BLack Roses

BLack Roses
1.7 Jalan menuju terang



Akan kubuka lembaran baru di sini dirumah ini.


Hari ini semua kegiatanku akan dimulai yang pertama- tama aku akan minta pindah kamar, sejak kejadian kemarin aku tak mungkin sekamar lagi dengannya selanjutnya aku akan mulai belajar agama, semoga di mudahkan. Aku merasa otakku sudah tumpul dan belajar agama dari nol lagi? wowwww itu pasti tidak mudah.


Devin menuruti keinginanku untuk pisah kamar, aku beralasan tidak mau membuatnya merasa semakin tidak nyaman dengan kehadiranku, dia pun harus memulai hidup baru, yang terjadi adalah sebuah kesalahan. Aku hanya akan di sini sampai ibu devin mengikhlaskanku pergi, ya hanya sebatas itu sekarang hubungan kami.


Sebulan telah berlalu, aku dengan cepat menyerap semua ilmu agama yang diajarkan guru privat yang disewa devin itu, hanya dalam 1 bulan aku sudah bisa mengkhatamkan Al' quran, semua berkata luar biasa tapi bagiku aku hanya ingin mempersingkat waktu untuk bisa segera pergi dari sini, seperti janji ibu devin pada nenekku, memberikan kehidupan yang berarti untukku.


Ibu devin selalu mengatakan nenekku berharap aku akan bisa menemukan kehidupan yang benar dan menurut mereka ya ini dengan mencekoki aku doktrin- doktrin agama di setiap detiknya, dan semuanya berjalan sesuai dengan yang mereka inginkan.


Aku pribadi sebenarnya ingin mempelajari semua agama di muka bumi ini, sampai aku bisa menemukan yang paling hakiki menurut suara hatiku.


Baiklah akan ku mulai dengan, islam agama nenek moyangku.


Sejak bergelut dengan ilmu agama islam aku lebih banyak menyendiri dan merenung, semuanya mungkin memang takdir yang harus aku jalani, guru itu selalu mengatakan bahwa setiap permasalahan dalam hidup ini adalah bentuk kasih sayang tuhan pada kita.


Disela tangisku, aku berharap itu benar!


inilah bentuk sebuah kasih sayang yang maknanya masih belum bisa kupahami.


Apakah kasih sayang itu seperti perasaan yang kurasakan saat- saat bersama alvin kekasihku?.


Aku tidak tahu, apakah sampai akhir hayatku aku akan menderita karena cinta ini dan aku harus membawanya kemanapun langkahku pergi.


Hikkkks,hikkkk( airmata lagi ,lagi,dan lagi)!.


Apakah aku mampu menanggungnya tuhan?


apakah aku sekuat itu?.


Tepukan di pundakku menyadarkan aku, "oke lic bagaimana harimu sekarang? apa kamu sudah merasa baikan?


selama sebulan ini kamu lebih sering menghindariku, lebih banyak menyendiri di ruangan ini?!


devin bicara sambil sesekali melempar senyumnya, kamu disini temanku kan? kamu bukan seorang narapidana yang kupenjarakan disini.


Gantilah bajumu, hari ini aku akan mengajakmu keluar jalan- jalan. Aku lihat kamu nyaris tidak bertemu matahari sebulan ini, lihatlah kulitmu mulai berubah pucat."


" Aku tidak ingin keluar", jawabku lirih.


devin memegang pundakku dan menatapku tajam" aku mohon, ini permintaan temanmu anggap saja aku yang sedang butuh di temani."


Aku melihat ekspresi di matanya, berharap itu sesuatu yang memang perlu di lakukan, okey aku menyerah.


" keluarlah, aku akan mengganti bajuku!"


semilir angin menerpa wajahku , meskipun wajahku tertutup cadar tapi aku masih bisa merasakan belaian lembut sang angin dari sela kaca mobil yang dibiarkan terbuka,


Haaaahaaaaa aku merindukan ini.


Devin mengajakku ke puncak, merasakan sensasi dingin udara pegunungan, wooww aku merasa hidup kembali.


Kami turun ditempat yang hijau asri, aku berlarian.


Aku menggerakkan tangan dan badan, aku menari layaknya seorang gadis kecil tak kuhiraukan sekitarku termasuk devin yang hanya senyum- senyum melihat kelakuanku.


Devinnnnn! ini luar biasa! thanks ya


tanpa sadar aku mengecup pipinya.


Devin hanya tertegun tak bicara," hemmmmmzz maaf" (kataku), aku terbawa suasana tapi itu kecupan tulus dari temanmu ini aku mohon jangan salah faham (devin hanya menggelengkan kepalanya tanpa bicara).


Tak terasa cukup lama kami menghabiskan waktu di situ hingga sore menjelang malam, kami akhirnya memutuskan pulang.


Sesampai di rumah aku bergegas masuk ke kamar, aku sudah tidak sabar menelepon seseorang, yaitu yulia sahabat karibku.


Dan, yesss tersambung.


Yulia( pekikku) dari seberang sana aku pun mendengar teriakan Yulia, kami ngobrol seperti tak kenal waktu, tanpa sadar ada yang mengawasiku sejak tadi dari celah pintu. Itu devin!.


Malam menjelang, aku sangat bahagia hari ini dan sekarang aku ingin memanjakan diriku sendiri, aku pergi ke kamar mandi dan aku menikmati mandiku bagai seorang puteri raja, naluriku sebagai seorang wanita ingin sebuah kecantikan pun aku penuhi.


Malam ini aku ingin tidur senyaman - nyamannya, sebelum beranjak tidur aku pergi kebalkon kamar sekedar membiarkan rambutku mengering alami. Malam ini aku yakin tak mungkin ada orang yang masih berada di luar rumah, jadi aman.


Angin yang lembut membelai rambutku, aroma wanginya begitu menenangkan jiwaku dan aku membiarkan gaun tidurku sedikit terbuka di terpa angin malam.


Hemmmmmss aku merasa cantik malam ini, aku merasa seksi dan aku merasa hidup.


Aku tersenyum sendiri


kupejamkan mata dan kunikmati suasana yang tenang dan aku di kagetkan oleh tangan yang memelukku hangat dari belakang.


Devin!


aku hafal dengan aroma parfum ini aromanya kuat


tak seperti punya alvin yang lembut.


Seketika aku berbalik dan mendorong tubuhnya hingga terjerembab ke pintu


" jangan membakar apa yang sudah padam!"


devin mendekatiku,


" sejak tadi aku memperhatikanmu dari bawah, tadinya aku akan memasukkan mobil ke garasi tapi aku terkesima melihatmu, tanpa sadar naluriku membawaku kesini."


Tangan devin kembali merengkuhku, aku tak kuasa menolaknya.


Desahan napasnya kurasakan lembut di wajahku, ciuman hangatnya mendarat di bibirku, tak sadar aku membalasnya.Terhanyut suasana yang kian romantis, kami pun tak mampu menahan birahi yang kian memuncak.


Dibalkon rumah tertumpah gairah yang sekian lama terpendam, malam ini aku merasakan hal yang berbeda, lelaki di depanku ini seperrti bukan lelaki yang pernah bercinta denganku di malam pertama pernikahanku.


Dia sungguh berbeda!


keringat kami tertumpah bersama.


"Kita kehilangan kendali vin"( bisikku).


Tanpa berkata apapun devin mencium bibirku seakan tak mau mengakhiri waktu ini.


"Jangan beranjak dulu lic, aku sedang menikmati kehangatanmu," kutatap wajahnya dia memejamkan mata seakan hanya perasaannya yang sedang berbicara.


Malam berlalu tak terasakan lagi dinginya angin yang menerpa kami berdua meskipun tak sehelai benang pun menempel pada tubuh kami berdua.


Bintang dilangit jadi saksi bisu betapa saat ini kami enggan berpisah perasaanku tenang dan damai, perasaan yang tak pernah kurasakan selama ini.


Aku berharap waktu berhenti di detik ini rasanya aku tak inginkan hari esok, aku hanya mau di titik ini tiada lagi air mata tiada lagi benci dan sakit hati.


Tapi perasaan apakah ini?


hatiku masih belum mampu menjawabnya dan devin tak mau melepaskan pelukanya.


Tapi hatiku hanya milik alvin , sedangkan devin adalah temanku, cinta alvin tak akan bisa tergantikan sampai kapan pun juga.