
Malam pertama yang panjang telah berlalu mentari pagi menyeruak di kegelapan langit silaunya memberikan harapan baru bagi seluruh alam, aku termenung di depan jendela.
Akankah hidupku akan seperti pagi yang akan datang ini ? apakah hidup baruku ini akan seindah mentari pagi yang penuh harapan?kuhela napas panjang, aku tidak yakin !
Kulihat di kasur telah kosong, entah kemana devin pergi sepagi ini? mengingat kejadian semalam aku seperti takut menghadapi hari ini!
Ya Tuhan !
apa yang telah engkau takdirkan untukku ?
apakah ini karma akibat dosaku ? tapi kenapa engkau hanya menghukumku ?
tapi tidak orang tuaku ??
semua terjadi karena kesalahan mereka !
aku takut menjalani kehidupanku selanjutnya!
alicya suherman nama yang cantik tapi nasibku tak secantik namaku.
Hikkkkkkkkk, hikkkkkkssss
Pikiranku menerawang jauh mengingat masa kecilku yang suram, kedua orang tuaku bercerai di usiaku yang teramat muda 5 tahun, mereka meninggalkanku berdua dengan nenekku, hanya berdua.
Sedangkan mereka berdua membangun kehidupan mereka masing- masing.
Mereka berdua tidak pernah bertanya padaku ingin ikut siapakah aku?
mereka berdua menganggap aku adalah beban, sehingga mereka masing- masing tidak ada yang mau membawaku pergi bersama salah satu dari mereka, itulah ayah dan ibuku dua manusia yang teramat egois.
Saat aku mulai mengerti, benih- benih kebencian telah tumbuh subur di hatiku, aku benci mereka !
aku hidup dalam perlindungan nenekku yang hanya bekerja jualan hasil bumi di pasar, setiap hari aku melewati kehidupan ini dengan wanita renta ini.
" Nek hari ini jangan jualan dulu ya, nenek badannya panas!"
nenek tidak menghiraukan kata- kataku.
"Tidak nak, kalau nenek tidak jualan mau makan apa kita hari ini? " jawabnya singkat.
Aku memegang tangan nenek, berharap dia mau mendengarkan kata- kataku.
"Perasaanku tidak enak takut nenek kenapa- kenapa, sungguh nek jangan pergi !."
Aku tak mampu menahan keinginan nenekku pergi , andaikan nenekku mengijinkan, aku akan dengan senang hati dan tangan terbuka membantunya bekerja, tapi dia tidak pernah mengijinkannya tugasku hanya di rumah membereskan pekerjaan di rumah.
Kata nenekku itu sudah sangat membantunya,
"tenanglah nak sakit ini akan hilang dengan sendirinya kalau di buat bekerja"
(aku hanya menganggukan kepala).
Nenek pun berlalu meninggalkan aku,
aku sungguh tidak tega melihatnya apalagi sekarang mulai gerimis, kuhela nafas panjang dan kembali kedalam rumah.
Dalam rumah aku mulai berberes, sayup- sayupku kudengar suara pintu di ketuk, aku pun bergegas menghampiri pintu, "siapa?" ada suara seorang lelaki menyahut dari balik pintu,
"ini paman, aku bawakan sarapan untukmu buka pintunya!."
Aku senang sekali mendengar hal ini, dalam benakku terlintas makanan hangat yang siap mengisi perutku.
Dan benar saja paman meletakkan sebungkus nasi goreng di meja, tanpa pikir panjang aku pun melahapnya dengan suka cita.
Meskipun makanan akan habis paman masih belum beranjak pergi
dia terus menatapku, "ada apa?( tanyaku)"
"Eh lic, paman minta tolong bolehkah?"
tentu saja! ( jawabku bersemangat)
"tolong pijit paman sebentar nanti tak kasih uang jajan."
Tanpa pikir panjang aku pun mengiyakan,
"tunggulah sebentar aku menyelesaikan sarapanku ya(jawabku singkat)."
Paman mulai membuka baju dan dia merebahkan badannya di kasur, aku mulai memijitnya awalnya hanya bagian leher dan punggung, lama kelamaan dia meminta semakin kebawah, saat aku memijit bagian pantatnya dia langsung membalikkan badan serta merta dia menarik badanku jatuh di dadanya, aku berusaha meronta tapi tangan pamanku begitu kuat mencengkeram.
Aku meronta dan berusaha berteriak tapi dia menyumpal mulutku dengan tangannya dan dia memukul wajahku dengan kerasnya.
Sakit!
dan dengan brutal dia menganiaya dan memperkosaku tanpa memperdulikan airmataku yang deras menghujani pipiku! hanya sakit di selangkanganku, hanya ada sakit.
Aku bergetar sendiri pagi itu di tengah gerimis, aku hanya terdiam di sini sendirian, tangisku pecah dalam keheningan.
Tiada seorang pun yang tahu dan datang menolongku, tangan kekar itu telah menganiaya aku.
Aku baru beranjak besar sekarang usiaku masih 10 tahun dan tangan kekar itu telah menoreh luka yang sedemikian dalam, luka yang mungkin seumur hidupku tidak akan pernah sembuh.
Sore hari nenek pulang kerumah, aku berhambur menyambutnya dengan air mata " ada apa nak?" ( tanyanya bingung).
Tanpa menunggu lama aku menceritakan semua yang aku alami tadi pagi padanya, nenek terlihat sangat kaget dan sebelum mengatakan apapun padaku dia jatuh tersungkur dengan memegang dadanya.
Aku sangat panik aku berteriak sekuat- kuatnya, tapi tak seorang pun datang.
Saat ini hujan lebat sekali mungkin suara teriakanku kalah dengan gemuruh suara air hujan.
Aku berlari seperti orang gila mengetok pintu tetanggaku satu persatu
tanpa pikir panjang mereka berhamburan ke rumahku , di sana kulihat nenek masih tergeletak belum sadar kan diri. Tetanggaku memeriksa kondisi nenek, tapi dia sudah tidak merespon.
"Nak, nenekmu sudah tidak ada!"
sambil berdiri menepuk pundakku, mereka mencoba menguatkanku.
Aku masih belum bisa menyadari apapun aku hanya tertegun di hadapan nenekku,
tidakkkkkkkk! aku menangis sejadi- jadinya.
Tetanggaku berusaha menenangkanku tapi mereka tak mampu. Aku guncang - guncangkan tubuh nenek!
benar, dia sudah tidak bergerak! hikkkkss,hiksss nenekkkk!!! .
Di tengah gerimis aku melihat nenek di baringkan ke tempat peristirahatan terakhirnya, bibirku terasa terkunci aku tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, tak sepatah pun.
Satu persatu semua yang hadir pergi, tapi aku masih
belum bisa beranjak dari tempat ini,
"tolong bawa aku bersamamu nek" ( bisikku lirih),
dari belakang seseorang tiba- tiba memelukku,
ayahku!
yahhhhh, aku memeluk ayah sekuat- kuatnya.
Pamanmu yang mengabariku bergegas aku datang kesini.
"Maafkan ayah nak, nenekmu semasa hidup tidak pernah mengijinkan ayah datang menengokmu, ayah sekarang sudah datang kamu tidak sendirian, di mana ibumu? apa dia sudah tahu kalau ibunya meninggal dunia?( aku menggeleng lemah ),
"keterlaluan ibumu itu( umpat ayahku)."
Memang aku tak berfikir tentang apapun
yang kuingat hanya nenek saja.
Aku tidak peduli tentang apapun , apakah akan ada yang datang atau tidak,
aku tak peduli !
Siang ini ayah sudah mau mengajakku pergi, aku tidak punya pilihan lain selain menurutinya.
Duka demi duka datang beriringan seakan enggan berlalu, tapi kematian nenekku mengajariku satu hal bahwa aku harus diam.
Untuk sementara aku akan tinggal dengan ayah, meskipun aku tidak tahu apakah aku bisa melewatinya.
Aku sangat membenci ayah dan ibuku, kalau mereka ada untuk menjagaku, semua duka ini tidak akan aku alami,
semua karena mereka berdua!
aku, aku tidak akan di aniaya pamanku! aku benci! benci dan hanya benci .
Dan nenek tidak akan pergi, hikkkkks hikkkk.
Alicyaaaaaaaaaaa!
teriakan itu membuyarkan lamunanku, aku mengusap wajahku.
Itu ibu!
" ada apa? apa yang kau lakukan di sini? sejak subuh tadi suamimu sudah membantu ibu membereskan pekerjaan sisa pesta kemarin, kamu malah asyik melamun disini!
cepat mandi segera bantu kami (pekik ibuku)."
Baiklah!
pagi ini apakah aku bisa menghadapi suamiku itu,
dan sekarang dia sudah berdiri di depanku, dia melemparkan senyuman manis kepadaku! dengan manja dia menarik tanganku, semua yang di ruangan itu melihat kami berdua, para tetangga yang membantu kami dan saudara- saudara yang masih belum kembali pulang, tertawa riuh melihat kemesraan kami.
Dalam hati aku berbisik, apakah ini devin yang sama yang semalam begitu menyakitiku?
aku masih tidak mengerti tentang perubahan mendadak sikapnya.
" Ada apa alicyaa sayang? kenapa kamu terlihat bingung?"
devin mulai menyelidiki sikapku.
" Devin aku mau minta maaf soal semalam harusnya aku bercerita sebelum menikah, sungguh maafkan aku."
Sambil tersenyum devin memelukku mesra," lupakan tentang semalam!" (bisiknya lirih di telingaku).
Sekarang aku lapar, dan tugas pertamamu tolong berikan aku sarapan ternikmat yang bisa kau siapkan, aku menunggu my love hunny bunny istriku tercinta.
Sambil mencubit pipiku, suamiku itu berlalu.
"Aku mandi dulu sayang!"
semua yang mendengar kata- kata manja suamiku ikut berdecak kagum.
"Kamu beruntung nak, devin pemuda yang baik, ibu mengenal baik keluarganya dan satu lagi keberuntunganmu dia anak tunggal dan itu artinya hanya dia satu- satunya pewaris di keluarganya, mereka bukan orang sembarangan, keluarga mereka terkenal dengan berhektar- hektar tanah perkebunannya.
Ibuku tak pernah berubah, tolak ukurnya tetaplah harta benda, berbeda dengan pemikiranku.
Kuteruskan pekerjaanku di dapur demi moment sarapan pertama suamiku di rumahku, aku tidak mau mensia- siakan kesempatan ini, aku berharap semoga devin mau memaafkan aku saat dia puas dengan masakanku.
Aku bisa sedikit tersenyum pagi ini, harapanku besar bisa memulai kehidupan baru bersama suamiku
semoga saja, amin.