggunakannya untuk kebaikan! nanti aku akan mengenalkanmu padanya, dia adalah manusia terbaik di muka bumi ini."


Aira memelukku dan kurasakan bahuku basah karena airmatanya.


Sebentar lagi dokter akan membuka penutup mataku, dan aku akan memulai belajar memandang dunia dengan cara yang berbeda, aku tidak akan menyesali keputusanku ini karena mataku tetap ada hanya saja di tubuh yang berbeda.


Dokter membuka pelan - pelan perban yang menutup mataku, mata kananku tetap berfungsi tetapi yang sebelah kiri seperti terganjal dan tertutup sesuatu, inilah yang kuinginkan, dokter menghadiahkan sebuah bola mata palsu yang cantik untukku.


Aku tersenyum kepada dokter di depanku, wajah tampan khas eropa itu telah membuka jalanku, " aku baik - baik saja!" dokter menyalamiku dan memberikan satu jempolnya untukku.


Aira membantuku berdiri, kami akan pergi melihat kondisi devin pasca operasi, aku sangat tidak sabar.


Kami masuk kedalam kamar rawat devin, dia duduk di atas kasur, sudah ada dua orang suster yang siap menerima perintah dokter untuk membuka perban yang menutupi wajah devin.


Dadaku berdebar kencang, aku berharap operasi cangkok retina ini berhasil, semoga pengorbananku tidak sia - sia.


Perban mulai di buka pelan - pelan, terlihat wajah devin masih bengkak, aku mundur beberapa langkah menjauhi sudut pandang devin, aku tidak ingin terlihat olehnya! dan aku juga takut kalau operasi ini tidak berhasil.


Matanya mulai di buka, dan terlihat dia berusaha mengerjap kan nya, sampai akhirnya dia tersenyum " aku bisa melihat!" devin mulai meraba wajahnya dan dia mulai melihat sekeliling.


Pandangannya berhenti kepadaku, " alicyaa!! itu kamu?!!!"


dia mulai menutup mata dan membukanya kembali, dan dia menatap tajam kepadaku, " itu tidak mungkin alicyaa, kamu tidak nyata!" bisiknya lirih dan terlihat devin gelisah.


Dokter dan pak bagas menghampiri devin dan mencoba menenangkannya,


" mbak alicyaa yang sudah mendonorkan satu matanya untuk anda pak devin" kata pak bagas,


terlihat devin terperangah mendengar penjelasan pak bagas itu, dia berusaha berdiri dari duduknya.


" Maaf pak bagas apakah anda bisa melihat dia??" devin menunjuk kearahku, sekarang pak bagas yang terlihat bingung " tentu saja pak devin, dia mbak alicyaa!"


Devin bangun dari kasur dengan cepat dan dengan tertatih dia mendekatiku, dia meraba dan menyentuh wajahku " ini benar kamu licy??" aku mengangguk sambil tersenyum,


devin langsung memelukku, " kalau kamu ada di sini lalu siapa yang ada di dalam peti mati yang kuburkan beberapa bulan yang lalu??" gumamnya lirih di telingaku, sekarang aku yang bingung mendengar perkataan devin, aku melepas pelukannya dan menatap tajam padanya.


Menyadari kebingunganku devin meminta waktu untuk bicara berdua denganku saja, semua orang keluar ruangan kecuali aku dan dia.


" Sungguh licy, aku menerima peti mati berisi jenazahmu dan surat kematian yang di berikan pihak lapas, mereka mengatakan kalau kamu mati bunuh diri di dalam penjara,


aku hancur saat itu kupikir kamu benar - benar sudah kehilangan akal dengan mengakhiri hidupmu!" devin mulai mencercaku dengan kebingungannya.


"Hemmmz, sekarang aku baru mengerti kenapa kamu begitu kaget melihatku!


aku masih hidup devin! al - quran yang kamu titipkan untukku selama di penjara yang menjadi cahaya hidupku, tidak mungkin aku bunuh diri!."


Devin kembali memelukku erat, dia meluapkan kerinduannya dan untuk pertama kalinya aku melihat devin menitikkan airmata.


"Dan, bagaimana caranya kamu bisa ada di sini??" devin mulai mencercaku dengan pertanyaannya lagi, rasa ingin tahunya teramat besar, sama sepertiku tapi aku masih bisa menahan diri, selama di penjara hampir tiap hari aku bertemu dengannya, tak ada sejengkal pun kisahku yang dia lewatkan, wajar sekarang dia sangat penasaran dengan kisahku selama tidak bertemu dengannya.


Aku mengembangkan senyumanku padanya, "anggap saja takdir yang mempertemukan kita vin, sekarang jangan banyak bertanya, ayo kembali ke tempat tidurmu! kamu harus banyak istirahat."


Aku menggandeng tangan devin untuk kuarahkan kembali ke arah tempat tidur, dan dia menurutiku sambil tersenyum.


Kurebahkan tubuhnya yang masih terlihat lemah, kutatap dalam bola matanya, sekarang ada mataku disana!! dia yang akan menemani hari - hari devin, kulihat devin menurutiku dan dia mulai tenang di atas kasurnya.


Thanks god for everything !!.


Aira menyambutku dan mengandeng tanganku, kemudian dia membawaku berjalan kembali ke kamar rawat inapku, sedangkan pak bagas dan dokter masuk kembali kekamar devin.


" Kak, tadi dokter bilang kakak harus istirahat di rumah sakit ini minimal 3 hari untuk pemulihan" mendengar penjelasan aira aku hanya mengangguk pelan, sekarang hatiku sudah tenang.


Pagi ini aku berjalan keluar kamar sendiri, aku menuju kamar devin.


Kukira dia masih tidur dan aku berniat menggangu tidurnya, ternyata dia sudah duduk dengan begitu banyak kertas dia pangkuannya, dia terlihat serius.


Aku tidak melihat seorang pasien yang sedang sakit, tapi seperti melihat seorang pekerja kantoran yang sedang sibuk bekerja.


Melihatku datang devin menghentikan sejenak pekerjaannya," pagi licy" sebuah senyuman hangat mengembang dari bibirnya yang tipis, aku duduk di sampingnya, " apa semua ini devin?" aku mulai mengambil kertas yang berserakan di depanku.


" Ini pekerjaan yang tidak bisa menunggu, aku harus mempelajarinya dan segera menandatanganinya, ini surat tembusan dari beberapa negara yang membutuhkan bantuan sukarelawan lic, dan sepertinya aku pun harus bersiap pergi secepatnya."


Aku hanya bisa geleng - geleng kepala menyaksikan pemandangan di depanku, " tapi kamu belum sembuh benar vin, lihat wajah dan bibirmu saja masih bengkak."


Seakan tidak meperdulikan perkataanku devin tetap dengan kesibukannya.


Aku sudah menduga tidak ada yang bisa mencairkan gunung es ini, devin deniatmaja lebih keras dari es di gunung himalaya.


Melihatnya begitu aku beranjak dari dudukku, dan berniat untuk keluar dari kamar ini, dia devin yang tidak peduli apapun saat sudah fokus pada sesuatu, daripada emosiku tersulut melihat sikapnya lebih baik aku melipir pergi.


Suara deheman menghentikan langkahku, " licy bantu aku dengan satu matamu yang lain, karena yang satu ini sudah mulai lelah," devin mulai memperlihatkan mata kucing memohon.


Melihatnya seperti itu membuat aku putar badan berbalik menuju kearah devin lagi, " apa yang bisa kulakukan untukmu??"


devin menggeleng cepat, " tak ada! kamu cukup diam saja jangan bersuara karena celotehmu bisa membuyarkan konsentrasiku!"


aku hanya bisa membelalakkan mata tanda emosiku sudah mulai siap meledak.


Kampret!!! aku datang kesini dengan tujuan apa?? yang kudapat apa!!! dasar gunung es dia sangat menyebalkan !!.


Aku mulai mendesis menahan emosi jiwa, seakan racun di dalam mulutku begitu penuh dan ingin segera kukeluarkan hingga bisa membuat gunung es itu terkapar tak berdaya!!!.


"Hadewwwhhhh!!!"


aku mulai berdiri dan tak sanggup menahan emosi lagi, "hehh kutu kuprett!! aku datang kesini pingin sayang - sayangan, bukan untuk melihatmu bekerja! daripada melihatmu mending aku lihat acara di televisi!!"


Aku keluar kamar sambil membanting pintu, dari luar kamar bisa kudengar devin tertawa terbahak - bahak!


"dasar tidak waras!" umpatku.


Aku kembali ke kamar dan membanting tubuhku ke kasur, entah apa aku bisa tahan dengan manusia menyebalkan itu?!! dia yang moodnya bisa cepat berubah sangat sulit di pahami dan sungguh dia sangat menyebalkan.


Aku menyetel televisi dan volumenya kubiarkan membesar sempurna, bahkan orang tuli saja bisa mendengar raungan volumenya.


Pintu di buka disitu telah berdiri devin, dia masuk kamarku sambil memegang sekuntum mawar berwarna merah yang entah di dapatkannya darimana, dia membungkukkan badan dan menyodorkan mawar itu di hadapanku.


Dan sekarang dia memainkan kelemahanku, dia tahu aku tidak akan sanggup menolak mawar yang aromanya bisa membuatku hidup dan membuatku kehilangan amarah,


" ah, devin hanya orang tidak waras yang sanggup bertahan di dekatmu! dan mungkin sekarang aku sudah tidak waras!!"


mendengar keluhanku, devin hanya bisa senyum - senyum saja.


"Aku merindukan amarahmu licy, maafkan aku harus mengganggu moodmu pagi ini."


Aku mengambil mawar dari tangan devin, dan menarik devin untuk duduk di sampingku, sekarang aku mendapatkan yang kuharapkan pagi ini yaitu kangen - kangenan sama dia.


Saat aku ingin mengajaknya mengobrol, devin malah sibuk mencari sesuatu, " mana remote tivinya licy??"


mendengar pertanyaannya itu sontak aku mengambil bantal dan mulai memukulkanya ke badan devin, dan kami tertawa bersama pagi ini.


Kebersamaan inilah yang kurindukan, ini bukan perasaan yang sama seperti yang kurasakan saat bersama alvin kekasihku, tetapi perasaan ini berbeda!!.