
Waktu berjalan terasa sama, aku hanya bisa melihat gelap dan terang dari balik jendela kecil di ujung tembok ini.
Tapi aku tidak merasa bosan karena di sini semua keluargaku berkumpul, ada alvin, ayah, dan al fatih yang bergiliran menjagaku.
Hanya saja ular itu yang tak mau pergi, terkadang dia berjalan dilantai dan terkadang aku merasa dia berjalan di dalam kepalaku.
Seorang wanita berjalan masuk di ikuti wanita kedua yang menggandengku, mereka mengajakku berjalan keluar menuju cahaya terang, yang kurasa cukup lama tak kulihat! cahayanya membuat mataku silau dan aku harus berjuang menutupi wajahku dari cahaya itu, bersilau terus bersilau! ingin rasanya aku marah.
Banyak orang bergerombol dan seperti berebut ingin memakanku, oh Tuhan!!.
Mereka bisa saja sekumpulan zombie yang haus darah! aku mulai bergidik dan tubuhku gemetar.
Mereka terus ingin menggapaiku dan mereka semua bicara sampai aku tak bisa mencerna apa yang mereka bicarakan.
Wanita yang menggandengku mulai setengah berlari menghindari zombie- zombie itu, membawaku masuk kesebuah mobil berkursi panjang.
Aku tersenyum memandang segerombolan orang itu yang tak mampu berbuat apa - apa, dan mobil membawaku menjauh dari mereka.
Ah, aku selamat!
angin menerpa wajahku, membawa ketenangan di hatiku, aku seperti pernah merasakan hal ini, tapi tak bisa mengingatnya kapan aku mengalaminya?!.
Tapi aku tidak peduli, aku tak perlu mengingat apapun aku hanya perlu menikmati sensasinya saja.
Kedua wanita ini sama- sama diam, mereka seperti enggan bicara! seakan ada tumpukan buku di atas kepala mereka.
Aku tersenyum geli, mungkin mereka adalah murid dari guru killer yang sudah siap menunggu mereka di depan pintu kelas, sambil membawa penggaris kayu panjang,
haaaaahaaaaa, sekarang aku tidak bisa menahan tawaku!.
Mobil berhenti di sebuah gedung besar berwarna putih, wanita tadi menggandeng tanganku, kami turun dari mobil dan mulai berjalan masuk kedalam gedung itu.
Di tangga aku bertemu dengan seorang nenek tua, dia menatapku tajam rambutnya keriting dan matanya buta sebelah, dia terus menujuk kepadaku dengan tangannya yang keriput.
Aku mulai ketakutan, tapi kulihat wanita yang menggandengku berjalan biasa saja! dia tidak ketakutan seperti diriku.
Melihat wanita yang bersamaku adalah seorang pemberani, tiba - tiba rasa takut pun sirna, aku berjalan membusungkan dada penuh kepercayaan diri, aku menoleh ke belakang dan aku tak melihat lagi wanita tua itu!
mungkin dia pergi saat menyadari aku telah kehilangan rasa takutku kepadanya, yes! aku menang.
Sampailah aku di sebuah ruangan, yang di dalamnya seperti tempat melakukan sebuah riset penelitian, atau sebuah laboratorium! ah, tidakkk! ini sebuah meja operasi!
aku sering melihat tempat seperti ini saat aku melihat acara drama di televisi.
Apakah aku sekolah di bidang kedokteran? dan sebuah riset penting harus aku lakukan hari ini? kenapa aku tidak mengingatnya??!.
Seorang wanita berkaca mata mendekatiku, dia mempersilahkan ku untuk duduk! wanita ini tak asing bagiku! oh ya aku baru ingat dia yang tadi berjalan bersamaku tapi memisahkan diri di sebuah belokan di ruangan ini, sekarang aku mengerti dia mungkin pergi mengambil kacamata itu untuk di tunjukkannya padaku! dasar tukang pamer!!( umpatku).
Dia mulai menatapku tajam, wajahnya dingin tanpa ekspresi
" siapa namamu?"
seketika aku tertawa mendengar pertanyaannya, dia menanyakan hal terkonyol, aku tak mungkin melupakan namaku sendiri.
Aku ingin meneriakkan namaku padanya, agar dia mengingatnya seumur hidup dan tak perlu bertanya lagi saat bertemu denganku.
Tapi aku tak bisa mengingatnya, siapa namaku?! aku terus berusaha mengingatnya mungkin lily, sari, atau tina?
siapa namaku! aku terus berusaha dan aku merasakan kepalaku mulai sakit! aku memegangi kepalaku dan benar ular itu datang lagi, dua berjalan - jalan du dalam kepalaku.
Aku berdiri dan berlari menuju tembok, aku membentur - benturkan kepalaku lagi, aku harus berjuang mengeluarkannya dari dalam otakku, dia bisa saja memakan habis otaku dan mungkin saja sekarang tak bersisa! aku mulai menangis ketakutan, aku tak bisa lagi mengingat namaku! otakku pasti telah habis.
Hikkkkksss hikkkkkk!!
aku tak bisa mengendalikan diri lagi, aku menangis meraung- raung!
Wanita tadi berdiri dan mengajakku duduk kembali, aku masih menangis dan aku mencengkeram tangan wanita ini, kulihat dia meringis kesakitan! seketika aku melepaskan cengkeraman tanganku, aku tak mau menyakitinya.
Wanita berkaca mata menatapku lagi dia menanyakan hal yang sama lagi, yaitu namaku!!
Sontak aku berdiri dan emosi, " kenapa kamu menanyakan hal yang sama terus!!! itu bisa membuat kepalaku sakit lagi!namaku bisa saja tina, atau yang lain kenapa kamu harus peduli???!!!"
Dua wanita ini saling memandang, dan wanita berkaca mata mulai menggelengkan kepala tanpa bicara.
Aku tidak mengerti kenapa mereka terus mendesakku dengan tatapan mereka, hal ini mulai membuatku tidak merasa nyaman.
Sepertinya aku harus pergi dan berlari dari mereka berdua, ya benar! aku hanya perlu menunggu sebuah kesempatan saja.
Tak ada pertanyaan lagi, dan aku merasa lega.
Mereka pun mengajakku keluar dari ruangan yang mulai membuat napasku terasa sesak!
Kami berjalan di lantai putih yang mengkilap! aku tiba - tiba teringat niatku untuk pergi dan berlari.
Ada yang ingin kulakukan, tapi apa?! ah itu bisa kupikirkan nanti, sekarang aku hanya perlu berlari saja!.
Aku menggigit tangan wanita yang sedari tadi mencengkeram tanganku, dia kesakitan dan melepaskan tanganku, kemudian aku berlari sekencang - kencangnya.
Aku terus berlari dan terus berlari, gedung ini sangat besar melewati lorongnya yang panjang membuatku terengah- engah, tapi aku tidak boleh berhenti.
Aku tiba- tiba teringat ada sebuah benda yang bisa membuatku merasa nyaman, ya pisau dapur!.
Aku terus berlari, dan mataku terus mencari sebuah tempat yaitu dapur, pisau harus segera ada di tanganku! aku tidak boleh terlambat, tiba- tiba aku melihat dapur.
Aku tergesa- gesa masuk ke dalam , dan mencari pisau! setelah cukup lama mencari akhirnya aku menemukannya.
Aku menyembunyikannya di balik bajuku, tak ada yang boleh melihatnya.
Aku berlari terengah - engah, tiba - tiba ada sebuah tangan menangkapku! aku menghujamkan pisau kepadanya berulang kali, dia jatuh tersungkur di lantai bersimbah darah.
Semua orang mulai berteriak- teriak ketakutan, aku pun melanjutkan pelarianku, aku tak menoleh kebelakang lagi.
Sampai ada yang menangkapku, kulihat banyak tangan yang mencengkeramku, pisau ditanganku pun terjatuh.
Aku berteriak histeris, kehilangan pisauku akan membuatku tak aman lagi, aku meronta - ronta sekuat tenaga tapi banyak tangan yang mencengkeramku.
Sebuah suntikan yang di tancapkan di tanganku, membuatku merasa lemas, aku melihat bayangan semua orang berputar- putar, dan aku merasa atap ruangan ini akan runtuh menimpaku.
Ku buka mata, aku berada di antara ruangan berwarna putih!
tak ada warna lain di sini, bahkan sekarang baju yang ku gunakan pun berwarna putih semua.
Mataku terasa panas, aku duduk dan menangis! dimana kah alvin?!!! aku sangat membutuhkannya sekarang, aku sangat takut di sini.
Berada di sini aku seperti seekor cicak yang berada di atas tembok yang luas, aku berdiri lagi dan mulai berlari mengelilingi ruangan ini, aku berharap akan menemukan sebuah pintu, dari pintu itu aku akan melanjutkan pelarianku,
aku harus berlari dari ruangan ini! alvin!!!!!? tolong aku!!!! hikkksssss hikkkkkkk!!
Tapi tak ada seorangpun yang datang, aku pun terjatuh telungkup di lantai yang dingin, aku sendirian sekarang!.
Airmataku membasahi lantai ini ibarat banjir yang bisa menenggelamkan aku!.
Aku bangun dan tiba - tiba, aku teringat ayah! apakah dia sudah membersihkan rumah sisa banjir dari air mataku ini??
ah, aku lebih baik berhenti menangis! aku tidak ingin ayah tenggelam dalam banjir.
Aku duduk dan melipat kaki, dadaku terasa sesak dan aku ingin menangis lagi, aku menahannya! tapi tak bisa.
Airmata meleleh begitu saja dari pelupuk mataku yang mulai bengkak, sekarang aku ingin tidur.
Nina bobo oh nina bobo
kalau tidak bobo di gigit nyamuk
tidurlah, anakku yang kusayang
esok mentari akan cepat menjelang!!
Aku mengayun - ayun anakku di pelukanku, dia tertidur dengan lelap, lagu penghantar tidur yang kunyanyikan cukup ampuh membuatnya terbuai dalam buaian mimpi, dan aku pun ikut terhanyut dalam mimpi yang begitu indah bersamanya.