
Alvin menutup mataku dengan sehelai kain, " ada surprise sayang!" hemmmmmz aku mengangguk tanda setuju.
Alvin membuka pintu dan berjalan keluar aku menurut saja, aku tak tahu akan di bawa kemana.
Sampai akhirnya alvin membuka penutup mataku dan tralaaaaalaaa soraknya.
Aku berada di atap gedung, sudah disiapkan meja makan dan pernak perniknya, lampu kelap - kelip menghiasi tempat ini dan wow satu buket mawar warna putih favoritku, tak juga ketinggalan beberapa orang yang telah bersiap memainkankan gitarnya dan ada beberapa orang yang bertindak layaknya waiter di sebuah restoran.
Hahahhhaaaa aku tertawa lebar, " harusnya aku memakai kostum yang benar sayang( pekikku)," kalau emang kita mau diner setidaknya aku bisa memakai gaun malam yang seksi, tidak baju tidur seadanya ini."
Alvin tak menghiraukan celotehku, dia berdiri dan menarikku bersamanya memegang tanganku dan mulai berdansa. Lagu slow dari pemetik gitar itu membuat suasana begitu mendayu- dayu.
Wajahnya begitu dekat denganku sampai aku bisa merasakan aroma nafasnya yang hangat, dihiasai indahnya bintang di langit kami terhanyut dalam romantisme yang luar biasa.
Selesai berdansa dia mengajakku duduk" kita mulai makan ya sayang," waiter- waiter tadi pun bergegas melayani kami, melihat yang disajikan sontak aku tertawa terbahak- bahak "what this?
semangkok bakso? diner yang aneh."
Alvin hanya tersenyum melihat ekspresiku, "itukan menu yang paling kamu sukai sayang, ingat nggak dulu kemana pun kita pergi traveling kamu selalu mencarinya bakso?"
aku pun mengangguk tanda setuju, "tapi kamu kan tidak suka, kamu menunya apa?"
aku mulai mengintip- intip,
"sama sayang sejak kamu menghilang aku sering mengunjungi kedai- kedai bakso berharap bisa menemukanmu, sekarang aku suka bakso."
"Baiklah kita mulai makan ya, eh kalian semua ikutan makan yuk, jangan berdiri seperti itu( teriakku)ini semi diner jangan terlalu formal."
Mendengar ucapanku alvin mengedipkan mata kepada semua yang ada disitu barulah mereka mau menemani kami makan.
Kami semua makan sambil bercanda layaknya para sahabat karib, aku menyukai suasana seperti ini. Aku sudah mulai melupakan dukaku yang nyaris tiap hari harus aku lalui sejak berpisah dari alvin, dan sekarang hanya akan ada kebahagiaan.
Alvin mulai mendekatiku, memegang tanganku dan berjongkok di hadapanku.
Dia mengeluarkan sebuah cincin dari dalam sakunya, "menikahlah denganku sayang"
sejenak aku terdiam dan memandangnya, mencoba mencari ketulusan di matanya,
dengan tersenyum aku menganggukkan kepala, alvin pun memasangkan cincin emas putih di jari manisku dan mencium tanganku.
Sontak terdengar tepuk tangan riuh dari yang hadir disini, alvin berdiri dan menari- nari kegirangan layaknya atlit yang baru menang perlombaan terlihat dia sangat bahagia, sama sekali lenyap wajah sangarnya yang tiap hari harus dia pasang dikantornya disini tersisa wajah konyolnya saja,
sekali lagi aku bahagia.
Setelah diner selesai alvin menggendongku kembali ke apartemen, dasar konyol.
Tapi aku tak menolaknya, okey sayang sekarang apalagi? seakan aku menunggu kejutan selanjutnya.
"Kita nonton film romantis yuk", aku pun mengiyakan dengan bersemangat.
"Lama aku tidak ke bioskop," alvin tersenyum dia menarikku duduk di sofa.
"Kita nontonnya di rumah saja ya sekarang sudah terlalu malam"( pinta alvin).
Aku memasang muka cemberut berharap alvin mengubah rencananya, dan mau mengajakku nonton ke bioskop.
Tapi menatap wajah manjanya hatiku jadi luluh dan aku menyusulnya duduk di sofa.
"Baiklah, sama saja kita nonton dimana saja asalkan ditemani olehmu pasti rasanya spesial."
film diputar dan kami menikmatinya, love this day.
Pagi hari aku terjaga kami ketiduran di sofa, aku membangunkan alvin," sayang udah pagi bukannya kamu harus pulang? kamu harus ke kantor kan?"
alvin hanya memicingkan matanya melihatku terus menengok jam di tangannya.
"Tenang sayang aku sudah bawa baju ganti di mobil tinggal mandi saja, tolong lihat katalog di dekat telepon kamu bisa pesan sarapan."
Aku bangun dan beranjak mencari katalog yang di maksud alvin dan ketemu.
Alvin bangun dan bergegas ke kamar mandi, aku membuka pintu balkon membiarkan udara pagi masuk, hangatnya mentari pagi pun menyeruak di antara tirai yang berterbangan tertuip angin sepoi- sepoi. Terdengar bel pintu berbunyi , sarapan telah datang.
Alvin selesai mandi dan mulai duduk di meja makan dia melihat menu yang telah kupesan, " hemmmz kamu masih ingat sup favoritku ya?"
aku hanya tersenyum mengiyakan.
" Eh, sayang kamu sudah cuci muka ? ayo sana sikat gigimu dan cuci muka, jangan jorok! nanti baru sarapan aku akan menunggumu."
Sambil manyun aku pun beranjak ke kamar mandi sesuai permintaan alvin.
Selesai dari kamar mandi aku kembali ke meja makan, kulihat alvin sudah lahap menyantap sarapannya, " eh katanya mau nunggu aku? dan apa ini? kamu juga menghabiskan bakmi pesananku! terlalu."
Alvin hanya tertawa dan menghabiskan segelas susunya, buru- buru dia mau kabur keluar menghindariku yang mulai merajuk.
" Awas kamu ya!"
alvin mengambil langkah seribu pergi menghindari amarahku. " Sorry sayang kebetulan aku sangat lapar pagi ini, aku incipi bakminya kok enak jadi aku habisin, oh ya di meja ada kartu kredit kamu bisa beli apa aja no limit," alvin pun berlalu dan pergi.
Baiklah akan kupesan lagi sarapannya, ku pungut kartu kredit di meja, hari ini aku akan belanja supaya nanti siang aku bisa memasak.
Ada mall di seberang jalan, aku cuma perlu pergi kesana dan akan kudapatkan semua kebutuhanku.
Didalam mall ini cukup besar, aku mulai kalap mata. Aku beli ini itu sampai tak terasa semua berjibun, sampai aku susah membawa semua belanjaanku, haaahhaa penyakit lama shopping holic mulai kambuh.
Hampir setengah hari kuhabiskan di mall ini, saat kaki dan tanganku mulai gemetar karena kecapekan aku baru bergegas pulang.
Aku mulai bingung meletakkan semua belanjaanku karena terlalu banyak.
Baiklah aku tak perduli di taruh dimana saja, nanti bisa kubereskan yang terpenting aku akan memasak makan siang siapa tahu dia mampir makan disini.
Jam di dinding menunjukkan pukul 12:30, mungkin alvin tak makan siang ke sini. Hemmmz aku akan makan sendiri, capcay, udang asem manis dan sepiring ayam goreng, sebenarnya ini terlalu banyak untuk kumakan sendiri tapi apa boleh buat.
Baru akan kusendok suapan pertamaku, kudengar seseorang masuk rumah.
Alvin, seperti terburu- buru dia menabrak tas belanjaan yang masih ku taruh di depan pintu, "aduchh licy, kenapa ditaruh disini sih?(sambil memungut tas map yang jatuh dan isinya berserakan di lantai) aku menoleh dan menghampirinya.
" Maaf sayang, kamu kenapa kok terburu- buru?"
( tanyaku).
Alvin melihatku sambil mencubit pipiku, " aku tidak ingin kehilangan moment makan siang pertamaku denganmu! aku tadi meeting sampai ku tunda karena takut terlambat, kamu kan sangat rakus aku takut kamu menghabiskan semua menu makan siangnya."
Hadewwwhhh konyol, kirain ada apaaan !
Tanpa banyak bicara alvin bergegas menuju meja makan, aku hanya bisa geleng- geleng kepala menyaksikan kelakuannya itu, kami makan bersama.
" Alvin, kenapa kamu tidak makan di rumahmu saja? bukankah sejak semalam kamu belum pulang? apa kamu tidak dicariin istrimu?"
alvin menoleh tanpa menghentikan makannya.
" Siapa? Alexandra?dia tidak akan menyadari kalau aku tidak pulang, kami jarang ketemu meskipun satu atap, rumah kami terlalu besar lebih mirip hotel."
Aku mulai mangut - mangut " terus anakmu? apa kamu tidak kangen?"
alvin melihatku sejenak, "dia jadwalnya jauh lebih padat daripada aku, kami hanya bisa bertemu weekend saja."
Alvin selalu berusaha menghindari pertanyaanku tentang keluarganya, entah apa yang sedang terjadi di rumahnya.
"Sepi banget hidupmu ya sayang, eh mirip siapa anakmu?"
alvin tertawa lepas mendengar pertanyaanku," dia anak alexandra dengan suami sebelum aku, aku menikahinya saat dia janda beranak satu, kami menikah karena hubungan bisnis.
Kalau tentang anak aku belum menginginkanya selama hatiku masih belum mencintainya. Sudahlah sayang jangan membahas tentang dia, itu merusak selera makanku, please! makanan ini sangat lezat semua kesukaanku."
Aku menghela nafas panjang," baiklah, oh ya sayang aku tadi menghabiskan banyak uang untuk belanja, maaf ya kupikir semua yang kubeli memang semua sedang kubutuhkan."
Alvin hanya mengangguk, " itu no limit, kamu bebas menggunakanya justru aku akan marah kalau kamu tak menggunakannya."
Aku lega mendengarnya kupikir tadi dia akan marah saat tahu begitu banyak belanjaanku, ternyata enggak! love you baby, love you so much.
Aku mendaratkan ciuman mesraku pada pipinya, dan alvin menarikku ke dalam pelukannya.