BLack Roses

BLack Roses
1.1 Keputusan awal



 


Mentari pagi cahayanya redup seperti enggan hadir aku masih di sini dalam kegalauanku.


Esok adalah 25 desember aku harus menikah, dia temanku yang baru ku kenal 8 bulan aku tahu dia mencintaiku itu saja yang kubutuhkan.


 


Hari ini aku harus bertemu alvin ini adalah kesempatan terakhirku.


Sebelum menikah aku merasa sesak aku sendiri dengan keputusan sebesar ini, dan yang ku pahami mereka


orang tuaku tidak akan perduli dengan apa yang aku alami, mereka hanya sibuk dengan tradisi dan moralitas yang masih aku pertanyakan hingga kini.


Baiklah aku harus siap.


Gontai aku beranjak dari tempat tidurku, kamarku sempit hanya berukuran 3x3 meter dan kamar kost ini yang jadi saksi bisu kebimbanganku.


Tapi aku harus membuang kebimbanganku itu, harus


hari ini aku bergegas, ini adalah kesempatan terakhirku bertemu dia.


Entahlah


pertemuan terakhir ini membuat perasaanku campur aduk aku ingin pergi tapi hatiku tidak mengijinkan.


Dari belakang ada dua tangan yang mendekapku, dari aroma parfumnya aku tahu itu alvin.


"Sayang, ada apa? kenapa di telepon kemarin nada suaramu terdengar cemas?"


aku membalikkan badan sambil menatap wajahnya,


"sayang maafkan aku"( tenggorokanku tercekat)


aku menunduk sepertinya aku tidak sanggup meneruskan kata - kataku.


 


Alvin mulai terlihat bingung,


Kembali kutatap wajahnya, "kita harus pisah!"


di hempaskan tubuhku seketika itu, aku lihat wajah Alvin berubah merah.


" Kenapa? apa maksudmu sayang bukankah tidak ada masalah diantara kita?"


aku melihat alvin mulai tidak bisa mengendalikan diri.


"Ada, kamu suami orang aku baru mengetahuinya!"


aku berlari meninggalkan alvin yang terpaku di tempatnya berdiri.


Aku berlari dan terus berlari, perasaanku kacau, semuanya sudah berakhir!


selama 4 tahun semuanya berakhir!.


Airmataku tak mampu ku bendung lagi


rasa sakit , kecewa , terluka bercampur jadi satu.


Betapa aku masih tidak mengerti kekasihku yang padanya ku serahkan jiwa dan raga tega mengkhianatiku, dengan menyimpan kebohongan sebesar itu! bagaimana mungkin dia berpikir aku bisa bahagia di atas penderitaan wanita lain.


Citttttt,,,,,,,,brakkkkkk!!!.


Aku membuka mataku!


aku seperti mengalami mimpi yang aneh, kuberlari dan sekarang terbangun di sini, aku sungguh tidak mengerti.


Aku ada di mana? kubuka mataku lebar - lebar dan,


aowhhh kenapa badanku terasa sakit semua?


tiba- tiba datang seseorang, aku merasa sangat kaget karena aku merasa tak mengenalnya tapi dari baju yang dia pakai aku tahu dia siapa, suster rumah sakit.


"Mbaknya sudah sadar?"


suster itu menatapku tajam untuk memastikan kondisiku.


" Maafkan aku suster, tolong katakan kenapa aku ada di sini?" aku mulai merasa bingung.


Sambil tersenyum dia menatapku, " mbak mengalami kecelakaan, tapi mbak patut bersyukur, kondisi mbak baik- baik saja hanya luka ringan."


Aku menghela nafas panjang rasa sakit di badanku tidak seberapa di bandingkan hancurnya perasaanku .


Aku tersenyum kecut, suster itu berlalu.


Aku masih bimbang apakah aku harus memberi tahu keluargaku kalau aku ada di sini? tapi aku yakin mereka tidak perduli, tapi aku akan segera menikah bagaimana kalau mereka mencariku? pikiranku berkecamuk!


Baiklah aku hanya perlu menunggu, dan menunggu kesembuhanku, dan aku yakin setelah itu semua akan baik - baik saja.


Kulihat di dinding jam sudah menunjukkan jam 9 malam, aku sendirian di sini.


aku mencari - cari ponsel ku, tapi tidak ada di sini.


 


Sepertinya aku harus bersabar menunggu esok hari , aku masih belum mampu berdiri dengan benar, kemana dompet dan ponselku?


Masih di tempat tidur yang sama tapi aku tahu sekarang sudah pagi, aku lihat orang- orang di ruangan ini mulai beraktivitas.


Ada 4 kasur di sini tapi aku lihat hanya 3 yang terisi, aku berusaha bangun dari tempat tidurku, meskipun dengan sedikit usaha, akhirnya aku mampu melakukannya.


Seseorang menghampiriku "ehmmmm mbaknya sendirian? keluarganya tidak ada yang datang? aku berusaha untuk menjawab , tapi tiba- tiba seseorang memanggil wanita itu, dia berlalu dariku.


Anda tidak tahu betapa aku juga ingin ada yang merawatku di sini, aku sendiri meskipun aku punya keluarga.


Sesenggukan, aku gigit bibirku sekuat nya aku ingin menelan sendiri dukaku dalam -dalam.


Aku larut tenggelam dalam pikiranku sendiri terbang dalam angan ku sendiri, hanya sendiri.


Waktu berlalu begitu lambat, aku seakan tidak mampu lagi bertahan di sini lebih lama.


Aku harus pulang! "dokter, aku ingin pulang aku merasa sudah baik- baik saja."


Dokter itu menoleh sembari masih melihat catatan medisku, "bisa, nanti sore bisa pulang."


Aku melempar senyumanku untuk mengungkapkan terima kasihku, dia berlalu dan aku mulai membenahi diriku, ya aku akan pulang.


Sore ini aku bergegas menuju tempat administrasi, sedikit gontai aku datang kesitu, aku hanya akan mengisi tagihannya meskipun tak bersisa apa- apa padaku, ponsel dan tasku entah di mana?.


 


Kuhela napas panjaang inilah potret negeri ini,


orang tidak hanya menyelamatkanku, tapi juga barang- barangku.


"Mbak maaf saya ingin menyelesaikan tagihan atas nama Alycia, korban kecelakaan yang masuk 3 hari yang lalu?" kulihat suster itu mulai mencari- cari di komputernya, setelah menemukannya dia kembali menatapku


" tagihannya sudah di bayar mbak."


Aku sedikit kaget karena kupikir aku akan merengek- rengek disini minta kelonggaran tagihan.


"Maaf mbak siapa yang sudah membayarnya karena saya di sini sendiri? dan saya tidak bisa menghubungi siapapun karena handphone saya hilang."


Ada mbak seorang laki- laki tapi dia tidak meninggalkan identitasnya.


Seperti tersiram air es nyess dikepalaku, aku lega!


aku berfikir mungkin yang melakukannya adalah orang yang menabrakku.


Sembari menyerahkan lembaran tagihan ada beberapa lembar uang di atasnya.


"Uang sisa deposit nya mbak"(kata suster itu menjelaskan),


mungkin terlihat kalau mataku bertanya- tanya.


" Terima kasih" kulemparkan senyuman termanisku kepada suster itu.


Aku berlalu dengan sedikit kelegaan, ku pikir hari ini aku akan berjalan pulang.


Tuhan masih berbaik hati memberiku rezeki ini.


Sampai di tempat kost aku bergegas masuk ke kamar,


sepi sekali, mungkin teman yang lain masih belum pulang bekerja.


Kurebahkan badan aku merasa begitu lelah, pikiranku kembali menerawang teringat pada alvin, alvin, hanya dia yang terus berputar- putar dalam benakku.


Meskipun dua hari lagi aku menikah dengan devin tapi hanya wajah alvin yang terus menghantuiku, kau makhluk yang kucintai tapi sekaligus penjahat yang sangat aku benci, aku akan hidup dengan kebencian ini selamanya.


Tangisku pecah, aku tidak mampu lagi menahannya perih sekali rasanya sampai aku merasa tidak mampu lagi bertahan.


Hiiksss hik hiks, aku tak bisa membayangkan ada manusia sejahat dia tapi parahnya aku sangat mencintainya.


Malam berlalu begitu saja aku masih sendiri di temani keheningan, hanya airmata ini yang seakan tidak mau berhenti, aku akan mengeluarkan dukaku hanya sampai malam ini, mulai esok semua akan berganti, aku harus membuka lembaran baru, dan aku harus mempersiapkan hati yang baru, ini adalah keputusan yang terbaik.


Aku pikir tidak mungkin aku bisa melupakan Alvin tanpa menghadirkan sosok baru yang mungkin bisa membantuku melupakannya.Devin adalah temanku, bahkan sebelumnya aku tidak tahu kalau dia mencintaiku.


Devin adalah pria yang baik, aku masih ingat seminggu yang lalu dia bersorak kegirangan saat aku mengatakan, "menikahlah denganku!"


tentu saja dia senang sejak lama aku tahu kalau dia mencintaiku, dari handphonenya yang tak sengaja aku lihat, begitu banyak dia menyimpan fotoku.


Hanya saja terkadang aku merasa jahat padanya haruskah dia yang jadi pelampiasanku, haruskah aku jujur padanya tentang apa yang terjadi padaku?


ah , sepertinya aku tidak perlu melakukannya aku tidak ingin dia mengetahui masa laluku.


Semoga dia bisa menerimaku apa adanya, mungkin aku tidak akan bisa mencintainya, tapi setidaknya aku akan menemani dan berusaha bersamanya dengan kepatuhan yang tidak bisa itu di sebut cinta, entahlah apakah aku bisa melakukannya dan menjalaninya.


Atau selamanya aku akan terjebak dalam perasaan yang terbelah, aku tidak tahu apakah keputusanku ini benar atau salah, apakah esok akan ada hari dengan takdir yang lebih baik untukku?


entahlah.