
Al fatih tumbuh dengan sehat, matanya bersinar, pipinya putih kemerahan dan saat dia tertawa ada sepasang lesung pipit menghiasi pipinya, aku seperti melihat alvin hidup kembali, mereka berdua sangat mirip.
Kehidupan kami sangat bahagia di rumah ayah yang sederhana.
Al fatih berlarian di halaman rumah ayah yang luas, halaman ini sekarang menjadi taman yang indah penuh dengan bunga mawar berwarna warni.
Mataku tak pernah lelah menikmati keindahannya, bahkan sekarang dari kejauhan rumah ayah nyaris tak terlihat, tertutupi oleh ratusan pohon mawar.
Al fatih tumbuh dengan cepat dia adalah anak yang ceria, dia selalu menggangguku, tapi dia sangat menyayangiku,
kehadirannya menjadi obat dari lukaku dulu.
Sekarang aku pun seperti terlahir kembali, nyaris tak kutemukan alicyaa yang dulu, sekarang aku tak pernah menutupi mukaku dengan kosmetik, aku pun tak pernah belanja untuk sekedar memenuhi hasrat dan moodku, semua berubah! semua berpusar pada al fatih saja sekarang.
Ayah pun sekarang sangat bersemangat, dia rajin bekerja dan tak pernah terlihat lelah, sepulang kerja waktunya di habiskan bermain dengan anakku.
Sungguh kebahagian yang lengkap, aku pun seakan lupa dengan dunia luar, bahkan aku sama sekali tak pernah menginjakkan kaki keluar dari desa ini, karena semua kebutuhan kami sudah di sediakan oleh ayah.
Tapi ada yang mengganggu pikiranku, sebentar lagi al fatih mulai masuk pra sekolah aku yakin di butuhkan akta lahir dan identitas yang lain, semua itu belum aku kantongi.
Aku menghela napas panjang, mau tidak mau aku harus pergi ke apartemen untuk mengambil surat nikahku.
Sekarang pasti ada di costumer servis apartemen, karena terakhir ku tinggalkan apartemenku itu, surat nikahnya belum sampai ke tanganku.
Semua rangkaian kejadian itu begitu cepat, seperti mimpi buruk yang datang berantai menghempaskan aku dalam kehancuran, sampai- sampai aku tak memikirkan tentang hal ini, bahwa sekarang aku membutuhkan surat nikahku itu.
Pergi kesana sangat mengganggu pikiranku, aku takut akan ada yang bisa melacak keberadaanku, tetapi ini demi masa depan al fatih aku tidak ingin perjalanannya terganjal masalah sekecil apapun, aku tidak punya pilihan lain selain datang kesana.
Aku harus mengalahkan ketakutanku hanya orang yang punya nyali yang bisa bertahan, karena sebenarnya hidup ini adalah medan perang, pemikiran praktis itu yang harus ku hujamkan dalam otakku. Aku pernah kalah sekali melawan ketakutanku kepada pamanku, dan hasilnya aku hidup sebagai pecundang, aku menghancurkan sendiri impian dan keberanianku untuk menghadapi kenyataan.
Sekarang aku ingin hidup sebagai pemenang demi anakku, aku tidak mau dia mencatat di dalam otaknya kalau dia memiliki seorang ibu yang lemah.
Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi!.
Aku mengutarakan niatku kepada ayah, dan ayah pun memahaminya, cepat atau lambat aku memang harus keluar rumah, aku tidak bisa selamanya sembunyi di balik tembok rumah ayah.
Aku harus berani demi masa depan al fatih, ayah mendukung niatku tapi dia tidak ingin aku pergi sendiri, dia akan menemaniku.
Semua akan baik - baik saja selama ayah bersamaku, itulah keyakinanku, terkadang keyakinan bisa melipatgandakan keberanian dan membinasakan ketakutan.
Aku akan pergi, meskipun akan ada resikonya.
Semoga pengelihatan keluarga alvin sedang lengah, dan membiarkan aku lolos dari jangkauan mereka, atau harapanku sekarang mereka sudah melupakan keberadaanku di muka bumi, aku berharap mereka menganggap urusanku dengan mereka selesai, semoga saja.
Siang ini aku menginjakkan kaki di lantai apartemenku yang cukup lama kutinggalkan, aku ragu- ragu melangkah ke customer service untuk melihat dan menanyakan tagihan- tagihan yang mungkin harus ku selesaikan, dan bertanya tentang paket itu.
Saat melihatku customer service itu sedikit terkejut, tapi ku pikir itu karena aku lama tidak datang ke sini, aku tak mengenalnya tapi mungkin dia yang mengenalku.
Dia langsung bangun dari duduknya dan menghampiriku, dia menarik tanganku dan mengajakku agak menjauh dari ayah dan al fatih.
Aku menjadi penasaran, sebenarnya apa yang ingin di sampaikannya. " Mbak alicyaa harus segera pergi dari sini!"
aku sedikit terkejut mendengar ucapannya, aku menjadi semakin tidak mengerti maksud dari ucapan wanita ini, dan dia memanggil namaku berarti dia mengenalku!.
"Ada wanita paruh baya, yang setiap hari datang kesini menanyakan keberadaan mbak alicyaa, dan dia berpesan siapa saja yang melihat kehadiran mbak di sini untuk segera menghubunginya, dia menawarkan imbalan yang cukup besar mbak, jadi siapapun bisa tergiur!"
Aku mulai gemetar, keberanian yang ku pupuk sejak di rumah ayah seakan menguap begitu saja.
Aku menatap wanita ini untuk mencari keseriusan di matanya, tatapannya tajam! berarti dia tidak bohong.
" Tapi tidak semua pegawai di tempat ini mengenalku, hanya beberapa saja yang pernah bertemu dan berinteraksi denganku, sepertinya mbaknya terlalu berlebihan!"
aku mencoba menenangkan costumer service itu, dengan pendapatku.
Wanita ini menarikku untuk menuju suatu tempat, di lobby restaurant terpampang fotoku di bawahnya ada caption orang hilang, namaku dan ada nomer telepon juga, untuk siapapun yang bisa memberikan informasi.
Belum hilang keterkejutanku, wanita ini menarikku lagi menuju ke beberapa tempat seperti pintu masuk lift yang juga terpampang fotoku, sekarang aku baru menyadari kata- kata customer service ini bukan isapan jempol semata.
Tiba- tiba kakiku lemas, aku sekarang benar- benar di kelilingi ketakutan, ini serius! tak kusangka hidupku yang sederhana sekarang menjadi rumit, karena berurusan dengan orang- orang ini! kenapa aku harus berurusan dengan mereka? kenapa aku harus jatuh cinta pada alvin yang mempunyai latar belakang yang berbeda denganku? kenapa???.
Aku harus bergegas menyelesaikan urusanku kesini, dan harus segera pergi setelahnya, sebelum kehadiranku di ketahui banyak orang! aku rasa masalah ini benar- benar serius, oh ya aku harus menanyakan apakah paket yang berisi surat nikahku telah sampai dan masih di simpan pengelola apartemen ini, aku berharap tidak jatuh ke tangan orang lain, aku berharap kredibilitas tempat ini bagus, bisa menyimpan barang pribadi penghuninya.
" Mbak apakah ada kiriman paket atas namaku?"
tiba- tiba aku teringat aku harus segera menyelesaikan tujuanku ke sini.
Customer service itu kembali ke tempatnya semula, dia mulai mencari- cari di sebuah buku besar,
"ada mbak, sebentar saya cek kan,"
setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dia menyerahkan sebuah paket, mungkin itu paket yang kucari.
Aku membukanya dan mencoba memastikan isinya, benar! isinya surat nikah yang kucari!!.
Aku berterima kasih dan bergegas menuju ayah dan al fatih yang sedari tadi menunggu dengan tidak sabar.
" Ada apa licy?"
sepertinya ayah mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres yang sedang terjadi, aku tak menjawab pertanyaan ayah dan mengambil langkah seribu menuju ke lift, dengan masih di penuhi penasaran ayah mengikutiku dari belakang,
Sampai di depan pintu aku menghela napas, hatiku berdebar! rasanya seperti ada hawa dingin yang menusuk hatiku, kenangan tentang alvin mulai merayapiku lagi, ku buka pintu dan alangkah terkejutnya aku, ada yang sengaja mengacak - acak isi apartemenku ini! kondisinya amburadul dan banyak barang yang di pecahkan.
Aku yakin itu orang tua alvin yang sudah datang ke sini! mereka sudah sampai ke sini," oh Tuhan ( bisikku lirih)."
Aku hanya ingin mengambil fotoku dan alvin untuk ku tunjukkan kepada al fatih anakku, supaya dia bisa melihat wajah ayahnya. Sejenak ku pandang lagi isi apartemen ini sebelum pergi, seandainya aku bisa tinggal di sini di kelilingi tentang kenangan alvin, sayangnya tidak bisa!.
Aku mengajak ayah untuk segera pergi dari tempat ini, aku tidak ingin kedatanganku terendus mereka yang tak lelah mengejarku.
Aku menggantikan ayah menggendong al fatih, kulihat ayah mulai kelelahan. Jagoanku sekarang mulai montok, usianya masih 5 tahun tapi dia memiliki tubuh yang lumayan besar di bandingkan anak seusianya.
Saat dalam gendonganku dia selalu mencari hidungku dan dia selalu mencari kesempatan menggigitnya, hahhhaa dan saat berhasil dia bisa tertawa terbahak - bahak, seperti yang di lakukannya sekarang.
Di dalam lift al fatih sudah berhasil menggigit hidungku tiga kali, hal ini membuatnya tidak berhenti tertawa sampai tak terasa sudah sampai lantai bawah, " dasar nakal!" aku menciumi anakku dan mengelitiknya, dia menggeliat manja.
Alangkah bahagianya kamu nak, yang belum bisa meraba kejam nya dunia ini.
Pintu lift terbuka dan alangkah terkejutnya aku karena sudah di sambut oleh segerombolan orang, aku memberikan al fatih kepada ayah di belakangku, dan aku maju mendekati mereka yang menatap tajam kepada kami, yang tanpa bertanya mulai menangkap dan memegangi tanganku.
Aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkeraman tangan mereka, tapi sebelum berhasil ada wanita paruh baya yang mendekatiku " kamu pikir aku tidak akan bisa menemukanmu??"( umpat wanita paruh baya itu).
Plakkkkkk!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku!.
"Hey!!!!!"
aku mendengar ayah berteriak, dia menurunkan al fatih dan mengambil langkah seribu mendekati tempatku berdiri.
Ayah mendorong wanita itu hingga jatuh terjerembab, dan ayah berusaha melepaskan pegangan tangan dua pria yang mencengkeram tanganku.
Ayah menarikku dan menjauh menuju ke tempat al fatih berdiri, anakku menahan tangisnya tapi dia tidak meluapkannya, terlihat jelas ketakutan di matanya.
Mata sembabnya menatap tajam pada wanita paruh baya yang masih belum berdiri itu! mungkin al fatih bertanya- tanya siapa wanita itu yang sudah berani menampar wajah ibunya, dia anak yang kuat karena tak ada jeritan ketakutan yang seharusnya di tunjukkan anak seusianya.
Wanita paruh baya itu dia menatap tajam ke arah anakku, dari kejauhan aku bisa merasakan getaran kuat itu, entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu.
Aku mulai gemetar, sekarang apa yang akan di lakukan wanita tak berperasaan itu kepada anakku?! dadaku berdebar kencang.
Wanita paruh baya itu berdiri dan mulai berjalan mendekati kami, ayah mulai mengambil ancang- ancang untuk melindungiku dan al fatih anakku.
Langkah wanita itu gontai mendekati al fatih, saat mulai dekat wanita itu jongkok di hadapan al fatih.
Dia mulai meneteskan airmata dan bicara " alvin kecil! kalian berdua sangat mirip!! aku merasa melihat anakku alvin berdiri di hadapanku sekarang!".
Wanita itu terduduk dan menangis di hadapan anakku, tapi dia tak mengalihkan pandangannya.
Matanya yang tajam tiba- tiba berubah sayu, dia menyerahkan tangannya dan ingin agar anakku masuk kedalam pelukannya, dia meminta tanpa bicara,
akan tetapi al fatih takut dan semakin membenamkan dirinya kepadaku.
" Dia pasti anak alvin! mereka berdua bagai dua anak kembar, sangat mirip! tatapannya itu sama!.
Alvin!!!!!
tiba- tiba wanita itu berteriak sendiri, semua orang di situ terpaku tak ada yang berani mengeluarkan suara,
suara wanita itu menggaung di seluruh ruangan, aku dan ayah pun ikut terpaku, sama seperti yang lainnya, dan al fatih sesenggukan karena kaget mendengar teriakan itu.
Ayah mulai menggendong al fatih dan menarikku untuk segera menjauh dari wanita yang mulai menangis tersedu- sedu itu yang tak lain adalah ibu alvin.
Menatapnya ada rasa tak tega dalam hatiku, mungkin yang dirasakan ibunya alvin sama seperti yang ku rasakan, kami kehilangan orang yang kami cintai.
Kami berjalan menjauh dan tidak ada seorang pun yang menghalangi, sepertinya orang- orang itu hanya bekerja menuruti perintah wanita itu, saat dia diam semua orang - orang ini pun ikut terdiam.
Sembari berjalan, aku masih bisa melihat ibu alvin tetap dalam duduknya dan menangis.
Tapi ayah setengah menyeretku dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu.
Dalam mobil pick up aku memandang jauh, mulutku terasa terkunci.Ayah pun menyetir dalam diam, sama seperti kami berdua al fatih pun ikut terdiam, entah apa yang tergambar di pikirannya sekarang, kejadian tadi pasti tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Dalam hati aku menyesal datang ke sini, luka lama terkoyak kembali, dan sekarang aku membawa ayah dan anakku ikut larut dalam lautan luka.
Ibu alvin sekarang tahu keberadaan anakku, tanpa perlu kuberitahu.
Hal ini sangat mengusikku, pikiranku mulai kalut! segala keberanianku tiba- tiba menghilang, membayangkan akan ada ancaman kepada anakku.
Sekarang, apa yang harus kulakukan!! benarkah wajah anaku sama persis seperti ayahnya ketika masih kecil? dan ibu alvin langsung mengenalinya tanpa kuperkenalkan lagi.
Ya Allah!
tanpa kusadari aku melakukan kesalahan yang fatal!
sekarang sulit bagiku menghindari keluarga alvin, mereka punya kekuasaan pasti tidak sulit menemukan keberadaanku sekarang, meskipun aku bersembunyi di lubang semut sekalipun.
Hikkkkksss hikkkkssss! aku benar- benar bingung!.