
Kami menantang maut dengan bermalam di puncak gunung bersalju, tapi alvin ingin merasakan pengalaman yang berbeda, apalagi saat kami bisa menyaksikan matahari terbit dari puncak gunung, kami terkesima dan merasa begitu takjub dengan ciptaan yang maha kuasa, sungguh luar biasa.
Aku merasakan hidup di dunia yang berbeda, jauh dari lumpur duka yang membelit kehidupanku sejak aku di lahirkan dan hanya alvin yang bisa melakukannya, seandainya tuhan mengambil nyawaku saat ini aku akan mati dengan hati terpuaskan karena aku telah melihat surga dari matanya, kekasihku alvin.
Kami berteriak dari puncak gunung, kami mengeluarkan semua beban hati dengan harapan duka itu akan diterbangkan angin gunung yang bertiup kencang lenyap tak berbekas, aku pun ingin mengubur kerapuhan, kepedihan dan ketidakberdayaanku terhadap takdir.
Tak terasa airmataku menetes dipipiku yang beku, semakin kueratkan genggaman tanganku, alvin menoleh dan merengkuhku seakan dia memahami gejolak jiwaku saat ini. "Aku benarkan licy, dengan mengajakmu kesini?"
aku hanya bisa mengangguk sambil menahan airmataku,
" terima kasih atas segalanya alvin, aku akan membalas semua ini dengan cintaku yang tak bersisa, hanya untukmu."
Alvin memelukku erat, "baiklah saatnya turun gunung aku tidak ingin kita membeku di sini, aku masih ingin merasakan nikmatnya kopi di pagi hari."
Perjalanan naik turun gunung cukup menguras energi, untuk beberapa hari kami hanya ingin beristirahat di resort, alvin mengajakku untuk menikmati spa khas india yang tidak bisa di temukan dimanapun,
hemmmz baiklah, mari kita coba! sorakku penasaran.
Apa alvin yakin di sini aman, melihat postur tubuh orang india aku takut, remuk tulangku di pijat oleh jari mereka.
Alvin menepuk bahuku yang sedari tadi diam, "kenapa licy? kamu tidak tertarik?"
sejenak aku diam, "emmmmmhhh akan kupikirkan dulu ya, aku tak terlalu suka di pijat tapi aku akan menemanimu saat dipijat di sini."
Di spa alvin terlihat menikmati pijatan dari tangan pemijat itu sampai dia tertidur, untung yang memijat laki- laki, kalau perempuan pasti siaga1, aku tertawa sendiri membayangkan kecemburuanku, menjambak rambutnya menampar dan melempar wanita pemijat keluar pintu! sadis!! hahaaaah.
Inilah saat yang paling ku tunggu, kasur empuk yang akan menemaniku tidur malam ini, semoga kami kembali bugar esok hari, aku sudah tidak sabar keliling dunia lagi.
Malam ini alvin sedang bekerja dengan laptopnya, dan aku tidak ingin mengganggunya, cukup kusediakan secangkir kopi di depannya dia sudah memberiku senyuman sumringah sebagai teman tidurku, selamat malam dunia.
"Sayang, hari ini kita harus terbang lagi! kita cuma punya waktu 2 bulan untuk perjalanan bulan madu ini, negara mana yang ingin kamu datangi selanjutnya?"
aku berfikir sejenak, sebenarnya hanya satu tempat yang
menjadi impianku.
PRAHA!! aku dan alvin berteriak bersamaan,
kami tertawa terbahak- bahak.
ternyata pikiran kita sama!
lets go!
"praha ya, baiklah itu ada di republik ceko, aku akan mencari tiketnya.
Praha tunggu kami, petualangan akan dilanjutkan!!
sebenarnya letaknya sangat jauh di Eropa timur, pasti tidak mudah mencari penerbangan tanpa transit tapi alvin tetap mengusahakannya, aku menjadi merasa tersanjung dengan pengorbanannya.
Sebenarnya banyak kota lain yang lebih menarik daripada praha di eropa timur seperti paris, tapi eksotika praha seperti magnet yang menarik kami.
Itu adalah impian terbesarku, selain itu disana banyak bangunan gereja- gereja tua abad pertengahan aku ingin alvin juga bahagia melihatnya, jadi bukan hanya kesenanganku saja yang akan kami dapatkan.
Tak sabar rasanya menginjakkan kaki di tempat yang menyimpan sejuta eksotik yang tak terbantahkan itu meskipun untuk itu kami harus memiliki stok kesabaran yang penuh untuk menuju kesana.
Gedung- gedung bertingkat khas abad pertengahan menyambut kami dengan sejuta pesonanya.
sungguh kelelahan akibat jam penerbangan yang panjang terbayar sudah.
Tapi di sini kami harus merogoh kocek lumayan dalam untuk harga hotel, karena dibandingkan dengan negara- negara di asia, tarif penginapan di sini cukup mahal, apalagi yang bintang 5.
Tapi masalah biaya sepertinya alvin tak terlalu mempersoalkan demi memenuhi impianku untuk traveling keliling dunia.
Ah, alvin ternyata sangat mahal harga cintaku untukmu, padahal aku adalah barang bekas hanya sampah di mata dunia, tapi kamu memperlakukanku melebihi seorang yang istimewa.
Di hotel alvin meminta vvip room untuk paket khusus bulan madu, dia ingin aku merasakan kenyamanan istirahat setelah perjalanan panjang, aku tak banyak berkomentar karena aku percaya pada seleranya yang lumayan bagus.
Masuk ke kamar kami di sambut suasana yang serba pink, kasurnya lumayan besar dan tempatnya bersih dan nyaman.
Aku menghempaskan tubuhku yang lelah di kasur, alvin hanya tersenyum melihat tingkahku.
Kemudian dia pun melakukan hal yang sama denganku.
" Tidak ada apa- apa aku cuma suka menggodamu saat tak berdaya", haaaahaaa!.
Alvin membuka mata langsung meraihku dan membenamkanku dalam pelukannya,
" selamat menikmati bau keringatku!" aku bergerak cepat menghindar, "dasar konyol( pekikku)."
Cukup puas kami tidur, aku merasakan ada yang menggangguku! lapar!!.
Aku mengangkat gagang telepon untuk memesan makanan di hotel ini, kutengok katalog di atas meja aku sama sekali tak memahami semua makanan ini.
Hemmmz aku pesen yang kelihatan menarik saja daripada aku kelaparan kalau aku menunggu alvin bangun tidur.
Makanan datang, aku hanya memandanginya, ini apaan sih?? ada irisan daging tapi tak ada nasi cuma ada ubi ungu yang di kocok dengan cream susu! sumpah aku jadi ingin muntah.
Sepertinya aku salah pilih menu!! hadewhhh.
Kepingin emosi rasanya ! daripada kelaparan mendingan kumakan saja , sebelum alvin tahu dan menertawaiku, itu pasti akan melenyapkan moodku untuk makan .
Pagi yang cerah, kami beruntung mendapatkan penginapan pas di depan areal kastil pemandangannya sangat indah, sinar matahari menerobos di sela- sela gedung kastil yang berumur ribuan tahun.
Kulihat alvin masih tertidur pulas
aku akan keluar sebentar menikmati pemandangan luar biasa ini dari jarak dekat.
Luar biasa !
aku ingin menari saja saking girangnya, aku terlihat seperti
seekor semut kecil di depan kastil ini,
amazing !!
Kekagumanku tak berhenti di situ saja, aku terus berjalan sambil menikmati arsitektur bangunan, bayangkan saja ini di bangun oleh orang zaman dulu, yang mana dulu teknologi masih belum secanggih sekarang, tapi lihatlah hasilnya! mereka bisa membangun gedung sebagus ini.
Tak terasa kakiku mulai terasa pegal sedari tadi berjalan, matahari mulai meninggi.
Aku harus kembali ke hotel!!
akuberjalan terus kembali berputar seperti dari arahku datang, tapi aku tak menemukan jalan untukku pulang, akumulai panik, aku tidak membawa ponselku!.
Alicyaaa habislah kau !
Aku mulai bertanya pada orang di sekitarku jalan kembali ke depan gedung tapi mereka rata- rata tidak bisa bahasa inggris hanya bahasa Ceko dan parahnya lagi bahasa inggrisku pun masih belepotan, semakin tidak mengerti mereka dengan maksudku.
Aku menepuk jidatku sendiri, sekarang apa yang harus kulakukan? dan alvin??
aku duduk di kursi di dekat taman menelungkupkan kepalaku, kepingin nangis rasanya tapi malu banyak orang.
Di taman ini terdapat air mancur dan aku sudah melewatinya hampir 3 kali, berarti sedari tadi aku hanya muter- muter disini.
Alvin, jeritku dalam hati sekarang aku baru merasa kalau aku tak berdaya tanpamu, cepatlah datang aku mulai takut.
Hikkkkk hikkksssss tak mampu kutahan air mataku, ada seorang nenek tua mendekatiku yang tengah menangis, dia bertanya sesuatu kepadaku tapi aku tak mengerti ucapannya, setiap dia selesai bicara aku hanya mengangguk- angguk saja.
Dia mengusap airmataku dan memberiku sepotong roti, entah apa yang terlintas di benaknya, mungkin dia berpikir aku menangis karena lapar.
Kuulurkan tanganku menerima roti pemberiannya, aku lebih menghargai kebaikannya daripada sibuk memahami apa maksud dia sebenarnya.
Nenek itu berdiri dan berlalu, aku memakan roti pemberiannya, saat takut aku merasa lapar, aku makan sambil berlinang airmata, hikkkksss hikk hikkkks.
Tuhan aku serahkan nasibku padamu sekarang, aku terdampar di tempat asing sendirian sekarang.
Mungkin beginilah rasanya saat aku tak bersama alvin, mengerikan.
Matahari sudah tinggi tapi aku tak mau beranjak dari dudukku, aku takut akan semakin menjauh dari alvin,aku mulai gemetar.
Tiba- tiba seseorang memelukku dari belakang, aku sontak kaget dan berusaha melepaskan diri.
" sayang! aku mencarimu kemana- mana, untung ada wanita tua ini, yang menuntunku ke arah ini saat kuperlihatkan fotomu dari ponselku."
Seketika aku membalikkan badan dan kupeluk alvin seerat- eratnya, " alvin!"
tangisku pecah aku meraung- raung sejadi- jadinya seperti anak kecil memeluk ibunya, tak kupedulikan orang di sekitarku yang mulai memperhatikan kami!
sungguh aku tak peduli, yang terpenting aku sudah bertemu alvin.