
Sekarang benar- benar tak bisa bergerak kemana- mana, Bedrest total!
akan kujalani demi dia, satu- satunya yang tersisa dari alvin, hal yang membuatku bertahan disini, di muka bumi yang sesak ini.
Alvin,
sayang di manakah peristirahatan terakhirmu, seandainya aku bisa datang, aku ingin sekedar memegang batu nisanmu yang di situ tertulis namamu, untuk memastikan bahwa kamu benar telah meninggalkan dunia ini dan juga aku, hikkkssss hikkkkss!.
Kengerian masih menghantuiku, sekejap pun aku tak bisa memejamkan mata, kejadian di rumah nenek itu, meninggalkan trauma untukku, aku seperti bukan diriku lagi.
Mungkin sekarang pamanku telah terbunuh, dan aku yang melakukannya!
aku yang takut darah, dan tak tega menyakiti seekor hewan pun sekarang tanganku ini telah berlumuran darah, tanganku mampu menghabisi seseorang.
Ya tuhan, takdir apakah ini?
tak pernah terbayangkan olehku kalau aku bisa menghabisi seseorang, bagaimana keluarga pamanku akan bisa menerima hal ini?
apakah aku harus menyerahkan diri kepada polisi?
kuusap wajahku, ini bukanlah mimpi tapi kenyataan yang harus aku hadapi, tapi aku berjuang melindungi calon anakku, kalau aku tak menghabisinya mungkin sekarang aku yang binasa.
Yang kulakukan sudah benar, manusia seperti dia tak pantas hidup di dunia ini, sekarang aku yang jadi korbannya, mungkin esok anak gadis lain yang harus mengalami hal serupa denganku, mungkin yang kulakukan sudah benar,
lalu untuk apa aku menyerahkan diri ke polisi!
huhhh dia pantas mati.
Kusandarkan kepalaku, aku hanya di temani tembok yang bisu, seandainya aku bisa menghubungi sesorang!
ingin menghubungi orang tuaku, tapi tidak mungkin.
Ayahku pasti sekarang membenciku sejak ku bakar rumahnya,
ibuku selalu merasa terusik hidupnya kalau aku datang mengunjunginya, seakan dia takut aku akan merusak kebahagiaan keluarga barunya.
Ingin menelepon yulia, tapi aku sudah sering merepotkannya, aku merasa tidak enak karena tak mengundangnya ke pernikahanku.
Ah, lebih baik aku sendiri saja!
aku punya uang yang bisa membuatku bisa melakukan apapun, termasuk menyewa suster khusus untuk merawatku selama di sini.
Aku harus bisa menenangkan diri di sini, aku tidak ingin kecemasanku akan mempengaruhi perkembangan janinku.
Berdua kita akan lewati kehidupan ini ya nak, kamu harus kuat demi mama !
hidup ini ibarat perang hanya yang punya nyali yang bisa bertahan!
Kini harus aku lewati sepi hidupku tanpa kehadiranmu, alvin.
kini kuberdiri melawan waktu untuk melupakanmu meskipun itu tak akan mampu kulakukan.
Airmata pun tak mampu kubendung lagi, tembok jadi saksi bisu lagi, aku akan menangis hingga aku tak bisa menangis lagi.
Aku pun harus melawan ilusi di dalam otakku, yang merasa seakan ada aroma nafasmu di setiap aku bernafas juga.
Sekarang aku hidup di dunia nyata dan kamu kembali ke dunia tak kasat mata, itulah yang harus kupahami dan mengerti.
Kupejamkan mataku mencoba menatap lagi kenangan indah tentang kita, semakin aku mencoba menghilangkan bayanganmu, tapi semakin terasa nyata bayanganmu itu, membelaiku dan selalu menghapus airmataku.
Engkaulah satu- satunya cinta dalam hidupku, aku baru menyadari arti hadirmu saat kamu tiada lagi di sisiku, alvin
sayangku. Aku akan selalu merindukanmu, seperti tiap pagi kurindukan hangatnya mentari pagi,
Hikkkkss hikkkk.
Selamanya!
Setiap detik ku benamkan diriku dalam kenangan, tapi aku harus tetap waras.
Hampir dua bulan aku tergolek di atas tempat tidur, dengan kateter yang menancap, yang membuatku tidak bisa pergi ke kamar mandi, aku kangen mandi dan aku kangen duduk atau sekedar berjalan- jalan dengan kakiku.
Dan suster yang sama yang seakan jadi bayanganku,hampir dua bulan ini dia nyaris tak pernah meninggalkanku,
namanya nadia, dia belum menikah.
Tapi tangannya sangat cekatan, dia tidak pernah membiarkan aku mengeluh.
" Suster nadia, hari ini dokter akan melepas kateterku, kondisiku sudah membaik, terima kasih atas pelayananmu selama ini ya, semuanya membutuhkan sebuah pengorbanan."
Suster nadia menatapku dan tersenyum, senyuman khas yang kudapatkan setiap hari darinya.
" Aku juga ikut senang, hari ini mbak alicyaa mulai bisa berjalan- jalan di taman lho, tapi tetap harus pakai kursi roda dulu ya." Aku pun membalas ucapannya dengan tersenyum.
Hari ini suster nadia akan berpamitan, tugasnya menjagaku sudah selesai.
Kuulurkan sebuah amplop coklat bekas, yang dalamnya telah kuisi sejumlah uang kepadanya, dia menatapku dan terlihat bingung.
" Saya sangat berterima kasih, untuk perawatannya yang memuaskan dari suster nadia, ini hanya sekedar ucapan terima kasih dari saya, seandainya saya bisa pergi ke mall saya pasti akan membelikan sesuatu yang lucu misalnya boneka buat suster nadia."
Kami sejenak tertawa bersama, dua bulan bersama- sama rasanya aku mendapatkan seorang saudara.
Awalnya suster nadia menolak pemberianku, karena aku sedikit memohon dan memasang mata kucing memelas, akhirnya dia pun menerima pemberianku.
Dia mencium keningku dan berterima kasih, sebelum pergi dia menyempatkan diri menyisir rambutku, dia ingin hari ini aku terlihat cantik.
Aku hanya bisa mengucapkan teima kasih atas apa yang sudah di lakukannya. Uang dalam amplop itu semoga cukup untuk memberinya liburan yang menyenangkan setelah berkutat denganku hampir dua bulan di sini, menemani dan merawatku.
Aku bersyukur rumah sakit ini memberiku orang yang tepat, sehingga kondisiku membaik dengan cepat.
Udara di taman sangat segar, berbeda dengan di dalam kamar.
Setelah dokter melepas kateterku, aku bisa keluar dari kamar dan bisa pergi ke taman ini meskipun masih harus duduk di kursi roda, tapi begini saja sudah membuatku bahagia, kupejamkan mata dan mencoba meresapi suasana baru ini.
Aku harus mensyukuri hidup ini, tuhan membiarkanku hidup pasti untuk sebuah tujuan, aku tak boleh lagi mensia- siakannya, aku harus mengubur dalam- dalam niatku untuk bunuh diri, aku harus hidup demi dia yang sedang menunggu untuk di lahirkan.
Ku elus- elus perutku, "kamu adalah semangatku!
aku tidak tahu cara merawat seorang anak tapi aku akan belajar, demi untukmu nak! kita akan memulai hidup baru."
Kuhela napas panjang, aku masih belum tahu akan ke mana setelah keluar dari rumah sakit ini.
Aku ingin tinggal di tempat yang tenang sambil menunggu saat di mana aku akan melahirkan, tapi aku masih bingung menentukan tujuanku.
Aku lelah berlari, aku harus pergi ke suatu tempat di mana siapapun tidak bisa menemukanku, setelah kejadian di rumah nenek, aku tak mungkin kembali ke sana.
Aku tidak tahu apa yang sekarang terjadi di sana, apakah orang- orang disana ada yang mencariku? ataukah polisi sudah menemukan bukti perbuatanku?
apakah pamanku mati terbakar di dalam rumah itu?
atau ada yang menyelamatkannya?.
Tak ada yang bisa menjawab pertanyaanku, selama di sini aku tidak pernah mengaktifkan ponselku, aku juga tidak pernah menghidupkan televisi, aku terputus dengan dunia luar, bagaimana caraku untuk tahu kondisi di rumah nenek?.
Ah, aku tak perlu memikirkannya, sekarang yang terpenting keselamatanku dan juga janin dalam perutku.
Aku harus mencari tempat yang akan ku tuju setelah aku keluar dari rumah sakit ini, hanya saja aku belum tahu akan pergi kemana?!.
Ya Allah aku bukanlah umat yang taat, ampunilah dosaku, aku mohon tunjukkanlah jalan untukku harus melangkah ke mana?
Sungguh otakku sebagai manusia tak mampu menjangkaunya.
Sekarang aku hanya bisa menggantungkan nasibku padamu, tolong kabulkanlah doaku,
Amin.