
LSM ini memiliki beragam kegiatan, aku cukup terkesan.
Mereka pasti memiliki donatur yang cukup royal, bayangkan puluhan anak jalanan di tampung di sini diberi keahlian, diberi makan dan tempat tinggal gratis, satu kata yang bisa ku ucapkan "Wow" !!.
Dari beragam kegiatan di sini aku lebih tertarik pada kerajinan tembikar, aku pernah belajar hampir 4 bulan di penjara, itu cukup memberiku modal pengetahuan sehingga di sini aku cukup melanjutkan saja.
Di sini ada beberapa keahlian, semua yang ikut di sini di berikan kebebasan memilih sesuai dengan bakat dan minat mereka.
Aira memilih bergelut dengan tembikar bersamaku, dia memiliki kesukaan yang sama denganku, bersamanya aku merasa memiliki teman, dia juga suka cahaya remang - remang di dalam ruangan yang cukup hening, tak ada suara orang berbicara hanya terdengar decitan dari meja putar di depan kami, tak banyak orang yang menyukai tembikar hanya beberapa orang saja.
Di sini kami merasa menemukan ketenangan, kami bisa membuat keramik - keramik ini dengan penuh perasaan.
Aku sering menghabiskan waktu di sini di bandingkan mengikuti kegiatan yang lainnya, berbeda dengan aira, selain membuat keramik bersamaku dia juga suka olaraga yang di lakukan di tempat ini setiap sore, sedangkan aku memilih tetap di ruangan ini meskipun harus sendirian, aku menyukai keheningan dalam napasku sendiri.
Waktu berlalu begitu saja sampai aku tidak merasa kalau sudah hampir 3 bulan aku di sini, di tempat ini aku melupakan dunia di luar gerbang rumah ini, begitu banyak yang bisa di lakukan di sini sampai keinginan untuk keluar seakan sirna, di sini kami menanam sendiri sayuran untuk di makan, kami mengambil ikan di kolam sendiri, dan ada peternakan ayam dan kambing untuk di konsumsi sendiri, sungguh luar biasa hidup di sini, bahkan di halaman belakang rumah utama ada berbagai macam pohon buah - buahan yang bisa di petik buahnya kapan saja.
Pagi ini tidak seperti rutinitas biasanya kami di kumpulkan di aula tempat kami biasa berdiskusi, entah ada hal penting apakah?! aku pun mulai penasaran.
Bu vivi berbicara di depan di temani pak hendrik selaku pimpinan di sini, dia mengatakan bahwa dia membuka lowongan sukarelawan untuk di kirim ke palestina yang sedang mengalami peperangan.
Aku juga baru tahu kalau LSM ini rutin mengirimkan sukarelawan kenegara yang sedang berkonflik, secara bergilir saat ada yang di kirim ada yang pulang begitu seterusnya, di sini tidak mengirimkan banyak sukarelawan hanya di batasi 5 orang saja di ganti setiap 3 bulan sekali, karena nantinya akan di gabung dengan relawan dari seluruh indonesia.
Aku orang pertama yang berdiri mengajukan diri untuk berangkat, setelah aku ada aira dan di ikuti 3 orang pria jadi genaplah kami berlima yang akan berangkat, aku sangat antusias akhirnya aku mempunyai kesempatan untuk penebusan dosa, aku ingin sisa hidupku memiliki arti untuk sebuah kebaikan, karena aku tidak memikirkan hal yang lainnya, apalagi memikirkan tentang kepentingan pribadiku sendiri.
Kami berangkat di malam hari, karena kami harus berkumpul di jakarta sebelum berangkat kenegara tujuan.
Perjalanan lancar tanpa halangan, pihak LSM membekali kami dengan lengkap kami hanya perlu mempersiapkan badan dam mental saja, karena kami akan pergi dengan misi kemanusiaan bukannya pergi liburan,
jadi kami harus siap dengan kondisi terburuk yang mungkin akan kami hadapi di sana.
Aku menguatkan hati untuk pergi kesana, aku akan menerima resiko apapun asalkan pengorbananku atas nama kemanusiaan.
Hampir menyentuh angka ratusan sukarelawan yang berkumpul di jakarta, kami berangkat serentak menuju palestina.
Menginjakkan kaki di tanah palestina, aku disambut dengan cuaca ekstrem yang teramat panas, kami menurunkan barang - barang dengan bercucuran keringat, di tambah dengan debu yang berterbangan membuat dadaku terasa sesak.
Tapi sesama sukarelawan saling menguatkan, aku pun harus bisa melewati kondisi ini.
Ada seorang lelaki setengah berlari mendekati kami, disambut salah satu sukarelawan yang sudah terbiasa bolak balik indonesia - palestina, mereka terlihat sudah sangat akrab.
Mereka mengobrol menggunakan bahasa arab atau bahasa kurdi aku kurang begitu paham, tapi setelah warga palestina itu pergi, teman kami itu mengabarkan bahwa di titik yang ini baru saja ada serangan bom, dan dia meminta kami untuk berhati - hati terhadap reruntuhan bangunan yang mungkin saja mengancam keselamatan kami.
Setelah barang selesai di turunkan, ketua regu memberi kami name tag, dia berpesan kalau identitas itu jangan sampai hilang karena itu adalah nyawa kami, di sini ada ribuan relawan dari berbagai negara, dan dengan identitas itu memudahkan kami untuk saling mengenali kalau kami berasal dari indonesia.
Dan kami harus selalu terhubung dengan ketua regu yang sudah di tentukan saat terakhir kami bertemu di jakarta, supaya kami tetap terorganisir.
Aku mengikuti sukarelawan lain menuju tenda yang nantinya akan menjadi tempat tinggal sementara kami selama berada di sini, ini bukan tenda baru tetapi tenda yang di tempati bergilir para sukarelawan, karena saat kami datang ada sukarelawan yang di pulangkan ketanah air.
Kami tidak punya waktu untuk beristirahat, saat sampai kami harus mengambil air yang letaknya cukup jauh dari tenda kami sekarang, satu tenda di isi 10 orang kami harus bekerjasama supaya kegiatan di sini bisa berjalan lancar.
Di sini ada sumur di pinggiran pemukiman padat, kami harus berjuang melewati jalan yang nyaris tertutup reruntuhan bangunan, di sini kondisinya jauh lebih parah daripada yang terlihat di televisi atau di media sosial.
Melihat kondisi di sini aku sedikit merasa beruntung, meskipun hidupku rumit tapi setidaknya aku bisa makan dan tidur dengan tenang di tanah airku.
Disini aku belum bisa membayangkan bagaimana aku tidur di malam hari dengan membawa kecemasan, pasti sangat sulit memejamkan mata karena was - was akan hadirnya bom yang tidak mengenal tempat dan waktu.
Saat sedang sibuk mengambil air aku dikejutkan dengan suara seseorang yang menangis, aku mencari arah suara itu, aku terus mencari sampai langkahku berhenti di sebuah bagian rumah yang hancur, di situ ada seorang gadis kecil yang terperangkap reruntuhan.
Aku berteriak histeris memanggil teman - temanku, mereka berhambur menghampiriku.
Aku menunjuk kearah gadis kecil yang kakinya terhimpit reruntuhan, kami semua berjuang keras mengeluarkan gadis itu, cukup lama kami berusaha sampai akhirnya kami berhasil menolong gadis itu.
Aku menggendongnya dan setengah berlari aku menuju ke pusat kesehatan yang letaknya cukup jauh dari lokasi penemuan gadis ini.
Tak sulit menemukan tenda kesehatan karena dari warna tenda nya yang berbeda dengan warna tenda yang lainnya, tenda kesehatan berwarna putih sedangkan tenda lainnya berwarna hijau army.
Aku membawa gadis kecil ini masuk, dan dokter dengan sigap menolongnya, kakinya terluka parah karena darah terus menetes dari luka di kakinya itu, hatiku terasa teriris melihat airmata di bola matanya yang masih polos,
tapi aku lega melihatnya sudah mendapatkan pertolongan.
Napasku masih terengah - engah karena jarak yang kutempuh tadi cukup jauh, aku berjalan gontai tanpa sengaja kakiku menabrak sebuah ranjang besi yang diatasnya terbujur seseorang yang terluka dan bahkan wajahnya tertutup perban, aku terjatuh dan kulihat jari kakiku terluka, aku membungkukkan badanku untuk melihat seberapa parah luka yang kuderita.
Di samping kaki ku ada sebuah name tag yang terjatuh dari ujung ranjang besi ini, aku mengambilnya dan berniat meletakkannya kembali di tempatnya semula, alangkah terkejutnya aku saat kulihat bentuk name tagnya sama seperti punyaku berarti orang yang sedang terbaring ini adalah salah satu sukarelawan sama sepertiku.
Saat ku baca namanya aku lebih terkejut lagi, di sini tertulis nama devin deniatmaja! seketika tanganku gemetar sampai tidak terasa name tag yang ku pegang jatuh ke lantai.
Aku mendekati orang yang terbaring ini dengan ragu - ragu, wajahnya tidak terlihat dan aku mulai melihat tangan dan sekujur tubuhnya, mungkin saja aku mengenalinya.
Di tangannya melingkar gelang tasbih berwarna hitam, ya benar ini milik devin! aku mengenalinya karena gelang ini nyaris tidak pernah lepas dari tangannya.
Aku menutup mulutku seakan tidak percaya dengan pemandangan di depanku ini, benarkah dia devin?!!! dadaku mulai berdebar kencang.
Berarti lelaki berkemeja kotak - kotak yang kulihat kapan hari di rumah base camp anak punk itu benar devin! jadi dia pun salah satu anggota LSM yang kuikuti itu?!!!.
Cukup lama aku terdiam dan tertegun di depan pria yang kuduga adalah devin ini, dia tertidur dan aku tidak mungkin membangunkannya.
Aku berlari menuju tempat perawat berkumpul untuk mencari informasi, dengan bahasa inggris terbata - bata aku mulai mencari informasi tentang pasien yang kumaksud itu!.
Seorang suster memahami apa yang ku inginkan, dia menyodorkan catatan medis pasien yang kuduga adalah devin itu.
Aku membacanya dan benar dia adalah devin deniatmaja berasal dari indonesia, dia terkena percikan kaca dari sebuah gedung yang hancur akibat serangan bom, wajahnya hancur! dia adalah pasien dalam pantauan.
Seketika aku lemas, tak kusangka aku akan bertemu dengan devin dengan keadaan seperti ini.
Aku menyerahkan kembali catatan medis devin ke perawat, dan aku berjalan kembali menuju devin terbaring, aku duduk di sebelah ranjangnya, kutatap lama tubuhnya yang terbaring lemah, ah devin! apa yang sudah terjadi padamu ini?! hikkkkkkss hikkkkkk airmataku tak mampu kubendung lagi, kukira aku tidak bisa bertemu denganmu lagi! tapi ternyata takdir menarikku kepadamu, sungguh pertemuan ini sama sekali tak kuduga sebelumnya.