BLack Roses

BLack Roses
25.Bertahan dalam keterbatasan



Aku tersenyum melihat pemandangan baru, ternyata uang bisa mewujudkan ilmu sulap menjadi kenyataan.


Rumah ayah sudah berdiri dan siap untuk di huni, pak kepala desa mengatakan kalau uang yang kusumbangkan itu lebih dari cukup untuk membangun infrastruktur di areal pemukiman ini, dan dia sangat berterima kasih atas apa yang telah kulakukan itu.


Tapi aku tidak ingin seorang warga pun tahu kalau dana pembangunan itu berasal dari kantongku, aku berharap pak kepala desa bisa menepati janjinya untuk tidak mempublikasikan tentang hal tersebut.


Bagiku cukup melihat rumah ayah berdiri kokoh meskipun sederhana, hatiku sudah terpuaskan.


Sekarang aku bisa tenang tinggal di rumah ayah, dan ayah juga bisa tersenyum kembali, that' s enough.


Sejak kejadian banjir itu, warga desa sekarang mulai mengaktifkan banyak kegiatan ke organisasian yang selama ini sering mereka abaikan.


Sekarang mereka memprioritaskan keselamatan dan kenyamanan bersama, dan mereka mulai menyisihkan waktu di saat senggang setelah pulang bekerja untuk sekedar mengobrol dengan para tetangga, membahas permasalahan di seputar kehidupan mereka.


Banyak para tetangga yang mempertanyakan kehadiranku di rumah ayah, dan ayah menceritakan kisahku kepada mereka, ada yang simpati tapi banyak juga yang tidak suka dengan kehadiranku.


Bagi warga desa kehadiran seorang janda itu di anggap sesuatu yang cukup tabu, karena janda masih di anggap sebagai seorang yang bisa merusak rumah tangga orang lain.


Apalagi aku memiliki reputasi yang buruk karena dulu pernah kabur dari sini , setelah membakar rumah ayah. Sekarang aku datang ke sini dalam kondisi hamil tanpa di temani seorang suami, mungkin buat orang kota itu hal biasa, tetapi bagi orang desa yang masyarakatnya masih terikat kuat dengan tradisi ini hal yang sangat memalukan dan tabu.


Aku harus banyak bersabar dan lebih memilih diam, aku tidak ingin terlalu memikirkan pendapat orang tentang diriku, sekarang aku hanya perlu fokus pada kehamilanku saja, aku bersyukur ayah tidak memperdulikan omongan orang di sekitar sini, itu cukup untuk menguatkan aku.


Sampai saat melahirkan nanti aku ingin mengisi waktu ku dengan hal baik dan menyenangkan, supaya itu berpengaruh baik pada perkembangan bayiku. Aku bersyukur aku memiliki ayah yang siap pasang badan melindungiku, seandainya ada yang mengancam keselamatanku.


Aku mulai menata kembali hidupku yang sempat kacau akhir- akhir ini, sembari membeli kebutuhan ayah dan rumah ini aku menyempatkan diri membeli kebutuhanku.


Aku akan belajar hidup sesuai dengan kemampuan ayah, aku tidak ingin membebaninya dengan gaya hidupku sebelumnya.


Aku ingin mengubur alicyaa yang dulu, aku ingin menjadi sosok baru.


Seorang ibu yang sempurna untuk anakku, dan menjadi seorang anak yang manis untuk ayahku.


Aku yang terlalu perfeksionis dalam berpenampilan sering membuat ayah merasa tidak nyaman, itu pun harus sedikit- sedikit ku tinggalkan, aku harus banyak belajar.


Tidak ada lagi baju seksi, sekarang daster adalah identitas baru untukku, tidak ada make up berlebihan, aku juga ingin menyembunyikan wajah cantik yang dulu selalu ingin ku tunjukkkan, karena mendapat pujian ku pikir adalah sebuah kesuksesan, tapi sekarang semua harus berubah.


Menjalani hari - hariku bersama ayah memberikan pengalaman yang baru buat hidupku, di sini aku harus bangun pagi, dan melakukan rutinitas seperti kebanyakan warga di sini.


Rutinitas yang seumur hidup ingin ku hindari, tapi sekarang harusku lakukan demi sebuah perubahan, harus!.


Aku mengambil air di sumur, mengantri bersama warga yang lain, tiba- tiba ada seorang wanita mendorongku hingga aku nyaris terjungkal, " eh wanita murahan, jangan mengambil air di sini, hamil tidak ada bapaknya mencemarkan nama desa ini saja!".


Aku sangat kaget ,


melihatku terjatuh seorang ibu- ibu menolongku,


aku berdiri dan menatap wanita itu, ingin aku marah tapi aku teringat ayah, aku pun mengurungkan niatku.


Tak ada yang berkomentar melihat kelakuan wanita itu, entah siapa dia.


Aku mengambil ember dan berlalu pergi, aku tidak ingin merusak pagi ku dengan pertengkaran yang tidak penting.


Anak ini istimewa ada karena buah cintaku dengan kekasih yang sangat ku cintai, mereka tidak tahu itu!.


Aku berjalan cepat menuju rumah, tak mampu ku bendung airmata ku, ingin menahannya tapi aku tidak mampu.


Ku buka pintu dan ku banting, seketika ayah menghampiriku yang duduk sambil menangis.


" Kenapa nak, apa yang membuatmu bersedih dan menangis katakan kepada ayah?"


aku hanya menggelengkan kepala.


Tidak mungkin kuceritakan kepada ayah apa yang terjadi di sumur tadi, itu bisa membuat ayah kuatir.


"Tidak yah, aku hanya merasa lelah dan tak sanggup mengantri untuk mengambil air , maafkan aku ayah."


Tanpa banyak bicara ayah meraih ember di tanganku, "mulai hari ini ayah yang akan mengambil air, kamu di rumah saja."


Ayah beranjak pergi, meninggalkan aku yang masih tak mampu mengakhiri kegetiranku, padahal aku sudah berjanji untuk kuat demi anakku.


Seperti dugaanku inilah yang akhirnya di lakukan ayah, melarangku menemui hal yang mungkin bisa membuatku menangis, itulah ayahku sejak dulu tak pernah berubah.


Sejak kejadian di sumur, aku memilih untuk lebih banyak diam di rumah. Ayah yang bekerja keras memenuhi kebutuhanku sehari- hari, termasuk mengambil air untuk kebutuhan mandiku, seandainya ayah mau menerima bantuanku untuk membuatkannya kamar mandi dan fasilitas yang lain di rumah ini, tentunya kerepotan semacam ini tidak perlu ada.


Tapi ini rumah ayahku , aku tidak mungkin memaksakan hal yang bisa membuat ayah merasa tidak nyaman.


Di sini ingin makan semangkok bakso pun rasanya mustahil kalau tidak keluar rumah puluhan meter jaraknya, tapi di sini lah aku sekarang, aku harus banyak bersabar, aku tidak punya lagi tempat berlindung selain rumah ayah, hanya dia satu- satunya yang mau menerima kehadiranku.


Sekarang sudah masuk bulan terakhir detik - detik saat kelahiran anakku, aku harus mempersiapkan mental dan fisikku , aku berharap semua akan baik - baik saja.


Kulihat ayah tertidur di kursi rotan rasanya trenyuh hatiku, wajahnya sudah menua, kulitnya keriput.


Ayahku sudah kehilangan kegagahannya dulu, tangannya yang kuat yang biasa menggendongku kini sudah kelihatan rapuh, oh ayah aku menyesal pergi darimu selama


bertahun- tahun, aku menghukum ayah atas sebuah kesalahan yang kebenarannya baru ku ketahui setelah aku datang kembali ke sini.


Ayah seharusnya aku ada di sisinya saat dia merasa sedih dan kesepian.


Maafkan aku ayah, sekarang ingin kutebus waktu yang hilang itu, aku akan di sini menemani ayah selamanya, bersama cucumu kelak, akan kubuat hidupmu yang suram menjadi berwarna, aku janji ayah.


Aku sangat lapar malam ini, dengan perut kosong seperti ini tidak mungkin aku bisa memejamkan mata.


Aku melangkah ke dapur tapi tak kutemukan apapun, hanya ada air putih saja.


"Maafkan mama nak, kamu harus menahan lapar malam ini," ku elus perut buncit ku, di situlah letak satu - satu nya harapan hidupku, napas terakhirku, semangat hidupku, hanya dia satu - satunya.


Apakah kamu merasa lapar juga nak?


maafkan mama, maafkan kelemahan ini, kamu harus kuat ,


kamu harus bisa menahannya seperti juga mama hikkkksss.


Aku berusaha menikmati hidup satu atap dengan ayah, tak pernah lagi ada keluhan, kami begitu merasa bahagia meskipun hidup sederhana.


Aku pun tak banyak menuntut ku jalani bersama ayah hidup apa adanya, pagi hari ayah bekerja mencari pasir di belakang rumah, siang sampai malam dia menemaniku di rumah.


Kami nyaris tak pernah pergi keluar, hanya sesekali untuk membeli kebutuhan saja.


Sampai aku tak menyadari waktu berlalu begitu saja, sekarang memasuki bulan terakhir, bagiku saat - saat ini adalah waktu yang mendebarkan.


Persiapanku tak banyak aku hanya bisa mengandalkan ayahku, hanya dia yang akan membantuku berjuang melawan maut demi melahirkan anakku ke dunia.


Di desa ini tidak ada dokter kandungan , di sini hanya ada seorang bidan, hanya seorang saja. Aku berdoa semoga dia bisa menolongku bila nanti saatnya tiba.


Semua ini pasti tidak mudah, ketakutan terkadang menghantuiku, aku takut tangan yang tidak profesional bisa saja melakukan kesalahan yang akan mengancam keselamatanku dan bayiku, tapi ayah selalu mengatakan bahwa pengalaman bisa mengalahkan titel setinggi apapun.


Bidan di desa ini sudah berpuluh - puluh tahun menolong hampir semua wanita di desa ini yang akan melahirkan, kemampuannya sudah tidak perlu di ragukan lagi.


Baiklah , aku lebih percaya ayahku daripada hal apapun, kita bertaruh nyawa dalam permainan tangan bidan itu, semoga keyakinan ayahku tidak salah.


Ayah mengajakku ke rumah bidan desa, namanya bidan Astuti untuk pertama kalinya kami datang ke sini, rumahnya sepi, tidak seperti tempat praktek tenaga medis pada umumnya, hatiku mulai merasa ragu.


Apa benar di sini aku bisa mempertaruhkan nyawaku?


Seorang wanita paruh baya membuka pintu, dia mempersilahkan kami masuk.


Rumahnya cukup luas, di dalam sangat sepi dalam hati aku mulai bertanya- tanya apakah dia benar orang yang di maksud ayah, sebelum datang ke sini aku pikir aku akan mengantri, ternyata tidak seperti yang kubayangkan.


" Kamu pasti bertanya- tanya kenapa di sini sepi? kami penganut agama hindu, hari ini sebenarnya saya tidak menerima tamu, karena hari ini kami sedang nyepi."


Hemmmm, terjawab sudah pertanyaanku sedari tadi, syukurlah, kekhawatiranku lenyap seketika.


"Aku membuka pintu saat tahu yang datang adalah pak suherman,"


Bidan astuti tersenyum kepada kami, " aku tidak mungkin menolak anda pak suherman, ini siapa?"


Ayah mulai mengenalkan aku kepada bidan astuti.


" Maaf bu saya tidak tahu kalau sekarang anda merayakan nyepi, seandainya saya tahu mungkin kami tidak datang hari ini."


Bidan astuti hanya tersenyum mendengar penjelasan ayah, dia kemudian memeriksa kondisiku.


Tidak ada peralatan modern di sini, hanya ada alat sederhana untuk mendeteksi detak jantung janin dan peralatan periksa standart,


" semua baik - baik saja, perkiraan saya anda akan melahirkan minggu - minggu ini."


Lega rasanya mendengar penjelasan bidan astuti, aku hanya perlu mempersiapkan diri menjelang kelahiran anakku, semoga semua berjalan lancar sesuai harapanku.


Ya Allah semoga engkau menolongku, semua tergantung kepada keputusanmu, berilah segala kemudahan untukku, maafkanlah segala kelalaianku , aku berjanji semua akan berubah berilah aku satu kesempatan, aku mohon!.