BLack Roses

BLack Roses
16.1 Bulan madu



Aku melihat keyakinan di matamu, aku tidak tahu sampai kapan bayanganku ada di mata itu, aku ingin cinta ini selamanya, aku ingin kamu adalah orang yang terakhir yang kucintai dan saat aku mati nanti aku ingin menyebut namamu setelah nama tuhanku.


Airmata pun tak terasa menetes di pipiku, aku tatap wajah alvin yang tengah terlelap tidur, sungguh berliku kisah cinta kita ini semua pasti tak mudah untuk di lalui, membayangkan masa depan kami itu cukup membuatku takut bagaimana dunia nanti akan bisa menerima cinta kami.


Ah, rasanya aku ingin berenang saja untuk mendinginkan otakku.


Tempat ini sangat indah, tuan adachi pasti sangat kaya dia menyulap pemukimanya layaknya sebuah resort mewah, dari luar tampak biasa tapi saat masuk kedalamnya semua orang pasti terngangah, termasuk pavilliun ini yang terletak satu areal dari rumah utama, di design seperti rumah modern lengkap dengan fasilitasnya,termasuk kolam renang yang di design seperti sebuah pantai, hemmmmmz luar biasa tempat ini sangat luas.


Berbeda dengan rumah utama yang bentuknya seperti rumah jepang pada zaman kekaisaran, mereka memiliki selera yang tinggi.


Mereka sangat beruntung bisa nyaman hidup di muka bumi ini, tidak seperti kehidupanku.


Sudah hampir sepekan kami tinggal di jepang, destinasi wisata yang indah - indah sudah kami datangi, wisata kuliner khas jepang pun sudah kami jelajahi, aku sebenarnya sedikit kurang suka makanan mentah tapi disini mau tidak mau lidahku harus menyesuaikan.


Tapi sekarang waktunya pulang.


Kami berpamitan kepada tuan rumah, nyonya Adachi memberiku sesuatu sebagai cinderamata.


Aku membungkukkan badan sebagai ucapan terima kasih.


"arrigato gozaimas!" dan dia menjawab,


"gozaimasnamaste!.'


Alvin bertanya negara manakah yang ingin aku kunjungi selanjutnya?


aku masih belum memikirkannya, aku belum bilang apapun dia sudah bilang" siap!" dasar konyol.


Alvin mulai memainkan ponselnya, reservasi atau apapun itu dia selalu cepat mengurusnya. Aku sedikit kagum akan keahliannya itu, bisnismen sejati tak ada yang tak bisa di lakukannya.


"Sekarang kita cuzz ke bandara saja ya sayang, nanti kita disana lihat penerbangan ke mana yang ready okey."


Aku hanya mengangguk saja seperti orang dungu, aku kurang bisa berpikir cepat seperti dia.


Di bandara alvin meninggalkan aku sendirian, entah pergi ke mana dia?.


Hemmmz aku harus ke toilet, aku meninggalkan barang bawaan kami di tempat duduk di ruang tunggu.


Ponselku berbunyi, ternyata alvin yang sedang mencariku, "baiklah aku datang!"


aku mencari dan mencari akhirnya ketemu alvin, " kemana saja?" tanya alvin , aku menunjuk ke arah toilet, tanpa bicara aku yakin alvin memahaminya.


Alvin mengangguk, "eh sayang koper kamu taruh di mana?"


aku sejenak menatap alvin, saat tersadar aku menepuk dahiku" oh my god aku lupa! alvin ayo bantuin nyari, seingatku tadi aku taruh di kursi ruang tunggu, ayo cepetan!"


Kami bergegas! tapi kosong tidak ada apapun di kursi tunggu. Alvin mendekati security dan berkeluh kesah mereka pun membantu menelusuri tempat ini. "maafkan keteledoranku sayang", alvin diam saja.


Benarkah dia tidak marah? mungkin urat marahnya sudah terputus? atau dia menyimpan marahnya untuk di keluarkan nanti?!


Cukup lama kami mencari tapi koper kami tapi tidak ketemu.


Alvin mulai bertanya padaku, barang apa daja didalam koper selain baju,aku jelaskan kalau selain baju ada peralatan mandiku ada juga hadiah dari nyonya adachi, sayangkan kalau hilang, itu hadiah pasti bagus sebab yang memberi orang kaya" seketika alvin tertawa terbahak - bahak.


" Kalau cuma itu isinya, ngapain kita capek mencarinya."


Alvin tetap tertawa tak berhenti, membuatku semakin kesal.


"Eh jangan salah , itu koper baru harganya mahal, terus nanti aku ganti baju pakai apa?" alvin hanya nyengir mendengar celotehku.


Untung surat penting, dompet ponsel ada di tas ranselku, ransel yang selalu di cemooh alvin, katanya jinjing ransel seperti anak sekolah, sekarang baru ketauan fungsinya apa!.


Alvin hanya geleng - geleng kepala melihatku, baiklah sayang kita jadi kemana ini, tadi aku berburu tiket yang ready, ada penerbangan ke India, gimana?


" mau mau!!" aku bersorak kegirangan, kita ketempat pembuatan film kuch kuch hota hai.


Alvin melihatku sambil tertawa, " aku tahu kamu selalu ingin kesana."


Baiklah, india kami datang!.


Tempat pertama yang ingin aku datangi adalah Taj Mahal yang terkenal itu.


Kisah romantis raja dan ratu yang memiliki kisah cinta sehidup semati yang melegenda, luar biasa! membuat aku semakin tidak sabar menginjakkan kakiku di sana.


Sampai di tanah india dari bandara kami mencari taksi untuk mengantar kami mencari penginapan, hotel atau semacamnya tapi disini super duper menguras emosi.


Disini jarang dari mereka mau menerima uang dolar, kita disini harus berpetualang kami tak mengenal siapa pun, tak seperti di jepang ada yang bisa langsung di tuju tanpa kerepotan apapun.


Disini sungguh sangat berbeda, " mari berpetualang" bisik alvin, aku hanya tersenyum kecut.


Setelah cukup lama mencari akhirnya kami bisa menemukan taksi yang mau menerima pembayaran dengan dolar, kami sangat bersyukur.


Keliling- keliling mencari penginapan, semua penuh.


Aku mulai sedikit emosi, alvin hanya senyum- senyum melihatku " tolong jangan pasang senyummu itu, membuat aku semakin mendidih!"


sekali lagi alvin tertawa terbahak- bahak mendengar ucapanku.


Karena tak enak sama supir taksi yang seperti lelah di ajak berkeliling, akhirnya kami memutuskan berhenti di sebuah taman.


Alvin mulai memainkan ponselnya mencari tahu dimana sekarang kita dan mencari hotel yang masih bisa di pesan. "Sudah benar kita sudah di Agra(alvin bertepuk kegirangan) 100 meter dari sini kita akan menemukan penginapan yang bisa menerima tamu."


Kami berjalan dengan panduan aplikasi map dari ponsel, sampailah kita di titik pencarian tapi tidak sesuai ekspektasi.


Pingin menangis sebenarnya, tak punya baju untuk ganti!


"alvin aku ingin mandi tapi! aku diam sejenak, alvin mengerti apa maksudku dia berdiri dan bergegas keluar kamar, kamu mandi saja dulu sebentar aku kembali.


Aku mulai kedinginan hanya berbalut handuk aku duduk menunggu alvin datang, cukup lama menunggu akhirnya dia datang, " maaf sayang sudah kemalaman sudah banyak toko yang tutup, aku hanya bisa menemukan baju ini" alvin menyodorkan sebuah kain, itu kain sari.


Aku bahkan tak bisa memakainya, aku hanya memandanginya tak mungkin aku tidur dengan baju ini. Alvin menarikku kedalam pelukannya seakan tahu kalau aku sudah mulai akan menangis, "maafkan keteledoranku alvin, bahkan sekarang kamu tak bisa mengganti bajumu"( aku mulai terisak) menyesali koper kami yang hilang.


Alvin mengajakku masuk kedalam selimut dan melepas handuk basah dari tubuhku, dia pun mulai melepas bajunya yang sudah lumayan bau, kami berpelukan di dalam selimut.


 


" Meskipun ku bukan yang pertama dihatimu


tapi cintaku terbaik untukmu


meskipun ku bukan bintang di langit


tapi cintaku yang terbaik".


 


Alvin menyanyikan petikan dari sebuah lagu yang entah siapa penyanyinya, tapi liriknya cukup menenangkanku, kupejamkan mata dan ku terlelap, selamat malam cinta.


Suara hiruk pikuk kendaraan bermotor membangunkanku, kulihat jam didinding sudah pukul 06:00, aku beranjak dari tempat tidur kubuka jendela, udara india seperti mimpi, aku menginjakkan kakiku di sini di negara sejuta film.


Hari ini aku dan alvin akan mengeksploremu india, tunggu kami.


Aku tertawa sendiri saat ku lihat bayangan diriku di cermin, baju sari yang kupakai membuatku terlihat seperti orang india, alvin pasti tertawa melihatnya, tapi bagaimana lagi kami tak punya baju ganti, sedikit kebesaran sih tapi lumayan nyaman menempel di tubuhku,


tapi setidaknya aku tak perlu pingsan karena bau baju yang kemarin ku pakai, haahaaaaa.


Tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah Taj mahal di kota Agra ini, tak mudah untuk sampai kesini tapi di sinilah letak keseruannya.


Alvin terus menggandeng tanganku sampai aku sulit untuk memotret dan mencari spot yang bagus, "aduh apaan sih vin, lepasin tanganku!"


Alvin tak mau mendengarkan,tetap aja dia mengandeng tanganku kuat- kuat, aku seperti anak kecil yang terus di pepet ibunya. " aku risih lihat kamu pakai baju ini licy, bagian tubuhmu yang dibelakang kelihatan jelas dan perutmu itu terus nongol saat kain sari itu tertiup angin."


Aku tertawa mendengar protes dari alvin," lho kita kan sekarang orang india sayang, kamu harus membiasakan diri" candaku.


mendengar perkataanku alvin langsung menyeretku kepojok gedung " iya tapi aku tidak suka kalau mata cowok- cowok itu memelototimu"


haaahaa, ada - ada saja kamu mulai cemburu vin dan kamu harus mengakuinya


Aku tertawa melihat reaksi alvin yang menurutku terlalu berlebihan.


" Hemmmz baiklah kita pergi beli baju dulu ya,


aku lihat penampilanmu juga berantakan karena memakai baju bekas kemarin yang sudah bau, aku takut nanti ada orang yang pingsan karena baunya itu.


Disini pasar sangatlah ramai, ada mall tapi letaknya cukup jauh, kita mencari yang tersedia saja.


jalan - jalan kami menjadi kurang menyenangkan karena masalah baju tadi.


Tiba- tiba alvin memiliki ide cara menghilangkan kebosanan " kita naik gunung yuk, di sini ada gunung salju yang cukup terkenal.


Tapi kita ke gulmarg di kasmir dulu, disana ada resort yang bagus, kita bisa main ski dan ada lapangan golf juga.Nanti kita bisa beristirahat di sana tempatnya sangat indah dan tentu saja romantis.



Nanti dari sana kita ke timur kita mendaki di kawasan Le ladakh kita bisa berpetualang dengan dinginnya gunung salju disana."


Aku mengangguk cepat, aku sangat bersemangat itu pasti akan jadi pengalaman yang berbeda dan tentunya akan sangat menyenangkan.


Tanpa banyak membuang waktu kami pun meluncur kesana, aku ingin meninggalkan penginapan itu yang pintunya berdecit kalau angin bertiup.


Sesampai di resort, tempatnya sangat cantik udaranya juga berbeda dengan di Agra, alvin memuaskan diri bermain golf sedangkan aku lebih senang bermalas- malasan di kamar hotel, hari ini aku cuma mau tidur dan makan saja, mumpung tidak ada suamiku, aku ingin mencari makanan yang kurindukan.


Kulihat- lihat di katalog makanan apa yang ingin ku pesan, hemmmz tak ada yang kucari, tidak ada bakso!


kurasa hanya di Indonesia sibulat lezat itu, lenyaplah sudah semangatku disini hanya ada makanan lokal dan timur tengah, lebih baik aku menunggu alvin saja.


Alvin datang dia kelihatan lelah, aku menyambutnya dengan keramahan senyuman mautku berharap dengan itu lelahnya akan hilang kemudian aku akan memelas agar dia mau mengajakku wisata kuliner siang ini, sebelum kita bermain ski.


Dan tralala sukses, alvin bergegas mandi dan bersiap mengajakku wisata kuliner untuk makan siang kami.


Meskipun makanan disini sama sekali tak kukenal aku tetap saja melahapnya, masakan khas india sangat kuat rasa bumbunya, terus terang aku tak terlalu suka.


Aku lebih suka makanan ringannya seperti jalebi, rasgula, dan laddo, manis semua yang asin aku suka samosa.


Selesai bersantap ria alvin mengajakku main ski, menyenangkan meskipun aku terus terjatuh, ini pengalaman pertama bagiku, tidak dengan alvin yang sudah terbiasa dengan permainan ini, dia sangat lihai bahkan dia sudah bisa melakukan sebuah atraksi yang sempat membuat jantungku serasa mau copot. Kami terhanyut dalam suasana yang ceria, rasanya tak mau pulang tempat ini membuat kami sangat betah.


Selesai main ski ada 2 gelas teh khas india menanti kami, sangat lezat susunya berbaur sempurna dengan tehnya, menghangatkan kami di udara yang dingin, sempurna.


Keesokan harinya kami meluncur ketimur dari resort di kasmir, kami menuju pegunungan salju untuk mendaki, semua peralatan sudah siap, tentu saja guide juga telah siaga menemani perjalanan kami ke Le ladakh yang terkenal itu dan inilah kami para petualang! gunung salju kami datang.


Kami siap bertarung dengan udara yang dingin mencekam di sini, dinginnya salju menyambut kami di kaki gunung di kawasan Le ladakh, untungnya alvin menyarankan kepadaku untuk membeli baju tebal berlapis- lapis sehingga aku pun tak terlalu kedinginan.


Untuk mencapai puncak guidelah yang kami andalkan agar tak kesasar.


Kepuasan tak terkira saat bisa melihat matahari terbenam dari atas ketinggian kami pun terus menuju puncak, bermalam di sana dan berharap besok pagi kami bisa melihat matahari terbit dari puncak gunung, pasti sangat luar biasa.