BLack Roses

BLack Roses
27.Love you ayah



Saat membuka pintu rumah aku sedikit terkejut, rumah ayah sudah tertata rapi, ayah juga mengecat rumah.


Aku juga berteriak histeris saking senangnya saat aku melihat di kamar sudah ada sebuah box bayi, yang nyaris aku tak membayangkan akan ada di dalam rumah ayah yang sederhana, bahkan aku tak pernah menduga ayah kepikiran untuk membelinya untuk anakku.


Ayahku memang luar biasa, dia memahami isi otakku tanpa aku mengatakannya.


"love you yah!"


ayah tersenyum bahagia melihat wajahku yang sumringah, apalagi tergambar jelas aku begitu bersemangat.


" Lihat nak, ini rumah kita! kita akan merenda kasih di sini, bersama kakekmu juga, " ku elus lembut pipi anakku, dia menggeliat manja seakan diapun setuju dengan keinginanku, kita akan mengembalikan senyum di wajah kakek lagi.


Aku meletakkan anakku dalam box bayi, kupandangi wajah tampan yang tergambar jelas alvin di raut imut itu, dia hadir dalam pelukanku seakan menggantikan sosok ayahnya yang telah pergi dariku.


Alvin sekarang aku baru menyadari betapa sayangnya Allah padaku, dia tidak membiarkan aku sendirian.


"Anakku sayang, kita akan memulai hidup baru!"


Seandainya ayah setuju, pingin rasanya menggelar syukuran untuk anakku. Tapi aku tak mau menuntut banyak hal dari ayahku, dia bersedia menampungku saja aku sudah bersyukur, meskipun sebenarnya aku bisa mengadakan syukuran dengan uangku sendiri, tapi aku tak mau menyinggung ego ayahku.


Baiklah aku akan menjalani kehidupan apa adanya saja, sesuai dengan kemampuan ayah.


Melihat anakku mulai tertidur, aku beranjak pergi keluar kamar.Tubuhku masih lemah dan luka bekas melahirkan masih terasa nyeri, tapi aku ingin melakukan banyak hal.


Aku baru menyadari sedari tadi aku tidak melihat ayah, aku sibuk dengan anganku sendiri.


Kemana ayahku? kenapa dia pergi tanpa mengatakan apapun padaku??


Aku mulai berkeliling rumah mencarinya, tapi tak ku temukan.Mungkin lebih baik aku membersihkan diri dulu sembari menunggu ayah! mencarinya juga percuma, aku tidak tahu dia kemana. Seandainya dia hidup seperti orang modern yang keberadaannya bisa di lacak dari handphone nya, tentunya aku tak perlu merisaukan hal ini.


Tapi ayahku mencintai kekunoannya sekarang, dan dia nyaman dengan hal itu, baiklah! semuanya akan mulai berjalan lambat, tak perlu hidup di kejar waktu seperti orang yang hidup di perkotaan.


Slow alicyaa! aku harus menurunkan ritme hidupku, kembali hidup seperti zaman nenek moyangku yang tak tersentuh modernisasi, haaahhaa it's not easy! oh ayah.


Baby al fatih menangis meraung- raung, membuatku lupa memakai sabun hanya air yang kuguyurkan keseluruh badan.


Aku mengambil langkah seribu berlari menuju kamar, sampai lupa saran bu bidan untuk berjalan perlahan, karena jahitan yang masih basah bisa jebol, tapi naluri keibuanku membuatku melupakan kata- kata itu.


Belum hilang kepanikanku karena tangisan anakku, aku di kejutkan dengan suara gaduh dari luar rumah.


Kugendong al fatih dan aku bergegas keluar rumah untuk mengetahui sumber suara gaduh tadi, yang membuat anakku pun terjaga dari tidurnya.


Sebuah mobil pick up telah terparkir dan beberapa orang sibuk menurunkan 2 ekor kambing dari atas mobil, dan ayah pun terlihat sibuk di situ dengan beberapa orang yang satu pun tak ada yang kukenal.


Aku mendekati ayah dan mulai meluluskan rasa penasaranku " ada apa ini ayah?"


Ayah terkejut dengan kehadiranku dan mulai mendekatiku,


" aku ingin mengadakan syukuran aqiqoh untuk cucuku itu, kamu jangan ikutan sibuk, biar ayah saja yang mengurusinya, kamu bawa al fatih masuk rumah dan kamu juga harus beristirahat."


Belum sempat berkomentar ayah sudah mengajakku masuk rumah, seakan dia tidak mau aku ikut andil dalam situasi itu.


Selesai membawaku masuk ayah setengah berlari kembali keluar dan berinteraksi lagi dengan orang- orang itu,


dan aku melihat semuanya dari balik jendela.


Ah, ayah sekali lagi dia bisa membaca isi pikiranku tanpa aku mengatakannya , love you ayah.


Kesibukan terjadi sampai malam hari, seperti tak merasa lelah ayah mempersiapkan semua ini.


Wanita ini begitu pintar membantuku mengurus bayiku, aku belum bisa melakukannya karena ini pengalaman pertama bagiku.


Tak ada kekurangan apapun di sini semua hasil kerja keras ayahku, dia memang luar biasa.


Aku baru melihat sosok ayahku yang dulu, seorang pekerja keras dan memiliki semangat yang tinggi, aku seakan menemukan ayahku kembali, melihatnya bangkit dari keterpurukan karena kehadiran anakku al fatih, membuatku berlinang airmata, inilah kebahagiaan yang kurindukan.


Mentari pagi mengiringi hiruk pikuk di rumahku, sejak kemarin semua orang sibuk.


Acaranya akan di gelar pagi ini, sebelum semua warga beraktivitas bekerja, agar semuanya bisa hadir di sini.


Tak seperti acara syukuran pada umumnya yang dilakukan malam hari selepas magrib, di sini ayah ingin melakukannya di pagi hari berbarengan dengan munculnya matahari pagi.


Saat kutanyakan alasannya kepada ayah, dia hanya mengatakan bahwa kehadiranku dan anakku ibarat datangnya matahari yang mengganti malam yang gelap menjadi terang benderang dalam kehidupan ayah, okey baiklah! tidak ada masalah buatku, aku menghargai filosofi hidup ayah.


Acara pun berlangsung dengan lancar, nyaris tak ada yang tak hadir di sini, halaman rumah penuh sampai meluber ke pinggiran jalan.


Ayah terlihat bahagia sekali, tergurat jelas dari wajahnya, dia tak pernah berhenti tersenyum, demikian juga dengan antusias tetangga, terlihat jelas semua orang sangat menghargai ayahku.


Kamu beruntung anakku selain mama, kakekmu sangat menyayangimu, alvin, ayahmu pasti lebih sayang lagi padamu, aku yakin sekarang ayahmu pun tersenyum melihat kita dari surga.


Acara syukuran berakhir dengan menyisakan kelegaan di hati kami. Ayah duduk di kursi sambil memejamkan mata, aku memeluknya dari belakang.


"Ayah tolong katakan satu hal padaku? tapi jangan tersinggung ya! darimana ayah mendapatkan dana untuk acara syukuran tadi? kenapa ayah tidak memintanya dariku? kalau memang ayah punya keinginan untuk mengadakan acara tersebut?!"


tak menjawab pertanyaanku ayah diam sambil tersenyum, dan dia tetap memejamkan matanya.


Aku dibuat semakin penasaran, setahuku ayah hanya bekerja mencari pasir dan uang yang di dapatnya pastinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari- hari, sedangkan acara tadi aku yakin menghabiskan dana yang tidak sedikit.


Tapi ayah tetap tak memberiku jawaban yang bisa memuaskan rasa penasaranku, tapi aku terlanjur penasaran dan sekarang aku ingin tetap mengorek-korek informasi dari ayah.


Aku terus meniupi wajah ayah, sampai dia merasa risih. Dia membuka mata dan mulai tertawa geli, " ayah ayolah jawab pertanyaanku!"


ayah menghela napas panjang dan berbalik menatapku, itu "uang tabungan ayah, sebelum kamu ke sini ayah menghabiskan waktu ayah untuk bekerja, tapi hanya sebagian kecil dari uang itu yang ayah gunakan untuk mencukupi kebutuhan ayah, sekarang kamu puas dengan jawaban ayah?"


Aku tersenyum, dan mulai bergelayut manja di leher ayah, kelakuanku itu membuat ayah hanya tertawa saja.


" kamu tahu licy, melihatmu begini mengingatkan ayah masa kecilmu dulu, hahaaaaa! tapi sekarang kamu seorang ibu, berhenti bersikap manja seperti ini, apa kamu tidak malu sama anakmu? haaahaa"


aku menggeleng, biarkan nanti anakku meniruku bermanja- manja dengan kakeknya, karena masa kecil hanya terjadi satu kali tidak akan terulang lagi.


Malam ini ku tidurkan al fatih tanpa halangan apapun, tidak ada kerewelan yang berarti, dia sungguh anak yang manis.


Aku memejamkan mata membayangkan wajah alvin, mengenang kembali masa- masa indah yang kami lalui bersama dulu.


Aku menyimpan banyak foto kenangan bulan madu kami di handphoneku, tapi sejak aku menginjakkan kaki di rumah ayah aku tak pernah mengaktifkannya lagi.


Aku tak ingin ada seorang pun yang bisa melacak keberadaanku, tidak mudah bagiku bangkit dari keterpurukan, butuh sebuah usaha yang luar biasa.


Ketakutan pun masih belum bisa kuredam, aku takut keluarga alvin akan bisa menemukanku, dan aku takut kalau apa yang kulakukan terhadap pamanku akan terendus orang apalagi sampai ke telinga polisi.


Sekarang keinginanku untuk hidup sangat besar, aku ingin merawat anakku sampai dia dewasa nanti.


Untuk itu aku butuh identitas baru dan melupakan sosok alicya yang lama, di sini aku akan memulainya.


Kehidupan yang tenang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, dan segala problemantika kehidupan modern metropolitan.


Aku berharap dan semoga itulah yang akan kudapatkan di sini, di rumah ayah.