
Hari berganti tapi ada yang tidak berubah, rutinitas di sini terasa sama setiap hari, dan ada yang tak pernah absen datang kesini, yaitu devin!.
Dia selalu datang di jam makan siang, seakan dia tidak punya kegiatan yang lainnya selain mengunjungiku ke sini, aku beruntung memiliki teman seperti dia yang menyayangiku lebih dari ibuku, dia ibuku tersayang nyaris tak pernah menampakkan batang hidungnya di sini, tapi aku akan terus mendoakannya, sampai aku tak mampu melakukannya lagi.
Siang ini aku harus membongkar kardus yang di bawa devin siang tadi, aku penasaran apa isinya.
Terkadang aku merasa heran bagaimana caranya dia bisa datang setiap hari, sedangkan waktu berkunjung hanya seminggu 2 kali?! dan memasukkan barang yang di bawanya kesini, yang membuat ruang sel ku sekarang ibarat toko yang dipindahkan? hemmmmzz jangan - jangan dia melakukan tikungan, tanjakan dan turunan! aku jadi ingin tertawa sendiri bila memikirkannya sekaligus penasaran.
Kardus ku buka dan isinya sikat dan pasta gigi yang jumlahnya bisa lusinan! dia benar - benar tidak waras!! haaaahhhhaa dasar konyol!.
Sekarang aku bingung menaruhnya di mana? tiba - tiba terbesit di benakku untuk membaginya dengan napi yang lain, di sini dua benda ini yang paling berharga melebihi intan berlian.
Aku sering melihat banyak napi yang menyikat gigi mereka dengan genteng bata yang di hancurkan , terus mereka menggosok gigi mereka dengan remahan pecahan genteng tersebut, aku tidak tahu seperti apa rasanya karena aku belum pernah melakukannya.
Di sini devin tidak pernah lupa membawakannya untukku meskipun sering dua barang itu di rampas oleh napi yang kebetulan satu kamar mandi denganku.
Benar ! ini ide yang bagus, ada prinsip mulut yang bersih maka akan memperbaiki tutur kata pemiliknya, semoga saja aku tidak perlu lagi mendengar kata umpatan yang seperti biasa di ucapkan para napi di sini.
Aku mengumpulkan para napi yang kebetulan ada di dekatku berdiri, aku mulai membagi sikat dan pasta gigi yang kubawa, tapi tidak mungkin semua bisa kebagian, tapi setidaknya ada sebagian yang mendapatkannya, dan bisa tersenyum lebar dengan gigi putih yang wangi.
Terima kasih devin, kekonyolanmu bisa merubah siklus udara di sini.
Aku kembali ke ruanganku ada yang harus kulakukan, sekarang bunga mawar ini yang meninggalkan pekerjaan rumah untukku.
Masuk ke sini aku merasa masuk ke pemakaman umum, aroma semerbak dari bunga mawar ini cukup menusuk hidungku, untung saja teman sekamarku tidak terganggu dengan wanginya, sejak aku datang ke sini dia jarang sekali mengajakku bicara, dia sangat pendiam dan tertutup.
Ada setidaknya 10 vas bunga mawar, kurasa aku harus membuangnya sebagian, karena aku sudah mulai kesulitan melangkah menuju ranjang, karena vas ini kutata di pingir ranjangku laksana sebuah pagar.
Aku tidak tidur di atas kasur tapi tidur di atas tumpukan buku yang setiap hari dibawakan olehnya, devin oh devin entah apa yang ada di dalam pikirannya.
Aku nyaris tidak punya waktu luang untuk sekedar melamun dan bermalas - malasan, selain kegiatan rutin di sini! aku di sibukkan dengan barang bawaan devin ini.
Setiap hari dia membawa barang yang berbeda, dan aku harus membaginya dengan para napi di sini setiap harinya.
Dan ada saja napi yang mencariku untuk sekedar meminta barang yang sedang dia butuhkan, aku sekarang lebih mirip penjaga toko, hanya saja toko gratisan.
Siang ini akan ada kunjungan seorang pejabat daerah yang akan memberikan sumbangan dan dia juga mengadakan acara makan akbar, semua napi di sini teramat gembira menanti moment yang langkah ini, karena hanya ada 6 bulan sekali, cerita seniorku, dan di sini kami bisa makan sepuasnya dan menyaksikan acara live musik band - band terkenal, aku merasa sangat penasaran.
Waktu yang di nanti telah tiba, memang sangat meriah kehebohan para sipir berbanding lurus dengan para napi di sini, aku pun mulai mencoba ikut terlarut di dalam kemeriahan ini seperti yang lainnya.
Dari kejauhan aku melihat lelaki paruh baya yang sedang asyik ngobrol dengan sipir berkumis tebal yang pernah ku kerjain di kamar mandi, sejak kejadian kapan hari itu aku mulai jarang melihatnya berkeliaran di sini, sehingga aku sedikit lupa untuk mengganggunya lagi.
Mereka terlihat serius, membuatku jadi penasaran! aku mulai mendekati mereka dan kupasang telingaku tajam - tajam, sudah cukup lama aku tidak mendengar orang bergosip tentang hal lain selain tentang lembaga pemasyarakatan ini, jiwa kepoku mulai terusik.
Kudengar sipir berkumis itu mengatakan " okey semua sedang di persiapkan!!!" entah apa itu???!!
Aku semakin mendekatkan diri di belakang panggung sampai ada seorang napi yang memanggil namaku.
Aku menghampirinya dan ternyata sipir kepala mencariku, entahlah dia memiliki keperluan apa denganku???!! huhhh mengganggu saja!!.
Aku pergi menuju ruangan sipir kepala, di sini ternyata aku tidak sendirian, selain aku sudah ada 4 napi yang berkumpul, entah apa yang ingin sipir kepala perintahkan kepada kami, setelah kami terkumpul kulihat dia menelepon seseorang dan berjalan keluar ruangan, menyisahkan kami yang harus menunggu dengan sabar intruksi dari sipir kepala itu.
Aku pun berdiri berderet dengan napi yang lain, aku melirik mereka berempat rata - rata mereka memiliki postur yang hampir sama denganku, tinggi semampai dan paras mereka lumayan cantik.
Aku mulai berbisik dengan napi di sebelahku, " mbak kita di kumpulkan di sini untuk pekerjaan apa?" wanita disebelah ku menoleh dan mengeryitkan dahi, " kamu orang baru di sini?!" aku menganggukkan kepala, karena kalau hitunganku tidak salah aku baru 4 bulan di sini.
" Kalau kepala botak itu berkunjung di sini, dia selalu meminta servis dari kami, dia ibarat seorang raja yang bisa berbuat seenaknya di sini! mungkin kamu belum bisa membayangkannya, sedangkan aku ini sudah kedua kalinya aku mengalami hal ini, setiap selesai dengan kami dia selalu membawa salah satu dari kami untuk di bawa keluar dari penjara ini, menurut kabar yang kudengar napi wanita yang di bawanya akan di jual ke sesama komunitas mereka, mengerikan! lihatlah napi yang berjejer ini semua mukanya tegang, hanya kamu yang terlihat santai."
Aku masih tidak mengerti dengan penjelasan wanita di sebelahku ini, " mbak kalau memang ada yang di jual seperti katamu tadi, apakah keluarganya tidak ada yang mencarinya?"
wanita di sebelahku tersenyum kecut, "esoknya pasti ada berita kematian dan sebuah peti mati di keluarkan dari sini, entah itu peti kosong atau beneran ada mayat di dalamnya, tidak ada seorangpun yang tahu."
Mendengar penjelasan wanita ini aku mulai gemetar, muka santai yang kupasang tadi tiba - tiba berubah tegang.
Kalau benar yang di katakan wanita di sebelahku ini, berarti sekarang aku berada di dalam bahaya, sekarang apa yang harus kulakukan?!.
Aku masih sibuk dengan pikiranku yang mulai kalut, sipir kepala masuk kembali keruanganya bersama sipir berkumis tebal dan lelaki paruh baya yang kulihat duduk di atas panggung tadi.
Lelaki botak itu melihat kami satu persatu, sampailah pada ku dia menatapku tajam kemudian menyunggingkan senyumnya kepadaku, jantungku mulai berdebar kencang, aku sama sekali tak membalas senyumnya itu.
Dia kembali kepada kedua sipir itu dan membisikkan sesuatu di telinga sipir berkumis, entah apa itu.
kami berjalan beriringan di belakang sipir kepala menuju ke suatu tempat yang aku belum tahu kemana, aku sangat penasaran.
Sampailah kami di depan ruangan yang di atas pintu tertulis ruangan isolasi, kami di ajak masuk kedalam.
Seorang lelaki perlente duduk menunggu kedatangan kami, di sebelahnya ada lelaki botak tadi dan sipir berkumis.
Sipir kepala menyuruh kami berdiri menghadap lelaki perlente itu, dan dia mulai mengamati kami satu persatu.
Dia terus melakukannya sampai dia berhenti padaku, " aku pilih dia!"
hatiku berdebar kencang, apa maksud lelaki ini.
Setelah pemilihan selesai kami semua keluar bersama menuju keluar dari lembaga pemasyarakatan ini, Lelaki berkepala botak satu mobil dengan 4 wanita tadi, sedangkan aku di masukkan ke mobil satunya bersama pria perlente tadi, kelihatan dari penampilannya dia pasti orang tajir melintir.
Kedua sipir itu melambaikan tangan dan menganggukan kepala kepada lelaki ini yang mulai bergegas pergi.
Di dalam mobil aku mulai merasa tegang, rasa takut mulai merayapiku, kalau benar yang di katakan wanita tadi aku harus bersiap membela diriku, kalau benar bahaya mengancam keselamatan jiwaku.
Aku duduk di belakang sedangkan lelaki itu duduk di depan bersama supir, tanganku mulai bergerilya pelan, aku mencoba mencari sesuatu benda yang mungkin bisa ku gunakan sebagai senjata.
Tanganku menemukan sebuah obeng yang terselip di belakang kursi, aku mengambilnya dan menyelipkannya di dalam bajuku.
Sekarang aku sudah siap dengan kemungkinan apapun yang akan kuhadapi nanti.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar, si botak keluar dari mobil di ikuti 4 wanita tadi maduk kedalam rumah dan kami pun melakukan hal yang sama.
Di dalam rumah sudah menunggu beberapa orang pria yang sedang asyik mengobrol sambil minum, melihat kedatangan kami mereka menyambut dengan suka cita.
Sedangkan aku di bawa masuk keruangan berbeda dari semua orang yang hadir yang berkumpul di ruang utama.
Di dalam kamar yang luas aku di tinggal sendiri, tak lama datanglah lelaki yang semobil denganku tadi bersama seorang wanita.
" Tolong mandikan dia dan buatlah penampilannya semenarik mungkin."
Wanita itu mengajakku masuk kedalam kamar mandi, dia mulai membuka bajuku dan memandikanku, untunglah obeng tadi sempat kuselipkan di bawah kasur.
Dia mengguyurku dengan sabun dan sampo sampai busanya menutupi seluruh tubuhku, " tolong katakan padaku untuk apa semua ini?" tapi wanita ini hanya diam saja, dia tidak menjawab pertanyaanku.
Aku terus menanyakan pertanyaan yang sama sampai membuatnya kehilangan kesabaran, sampai akhirnya dia pun bicara " kalau kamu punya kesempatan larilah dari sini! lelaki tadi bersiap memperkosamu selanjutnya dia akan membiarkan teman - temannya tadi memperkosamu beramai - ramai laksana srigala yang mendapatkan mangsa, ini sudah sering terjadi dan hampir menjadi tradisi di sini."
Aku mulai gemetar ketakutan, kata - kata wanita ini terdengar menakutkan. " Tapi tadi aku kesini bersama 4 wanita lain, apa yang akan terjadi ke pada mereka? apakah mereka akan mengalami hal yang sama denganku?"
wanita ini terus menggosok tubuhku, dia menggelengkan kepala, " mereka hanya akan menemani mereka minum saja ,setelahnya mereka yang tidak terpilih akan di kembalikan keesokan harinya ke penjara, sedangkan kamu!"
Wanita ini terdiam tidak melanjutkan kata - katanya," setelah mereka puas denganmu dan kalau kamu beruntung masih hidup, kamu akan di jual keluar negeri identitasmu akan di lenyapkan dan kamu akan di anggap mati, supaya kamu tidak akan bisa membongkar perbuatan mereka."
Wanita ini tiba - tiba terisak, "aku tak bisa menolong kalian karena aku sangat egois! aku pun dari penjara dan di pekerjakan di sini, aku harus tetap diam agar tetap bisa hidup nyaman di sini tidak di kembalikan ke penjara yang penuh dengan penderitaan, maafkan aku."
" Sekarang tolonglah aku! aku mohon!!"
aku memegang tangan wanita ini, aku bisa merasakan tangannya gemetar, " aku tidak berani! meskipun kamu bisa keluar dari rumah ini aku yakin kamu tidak bisa keluar dari pagar rumah ini karena penjagaannya yang ketat."
Aku mulai lemas, aku merasa sesak sekarang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Setelah menyelesaikan tugasnya wanita ini keluar dari kamar meninggalkan aku sendiri, dia memakaikanku baju tidur yang sangat seksi.
Aku mulai kebingungan, aku harus berpikir cepat! disini jendelanya di berikan teralis besi yang tidak mungkin bisa ku buka, aku tidak bisa kabur dari jendela.
Mataku nanar mencari celah yang mungkin bisa kugunakan untuk melarikan diri.
Tiba - tiba aku melihat sebuah celah sepertinya ruang ventilasi, aku mencari obengku tadi dan aku mulai membuka paksa penyekat ventilasi ini, aku naik diatas kursi yang kususun menjadi sebuah tangga, lubang ini cukup sempit tapi sepertinya bisa memuat tubuhku yang kurus.
Aku masuk dan mulai merangkak menyusuri lubang ini, cukup lama aku merangkak sampai napasku tersengal - sengal.
Hingga sampailah di ujung lubang karena aku mulai melihat kilatan cahaya, aku membuka penyekatnya dan alangkah terkejutnya aku karena ujung lubang ini adalah sebuah sungai yang alirannya cukup deras, mungkin ini adalah bagian belakang rumah yang tidak terlihat dari depan.
Sekarang aku bingung apa yang harus kulakukan?! maju mati mundur lebih mengerikan lagi.
Sampai akhirnya aku menceburkan badanku ke dalam sungai, aku tidak tahu apakah aku akan selamat atau mati tapi setidaknya sekarang aku bisa menjaga tubuhku seperti janjiku pada alvin, bahwa dialah lelaki terakhir yang menyentuhku.