BLack Roses

BLack Roses
14.Pernikahan



Waktu mendekati senja tapi alvin belum mau pulang meskipun aku memaksanya tapi dia tetap bertahan. "Pulanglah sayang bagaimanapun disanalah rumahmu!" alvin menarik dan memelukku dan dia malah memejamkan mata.


Hadewwwwh whatever!.


Seakan tak memperdulikan omelanku dia malah tertidur di sofa, baiklah lebih baik aku ke kamar mandi.


Sepertinya malam ini dia akan tidur di sini lagi, okey baiklah whatever.


Aroma masakanku membangunkan alvin, aku menggodanya dengan mendekatkan secangkir kopi di hidungnya seketika dia bangun dan duduk kemudian meraih cangkir dari tanganku, "harusnya kamu melihat dirimu di cermin seberapa tua dirimu itu, tapi kelakuanmu masih seperti anak kecil."


Seakan tak perduli alvin tetap menikmati kopinya sambil sesekali menggodaku dengan senggolan manjanya, aku hanya bisa tertawa melihat kelakuanya.


Kami makan malam bersama. "Licy aku ingin mengatakan sesuatu, aku sudah mempersiapkan semuanya asal kamu tak keberatan kita bisa menikah minggu- minggu ini, kamu bisa memilih tempat yang kamu inginkan seandainya kamu mau ikut keyakinanku nasrani kita bisa menikah disini."


Aku diam, tak mungkin aku mengganti keyakinanku demi cinta, bagaimana kalau allah melaknat aku dengan membenamkan aku selamanya di neraka? aku memang bukan umat yang taat, hidupku berlumur dosa perzinahan tapi aku masih punya iman.


Aku terlalu nyaman dengan agamaku islam, sudah mendarah daging sejak aku dilahirkan.


Saat dirumah devin aku memperdalam agama islam dan semakin bertambah kecintaanku terhadap agamaku ini, meskipun aku belum bisa taat sepenuhnya, apalagi saat memakai cadar rasanya hatiku begitu sejuk tapi sekali lagi aku belum bisa memenuhi diriku dengan apa yang di ajarkan dalam agama islam tapi semoga suatu saat akan tiba waktuku menjadi muslim yang kaffah, semoga.


Tepukan dibahu membuyarkan lamunanku, alvin menatapku dan bertanya- tanya apakah yang kupikirkan sehingga aku tiba- tiba diam. "Alicya aku tidak memaksamu mengikuti keyakinanku oleh karena itu aku mengajakmu menikah di luar negeri."


Aku masih terdiam, hanya saja telingaku ku pasang untuk mendengarkan apa yang ingin alvin katakan.


"Aku aku punya pilihan untukmu ada beberapa negara yang cantik dan eksotis , misalnya kayak jepang, praha, amerika selatan dan masih banyak lagi, coba kamu lihat dulu (alvin membrowsing di ponselnya dan memperlihatkan padaku).


"Kamu tinggal pilih salah satu tempat yang menurutmu menarik untuk kita melangsungkan pernikahan dan setelah menikah aku ingin mengajakmu bulan madu keliling dunia seperti yang kamu impikan, please sayang !


kamu harus memantapkan hatimu untuk melakukan ini inilah impian kita, lupakan masa lalu dan kita bisa membangun kebahagiaan di dunia kecil kita."


Aku mulai melihat- lihat gambar di ponsel alvin berharap menemukan tempat yang cocok untukku.


Sebuah pernikahan yang kuimpikan!( aku menghela nafas panjang)seandainya aku bisa membicarakan ini dengan ayah dan ibuku, ini adalah hari yang besar untuk kehidupanku. Sebenarnya aku ingin mereka ada tapi itu tidak mungkin!.


Ayah sekarang pasti sangat membenciku sejak kubakar rumahnya itu sedangkan ibu sibuk dengan keluarga barunya yang tak suka dengan kehadiranku yang di anggap benalu dan perusak kebahagiaan mereka, tentu saja!.


Apalagi ibu sangat menyukai devin mantan suamiku itu, bagaimana reaksinya nanti seandainya kuberitahu aku akan menikahi kekasihku?.


Hemmmmz aku galau, ya sudahlah aku akan mengambil keputusan ini sendiri.


Aku ingin menikah di Indonesia, ini adalah tanah airku, meskipun aku pergi kemana pun saat meninggal dunia aku pun ingin di tanam disini, di negaraku sendiri.


" Alvin? kalau seandainya kita menikah di bali? apakah bisa kalau kita berbeda agama?"


alvin menoleh dan menghentikan makannya,


" sepertinya bisa sayang, nanti aku akan urus itu dan yang perlu kamu lakukan adalah hanya satu hal, cukup persiapkan mental dan jaga kesehatanmu. That's enough!.


Hari yang di nanti telah tiba, alvin begitu bersemangat mempersiapkan semuanya hal sekecil apapun tak dia lewatkan termasuk gaun pengantin ini, sepertinya ini sudah disiapkannya sejak lama.


Terkadang aku berpikir apakah dulu dia berniat mengajakku menikah? saat aku memutuskan pergi dan menghilang darinya? entahlah!


hanya dia yang bisa menjawab semua pertanyaanku itu, tapi aku ingin melupakan masa lalu.


Sampai di bandara pun sekali lagi aku di buat terkejut, sudah banyak orang yang menungguku tapi tak satu pun yang ku kenal namun mereka semua seakan mengenalku. Aku tidak melihat alvin, dimana dia?


belum sempat aku bertanya, semuanya sudah menggiring aku untuk segera pergi.


Ada seseorang yang duduk di sampingku, padanya aku mulai melayangkan banyak pertanyaan tapi sekali lagi dia selalu bilang tidak tahu!.


Baiklah aku akan menunggu lebih baik kalau aku tidur, sepanjang perjalanan pun sunyi senyap, dalam hati aku masih bertanya- tanya di mana alvin.


Sampai di tujuan suasana sudah riuh ramai, aku masih sedikit lemas karena bangun tidur dan kecapekan karena perjalanan jauh.


Seseorang sudah menggiringku masuk ke sebuah ruangan, disini banyak sekali orang bahkan saat aku kemar mandi untuk mencuci muka pun mereka ikut di belakangku. Aku menoleh pada mereka, " tolong keluarlah kalian, aku mau kencing! tak mungkin kalian ikut masuk!.


Kamprett ! alvin di mana kamu berada?.


Aku mandi dan menyegarkan badan saat keluar kamar mandi aku di kejutkan dengan kehadiran alvin yang berhambur memelukku, " sayang selamat datang!"


aku hanya diam sambil menatapnya." Alvin aku punya banyak pertanyaan untukmu, kenapa, dan apa ini semua? aku tak pernah bilang kalau pernikahan kita akan seramai ini? ( tanyaku dengan emosi)."


Alvin memegang tanganku dan mengajakku menuju jendela, dari sini aku bisa melihat suasana diluar yang telah dipersiapkan, pemandangan yang sangat indah sungguh menakjubkan.


Melihat ini semua amarahku seketika sirna, aku baru menyadari alvin telah bekerja keras mempersiapkan ini semua.


" Tapi setidaknya kamu bisa melibatkan aku?" aku mulai memasang muka cemberut, alvin menatapku dan meminta maaf. " Aku hanya ingin membuatkan untukmu kejutan yang tidak akan kamu lupakan."


Aku menghela napas panjang, "baiklah!"


aku mulai mengumbar senyumanku kepada alvin.


" Ini adalah kejutan manis dariku sayang, untuk menunjukkan betapa besar aku mencintaimu tidak ada maksud yang lain, sungguh!"


alvin memelukku dari belakang dan mengecup keningku, sejenak kami menikmati pemandangan di luar jendela semuanya sudah siap, pernikahan yang romantis telah menungguku.


Aku seperti sedang berada di alam mimpi dan hanya alvin yang bisa mewujudkan mimpi ini menjadi kenyataan.


Semua orang bergerak cepat bahkan aku pun tak sempat beristirahat, untuk sekedar minum secangkir kopi.


Ah, alvin dia menunjukkan dirinya kalau dia adalah seorang pekerja keras, tapi aku sangat lapar!


sambil di pakaikan gaun, mataku nanar mencari- cari sesuatu yang mungkin bisa di makan di ruangan ini.Tapi tak ada, sepertinya aku harus menahan lapar sampai acaranya selesai.


Waktunya telah tiba, beberapa orang menjemputku yang telah siap.


Aku pun berjalan pelan menuju garden party yang sudah siap di gunakan, sangat cantik designnya ditambah angin sepoi- sepoi dan suara deburan ombak di pingir pantai, membuat semakin romantis suasana pernikahan ini satu kata, ini sungguh luar biasa!!.


Alvin selalu tersenyum, tergurat kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata- kata yang tampak dari wajahnya.


Semua berjalan sesuai dengan yang di rencanakan, sekarang aku resmi menjadi istri alvin meski pun akan banyak hal yang akan merintangi perjalanan cinta ini, kami akan siap menghadapinya berdua, asalkan ada alvin di sampingku, aku tidak akan takut dan mundur lagi.



Aku pun lupa dengan rasa laparku, disini aku duduk ada alvin disampingku, menikmati indahnya panorama dalam hati yang berbunga- bunga, aku berharap waktu akan berhenti disini saja saat aku berada di puncak kebahagiaan, dengan orang yang paling ku cintai alvin ardiarta.