BLack Roses

BLack Roses
22.Ibu oh ibu



Di dalam kamar aku merenung, mungkin aku akan pergi ke rumah ibuku.


Dia seorang ibu aku yakin dia bisa memahami keadaanku yang sedang ku alami, saat ini aku butuh seseorang yang bisa menemani melewati masa kehamilanku.


Ini adalah pengalaman pertama bagiku, aku takut aku akan mengalami hal- hal yang bisa membahayakan keselamatan anak dalam kandunganku ini.


Sedangkan aku belum memiliki banyak pengetahuan tentang ibu hamil, ini adalah kondisi yang cukup sulit untukku.


Hari ini genap 4 bulan usia kehamilan ini, kemarin dokter sudah memastikan kalau kondisiku sudah membaik, aku bisa pulang.


Aku bersyukur , semuanya akan baik- baik saja,


meskipun begitu dokter berharap aku lebih hati - hati, demi menghindari hal - hal yang tidak diinginkan.


Sebelum kerumah ibuku, aku harus ke apartemen dulu, aku tidak punya baju ganti.


Apartemenku pengap dan berdebu, terakhir ku tinggalkan pada waktu aku mau ke rumah alvin 4 bulan yang lalu.


Aku tak sempat menutup jendela, kondisi di kamar kotor sekali, kurasa aku harus membersihkannya.


Di sini banyak tersimpan kenanganku bersama alvin, meskipun aku tidak bisa tinggal di sini lagi, tapi aku ingin tempat ini tetap terjaga.


Aku menghubungi customer service tempat ini, untuk meminta house keeping membantuku membersihkan apartemenku.


Saat menelepon, customer service memberi info kalau aku menerima banyak surat.


Aku bergegas ke bawah, aku ingin tahu surat apa saja yang dikirimkan untukku.


Kubuka satu persatu surat - surat itu, ternyata isinya hanya rekap surat dari pengacara alvin, kukira ada surat cinta untukku dari alvin, aku berharap ada keajaiban alvin masih hidup, hikkksss hikks.


Malas ku baca semua surat itu, aku kembali ke atas dengan perasaan kecewa.


Aku duduk di balkon, sambil menunggu semua bagian rumah selesai di bersihkan.


Kembali ku buka surat- surat tadi, mungkin ada yang penting, semua surat ber materai, kubaca satu- persatu ternyata isinya surat wasiat dari alvin.


Aku terbelalak saat kutahu alvin mewariskan begitu banyak hal atas namaku.


Membaca semua ini, aku mulai gemetar.


Sekarang keluarga alvin pasti akan semakin gencar mencariku, aku harus menghubungi pengacara alvin!.


Sore ini aku, aku buat janji dengan pengacara itu.


Sesuai janji dia datang tepat waktu, tanpa banyak basa- basi aku langsung menanyakan perihal surat- surat yang dia titipkan ke customer service di tempat tinggalku.


Dia mengatakan kalau dia sudah lama mencari keberadaanku.


" Tolong pak, saya ingin menyerahkan semuanya kepada keluarga pak alvin saja, saya tidak ingin menerima apapun dari dia."


Pengacara itu menatapku sambil mengernyitkan dahi, "nyonya yakin mau melakukan ini, baru kali ini ada orang dapat warisan justru di tolak, biasanya orang dapat warisan itu ribut karena banyak hal, tapi tak pernah ada yang menolak.


" Saya yakin pak , tolong di proses, saya mau semua ini cepat selesai."


Pengacara itu pun mempersiapkan berkas- berkas,untuk ku tanda tangani.


Aku berharap semua ini akan cepat selesai,


aku tak mau berurusan dengan keluarga alvin dan hartanya.


Pengacara itu bersiap pergi, sebelum berlalu dia menoleh kepadaku" nyonya hamil? anak pak alvin?"


aku berdiri menghampirinya" tentu saja ini anak alvin, kenapa?"


pengacara itu diam sejenak seperti memikirkan sesuatu,


" nyonya harus berhati- hati menjaga anak itu, dia pewaris tahta satu- satunya."


*Aku masih tidak mengerti maksud pengacara itu, aku tak mau menerima warisan dari alvin, kenapa anakku kelak akan jadi pewaris harta alvin.


Aku lebih baik bekerja sendiri untuk menghidupi anakku, daripada di kejar- kejar keluarga alvin yang haus harta.Tak sudi!


s*etidaknya uang yang di berikan alvin dalam rekeningku tidak tercatat dalam surat wasiat, itu saja cukup bagiku untuk bertahan sementara waktu.


Setelah melahirkan aku akan mencari pekerjaan.


Alvin sayang , tolong bantu doakan aku dari surga, agar aku bisa menjadi kuat demi anak kita.


Hikksss,hikkkkks


sepertinya aku tidak bisa menunggu lama untuk tetap di sini, aku harus pergi!.


Aku akan ke rumah ibu, semoga ini bukan pilihan yang salah meskipun aku ragu.


Kupandang sekali lagi apartemen ini, di pintu tergantung ukiran namaku, hadiah dari alvin, aku harus melepasnya.


Suatu saat aku akan ke sini, semoga saja.


Alvin aku pergi, jaga rumah kita, jaga kenangan kita.


Suatu saat aku akan menunjukkannya kepada anak kita, aku pamit.


Mobil travel mengantarku kerumah ibu, di kota wonogiri,


cukup jauh dari surabaya, tapi aku tak punya tujuan lain.


Sampai di rumah ibu hari mulai petang, saat membuka pintu ibu terlihat kaget, cukup lama dia menatapku kemudian


dia mempersilahkanku untuk masuk, aku duduk di ruang tamu.


Rumah ini cukup bagus di bandingkan rumah di kanan kirinya, ini kedua kalinya aku datang kesini, pertama kali kesini, sambutan ayah tiriku kurang menyenangkan.


Aku berharap kali ini berbeda.


Ibuku duduk di sebelahku, sebenarnya aku ingin memeluknya, terakhir bertemu dengannya pada waktu pernikahan pertamaku dengan devin.


Tapi entahlah masuk ke rumah ini suasananya begitu kaku.


" Ada apa tiba- tiba kamu datang ke sini? kenapa tidak mengabari ibu dulu?"


aku menangis, sebelum ku ceritakan apapun pada ibu,terlihat ibu mulai penasaran.


Aku mulai menceritakan kisahku pada ibu, aku berharap ibu akan memelukku dan menguatkan aku, tapi di luar dugaan ibu berdiri dan mulai menghardikku, " itulah karma yang pantas kamu dapatkan! bagaimana bisa kamu mengakhiri begitu saja pernikahanmu dengan devin!


demi menikahi kekasihmu yang nggak jelas itu, apalagi kamu menikahi suami orang juga tanpa perwalian ayahmu!! wow alicyaa harusnya kamu mendapatkan hukuman yang lebih buruk."


Tubuhku mulai gemetar mendengar semua perkataan ibu, kata- katanya lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan di mukaku.


Belum sempat aku bicara, keluarlah suami ibuku, mukanya terlihat tidak bersahabat, aku pun mulai lesu.


Mungkin sebuah kesalahan aku datang kesini, aku menahan tangisku, aku tidak ingin menangis di depan mereka, aku tidak ingin terlihat tidak berdaya.


" Aku mendengar semua pembicaraan kalian, aku kepala rumah tangga di sini! alicya bisa menginap di sini hanya malam ini saja, dia tidak bisa tinggal di sini lebih lama."


Ketegasan dari suami ibuku itu, membuatku tak mampu menahan tangis lagi.


" Semua warga di sini menghormatiku, aku tidak ingin melihat alicya di sini, apalagi dia datang kesini dalam kondisi hamil tanpa di dampingi seorang suami, apa kata orang nanti!"


Ibuku hanya diam mendengar perkataan suaminya, seakan itu menyiratkan kalau ibu pun setuju dengan keputusan suaminya itu.


Aku tak mampu berkata apapun, hanya airmata ku yang berlinang.


Kupeluk ibu yang berdiri tegang, dia tidak meresponku.


Kubuka tasku, kukeluarkan sebuah amplop berisi uang yang memang ku siapkan sebelum berangkat ke sini tadi,


untuk mengganti biaya hidupku seandainya aku di ijinkan tinggal di sini sampai aku melahirkan, tapi ternyata aku salah, mereka tidak mengijinkannya.


Tetapi uang itu tetap menjadi hak ibu, aku tidak mau bahagia sendirian, aku ingin ibu juga ikut merasakan kebahagiaan, semoga uang itu bisa memberikan rekreasi otak untuknya! melihat perangai suaminya aku yakin hari- hari ibuku penuh ketegangan.


" Aku tidak berniat tinggal di sini bu, aku hanya kangen sama ibu, aku datang hanya ingin meminta saran untuk kehidupanku selanjutnya, ini pengalaman pertamaku akan menjadi seorang ibu, aku pikir ibu adalah pilihan yang tepat. Maafkan aku bu kalau aku sudah merepotkan, aku pamit."


Aku keluar dari rumah itu, dan yang paling menyakitkan ibu tidak menghentikanku. Aku berjalan dengan berlinang airmata, aku tidak tahu harus ke mana, hari mulai gelap.


Aku tidak mengenal tempat ini, di mana aku bisa menemukan penginapan?! aku berjalan dan terus berjalan, hatiku sangat hancur.


Aku mulai mengaktifkan ponselku, mencari aplikasi map berharap bisa menemukan penginapan segera. Kakiku mulai gemetar karena aku membawa tas ransel yang cukup berat.


Butuh waktu cukup lama untuk menemukan sebuah penginapan, tapi aku bersyukur aku menemukan tempat ini sebelum aku pingsan karena kelelahan.


Aku menghempaskan tubuh lelahku diatas kasur, aku menangis sambil menggigit bantal. Seandainya sekarang aku berada di hutan, aku pasti sudah menjerit sekeras- kerasnya, untuk meluapkan emosiku yang sejak tadi kutahan.


Oh ibu, teganya dirimu!


bukan pelukan yang kudapatkan, tapi cacian yang menyayat kalbuku,


apakah benar kata ibu, aku berdosa kepada ayahku, karena menikah tanpa restunya, sehingga aku mengalami kepedihan ini?.


Di kegelapan aku merenung, ayah kalau memang semua ini karena kesalahanku padamu, aku akan datang minta maaf padamu, tunggulah kedatanganku.