BLack Roses

BLack Roses
24.Rumah untuk ayah



"Sungguh ayah, aku ingin membuatkan ayah rumah yang sama persis seperti rumah ayah dulu.


Aku ingin ayah hidup lebih layak, di usia ayah yang sekarang, aku mohon!"


ayah diam dan kulihat dia mulai berpikir, " tidak usah licy, kalau memang kamu punya uang simpan saja untuk masa depan anakmu kelak."


Susah sekali mengubah pendirian ayah.


Baiklah, aku pun harus belajar hidup apa adanya di rumah ayah, disini hanya ada satu ranjang reot yang hanya bisa di tiduri satu orang saja, ayah menyuruhku tidur di situ sementara ayah menggelar tikar di lantai.


Malam ini udara sangat dingin, ayah menyelimutiku dengan sarung ayah yang sudah usang, di luar hujan lebat.


Kudengar suara decitan atap rumah saat angin bertiup kencang, aku sangat takut rumah ini akan ambruk,


tapi aku tidak bisa memaksa ayah menerima bantuanku membangun kembali rumah ini, dia sangat keras kepala.


Aku pun memaksakan mataku untuk terpejam, sampai akhirnya aku tertidur.


Ada tetesan air tepat di wajahku, sontak ku buka mata dan ternyata rumah ayah bocor,


kulihat ke bawah rumah sudah tergenang, air sudah setinggi lutut.


Dimana ayah? aku tidak melihatnya.


"Ayah??


aku berteriak memanggil ayah, melihat arus air yang deras aku pun mulai takut.


Ayah datang dengan tergopoh- gopoh, " ayo licy kita keluar dulu, sungai di belakang rumah meluap."


Aku pun panik, pertama yang akan ku selamatkan adalah tas ranselku , di situ ada surat- surat penting, identitasku dan termasuk uang, aku meraihnya dan bergegas keluar.


Semua warga mulai panik, mereka pun berhamburan keluar rumah mencari tempat yang aman.


Banjir! banjir!


semua warga berteriak- teriak berusaha membangunkan warga yang masih terlelap tidur, ayah menggandengku erat, kami berusaha mencari tempat yang aman.


Aku tertidur di bahu ayah, sebenarnya udara sangat dingin tapi aku merasa lelah, suara berisik warga yang berlalu lalang tak bisa mengusir lelapku.


Perjalanan jauh dari wonogiri ke pasuruan cukup menguras energiku, apalagi aku sekarang sedang hamil.


Aku tidak perduli dengan banjir ini, selama ada ayah aku aman, dia akan menjagaku dan aku yakin saat kondisi tidak aman ayah pasti membangunkanku.


Ayah menepuk - nepuk bahu ku, membangunkan aku dari tidur lelapku. Kami berlindung di gedung kelurahan, saat ku buka mata tempat ini sudah penuh sesak, sebagian besar warga kampung sudah berkumpul di sini, ini satu- satunya tempat yang cukup tinggi yang tidak di jangkau air.


Hari sudah pagi, ayah ingin melihat kondisi rumahnya, kami bergegas pergi.


Rumah ayah terendam, kondisinya sudah rusak,


ayah diam terpaku, pandangannya kosong terlihat dia menahan duka,


" lihat licy Allah sudah menghilangkan jejak luka yang selama ini sulit ayah tinggalkan."


Ayah tersenyum kecut sambil meneteskan air mata, dia menghela napas panjang seakan ingin melebur semua beban hidupnya.


Aku memeluk ayah, mencoba menguatkannya,


" apa ayah sangat mencintai tempat ini?"


ayah menggeleng, " ayah bukan mencintai tempat ini, ayah menyesal tidak sempat membawa foto keluarga ayah, sekarang tak ada yang tersisa dari mereka, barang - barang ayah pasti lenyap terbawa arus air."


Hemmmmzz, ini artinya hanya aku keluarga ayah sekarang, aku sangat senang akhirnya sekarang ayah harus mau menuruti keinginanku, untuk tinggal denganku memulai hidup baru, ayah tidak punya pilihan lain , selain menerima tawaranku kemarin.Ya rumah baru, aku harus segera merayu ayah !


" Sudahlah yah, ikhlasin saja mungkin rumah itu sudah bukan rezeki ayah, lupakan keluarga ayah yang sudah meninggalkan ayah, kita mulai hidup baru, lupakan masa lalu" tanpa bersuara, ayah mengajakku meninggalkan tempat ini.


Tinggal berdesakan di gedung kantor kelurahan sangat tidak nyaman buatku, apalagi kalau harus antri ke kamar mandi, untuk wanita hamil sepertiku kamar mandi menjadi tempat favorit.


"Hemmmmzz ini cobaan aku harus sabar".


Ayah mendengar keluhanku, dia hanya tersenyum saja,


" kok senyum sih yah? aku mulai emosi jiwa ini!" aku mulai mengeluarkan jurus andalanku merajuk.


Tapi sikap ayah tetap slow motion, haaahaaa tak berhasil memancing emosi ayah, dia tak pernah berubah.


dan ayah menyanggupinya.


750 milyar belum buntutnya, wow!


ada sinar harapan di mataku, aku harus ke bank sekarang tak mungkin aku menarik saldo dari atm ini, aku harus ke bank.


Di bank aku ingin mencairkan separuh dari isi rekeningku, dan ternyata bisa, cuma prosesnya yang membutuhkan waktu, karena aku mengambil uang yang jumlahnya lumayan besar.


Ternyata benar prosedurnya panjang dan aku harus menunggu lama, ayah mulai penasaran dan bertanya apakah yang sedang kulakukan di sini?


tapi aku hanya diam tak menjawab pertanyaan ayah.


Sedari tadi aku mondar mandir sendiri, sedang ayah tetap duduk asyik memandangi sandal jepitnya. Masih ku lihat wajah penasaran ayah, tapi aku masih belum ingin memberitahu ayah hal apakah yang ingin kulakukan.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya selesai, aku tersenyum puas, kami kembali pulang ke pengungsian sementara.


Di sini aku mulai mendekati aparat pemerintahan desa, mencoba mengutarakan hal yang ingin kulakukan, mereka antusias menanggapinya.


Aparat pemerintahan bergerak cepat, dan aku berdoa semoga apa tang kuinginkan segera terwujud.


Ayah penasaran dengan apa yang ingin kulakukan, tapi aku menyuruh ayah untuk sabar menunggu.


Mesin pompa raksasa di datangkan, dan mulai memompa air ke arah sungai, kepala desa menghimbau semua warganya untuk bisa bekerja sama saling membantu supaya pekerjaan cepat selesai.


Butuh waktu hampir dua hari untuk memompa air, dan membuat tanah kembali terlihat.Tapi akhirnya pekerjaan kami membuahkan hasil, semua selesai sesuai dengan rencana.


Warga bersorak gembira, mereka mulai kembali ke rumah masing - masing, dan mulai membenahi rumah mereka yang porak poranda.


Sisa lumpur hasil dari banjir itu menyisahkan pekerjaan yang cukup berat bagi warga desa.


Banyak yang berlinang air mata melihat kondisi rumah mereka, termasuk ayahku.


Tapi ayahku tak mungkin mau menerima bantuanku untuk membangun kembali rumahnya, tapi namaku alicyaa aku punya segudang rencana.


Ayah aku punya kejutan untukmu, tunggulah !


Hatiku berdebar- debar menunggu kedatangan pak kepala desa, saat orangnya sudah di depan mata baru aku merasa lega.


Kepala desa mengajak ayahku bicara,


terlihat mereka serius, setelah selesai pak kepala desa berpamitan.


" licy, ayah ingin meminta pendapatmu? pak kades tadi memberitahu ayah kalau pemerintah desa mau membangun kembali rumah- rumah warga yang rusak, menurutmu apakah ayah harus menyetujuinya?"


aku memasang muka serius seakan mencoba untuk ikut mencarikan pemikiran yang tepat untuk ayahku. " Ku rasa ayah tidak bisa menolaknya, karena semua warga yang rumahnya rusak juga mendapakan bantuan yang sama, mungkin kepala desa ingin menata kembali desanya, dan kurasa ayah harus berpartisipasi mewujudkannya."


Sepertinya ayahku tak bisa berkutik lagi, mau tidak mau dia harus menerima bantuan itu demi kepentingan bersama, hi hiii hiii finally , yes !.


Pembangunan pun di laksanakan, aparat pemerintahan desa bergerak cepat karena tidak ingin kejadian banjir itu terulang lagi.


Pertama mereka mengeruk sungai dan membangun pembatas , sampai sungai tidak terlihat dari pemukiman warga, tanpa berbelit- belit pemerintah segera membangun kembali rumah warga yang rusak, di mulai dari rumah ayahku.


Aku bersyukur semua sesuai seperti yang ku harapkan, uang alvin tidak sia- sia.


Banyak orang yang merasa terbantu dengan pembangunan itu, meskipun mereka tidak tahu darimana uang bantuan itu berasal.


Aku mengajari anakku untuk berbuat kebaikan di mulai dari dalam perut, aku yakin dia bisa melihat apa yang kulakukan saat ini, semua untuk dia!


aku berharap dia nantinya akan menjadi manusia yang berguna.


Aku merasa sehat meskipun harus berkutat dengan lumpur dan air di sini, semua warga bergotong royong selama berhari - hari untuk membantu pembangunan yang di lakukan aparat pemerintahan desa.


Kami melakukannya dengan suka cita, pemerintah juga menyediakan nasi bungkus 3x sehari, sehingga warga tidak perlu kerepotan untuk mempersiapkan kebutuhan makan mereka.


Tak butuh waktu lama kulihat rumah ayah sudah berdiri, rumah sederhana tanpa bentuk yang istimewa, sama rata seperti rumah warga lainnya yang juga mengalami kerusakan, tapi setidaknya sekarang ayah bisa tidur dengan tenang, karena rumah ini terbuat dari tembok.


Sekali lagi aku tersenyum, siang ini aku ingin menemui kepala desa untuk sekedar bertanya apakah dia mengalami kekurangan dana, karena aku siap memberikannya lagi selama masih ada isi di dalam rekeningku.


Aku tidak ingin kerja keras alvin sia- sia selama hidup di dunia, ku pikir kalau uang hasil kerja kerasnya itu di gunakan untuk kebaikan semoga kebaikan itu bisa memberikan alvin ketenangan di surga, hanya itu harapanku.


oh, alvin sayang aku sangat merindukanmu, aku kuat demi kamu dan juga anak kita, bantu aku dengan cinta kita , doakan aku dari tempatmu.