BLack Roses

BLack Roses
41.Mimpi yang hilang



Rumah ayah terlihat sangat indah dengan hamparan mawar berwarna warni yang tertata rapi di halaman rumah, aku turun dari mobil aku melangkahkan kaki dengan ragu - ragu, seperti apa sikap ayah terhadapku nanti?!.


Aku mengetuk pintu, tapi tidak ada seorangpun yang keluar, di lingkungan ayah ini terlihat sepi, jarang ada orang yang berlalu lalang.


Aku terus mencobanya, tapi tetap tak ada sahutan dari dalam rumah.


Seorang lelaki paruh baya mendekatiku, " mbak alicyaa!" aku mengangguk, dan sebelum aku menjawab pertanyaannya lelaki itu berlalu mengendarai sepeda motornya, meninggalkanku yang mulai bingung dengan sikapnya.


Aku duduk di beranda rumah ayah, sedangkan devin masih asyik dengan hamparan bunga mawar di halaman rumah, entahlah kenapa dia tertarik dengan mawar - mawar itu.


Sekuntum mawar kuning telah ada di depan mataku, dan devin tersenyum sambil menyodorkannya padaku.


" Terimalah tanda cintaku!" devin senyum - senyum sendiri, entah apa yang ada di benaknya kini, sedangkan aku menganggapnya ini sebuah kekonyolan saja.


Tak lama aku bersenda gurau dengan devin datanglah dua orang lelaki menghampiri kami, salah satunya lelaki paruh baya tadi, seorang lagi berseragam coklat, dari name tag di bajunya aku tahu dia seorang kepala desa.


" Mbak alicyaa apa kabar?" kepala desa itu menyalamiku,


kami semua di sini mendoakan hal yang terbaik untuk mbak alicyaa! kejadian yang menimpa mbak alicyaa beberapa bulan yang lalu, pasti tidak mudah untuk di terima!."


Aku tertegun mendengar ucapan kepala desa itu sampai lupa tidak melepaskan jabatan tangannya.


" Maaf, pak saya datang ke sini karena saya tidak mengingat apapun! mendengar perkataan anda tadi saya yakin pak kepala desa mengetahui banyak hal yang tidak bisa saya ingat! tolong saya pak, ceritakan apa saja yang bapak ketahui tentang masa lalu saya!."


Mendengar penjelasanku pak kepala desa kehilangan wajah sumringah yang tadi dia pasang di depanku.


Dia duduk di depanku, dan dia mulai menceritakan semua kejadian yang sudah menimpaku beberapa bulan yang lalu, aku seakan tidak percaya mendengar semua ceritanya, "tolong pak jangan bercanda, tidak mungkin ayah saya sudah tiada, lihat rumah ini masih terawat rapi melihatnya saya yakin rumah ini rajin di bersihkan!"


aku sulit mempercayai cerita itu, bisa saja sekarang dia sedang membuat sebuah lelucon konyol.


" Saya yang menyuruh orang merawat rumah ini setiap hari mbak, percayalah! saya sedang tidak bercanda."


Aku tetap menggelengkan kepala, sampai akhirnya pak kepala desa berdiri dan mengajakku pergi ke suatu tempat,


dia memboncengku sedangkan devin mengikuti kami dari belakang dengan mobilnya.


Aku masih tidak mempercayai cerita itu, dadaku berdebar kencang! aku masih berharap apa yang kudengar barusan itu tidak benar.


Kami sampai di sebuah pemakaman umum, pak kepala desa mengajakku masuk.


Kami berhenti di depan makam yang kelihatan masih baru, dua buah letaknya berdampingan, di nisan pertama tertulis namanya suherman dan disebelahnya tertulis muhammad al fatih.


Setelah membacanya aku gemetar, ada seperti bilah - bilah pisau yang menghujam kepalaku bergantian, sekelibatan ingatanku berjalan layaknya sebuah drama di televisi yang saling berurutan, aku tak bisa lagi bertahan! tubuhku lunglai dan terjatuh.


Aku membuka mataku, dan aku sudah terbaring di sebuah kamar, aku mengingat kamar ini! ini kamarku karena banyak gambar coretan yang di buat oleh anakku, yang kutempel di tembok untuk membuat anakku itu senang.


Devin duduk di sampingku, di sini juga ada kepala desa dan seorang wanita dengan alat periksa yang tergantung di lehernya.


Bidan astuti, dia bidan itu dan aku mengingatnya! aku ingat semuanya! hikkkkksss hikkkkk.


Devin mencoba menenangkan aku, " aku mengingat semuanya vin! aku ingat semuanya!!"


aku menangis sejadi - jadinya di pelukan devin, aku mencengkeram erat tangannya karena aku takut kehilangan kendali diri, mungkin hanya aku yang tahu rasa sakitnya sebuah kematian yang meninggalkan duka yang teramat dalam.


"Aku kehilangan ayah dan anakku! dan aku sudah menghabisi alexandra!" dan mata tanpa dosa itu ya Allah bude halimah! aku pun ingat telah menghabisi nyawa suaminya!."


dia datang tergopoh - gopoh dan aku mengajaknya pergi ke suatu tempat.


Aku menyuruh devin mengantarku kerumah bude halimah, devin diam tanpa banyak bertanya! mungkin dia juga shock mendengar pengakuanku tadi.


Devin memacu mobilnya dengan sangat cepat dan aku terlihat gelisah di sepanjang perjalanan.


Sampai di rumah bude halimah aku setengah berlari menuju kerumahnya.


Aku mengetok pintunya dan keluarlah bude ku itu, aku langsung bersimpuh di depan kakinya, kupeluk kaki itu sambil berlinang air mata.


Wajah bingung budeku seketika lenyap saat mendengar pengakuanku, bahkan dia menendang tubuhku sehingga tubuhku menjauh dari kakinya beberapa inci.


Tangisnya pecah diiringi jeritan histeris dari bibirnya, dia pun jatuh terduduk di hadapanku.


Entahlah kenapa aku ingin segera menemuinya saat aku mengingat segalanya tadi, mungkin itu juga beban yang berat yang kusimpan rapat didalam hatiku, dan sekarang aku mengeluarkannya.


Aku merasa kehilangan segalanya, dan aku tidak ingin menjalani kehidupanku lagi! aku ingin menghabiskan hidupku sendirian.


Setelah dari sini aku ingin menyerahkan diri ke polisi! aku meminta maaf kepada bude halimah meskipun tak mudah baginya memaafkan perbuatanku itu.


Dia tak berkutik dari tempatnya bersimpuh, aku tak tega melihatnya.


Aku berdiri dan melangkah gontai, hatiku hancur berkeping - keping, devin mengikutiku dari belakang, aku menoleh kepadanya " tolong jangan ikuti aku, biarkan aku sendiri!"


devin menghentikan langkahnya, dan membiarkan aku yang terus berjalan tidak tentu arah.


Aku menangis sendirian, aku duduk di sebuah kursi taman.


Tak ada lagi airmata yang masih kupaksa untuk keluar, membuatku hanya bisa sesenggukan sampai akhirnya terdiam.


Tiba - tiba ada seorang lelaki dan perempuan berhenti di hadapanku, aku mendongakkan wajahku dan kulihat mereka menatapku.


Aku tidak mengenal mereka! tapi lelaki itu lebih mendekatkan diri kedepanku " hey kamu alyciaa kan? wow apa kabarmu? bertahun- tahun kita tidak bertemu! terakhir kita bertemu saat kamu minta uang padaku dengan imbalan tubuhmu! apa kamu ingat itu?!"


Perkataan lelaki itu membuatku terngangah, entah siapa dia aku tidak mengingatnya, tapi kata - katanya menusuk jantungku yang sedang terluka.


Aku meraih sebuah pot beton disebelahku duduk dan aku menghantamkannya kekepala lekaki itu, dia jatuh tersungkur, aku belum merasa puas! aku terus memukul kepala pria hingga dia bersimbah darah tak bergerak lagi.


Wanita yang bersamanya tadi berteriak histeris membuat semua orang datang dan mulai berkerumun, aku masih belum bisa mengendalikan diri.


Ada seorang pria yang dengan sigap menangkap tanganku dan membuatku tak mampu bergerak, dia terus melakukan itu sampai terdengar suara sirine mobil polisi yang datang mendekat.


Borgol terpasang di tanganku, mereka membawaku masuk ke dalam mobil polisi.


Dari kejauhan aku melihat devin yang mencoba mengejarku yang terlanjur pergi dengan mobil berkecepatan tinggi.


Selamat tinggal devin! mungkin kita tidak akan bertemu lagi


Aku menghela napas panjang, kejadian tadi seperti mimpi, tangan dinginku telah menghabisi pria tadi yang bahkan aku tidak ingat namanya, bisa saja pria itu satu dari kesekian pria yang pernah tidur seranjang denganku, entahlah kenapa aku begitu tersinggung dengan kata - katanya, kalau memang benar begitu kenyataannya.


Aku adalah penjajah cinta dan aku merogoh kantong mereka untuk imbalannya! aku memang tidak punya harga diri, lalu kenapa aku harus marah kepada pria itu! sejak kapan aku memiliki harga diri??!!.


Aku mulai menangis, aku baru menyadari siapa diriku sebenarnya, kehidupan dengan harga diri tinggi yang diberikan suamiku alvin kini telah musnah, mimpi - mimpi untuk hidup normal pun telah menguap, aku hanya sebuah tubuh tanpa kehidupan sekarang! lalu apa bedanya aku hidup di luar sini atau di dalam jeruji besi??!.