
Aku membolak balikkan handphone di tanganku, aku tidak pernah mengaktifkannya, apakah sekarang harus?! tapi aku tidak ingin terhubung kepada siapapun! lebih baik ku simpan saja.
Aku mengambil sweater pemberian devin, kutaruh di dalam lipatan sebelum ada yang melihatnya, aku tidak ingin barang ini hilang atau di ambil orang karena di dalamnya banyak foto kenanganku bersama alvin.
Aku mengeluarkan barang yang di bawakan devin, peralatan mandi yang kucari, aku ingin menyikat gigiku! aku merasa tidak nyaman saat selesai makan dan aku tidak bisa membersihkannya.
Baru saja aku menemukannya, teman sekamarku merebutnya, dia juga mengobrak - abrik semua barang yang dibawakan devin, pupuslah harapanku membersihkan diri dengan sabun yang wangi dan pasta gigi favoritku.
Dia sangat menyebalkan tapi aku tidak ingin memancing keributan, dengan sangat terpaksa aku menyerahkan hampir semua barang ku itu, tersisa sweater yang tetap kedekap di dadaku, aku berharap dia tak mengambilnya juga, karena di dalamnya ada barang berharga milikku.
Dia menatap tajam ke sweaterku, tapi kemudian dia berlalu, mungkin dia tidak tertarik pada sweater ini, aku bernapas lega.
Aku melihat temanku itu tertawa bahagia dengan barang jarahannya dariku, hemmmz biarlah begitu setidaknya aku sudah membuatnya bahagia, meskipun aku harus menghabiskan hari ini dengan mulut bau dan hanya bisa mandi dengan mengguyur air saja tanpa sabun.
Aku melangkah keluar ruanganku menuju ke depan lorong,
ku membaca sekali lagi peraturan di dalam penjara ini, aku tidak mau kalau sampai melakukan kesalahan karena aku tidak mau berakhir dengan mendapatkan pukulan dari tongkat listrik sipir penjara, kejut listrik itu bisa membuatku kehilangan keseimbangan diri, seperti yang kulihat tadi pagi, seorang narapidana mendapatkannya karena dia membangkang peraturan yang sudah di buat di sini, terlihat mengerikan.
Tapi di sini tak ada kata manja, rasa sakit adalah sahabat yang akan mengikuti setiap langkah kami ibarat sebuah bayangan, aku harus belajar membaca situasi! aku tidak mau mati konyol di sini tanpa melakukan penebusan dosa seperti yang kuharapkan terjadi di sisa umurku ini.
Tak ada lagi keributan, kemarahan, atau egosentris! aku di sini harus belajar menjadi abdi kebenaran.
Aku berjalan kembali ke ruanganku, tiba - tiba ada seorang sipir penjara laki - laki yang menyasarkan tanganya di tubuh bagian belakangku, hal itu membuatku sangat terkejut, setelah melakukan aksinya dia tertawa senang , itu membuat darahku mendidih, seketika hilang janjiku di awal untuk tidak memancing keributan di sini, aku menonjok mukanya sekuat tenaga, membuat hidungnya mengeluarkan darah.
Tangan kekarnya menjambak rambutku, dan dia mulai memukulku dengan tongkat kejutnya bertubi - tubi, membuatku tersungkur mencium lantai.
Belum puas dia menendang tubuhku dengan sangat keras, sampai meninggalkan rasa ngilu di tulangku.
Dia menyeretku menuju ruangan sipir kepala, di sini dia membuat pengaduan kalau aku mencobaa menggodanya untuk mendapatkan sebuah keuntungan, satu kata untuk lelaki ini, sadis! dia pintar sekali memutar balikkan fakta.
Dan hasilnya luar biasa! hukuman tidak masuk akal di jatuhkan padaku, membersihkan toilet seminggu! itu hukuman yang menyedihkan untukku, di penjara kondisi toiletnya sangat memprihatinkan.
Baiklah! aku akan melakukannya, wajah sipir itu masih tergambar jelas di benakku, tak mungkin aku melepasnya begitu saja, aku akan memberikannya hadiah yang tak akan dia lupakan seumur hidup, aku hanya perlu memikirkan caranya, berani sekali dia menyentuhku! aku hanya ingin alvin lelaki terakhir yang menyentuh tubuhku, apalagi untuk area sensitif.
Akhirnya aku tahu juga rasa dari tongkat kejut itu, hal yang ingin kuhindari ternyata malah itu yang mengejarku! kamprettt!!!.
Sekarang aku harus membersihkan kamar mandi yang berderet sepanjang lorong ini?!! semoga aku tahan dengan baunya, aroma toilet di tambah banyaknya putung rokok yang berserakan di dalam sini, huuuuuhhh baunya sangat menakjubkan.
Ingin menangis! tapi aku harus kuat tidak mungkin alyciaa di kalahkan dengan bau toilet ini, ini adalah hal yang paling kubenci seumur hidupku, dan pekerjaan yang sangat tidak kusukai!! kampretttt!!! kamprett!!!!!!!.
Di penjara ini di huni narapinada wanita, tapi tingkat kejorokannya tak jauh berbeda dengan pria, dan hikkkksss hikkksss! aku harus menangis, sumpah aku harus menguatkan hati melakukan ini.
Hari terberat telah kulalui, saat waktu makan sore tiba aku tak mampu menyentuh makananku, bau toilet itu serasa menari - nari di depan hidungku! kutinggalkan makananku dan aku kembali ke ruanganku dengan lemas.
Membayangkan hari esok aku harus melakukannya lagi, membuat ambisiku untuk memberi kejutan sipir lelaki itu kian menggebu.
Tidur malam kuhabiskan dengan suara perutku laksana penyanyi keroncong yang amatiran, tapi aku memaksakan mataku untuk terpejam.
Ada seorang yang melempar mukaku dengan sesuatu, tepat sasaran karena mendarat tepat di depan mataku, membuatku harus membuka mata.
"Makan roti itu, suara perutmu itu membuatku tidak bisa tidur!" bentak teman sekamarku itu,
aku bangun dan mulai memakan roti pemberiannya, ini adalah roti terenak yang pernah ku makan di sepanjang hidupku, aku memakannya sambil menangis.
Aku tersenyum sendiri menatap hasil karyaku, ternyata kenangan akan cintaku mampu membentuk sebuah hal yang indah, ah alvin aku sangat merindukanmu!!.
Suara bel berbunyi nyaring, itu adalah tanda waktu untuk makan siang.
Aku melangkah gontai menuju kantin, setelah makan aku harus membersihkan toilet lagi, ya Allah ini sungguh hal yang berat, berat, berat!!!.
Seorang sipir memanggil namaku menuju ruangan berkunjung, aku bergerak cepat! aku berharap devin yang datang.
Dan ternyata benar devin yang datang, dari jauh aku berlari dan memeluknya erat, " devin, aku sangat senang kamu datang mengunjungiku!" cukup lama aku melakukannya sampai suara deheman dari sipir penjara membuatku melepaskan pelukannku.
Aku menarik devin duduk, devin diam saja tapi aku melihat wajahnya merona dan dia mulai berkeringat.
Entahlah apa yang terjadi padanya, " devin apa kamu sakit? kenapa kamu berkeringat??! devin! devin!!" devin tergagap dan dia kembali fokus menatapku, tapi dia masih belum menjawab pertanyaanku.
Dia memberikan ku sekuntum mawar putih dan sebuah vas mungil berisi seekor ikan koi, dan dia mencelupkan tangkai mawar kedalamnya, aku tersenyum menerimanya! ini adalah hadiah manis yang kudapatkan siang ini.
Aku mengucapkan terima kasih sambil menutup mulutku, dan devin mulai curiga dengan sikapku yang tidak biasa.
" Licy, kenapa kamu bicara sambil menutup mulutmu?"
aku kemudian bicara sambil berbisik, " aku tidak bisa menyikat gigiku sejak kemarin, karena ada yang mengambil sikat dan pasta gigi pemberianmu," devin tiba - tiba tertawa lepas mendengar kata - kataku, dia terus begitu sampai aku malas melihatnya.
Aku pun berpamitan kembali masuk, aku berlalu dan masih kulihat devin belum bisa keluar dari tertawanya.
Huhh! menyebalkan, mungkin baginya ini hal yang lucu, tak tahukah dia betapa tersiksanya aku tak menyikat gigiku sejak kemarin?!.
Aku tak mau ke kantin, tiba - tiba rasa laparku lenyap saat membayangkan siang ini aku harus berkubang dengan bau toilet itu lagi.
Aku berpapasan dengan sipir lelaki kemarin, dia menuju ke kantin, mungkin untuk makan.
Hemmmmz, tiba - tiba terlintas ide di benakku! aku bergegas keruanganku untuk meletakkan vas ikan koiku, dan aku berjalan kembali keluar.
Aku ke ruangan sipir kepala, kemarin aku melihat sesuatu yang menarik yang hari ini aku ingin mengambilnya.
Ruangan sepi dan aku masuk dengan hati - hati, kuambil sebuah botol berisi pil untuk diet, lalu aku menyelinap keluar lagi, kututup pintu dengan hati - hati.
Aku ke kantin dan mengambil segelas jus jeruk yang kebetulan tersedia siang ini, aku memasukkan beberapa butir pil diet ke dalam gelas, dan aku membawanya menuju sipir kemarin.
" Siang pak, ini jus buat bapak sebagai permintaan maaf atas sikap saya kemarin!" dan aku mulai memasang mata kucing, berharap bisa meluluhkannya.
Dengan tersenyum lebar dia menerima segelas jus itu dan langsung meminumnya habis tanpa banyak bertanya kepadaku, " hemmmmmzzz, makasih pak atas kebaikan hati bapak," aku pun berlalu dengan senyuman yang hanya aku yang tahu maknanya.
Selamat menikmati pak sipir!!
Aku membersihkan toilet, dan berharap si pria berkumis tebal itu segera datang, setelah cukup lama akhirnya hal yang kunanti telah datang, dia datang dengan tergopoh - gopoh menuju toilet sambil memegangi perutnya.
Aku mengambil langkah seribu menuju pipa saluran dan mematikan aliran air menuju ke toilet, kemudian aku kembali dan mengunci pintu toilet dari luar tempat pak sipir itu buang hajat, dan misi selesai.
Pembalasan ini baru awalnya, hal tidak menyenangkan akan sering kamu alami pak sipir, aku janji hidupmu tidak akan tenang sejak sekarang, perbuatan yang di lakukannya sudah sangat keterlaluan, aku belum bisa menerima perlakuanya, tunggulah aksiku berikutnya.