BLack Roses

BLack Roses
53.complicated



Sekarang hari kedua kami di sini, sukarelawan mulai berdatangan setelah devin mulai mengirimkan e-mail, foto, dan video kondisi di sini, kepada lembaga kemanusiaan seluruh dunia.


Tim medis masih menyelidiki jenis penyakit apakah yang menyerang warga di sini, di awali demam tinggi dan di ikuti pasien muntah - muntah kemudian mereka mulai tidak sadarkan diri karena tekanan darah yang tiba- tiba drop.


Aku ngintilin devin terus kemana pun dia melangkah pergi, selayaknya bayangannya.


Hari ini beberapa regu sukarelawan mulai menyisir lokasi desa ini, desa ini sangat luas rumah penduduk tidak merata, sehingga kegiatan ini cukup menguras tenaga.


Di tambah kami tidak memiliki alat pelindung diri yang cukup baik, sehingga kami mempertaruhkan keselamatan diri kami sendiri di sini.


Tapi kami berjalan atas nama kemanusiaan, sehingga tak ada hal lain yang kami pikirkan kecuali berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin orang.


Disetiap titik selalu ada saja orang yang berkumpul, mereka menangis meraung - raung karena telah kehilangan salah satu anggota keluarganya, sungguh pemandangan yang menyedihkan.


Setelah berhari - hari kami melakukan penyelidikan, tim mulai bisa memahami kondisi di tempat ini.


Mulai dari kelaparan yang nyaris melanda semua warga, sanitasi dan kebersihan juga cukup buruk di sini, warga kesulitan air, mereka harus mengambil air puluhan kilometer jauhnya menggunakan gerobak yang di tarik seekor keledai, dan air yang mereka ambil pun bukanlah air bersih tetapi air keruh yang kurang layak konsumsi.


Sungguh komplit permasalahan di sini, dadaku pun terasa sesak ! aku baru menyadari penderitaan hidupku tidak sebanding dengan penderitaan semua orang di sini, mereka harus hidup seperti ini sejak mulai mereka datang kedunia ini sampai mereka pergi lagi, hikkkkkss hikkkkkk !! sungguh miris.


Devin memegang bahuku, aku yakin sekarang dia pun merasakan hal yang sama denganku.


Melihat kondisi di sini membuat kami sulit untuk bisa merasakan kenikmatan makan dan tidur.


Bayangan anak kecil yang kelaparan terus menari - nari di pelupuk mataku, seandainya aku punya harta pasti sekarang akan ku sumbangkan kesini, untuk sekedar memberikan mereka makanan yang enak dan air minum yang segar, sayangnya aku hanya punya tenaga untuk kusumbangkan di sini, itu sangat membuatku sedih, menatap mata mereka yamg tak mampu menangis lagi dan bibir mereka yang kering hatiku serasa di iris - iris.


Siang ini aku berjalan sendiri memisahkan diri dari rombongan yang akan mulai menyebarkan bantuan makanan dan air mineral juga bantuan pakaian dan perlengkapan hidup lainnya.


Entahlah aku sering merasa mual semenjak menginjakkan kaki di sini dan aku tubuhku selalu berkeringat dingin.


Aku ingin sendirian sekedar melepaskan bayangan - bayangan yang cukup menyiksa bathinku akhir - akhir ini.


Aku duduk di tangga sebuah rumah yang terlihat kosong, semilir angin yang menerbangkan debu - debu lembut memainkan rambutku yang kubiarkan terurai lepas.


Seorang wanita tua menghampiriku dia duduk di sampingku yang termenung sendirian.


" You must strong! after dark you will be die!!"


dia menatapku tajam dan bibirnya yang tebal komat kamit seakan aku sedang berhadapan dengan orang yang sedang melakukan klenik.


Aku terhentak! aku berdiri dan berlari menjauhinya, langkahku ku percepat tanpa menoleh ke belakang lagi,


kata - kata wanita itu terus terngiang di telingaku dan membuatku ketakutan.


Sampai di depan tendaku aku langsung masuk dan duduk sendirian, tubuhku masih bergetar dan masih kutebak apa maksud wanita tadi.


Dalam lamunan tak bertepi, aku di kagetkan kehadiran seseorang yang tergopoh - gopoh menggunakan bahasa inggris yang belepotan, dia menarik tanganku dan mengajakku pergi ke luar, masih di landa kebingungan aku menuruti saja keinginan pria ini tanpa bertanya apapun.


Sampai di tenda medis aku di ajak mendekati seseorang yang sedang mengigil kesakitan, dia adalah devin.


"Ya Allah! apa yang terjadi padamu vin?!" tanyaku bingung. Devin mencengkeram kuat tanganku, " licy aku sepertinya sekarat!!" aku sangat kaget mendengar perkataan devin.


Aku terpaku menatap devin yang mukanya pucat dan berwarna kebiruan, beberapa dokter terlihat sibuk memberikan injeksi berulang - ulang.


Seperti mimpi buruk semua kejadian ini di depan mataku dan membuatku bungkam, aku seperti tak mampu berkata dan bertanya bahkan aku tidak mampu menggerakkan bola mataku.


" licy, aku sangat mencintaimu! maukah kamu menikah denganku di detik terakhirku??" suara devin terdengar parau.


Aku masih mondar - mandir memikirkan permintaan devin, sedangkan sekarang para dokter sedang berjuang merebut nyawanya.


Sampai akhirnya tim dokter berhasil membuat kondisinya kembali stabil, dan itu cukup melegakanku.


Kulihat devin memejamkan matanya, entah apakah dia sedang tertidur atau dia sedang beristirahat setelah beberapa saat yang lalu dia berjuang dari tebing kematian.


" Devin?? apakah kamu bisa mendengarku??" devin membuka matanya, dia menatapku dan tersenyum.


" Aku akan menikahimu, tetapi aku tidak ingin berbohong padamu kalau sebenarnya aku masih mencintai suami ku alvin, dan aku ingin dia lelaki terakhir yang menyentuku! tolong katakan padaku bagaimana caranya aku bisa mengingkari janji pada suamiku itu???"


devin meraih tanganku dan aku mulai sesenggukan, aku di landa kebingungan karena devin juga sangat berarti bagiku.


" Aku mencintaimu tanpa syarat alicyaa! bukan hanya hubungan badan yang kuharapkan, tetapi hubungan jiwa dan aku ingin kamu menemaniku di sisa umurku."


Kutatap matanya untuk mencari sebuah pembenaran atas keputusan yang akan kuambil, ini sungguh berat bagiku, dan aku mengangguk lemah.


Hampir satu minggu devin di rawat di sini, dia tertular penyakit yang sedang mewabah di sini, aku berharap dia bisa sembuh tapi kesembuhannya juga menjadi beban untukku, ah aku dihadapkan pada kenyataan yang sulit untuk ku jalani.


Pikiranku menerawang jauh, kembali kepada kenangan tentang alvin! bagaimana mungkin aku mengganti sosoknya dengan yang lain?! hatiku telah membeku.


Pagi yang cerah untuk di jalani, seperti rutinitas sebelumnya aku datang menemui devin untuk membantu merawatnya, saat aku datang devin telah duduk dan memainkan ponselnya! dia sudah membaik, bahkan boleh di katakan dia sembuh.


" Pagi devin," dia menatapku dan meletakkan ponsel yang sedari tadi di mainkannya, " aku lihat wajahmu segar hari ini vin! kurasa kamu sudah sembuh," devin meraih tanganku untuk duduk di sampingnya.


" Alicyaa, setelah aku sembuh aku memutuskan untuk kembali ke indonesia, semenjak kejadian sakitku kurasa aku butuh istirahat total sebelum bisa beraktivitas seperti biasa, sekarang aku takut mati tidak seperti sebelumnya, karena aku ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu."


Aku tersenyum kecut, tak kusangka akhirnya aku terjebak dalam dilema ini.


Setelah menyuapi devin, aku pamit pergi.


Sebelum berlalu devin menarik tanganku, dia menyerahkan sebuah map putih berisi laporan kesehatannya.


Aku kembali duduk hanya sekedar menunjukkan empatiku padanya, kubuka dan mulai kubaca.


Mataku terbelalak saat membaca sebuah laporan yang berisi operasi telah berhasil! aku melihat kepada devin dan menunjukkan isi laporan yang kurang ku pahami.


" Aku telah melakukan kebiri licy, sekarang aku tidak akan bisa menyentuhmu dan janji pada suamimu bisa kau tepati meskipun kamu akan menikah denganku!"


seperti tersambar petir aku mendengar perkataan devin, tidak kusangka sampai sejauh ini pemikirannya.


Aku mulai menangis di hadapan devin, " entah apa istimewa nya diriku vin, sampai kamu berbuat senekat ini??"


Serta merta devin memelukku, kami menangis berdua.


Kami di satukan dalam situasi yang sulit, terkadang kami merasa nasib kami sangat berbeda dengan kebanyakan orang yang bisa menjalani hidup dengan normal.


Dan sekarang devin memutus garis keturunannya dengan membuang satu - satunya aset yang paling berharga untuknya, demi membantuku memenuhi sebuah janji.


Sekarang aku bisa memenuhi keinginan devin untuk menikahiku, tanpa melanggar janjiku pada alvin.


Sekarang aku tidak perlu hidup sendirian karena akan ada devin yang akan menemani hari - hariku selanjutnya.


Entahlah akankah ada cinta diantara kami atau tetap persahabatan yang akan terus mengikat kami?? hanya waktu yang bisa menjawabnya.