
" Masihkah kamu menyuruhku menikah lagi lic? benarkah tak ada perasaan sedikit pun untukku?".
Aku diam sejenak kutatap matanya dalam- dalam "kamu harus melanjutkan hidupmu vin, bukan karena ada atau tiada perasaan untukmu tapi karena memang hatiku yang telah tertutup."
Aku mulai beranjak dan mulai melangkah pergi sedangkan devin duduk diam di tempat yang sama, aku menguatkan hati untuk tak menoleh ke belakang.
Aku tak pantas untukmu vin!
Seperti hari biasanya sebelum adzan shubuh berkumandang, seluruh keluarga telah berkumpul di mushola keluarga di dalam rumah ini.
Ayah, ibu dan mbok dah juga suaminya. Sekarang aku pun telah berada di tengah mereka, hanya tersisa devin yang belum kelihatan batang hidungnya.
Aku mulai gelisah apa devin belum pergi dari
balkon kamarku, aduh !
tadi aku tak sempat menoleh sebelum keluar dari kamar karena buru- buru.
" Mbok da tolong panggil devin di kamarnya, kami semua sudah menunggunya untuk sholat berjamaah"( perintah ibu devin).Belum sempat mbok da bangun dari duduknya devin udah nongol duluan, lega rasanya.
Selesai sholat aku segera pergi kedapur membantu mbok da seperti pagi- pagi biasanya, berpapasan dengan devin beberapa kali kami tak sempat bertegur sapa, seperti ada yang canggung sulit untuk diucapkan dengan kata- kata.
Hemmmmzzz ada apa ini? Kenapa devin bersikap begitu ? apakah ada kata- kataku yang menyinggungnya? aku benar- benar penasaran.
Sejak disini aku membiasakan diri bersahabat dengan semua kegiatan yang biasa di lakukan keluarga ini, semuanya.
Dan keluarga ini pun terbiasa dengan kehadiranku, bahkan sekarang ibu hampir menyerahkan semua urusan rumah ini kepadaku, bahkan saat ibu sakit orang yang pertama di carinya adalah aku bukan ayah atau devin.
Terkadang ini menimbulkan dilema tersendiri buatku, bagaimana lagi caranya aku pergi, dengan alasan apa? tapi tak memiliki kontribusi apa pun selama tinggal di rumah ini juga tak mungkin ku lakukan. Berdiam diri tak produktif? itu sama sekali bukan sifatku aku terbiasa bekerja keras.
"Benar kamu menyuruh devin menikah lagi? tanya ibu mertuaku?(aku menganggukan kepala).
Kalau memang itu menjadi keputusan kalian berdua aku tak mungkin melarangnya, hanya saja yang ibu sesalkan tak bisakah kalian mecobanya sekali lagi? maksud ibu memberikan hati kalian waktu untuk belajar mencintai?".
Aku menghela napas panjang" maafkan aku ibu, bukannya aku menolak devin atau tak mau belajar mencintainya, hanya saja aku yang tak pantas mendampinginya meskipun nanti devin mampu menerima segala kekuranganku tapi aku yang tak bisa bu, aku tak sanggup menghabiskan hidupku dengan penyesalan karena aku hanya sampah dan devin berhak mendapatkan pendamping hidup yang lebih baik, perasaan bersalah itulah yang akan menghantuiku bila aku bertahan dalam hubungan ini."
Sejenak ibu diam,
kemudian dia mengangkat wajahnya "kamu sangat berarti licy, kamu bukan sampah!" tegas ibu.
"Ibu harus menyetujui keputusan ini devin sangat bergantung pada ibu, aku yakin kalau ibu yang mengambil keputusan devin pun tak akan menolaknya."
Kembali ibu diam, aku berharap ibu bisa mempertimbangkan keputusan ini.
Setelah sekian purnama,
akhirnya acara ini pun di lakukan, ya hari ini devin akan melakukan ta' aruf atau apa pun nama dan istilahnya yang kupahami ini pernikahan yang disetujui dua belah pihak atau lebih gampangnya perjodohan.
Aku bersyukur devin bersedia melakukannya, aku bahagia karena sedikit berkurang beban hidup yang akhir- akhir ini mengusik jiwaku.
Selamat tinggal devin !aku akan mengingat hari
yang kita habiskan bersama.
Tak terasa airmata menetes di pipiku, entah airmata apa ini apakah airmata bahagia atau kesedihan, aku tak tahu.
Aku akan kehilangan senyuman itu, atau saat- saat kita bercanda dan tertawa lepas seperti dua manusia tanpa dosa. Hemmmmmmmzz , semakin deras airmata ini membasahi pipiku sekali lagi.
Semua selesai sesuai dengan rencana, tak ada rintangan apa pun. Devin mengenalkanku dengan gadis itu, cantik khas paras timur tengah" Aisyah zulkarnain"( tersenyum simpul semakin terpancar kecantikannya)dia menjabat tanganku.
Dia cantik dan aku pikir dia terbaik untuk devin, melihatnya aku kehilangan kepercayaan diri dia sempurna sangat sempurna, aku yakin devin tak akan sanggup memalingkan wajah dari istrinya yang cantik ini.
Sedih bercampur bahagia aku menatap mereka berdua, senyuman selalu terlihat di wajah mereka saat menjamu semua tamu.
Kamprett, perasaanku campur aduk.
Hari pun berlalu, pesta telah usai.
Malam ini kami berkumpul di ruangan keluarga ada yang harus aku jelaskan kepada istri devin, siapa aku dan untuk apa kehadiranku, aku tak ingin ada salah paham kalau aku menunda hal ini, aku tak mau hubungan devin dengan istrinya terganggu karena kehadiranku juga cerita yang mengiringi kami.
"Maaf Aisyah, disini aku mau mengatakan kalau aku adalah istri pertama devin tapi kamu jangan salah paham, kami terpaksa menikah karena sebuah kesalahan, aku menjelaskan ini karena tak dapat di pungkiri pernikahan kami telah tercatat di kantor urusan agama.
Tapi kamu tidak perlu kuatir aku akan segera mengurus surat perceraian kami, aku tidak akan mengganggu kehidupan rumah tangga kalian aku janji semua akan berlalu dengan tenang, setelah semua selesai aku akan pergi dari rumah ini."
Tak seorang pun berkomentar, semua diam termasuk devin, pandanganya tertuju ke satu titik, lantai! begitu dalam dia menundukkan kepalanya, entahlah apakah yang ada dalam pikiranya.
Aisyah menatapku tajam tatapan yang sama sekali tak kuharapkan, apa yang ada di benaknya.
Tapi aku tak perduli yang kuperdulikan hanyalah bahwa tugasku selesai, aku telah mengantarkan devin pada kebahagiaanya.
Persoalan yang membelitku akhirnya menemukan simpulnya, setelah hampir sepekan menunggu akhirnya surat itu pun datang. Semua bisa begitu mudah di selesaikan dengan uang, termasuk surat cerai ini begitu cepat selesai tanpa hal yang membelit- belit.
Uang oh uang kau memang luar biasa.
Baiklah, inilah saatnya aku harus pergi !
Masuk ke dalam rumah aku berpapasan dengan aisyah serta merta kupeluk dia dan kutunjukkan akta cerai yang ada di tanganku, kulihat aisyah pun tersenyum mengetahuinya, aku yakin dia pun merasa lega.
"Alicya, aku punya kejutan untukmu sebelum pergi, maukah kamu datang ke kamarku setelah menaruh surat itu please!
sambil memegang tanganya aku mengiyakan" tentu saja"(jawabku bersemangat).
Aku pergi ke kamar aisyah, aku bertanya - tanya kejutan apakah yang akan diberikanya padaku?
sampai di kamar aisyah dia sudah menunggu, dia mengajakku mengobrol di balkon kamarnya kami bicara sangat akrab dan seingatku baru sekarang aisyah bersikap semanis ini padaku, biasanya dia lebih banyak diam saat bertemu denganku.
" Kemarilah lic, lihatlah alangkah indah pemandangan kota malang di lihat dari sini, tak seperti surabaya yang terlihat hanya asap polusi kendaraan saja.
Aku pun beranjak dari tempat dudukku berdiri disampingnya, dia menoleh dan mendekatkan wajahnya diteligaku" lic, kamu tahu aku sangat membencimu! (katanya tajam) hampir sepekan aku menjadi istri devin tak sekali pun dia menyentuhku bahkan dia tak sudi menciumku! aku yakin karenamu, dan satu hal yang kupahami bahwa semua kata - katamu selama ini adalah kebohongan besar!"
belum sempat aku menjelaskan pada aisyah, dia mendorongku dari balkon." Ya Allah( pekikku) aku bergelantungan disini dan, aku bisa jatuh.
"Aisyah tolong aku!! jeritku."
Jangankan menolong yang kulihat dia tersenyum lebar melihatku tak berdaya, aku menangis sejadi- jadinya karena ketakutan, tanganku mulai lemah tapi aku sekuat tenaga berusaha meraih pegangan tapi, aouwwhh aisyah menginjak tanganku, sakit!
dan, aku terjatuh!