BLack Roses

BLack Roses
36.Gelap



Time traveler seakan menjelma dalam diriku, kenapa aku merasa masih berusia balita, aku tidak mengerti kenapa aku masih memakai popok?!


"Ya Tuhan!!!


buka pintunya!


kenapa aku terkurung di sini? aku harus melihat wajahku di cermin! kenapa tanganku terikat? kenapa kalian memakaikanku popok?? siapa kalian??? apa yang sudah terjadi??!!"


hikkkkkk hikkkkkkksss.


Aku sungguh tidak mengerti, apa yang sudah terjadi padaku?? " lepaskan aku!! buka pintunya!!"


namun tak ada suara yang menyahutiku, aku seakan sendirian di sini???


dan benar saja memang sendirian.


Seporsi makanan di piring plastik telah terhidang di hadapanku, ada dua wanita yang datang di hadapanku sekarang, mereka membuka ikatan bajuku dan memerintahku untuk segera memakan makanan itu! tapi aku sedang tidak lapar.


Mereka berdua tetap menungguiku tanpa bicara, mereka berdua layaknya dua buah patung yang menatap tajam padaku.


Kenapa aku berurusan dengan mereka?? tak ada jawaban yang kudapatkan, mereka tetap diam memandang tajam dan menungguku dalam diam, hanya diam!.


Aku menatap seporsi makanan itu, aku belum memasukkannya kedalam mulutku, tapi mulutku tiba- tiba terasa pahit dan perut terasa mual, aku ingin muntah sekarang.


Dan aku tak bisa lagi mengendalikan diri! ku pegang piring itu, ku angkat dan kulemparkan ke muka satu wanita yang duduk menghadapku, aku sangat tidak suka dengan sorotan matanya itu!.


Makanan bertebaran di muka dan rambutnya, mukanya merah padam menahan amarah, aku pun mulai berdiri dan ingin berlari pergi, tapi dengan sigap wanita di sebelahku menangkap tanganku untuk menghentikanku, sedangkan wanita kedua dia bangun dari duduknya dan menusukkan sesuatu keleherku, aku bergetar! rasanya seperti tersetrum.


Aku lunglai terjatuh dan kini wajahku mencium lantai, aku merasa lemah dan tak berdaya.


Hamparan taman yang luas menyambutku, semua bunganya berwarna kuning, bunga kuning menyilaukan pandanganku saat bertemu dengan cahaya matahari, aku berjalan dan terus berjalan, sampai aku lelah aku tidak menemukan ujung dari taman yang ini.


Aku lelah dan hampir terjatuh, tapi sebuah tangan terulur untuk menolongku, wajahnya putih bersih, senyumnya sangat menawan, tapi aku tidak mengenalinya.


" Aku ingin di sini saja, tolong jangan suruh aku pergi!"


lelaki itu tersenyum padaku, " di sini bukan tempatmu, kembalilah!!


Dia mengantarku ke sebuah pintu, dia membukakannya dan menyuruhku memasukinya, saat aku telah masuk dia menutup pintu dan aku tidak bisa melihatnya lagi.


Aku terbangun saat menyadari wajahku telah basah, pandanganku masih kabur.


Aku melihat sekelilingku, di sini bukan tempatku terkurung tadi, aku tidur di sebuah kasur dan aku melihat banyak orang berlalu lalang di sekitarku.


Seorang wanita telah ada di dekat kepalaku, dia mulai memeriksaku, mulai mata, mulut, dan mendengar detak jantungku.


Aku tidak merasa sakit, aku baik- baik saja! aku berusaha bangun dari tidurku, tapi tak bisa.


Tangan dan kakiku terborgol dan menyatu dengan ranjang besi yang sekarang ku tiduri.


" Tenanglah mbak, semua akan baik - baik saja! kalau mbak meronta terus, mbak akan di kembalikan kedalam ruangan bertembok putih tadi! mau??"


aku menatap matanya, mencoba mencari sebuah kebenaran di sorot mata itu.


Baiklah!


aku akan tenang, tapi tolong katakan kepadaku ? apa yang sudah terjadi padaku?!


Wanita ini mengeryitkan dahinya, seakan mencari sesuatu di wajahku?" kamu mengingat semuanya mbak? ehhhhmmmm maaf siapa nama anda??!"


dengan keras aku menyahutinya "namaku alyciaa suherman!! tapi saya tidak ingat kenapa saya ada di sini?!.


Tak lama kemudian datanglah beberapa orang yang mendekatiku dengan cepat, dua orang berseragam putih dan dua berseragam coklat.


Mereka semua berkerumun di hadapanku, aku semakin tidak memahami kondisi ini.


" Perkenalkan saya dokter andi? saya akan memeriksa kondisi mbak alicyaa, kalau mbak alicya bisa bekerja sama dan bisa bersikap tenang!" aku mengangguk tanda setuju.


Dua orang yang berseragam coklat melepaskan borgol yang membelenggu tangan dan kakiku, dan aku merasa lega! aku masih tidak mengerti apa yang sudah terjadi padaku, ada memori yang hilang dari ingatanku, semakin aku mencoba mengingatnya memori itu semakin buram.


Hanya dokter ini yang bisa menjawab semua pertanyaanku, aku harus menuruti apa yang di perintahkannya.


Aku masuk di sebuah ruangan bersama dokter andi, sementara dua pria berseragam coklat itu menunggu di luar.


Aku mulai di hinggapi perasaan takut, kenapa mereka semua seakan serius menangani penyakitku! sebenarnya apa penyakitku!.


Sungguh aku begitu penasaran, sampai tanganku berkeringat dingin, dan jantungku pun berdebar kencang.


Dokter andi mulai memperlihatkan kepadaku beberapa lembar foto, yang pertama foto rumah dengan taman bunga mawar yang menghiasi pekarangan, " tentu saja itu rumah ayahku!" aku bersuara lantang membuat dokter andi tersenyum, foto kedua memperlihatkan wajah seorang wanita, di sini aku mulai tertawa" itu wajahku dokter, apa wajahku sekarang berubah?"


dokter andi menggeleng, dia menghela napas dan wajahnya terlihat senang seperti orang yang baru saja mendapatkan undian hadiah.


Saat dokter andi puas dengan jawabanku, dia melanjutkan dengan foto ke tiga seorang pria tua yang wajahnya pucat memejamkan mata, " itu ayahku! apa yang terjadi padanya dokter?! aku mulai menangis ketakutan.


"Apa mbak alicyaa baik - baik saja? tenangkan diri dulu mbak, nanti saya akan menjawab semua pertanyaan mbak alicyaa tapi untuk sekarang, mbak alicyaa yang harus menjawab pertanyaan saya, apa mbak mengerti?! aku mengangguk lemah, meskipun dadaku mulai berkecamuk di hinggapi rasa penasaran, aku takut terjadi sesuatu kepada ayahku.


Dokter andi melanjutkan dengan foto ke empat seorang wanita cantik yang posisinya sama seperti foto ayahku, " aku mengamati foto itu, "dia alexandra istri pertama alvin suamiku! (tubuhku mulai gemetar) aku ingat dia memegang pistol dan akan menembakku! ya dia akan menghabisiku dokter!"


dokter andi diam sejenak, dia memegang pundakku mencoba menenangkan aku yang mulai tak bisa mengendalikan diri, airmataku terus mengalir dan tak mampu ku bendung lagi.


Dengan hati- hati dokter andi mengambil foto terakhir, dia menyodorkannya padaku, aku mengamati foto itu lama!


" dia anakku! al fatih putra kesayanganku buah hatiku dengan suamiku yang teramat kucintai, alvin( jawabku lirih)."


Aku tiba- tiba kehilangan kesadaranku, aku merasa kepalaku berputar- putar tubuhku lemas dan aku tak mengingat apapun lagi.


Sebuah tangan menepuk pipiku, aku terbaring di sebuah kasur, aku tak mengenalnya.


" Mbaknya sudah bangun??"


lidahku terasa kelu, dan mataku terasa terpaku aku tak mampu lagi mendengar perkataan orang di depanku itu yang suaranya begitu lirih dan nyaris tak kudengar.


Aku melihat dia seperti berteriak tapi aku tak bisa mendengar suaranya, aku tak mampu menggerakkan semua anggota badanku, semua seperti mati rasa.


Tiba- tiba kulihat alvin datang membawa sebuah bunga mawar, dia meletakkannya di dekat wajahku.


Ingin aku mengucapkan kata terima kasih dan memberikan kecupan sayang untuknya, tapi aku tak bisa menggerakkan tanganku, sehingga aku hanya diam saja dan hanya senyuman tipis yang bisa kuberikan dari bibirku yang beku.


Aku merasa begitu lelah, kemudian aku memejamkan mataku, aku seperti berjalan di lorong yang panjang, semakin kedalam lorong ini semakin gelap dan tanah yang kupijak semakin becek dan berlumpur.


Semakin ku paksa kedalam aku semakin terpelosok di dalam tanah berlumpur, sekarang hanya kepalaku yang tersisa, aku nyaris tenggelam.


Mungkin ini adalah detik terakhir riwayatku, karena saat aku benar- benar terbenam aku pasti akan hilang di telan bumi, tak bersisa!.


Ibu! ibu! ibu!!


suara itu! aku seperti mengenalnya, itu suara anakku al fatih!!.


Aku seperti memiliki kekuatan untuk berenang dan keluar dari kubangan lumpur yang nyaris menenggelamkanku itu, aku menguatkan diri mencari asal suara itu!


"Anakku!!!!! al fatih !!!" aku berteriak - teriak tapi aku tak menemukan asal suara itu!.