BLack Roses

BLack Roses
18.Tragedi



Aku sangat bingung, apakah yang harus kulakukan


apakah ibunya baik- baik saja? atau terjadi hal serius?? tak biasanya alvin tak menanyakan kabarku sampai sekian lama, sekarang aku harus apa??


ingin aku datang kerumahnya, tapi alvin melarangku


tapi sepertinya aku harus ke sana daripada aku terbunuh karena rasa penasaranku.


Siang ini aku memberanikan diri menuju ke rumah alvin, dia sering cerita di mana rumahnya dan memperlihatkan foto kedua orang tuanya.


Dia selalu mengatakan kepadaku untuk bersabar, sebelum alvin yang mengajakku datang ke sana, aku sama sekali tidak boleh menginjakkan kaki di rumah itu,


tapi aku harus tahu kabar alvin.


Maaf alvin aku harus datang kerumahmu, meskipun kamu melarangku , aku takut terjadi hal buruk terhadapmu.


Air mata saja tidak cukup, aku harus membulatkan tekad dan mengumpulkan kekuatan aku tidak takut apapun ,hanya satu saja ketakutanku yaitu kalau alvin kecewa padaku karena aku melanggar permintaannya untuk tak datang ke rumahnya.


Mencari alamat alvin tidaklah sulit, dia tinggal di perumahan elit di kota surabaya ini.


Hanya saja masuk ke sana yang sedikit sulit


di depan pos pintu gerbang motorku pun di hentikan oleh security, aku mengatakan alamat yang kucari dan nama pemiliknya, barulah mereka meloloskanku untuk lewat.


Masukk ke dalam komplek, aku mulai mencari- cari alamat alvin, yes ketemu! mencarinya tidaklah sulit karena rumahnya ada di depan tak terlalu masuk ke dalam.


Aku diam sejenak di depan rumah alvin, nyaliku menciut saat berada di depan pintu gerbang rumahnya yang sangat tinggi sampai menghalangi mata untuk melihat kondisi di dalam, tapi aku harus kesana!.


Aku turun dari motor dan hanya mondar- mandir di depan gerbang, entah berapa lama aku melakukan itu, pikiranku melayang- layang.


Suara keras security dari pos penjagaan sejenak menghentikan langkahku.


Dan security itupun mendekat , "apa yang nona lakukan di sini?"


aku ragu- ragu untuk menjawab pertanyaanya sejenak aku diam saja, sampai security itu menatapku tajam dan mulai curiga.


" Aku ingin bertemu alvin, namaku alicyaa tolong tanyakan ke dalam apakah dia ada di rumah?".


Security berlalu dan kembali ke pos penjagaan,


kulihat dia mengangkat gagang telepon dan menelepon seseorang.


Sejenak dia datang " nona sudah di tunggu di dalam , mari saya antar!"


hatiku dag dig dug , apakah alvin yang menyuruhku masuk, apakah dia akan memarahiku saat bertemu nanti karena aku nekat datang kesini??sungguh aku sangat penasaran.


Security hanya mengantarku sampai di depan pintu rumah, aku mencoba menghubungi ponsel alvin tapi tidak aktif.


Aku ragu- ragu untuk mengetuk pintu rumahnya tapi aku harus masuk.


Aku mengetok pintu dan sejenak pintu itu di buka oleh seorang perempuan paruh baya melihatnya aku yakin itu pembantunya, dia mempersilahkanku masuk tanpa banyak bicara.


Aku duduk di ruang keluarga, pembantu itu membawaku ke sini tidak ke ruang tamu di depan tadi.


Rumah ini sangat besar dari ruangan ini aku bisa melihat lantai atas, kelihatan dari jauh di atas hanya terlihat pintu- pintu yang tertutup rapat.


Aku duduk dan menunggu, tanganku dingin karena tegang.


Datanglah seorang wanita dari penampilanya aku tahu itu yang punya rumah, mukanya sangar tanpa terselip senyuman sedikit pun.


Aku berdiri saat dia datang, dia mempersilahkan aku untuk duduk kembali.


" Jadi kamu yang bernama allycia"? ( tanyanya datar).


Dan aku hanya bisa mengangguk.


Ingin segera kutanyakan keberadaan alvin tapi tenggorokanku rasanya tercekat, lidahku rasanya kelu, melihat sorot matanya yang tajam tanpa keramahan apapun.


" Kamu yang bermimpi menjadi menantuku?( jlepp perkataan ibu alvin langsung menghujam ulu hatiku).


Aku mulai gemetar


" aku tidak punya kemampuan melarang alvin datang menemuimu dengan sangat terpaksa aku mengurungnya di rumah, aku tidak mungkin merendahkan derajatku untuk mencari wanita murahan sepertimu karenanya kami menunggumu datang sendiri mencari alvin ke sini! dan benar kamu pun datang, bagus itulah yang kami inginkan!.


Semakin lama nada suara ibu alvin semakin meninggi, aku mulai ketakutan.


Aku mengumpulkan kekuatan dan aku berteriak memanggil- manggil nama alvin.


Tiba- tiba ibu alvin berdiri dan menampar mukaku, aku mulai tidak bisa mengendalikan diri aku terus berteriak memanggil nama alvin.


Banyak yang datang menghampiriku tapi mereka beberapa laki- laki, tapi alvin tak nampak.


Aku akan berhambur lari masuk semakin kedalam untuk mencari alvin tapi tiba- tiba dua orang laki- laki memegang tanganku, aku pun tak bisa bergerak dan pergi kemanapun.


Ibu alvin mendekatiku dan menjambak rambutku,


" wanita sepertimu tak layak mendapatkan cinta alvin dan kamu ingin merebut dia dari istrinya? wow nyalimu sungguh luar biasa!"


aku tak bicara tapi aku memelototkan mataku untuk menunjukkan kemarahanku, melihatku seperti itu ibu alvin mendekatiku dan meludahi wajahku.


Aku terus meronta untuk melepaskan diri, tapi tenagaku tak mampu mengalahkan kedua lelaki berotot yang sedang memegangiku itu.


" Jadi ini wanita yang ingin merebut alvin dariku?" wanita itu memegang wajahku dengan kasar dan melayangkan tamparan bertubi- tubi ke wajahku, sampai bisa kurasakan ada darah yang mengalir dari bibirku.


" Bawa alvin ke sini!" perintahnya,


beberapa saat kemudian alvin sudah ada di hadapanku, muka nya pucat menatapku, bibirnya bergetar tapi tak sepatah pun kata keluar dari mulutnya. Dalam rasa sakit di bibirku aku memaksakan melempar senyumku kepada alvin, kulihat alvin meneteskan airmatanya.


Entah apa yang terjadi pada alvin, mukanya lusuh rambutnya awut- awutan dan tubuh kekarnya tiba- tiba terlihat lemah, bahkan dia tidak bisa melepaskan diri dari tangan kedua lelaki yang erat mencengkeram tangannya.


Alexandara mendekati alvin, " inikah wanita yang kamu cintai itu? karenanya kamu sama sekali tak pernah menganggapku ada? kemanapun dia pergi kamu selalu mencarinya? sekarang di hadapanmu aku akan membuatnya pergi dari hidupmu dan dari muka bumi ini."


Alexandara mengeluarkan sebuah pistol dari dalam sakunya dan menodongkan tepat kehadapanku, dia mundur beberapa langkah, tangannya gemetar,


aku yakin ini pertama kalinya dia memegang benda itu.


Aku pasti akan mati hari ini , tak ada yang bisa menyelamatkan aku dari kemarahan alexandara istri alvin!!


Aku pejamkan mata, sekarang tak ada yang bisa menyelamatkan aku!


Dorrrrrr!!!


terdengar suara tembakan dan terdengar suara,


gedebukkk!!!!


tapi aku tak merasakan sakit. Kubuka mata di depanku telah terkapar alvin, dia tergeletak di hadapanku,


dia berusaha mengulurkan tangannya padaku, aku ingin meraihnya tapi tak bisa.


Tubuhku gemetar sejenak aku merasakan mati rasa, aku ingin menjerit tapi tak mampu,


aku tertegun melihat alvin meregang nyawa.


Seketika ibu alvin menjerit histeris, dia mendekati alvin dan berteriak memanggil seseorang di situ untuk menelepon ambulans.


Alexandra menjatuhkan pistol di tangannya dan jatuh terduduk di depan alvin yang bersimbah darah.


Semua orang sibuk menolong alvin, termasuk dua lelaki yang sedari tadi memegangiku.


Tapi aku tetap berdiri diam, mataku tetap tertuju pada alvin,


dia mengangkat tangannya dan pandanganya tertuju padaku, " pergi dari sini licy! mereka tidak akan melepaskanmu!"


terdengar suara alvin parau menahan sakit.


Tapi aku tetap tak bergerak, mataku tak bisa melepaskan wajah alvinbkutatap tajam bola matanya, dia memandang sayu padaku seakan mengisyaratkanku untuk segera pergi.


Tanpa sadar aku membalikkan badanku dan berlari keluar , aku berlari sekencang- kencangnya keluar dari rumah alvin,


aku berlari dan terus berlari sampai napasku tersengal- sengal.


Alvinnnnnn!!!!!!!


aku berteriak sekencang - kencangnya dan aku jatuh terduduk di tengah jalan raya.


Aku tak mampu lagi menahan airmataku, aku menangis tanpa bisa lagi kukendalikan.


Suara klakson kendaraan bermotor tak mampu memaksaku berdiri dari dudukku, aku hanya bisa memandang ke satu arah.


Tiba- tiba ada seseorang yang membantuku berdiri dan mengajakku pergi kepinggir jalan raya,


aku tetap diam tanpa menoleh kepada orang yang tengah menggandengku.


Kulepaskan tangannya dan aku kembali berlari menuju rumah alvin yang tadi ku tinggalkan.


Belum sampai kerumah itu , aku melihat mobil ambulans telah keluar dari dalam rumah alvin,


aku berusaha mengejar mobil itu sampai langkahku terhenti karena tak mampu mengejar laju mobil ambulans itu.


Aku berjalan dan terduduk di pinggir jalan bersandar pada sebuah batang pohon besar.


Tatapanku kosong, aku hanya duduk diam sampai aku tak menyadari hari telah gelap tapi aku tak bergeming dari tempat dudukku, sampai mataku lelah dan aku tertidur.


Matahari terasa hangat menyentuh pipiku yang dingin, hari telah pagi tapi aku belum beranjak dari tempatku duduk, masih di tempat yang sama.


Kutengok rumah alvin sepi, aku mencoba berdiri tapi kakiku gemetar sehingga aku mengurungkan niatku untuk berdiri, aku kembali duduk.


Masih segar dalam ingatanku kejadian kemarin, semua terjadi begitu cepat, semua seperti sebuah mimpi buruk, tapi sayangnya yang terjadi bukan mimpi tapi sebuah kenyataan pahit yang mau tak mau harus kuterima.


Suara keras sirine ambulans membuyarkan lamunanku, mobil itu meluncur menuju rumah alvin, di ikuti beberapa mobil yang mengiringinya di belakang semua masuk ke dalam rumah itu.


Ku kuatkan kakiku, aku berjalan berusaha mendekati rumah alvin, dari celah- celah pintu gerbang aku bisa melihat dari dalam mobil ambulans di keluarkan sebuah peti mati,


sontak aku gemetar.


Oh Tuhan , apakah di dalam peti itu adalah alvin


apakah benar dia sudah meninggalkan aku??


tiba- tiba aku merasa pandanganku gelap dan aku tak menginggat apapun lagi.