
Ibarat robot bernyawa devin seperti tidak mengenal rasa sakit dan lelah, baru hari ini keluar dari rumah sakit dia sudah berencana untuk pergi ke somalia untuk misi kemanusiaan.
Sedangkan aku harus mengambil keputusan cepat, antara tetap di sini atau pergi bersamanya! tapi aku tidak mungkin membiarkan devin pergi sendiri, setelah sekian purnama aku baru bertemu dengannya sekarang tidak mungkin aku melepasnya begitu saja, lagipula dia membawa satu mataku! aku tidak ingin dia mensia - siakan pengorbananku itu.
Akhirnya aku memutuskan ikut dengannya, meskipun dengan perasaan was - was, karena aku tidak tahu seperti apa kondisi di sana yang kabarnya sedang ada wabah penyakit yang memakan korban cukup banyak.
Di sini saja kondisinya seperti ini, para sukarelawan harus berbagi makanan dan pintar berhemat air! di tambah udara panas dan debu yang tersebar bersama udara yang mau tidak mau harus kami hirup setiap hari, sungguh butuh tekad yang kuat agar tetap bertahan dalam misi ini.
Tak sedikit sukarelawan yang jatuh sakit karena kondisi di sini, sedangkan warga lokal di sini kondisinya lebih memprihatinkan.
Entahlah apa yang di inginkan para pemimpi kekuasaan sehingga rela menebusnya dengan penderitaan rakyat sampai seperti ini, aku berpikir kalau di semua penjuru negara ini konflik berkepanjangan tak kunjung usai, pasti tidak butuh waktu lama negara ini akan kehabisan penghuni.
Devin mulai mempersiapkan keberangkatannya, dia ingin pergi sendiri untuk meninjau lokasi terlebih dahulu, baru akan memutuskan apakah memang di butuhkan untuk mengirim sukarelawan dari indonesia pergi kesana.
Semua orang mengantar kepergiannya, sedangkan aku masih di landa kebingungan! aku tidak packing apapun karena aku kesini hanya membawa badan saja, aku tidak membawa barang apapun kecuali baju yang menempel di badanku ini, dan sebuah seragam dari pihak LSM.
" Licy, ayo !! kenapa kamu hanya melamun saja?!" suara parau devin membuyarkan lamunanku, aku pun bergegas menghampirinya, " pak bagas tolong konfirmasi ke pusat perihal keberangkatanku ini! dan masalah alicy kabarkan pada mereka aku butuh seseorang yang merawatku pasca operasi, dan kebetulan aku memilih alyciaa.
Tolong buatkan segera kelengkapan surat identitas kami, karena aku sendiri tidak tahu kami harus di sana untuk berapa lama,"
pak bagas hanya mengiyakan semua perintah devin.
Helikopter sudah menunggu kami di puncak bukit, kami pergi kesana diantarkan penduduk lokal menggunakan mobil jeep bak terbuka.
Aku masih di hinggapi ketakutan, ini bukan sebuah liburan tapi ada yang akan menunggu kami di sana! lingkaran kematian.
Bulu kudukku pun berdiri membayangkannya, sungguh aku sangat ngeri dengan negara itu yang mayoritas penduduknya berkulit hitam, seperti film- film di televisi yang hampir semua tokoh antagonis mereka yang berkulit hitam dan berdandan layaknya mafia berdarah dingin.
Mukaku sangat tegang, lagipula ini pertama kalinya aku naik helikopter, sungguh pengalaman yang tidak dapat kami bayangkan sebelumnya.
Aku lebih memilih tidur daripada pikiranku semakin kalut, sedangkan devin sejak awal penerbangan tadi hingga sekarang mukanya begitu tegang, dia terus bergelut dengan kertas- kertas yang kulihat kemarin, sampai dia lupa menoleh kepadaku.
Aku sangat kaget saat aku sudah terbangun di dalam gendongan devin, tak kusangka aku seterlelap itu sampai tidak menyadari saat devin mengangkat tubuhku.
Mengetahui kalau aku sudah terjaga devin pun menurunkan tubuhku, dan dia menepuk keningku laksana dukun yang mengusir roh jahat dari tubuh sesorang, hal itu membuatku sedikit emosi, " devin!! awas kamu!!" dan devin hanya bisa berlari menghindariku yang mulai merajuk.
Ada dua orang yang bersama kami, kalau kata devin sih mereka berkebangsaan turki, tapi aku tidak tertarik berkomunikasi dengan mereka berdua karena kendala bahasa.
Kami berjalan cepat menuju titik yang disana sudah ada orang yang kami, orang itu yang akan menjemput dan mengantar kami ketempat tujuan.
Kami menuju Baodia kemudian dari sana kami akan menuju desa tawfiq tempat berpusatnya wabah penyakit yang membuat kami harus datang kesini, jarak tempunya kurang lebih 2 km.
Kami naik mobil jemputan dan meluncur cepat, dan seperti yang sudah kubayangkan kami di sambut udara panas yang menyengat, udaranya kering berdebu dari awal aku sudah bisa membayangkan beginilah potret alam di afrika timur, aku pernah melihatnya di televisi, tapi kenyataannya sungguh lebih parah.
Devin mulai mengeluarkan termos es berisi handuk dingin, dia mengambil dua biji dan menyerahkan satu untukku, kata dokter kami harus sering mengkompres mata kami apalagi di udara yang sangat ekstrem ini.
Mataku memang terasa terbakar, aku menutupi seluruh mukaku dengan handuk dingin, dan aku membiarkan pemandangan di sepanjang jalan terlewati begitu saja karena aku lebih memilih memejamkan mata dibawah handuk dingin yang cukup menyejukkan dan memperbaiki kondisi mataku.
Mobil berhenti dan debu tebal menyambut kami akibat ban mobil yang berhenti mendadak, aku membuka handuk di mukaku dan aku cukup terkejut melihat pemandangan di depanku, " ya Allah" desahku.
Kedatangan kami di sambut puluhan orang yang bertindak layaknya zombie yang melihat daging segar, aku mulai gemetar.
Devin turun dan menelepon seseorang, kami menurunkan barang bawaan kami yang berupa kotak - kotak yang berisi peralatan medis dan obat - obatan, ternyata orang yang berkerumun ini hendak menolong bukan menyakiti, barulah aku bisa mengendalikan kepanikanku.
Seseorang yang di tunggu devin datang, terlihat dia berpakaian rapi di bandingkan yang lainnya, dia menyalami kami dan menggiring kami menuju ke suatu tempat.
Devin menyerahkan sebuah kamera dan menyuruhku untuk membuat dokumentasi mengenai kondisi di sini.
Aku berjalan keluar meninggalkan semua orang, aku menyusuri desa ini, sungguh pemandangan yang memprihatinkan di sini sangat kering, rumah mereka berhimpitan sepetak - petak.
Melihat kondisi seperti ini aku yakin perekonomian negara ini pasti sangat kacau.
Aku di kejutkan dengan suara tangisan seorang anak, tangisannya setengah merintih.
Kutelusuri asal suara itu dari sebuah rumah, aku mendongakkan kepalaku kedalam rumah yang hanya berpintu sehelai kain, di situ tergeletak anak lelaki yang memandangku sayu, melihatnya aku seketika jatuh terduduk, aku menangis histeris ada kepiluan berkecamuk di dadaku.
Aku berlari menuju kerumah di mana devin berada, melihatku sangat kacau devin setengah berlari mendekatiku, aku menariknya keluar rumah menuju rumah anak yang menangis tadi.
Devin mengikutiku dan orang yang bersamanya tadi pun ikut menyusul dari belakang.
Aku menujuk kepada anak yang tergeletak di atas tempat tidur itu, dan semua orang terlihat tak mampu menahan kesedihannya.
"Tenanglah licy," devin menarikku keluar dan mulai mengajakku menyusuri desa itu menuju ke sebuah tempat.
Aku di hadapkan pada pemandangan yang luar biasa, di ruangan ini tergeletak orang - orang yang kondisinya hampir mirip dengan anak lelaki yang kulihat tadi, bukan satu atau dua orang tapi ruangan ini penuh dengan puluhan orang yang kondisinya nyaris sama.
Aku menangis shock, bahkan aku tak mampu berdiri diatas kedua kakiku yang tiba - tiba lemas.
Sekarang aku mengerti kenapa devin terburu - buru untuk datang kesini, sampai dia tidak memperdulikan kesehatannta sendiri.
Devin membantuku berdiri, dan aku gemetar di pelukannya! " kita harus menolong mereka vin, jiwaku akan ternoda kalau aku pura - pura menutup mata akan kondisi mereka,"
devin menganggukkan kepalanya.
" Untuk itulah kita ada di sini, sekarang bantu aku bergerak cepat! besok sukarelawan dari beberapa negara akan datang kesini, sementara menunggu mereka kita bisa membantu tenaga medis di sini dengan kemampuan yang kita miliki.
Aku seakan lupa untuk sekedar beristirahat, di sini kondisinya benar - benar darurat emergency! sejak kedatangan kami kesibukan di sini pun bertambah, suara rintihan dan tangisan seakan menjadi pengiring di sepanjang hari yang kami habiskan di tempat ini, dan seakan membuat tangan dan kaki kami semakin cepat bekerja.
Ya Allah berilah kami kekuatan lebih, karena sekarang kami membutuhkannya.